Showing posts with label ZIKIR-ZIKIR CINTA. Show all posts
Showing posts with label ZIKIR-ZIKIR CINTA. Show all posts

SEPULUH

PIKIRAN perempuan itu makin gelisah. Entah ada firasat apa hingga ia sedemikian waswas. Ia merasa ada hal buruk sedang terjadi. Semakin kuat menepis rasa itu justru makin bertubi-tubi kehadirannya.

“Ada apa gerangan hari ini? Mengapa aku berdebar-debar terus?” batinnya.

Beragam cara ia lakukan untuk mengalihkan perhatian, tapi tetap gagal. Ia benar-benar tak nyaman hari itu. Ia beranjak dari dipan lalu berjalan menuju ke ruang tamu. Usia merenggut separuh kekuatan tubuhnya hingga langkah kaki pun jadi tertatih-tatih.

Di ruang tamu, ia melihat suaminya tengah asyik menikmati tembakau lewat cangklong. Di atas kursi goyang suaminya menatap dunia luar lewat kolong jendela. Beberapa kali tampak asap mengepul ke udara, tersaput ke luar, lalu lenyap terbawa angin.

“Pak, perasaanku enggak enak hari ini.”

“Memang ada apa toh, Bu?”

“Aku kok tiba-tiba merasa waswas. Ono opo, yo, Pak?”

“Ah, ibu iki ono-ono ae. Ngopo waswas? Wong koyone dino iki, yo, ora ono opo-opo?”

“Tapi aku nderedeg (berdebar-debar) terus awit isuk. Ojo-ojo ono opo-opo karo anake dewe? Aku kepikiran terus karo Tabah.”

“Ah, ibu ini. Kok mikire adoh tenan. Tapi yen diamat-amati, kok, Tabah pirang-pirang dino ora endang omah kene. Ojo-ojo wonge loro?”

“Emboh, Pak. Iso ugo pancen loro. Tapi nek loro kok ora kabar-kabar. Biasane ono opo ae wonge mesti ngabari.” Ia menjeda ucapan sejenak untuk menghela napas. “Cobo saiki ayo rono ae. Aku yo wes suwe ora ketemu karo putuku.”

Mereka pun berkemas dan segera berangkat.

*** 
BUTUH waktu satu setengah jam untuk sampai di rumah Pak Tabah, putra pertama mereka, dengan berjalan kaki. Setiba di pekarangan, tak tampak ada aktivitas di dalam rumah tersebut. Lengang. Hanya terdengar tetes air dari talang ke dalam ember yang mulai penuh.

Biasanya, jika mereka berkunjung akan tampak aktivitas di dalam maupun di luar rumah. Setidaknya mereka akan melihat putra atau menantunya menimang bayi di emper. Namun tidak kali ini. Suasana lengang, bahkan pintu dan jendela ditutup. Ke mana mereka? Itu yang tebersit di dalam benak.

Belum lama berdiri di emper rumah, mereka mendengar langkah kaki menuju daun pintu. Pintu terbuka dari dalam. Tampak menantunya menyambut dari dalam ruang. “Si Mbak kalih Bapak. Monggo pinarak mlebet.” Rukmilah mempersilakan mertuanya masuk ke rumah.

“Sehat kabeh toh, Nduk?” tanya Bu Miatun.

“Alhamdulillah sehat, Bu.”

“Bojomu nang endi, Mi?” tanya Pak Bari.

“Ngapunten, Pak. Sampun tigang dinten niki deren wasul.”

“Lah, menyang ngendi?”

“Kirangan. Kulo enggih mboten sumerep.”

“Opo ora kondo karo awakmu yen arep lungo menyang ngendi?”

Saling diam.

Rasa waswas makin mengguncang jiwa Bu Miatun dan Pak Bari. Kekhawatiran itu makin menjadi-jadi setelah mendengar bahwa Rukmilah juga tidak mendapat kabar selama tiga hari ini. Walau tetap cemas, hal itu sedikit terlipur ketika mereka menimang cucu pertamanya.

“Yo wes, Nduk. Bapak lan Ibu pamit disik. Engko nek bojomu wes mulih ndang kabari, yo!”

“Keseso mawon, Pak ... Bu?”

“Iyo, Nduk. Saiki arep kondangan.”

“Oh, inggih, Pak. Sumonggo nderekaken.”

Sepanjang perjalanan pulang, hati Bu Miatun tetam tak tenteram. Semakin jauh meninggalkan rumah anaknya, apa yang ia rasa makin tak keruan.

“Duh, Gusti. Mugo-mugo ora ono opo-opo karo anakku.”

*** 
HARI itu, desa Sangkalpati geger oleh karena telah ditemukan mayat menggantung di sebuah pohon beringin. Meski diketahui jenis kelaminnya, namun tidak ada yang tahu identitas mayat tersebut. Barangkali sudah terlalu lama, kulit mayat tersebut ada yang sudah mengelupas. Bau busuk menyebar ke mana-mana. Selain itu lalat-lalat berhamburan setelah mengerubungi jasad tersebut. Bahkan ada organ yang hampir copot. Hal ini tentu sedikit menyulitkan proses identifikasi. Terlebih para warga sama sekali tak mengenal dan merasa bahwa mayat itu bukan penduduk setempat.

“Mayat ini bukan warga kami, Pak.” kata Pak RT saat memberi keterangan pada polisi.

Di antara kerumunan warga ada yang berbisik-bisik. Mereka baru saja pulang dari kerja. Merasa penasaran, mereka berhenti sejenak untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.

“Apa kamu yakin?” ujarnya.

“Ya, aku yakin. Aku sangat kenal dengan baju itu.”

“Eh, di mana-mana yang namanya baju atau kain banyak kesamaan. Belum tentu orang ini yang kamu maksud.”

“Memang. Sekilas aku juga kenal ciri-ciri fisiknya. Coba ingat baik-baik! Kalau tidak salah dia adalah guru ngaji di desa kita, kan?”

Kedua orang itu terus berbisik-bisik tanpa peduli kerumunan orang yang sedang menyaksikan proses identifikasi yang dilakukan tim polisi.

“Sebentar ... sepertinya benar apa katamu, Man. Tapi apa mungkin? Bukankah di desa kita, ia dikenal sangat baik, ramah, dan suka menolong? Bahkan menurut saya, dia cukup alim.” ia mencoba meyakinkan diri.

“Orang baik itu dilihat dari mana dulu? Belum tentu apa yang kita lihat baik di luar, sama baiknya dengan apa yang ada di dalam. Bisa jadi di luar tampak alim, tapi di dalam justru sebaliknya—hancur-hancuran.”

“He, kok malah berkata yang tidak-tidak. Bukan mendoakan ... malah mencibir.”

“Maaf ...”

Laun, tempat kejadian perkara tersebut makin ramai. Tim kepolisian sudah memasukkan jasad itu ke dalam tas mayat dan mengangkutnya dengan mobil jenazah.

“Apa perlu kita lapor ke polisi?”

“Sepertinya kita jangan langsung lapor. Jika kita sudah yakin bahwa mayat itu adalah guru ngaji di desa kita, sebaiknya kita cari alamat dan memberi tahu pihak keluarganya.”

“Ya. Lebih baik begitu. Ayo kita cari alamat rumahnya.”

Kedua orang itu segera pulang.

Setiba di rumah masing-masing, keduanya segera mencari informasi terkait alamat rumah guru ngaji yang sudah meninggal ter ....

NB: Cerita selengkapnya bisa dibaca dalam versi buku atau cetak.
Baca selengkapnya


SEMBILAN BELAS

HARI ini semua telah menjadi saksi atas pertemuan cinta serta rindu yang sekian lama terhalang oleh ruang dan waktu. Apa yang semual meredup, kini mulai merekahkan cahaya. Segala yang dulu membentang pun luluh lantak dalam sekejap. Sungguh betapa dua sejoli itu kini bertabur bunga-bunga dalam jiwanya. Cinta yang dulu sebatas angan, kini jadi kenyataan. Getir yang dulu sering kali hadir telah menyingkir—bahkan tergantikan oleh desir manis sepanjang waktu bergulir.

Di hadapan Kiai Mahfud dan Gus Mualim, Rusli mempersunting Sukma. Hari itu Rusli mengucapkan ijab kabul untuk Sukma. Setalah dinyatakan sah, Rusli dan Sukma saling berpeluk melepas rindu di jiwa. Keduanya saling tersedu-sedu. Derai air mata tak tertahan lagi. Ada sesuatu yang begitu menohok rongga dada. Pertemuan kembali dua hati yang lama terpisah melahirkan kedahsyatan cinta. Luap yang begitu hebat membuat dua sejoli itu pun pingsan.

Tentu saja hal itu membuat para tamu—terutama Kiai Mahfud dan Gus Mualim—tampak panik. Mereka lantas mencari cara agar Rusli dan Sukma segera siuman.

Sepanjang usia Kiai Mahfud dan Gus Mualim, baru kali ini mereka menyaksikan betapa dahsyat kekuatan cinta mempertemukan dua hati. Sangat beda jauh ketika melihat pertalian cinta hanya karena berahi atau ambisi tertentu. Apa yang tampak hanyalah hampa. Lebih ironis lagi bila cinta sekadar pelampiasan berahi. Senang, kencan, ditinggalkan.

Hari ini Rusli telah resmi menjadi suami Sukma. Ia telah melaksanakan wasiat almarhum istri pertamanya, Fatimah, untuk menikahi Sukma. Begitu pula dengan Sukma yang secara langsung diminta oleh Fatimah—satu jam sebelum mengembuskan napas terakhir pasca melahirkan—agar bersedia menjadi istri Rusli.

“Maafkan aku Sukma!” ucap Rusli sembari terus memeluk erat istrinya.

“Aku juga minta maaf, Mas ...”

“Maaf jika aku telah mengecewakanmu. Aku telah mengkhianatimu, Sukma.”

“Ya, Mas. Dari awal aku sudah memaafkanmu. Aku ikhlas menerima semua yang sudah terjadi. Kupikir ... mungkin jalan kita harus begini. Awalnya memang terasa berat, lambat laun aku terus mencoba dan berharap bisa bersamamu lagi—walau entah apakah hal itu pasti terjadi atau bahkan tidak sama sekali. Aku juga yakin jika pilihan Mas saat itu membuat hidup lebih bahagia, aku juga turut merasa bahagia. Segalanya kulakukan demi membuktikan bahwa aku benar-benar mencintaimu secara tulus. Bukankah dulu Mas pernah bilang bahwa dalam cinta pasti ada ujian? Aku masih ingat betul apa yang Mas katakan padaku, “Bila kita mampu melampaui batas ujian cinta, maka kebahagiaan yang kita dapatkan walau ada pedih dan perih di dalamnya.” Sebagian besar apa yang telah Mas katakan padaku masih kuingat dengan jelas. Bermula dari itu pula kucoba bertahan, sabar dan setia menghadapi semuanya. Kurelakan jiwa ini terluka demi cinta kita, Mas. ”

“Oh ... aku benar-benar berdosa padamu, Sukma. Justru aku yang rapuh selama ini. Justru aku yang ingkar pada kata-kataku sendiri. Sungguh ... maafkanlah aku, istriku.”

“Sudahlah, Mas! Apa yang telah terjadi biarlah terjadi. Sekarang mari bina rumah tangga kita dengan sebaik-baiknya. Mari rawat Rumi dan anak-anak kita secara baik agar kelak jadi anak saleh.”

Sangat manusiawi ketika kali pertama Sukma mendengar bahwa Rusli akan menikah dengan orang lain, Fatimah. Jalinan cinta yang tumbuh terasa porak-poranda. Ada rasa yang terkoyak di dalam dada. Hampir kesadaran terlepas, namun Sukma masih punya iman. Ia masih menggunakan akal sehatnya ketika menghadapi kenyataan tersebut. Cinta memang butuh ketulusan dan pengorbanan. Tak sekadar janji manis, belaian atau buaian semata. Ia tetap mengedepankan pikiran positif walau seluruh rasa tercabik-cabik. Kesedihan memang membuat tubuhnya lemah, tapi ia tak menyerah. Untuk sementara waktu seluruh energinya memang terkuras dan sering menyisakan nyeri di dada.

Pedih perih di dalam bantin membawanya pada petualangan spiritual luar biasa. Nikmat tapi juga perih. Kepedihan dan air mata membawanya pada moksa hakiki. Detik demi detik ia petik hikmah. Berjalan pada keheningan makrifat agar seluruh hidup sampai pada hakikat. Ia benar-benar merasakan nikmat cinta setelah menyerahkan seluruhnya pada Sang Pencipta.

Kini, segala pergulatan batin yang dulu mendera telah berbuah kebahagiaan teramat manis. Tiap embus napas melafalkan nada surgawi. Sentuh yang dulu sebatas angan, kita benar-benar nyata di depan mata. Tak ada lagi rahasia tersembunyi di antara dua insan yang kini berada di bawah naungan suci pernikahan. Benih cinta yang dulu tersemai di taman asmara pun mulai berkecambah dan menampakkan tanda-tanda kehidupan. Tiap bisik dan ucap membawa roh trbang tinggi arungi semesta.

Siapa yang mampu mencegah bila janji suci telah terpatri dalam hati? Getir manis hidup memang harus dihadapi, namun tanpa sentuhan cinta, hidup ibarat makan tanpa bisa menikmati kelezatannya. Hanya dikunyah, masuk ke dalam perut, lalu berubah jadi kotoran.

Rusli kini telah mendapatkan kembali cahaya cinta yang dulu nyaris padam. Ia tampak bahagia menjalani hidup bersama Sukma dan juga putranya, Rumi. Penuh kasih Sukma merawat Rumi yang masih berusia 3 bulan. Meski tak lahir dari rahimnya, Rumi adalah anak ....


NB: Cerita selengkapnya bisa dibaca dalam versi buku atau cetak.
Baca selengkapnya


DELAPAN BELAS

FAJAR begitu remang. Bukit dan juga lereng dipenuhi kabut abu-abu. Senyum dan air mata mewujud jadi satu. Anugerah itu telah lahir ke dunia, namun bersamaan dengan itu duka meraja di dada. Tangis bayi itu memecah sunyi sekaligus menutup separuh senyuman. Walau azan dikumandangkan di antara kedua telinganya, namun kesedihan tak dapat berdusta. Tapat di hari Asyura—untuk kali pertama—ia menghirup napas dunia. Sewadak harap telah menanti. Namun sayang, ia lahir tanpa ditemani sang ibu.

“Nak ... sabar, ya! Kamu harus kuat menghadapi kenyataan ini. Mungkin ini sudah suratan takdir. Allah telah menetapkan umur istrimu. Sabarlah! Semoga amal ibadahnya diterima Allah Swt. Tak perlu larut dalam kesedihan. Mari ikhlaskan kepergiannya,” ujar Kiai Mahfud. “Sekarang di hadapanmu telah ada amanah baru yang harus kamu bimbing supaya kelak menjadi anak saleh.”

Ya. Meski kini telah lahir buah hatinya, namun bersamaan orang yang begitu dicintai turut pergi. Istrinya telah dipanggil oleh Sang Ilahi. Tentu saja, selepas istrinya meninggal, ia merangkap sebagai seorang ayah sekaligus seorang ibu. Hari demi hari pasca istrinya meninggal, bisikan-bisikan jahat berdatangan, tapi ia terus bertahan dan melawan. Ia terus bertahan pada pikiran positif agar tidak terjerumus ke dalam kesesatan. Lagi-lagi ia harus kuat bertahan. Ia tak mau mengulang kisah kelam orang tuanya di masa lalu. Bertahan, ya, ia harus terus bertahan walau apa pun yang terjadi.

Sepenuh hati ia rawat buah hatinya. Ia benar-benar merasakan bahwa mengurus anak tidaklah mudah. Tak hanya menyuapi, memberi susu dan meninabobokkan, tapi ia juga harus sering terjaga dari tidur karena anaknya mengompol. Pagi hari, selain harus mengasuh, ia juga harus mencuci popok anaknya. Begitulah hari demi hari ia lalui. Walau barat namun ia bahagia.

“Assalamualaikum ...”

“Waalaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh. Gus Mualim?” sahut Rusli sembari menjemur popok.

“Apa kabar, Gus?”

“Alhamdulillah kabar baik, Rus.”

“Dari mana saja, Gus?”

“Dari rumah Abahmu. Lama saya tidak silaturahmi.”

“Maaf kalau aku tidak bisa melayat istrimu. Saat itu aku benar-benar tidak bisa pulang karena dinas ke luar kota. Aku benar-benar minta maaf atas semuanya.”

“Tidak apa-apa, Gus. Saya maklum.”

“Boleh saya lihat anakmu?”

“Oh, boleh. Kebetulan dia masih tidur. Mari ... silakan!”

Rusli mengajak Gus Mualim masuk ke rumah dan menunjukkan buah hatinya.

“Anakmu tampan seperti ayahnya. Siapa namanya?”

“Mahesarumi Kalilulintang Alfatimi.”

“Bagus sekali namanya.”

“Terima kasih, Gus!”

Tanpa canggung, Gus Mualim menggendong Rumi. Lazimnya seorang ayah ia kidung bayi itu. Luwes.

“Ngomong-nomong, apa tidak repot mengasuh anak sendirian?”

“Ya, sebenarnya begitu. Tapi mau bagaimana lagi?! Bisa tidak bisa, saya tetap harus berusaha mengasuhnya sebaik mungkin.”

Barangkali merasa nyaman, Rumi pun kembali tertidur pulas dalam gendongan Gus Mualim. Saking asyik menggendong Rumi, Gus Mualim tidak sadar kalau bajunya basah kena ompol. Rusli pun meminta maaf karena hal itu. “Tidak apa, Rus. Itu tandanya Rumi nyaman kugendong dan bersama denganku.”

Rusli segera mengganti popok dan menggendong putranya.

“Maaf, Rus. Bolah aku tanya sesuatu?”

“Soal apa itu, Gus?”

“Aku merasa kamu sedang ada masalah? Benar begitu?”

“Ah ... tidak ada masalah apa-apa kok, Gus?” sahut Rusli sembari menggelengkan kepala. Walau menyanggah, jawaban dan geleng kepala itu tak bisa membohongi apa yang sebenarnya bergolak di dalam dada.

“Jangan bohong! Tak perlu menyembunyikan masalah sendirian.”

“Benar, Gus. Saya tidak ada masalah apa-apa.”

“Katakan saja. Tak perlu sungkan. Insya Allah, aku akan berusaha membantu.”

Rusli hanya menggelang sembari menundukkan wajah.

“Kalau boleh aku menebak, sebenarnya kamu sedang menangung beban asmara, kan? Selain almarhumah istrimu, kamu masih memendam rasa cinta pada orang lain, kan?”

Tak ada yang bisa dibantah dari pernyataan Gus Mualim. Rusli sadar dengan siapa ia berhadapan. Ia tahu jika Gus Mualim memiliki kemampuan lebih. Ia memiliki ilmu laduni. Selain itu, Gus Mualim juga memiliki kemampuan membaca pikiran orang lain. Jika sudah demikian, tak ada yang bisa dilakukan oleh Rusli selain diam dan berusaha menyembunyikan rahasia di lipatan hatinya.

“Benar kamu mencintai Sukma?”

Mendadak Rusli terkaget-kaget. “Dari mana Panjenengan tahu kalau saya mencintainya?”

“Apa perlu kujelaskan dari mana kuketahui hal itu? Benar, kan, jika kamu mencintainya?”

Rusli semakin menundukkan wajah sembari mendekap erat tubuh mungil Rumi. Matanya tampak berkaca-kaca.

“Aku tidak sedang ingin memarahi kamu. Aku juga tidak bermaksud menghalangi atau melarangmu.”

Tampak Rusli mulai menggigil. Ia menggigil menahan tangis dan juga rasa sesak yang kian memenuhi rongga dada.

“Tapi saat ini saya tak bisa lagi mencintainya, Gus.”

“Loh, kenapa?”

“Saya merasa sudah tak pantas lagi untuknya. Saya merasa jauh di bawahnya. Saya merasa antara kami sudah ada bentang jarak. Ada jarak yang memisahkan kami. Semakin lama saya merasa tak mampu menggapai cintanya. Kudengar ia sangat alim. Mana mungkin dia mau dengan saya? Apalagi saya sudah mengkhianti dan telanjur menyakitinya.”

Mendengar bantahan itu, Gus Mualim tersenyum dingin. Ia tahu bahwa anggapan Rusli keliru besar. Ia tahu bahwa tidak seperti itu faktanya.

“Jangan salah sangka lebih dulu! Sebenarnya dia masih mencintaimu. Dia masih menunggumu. Ia berubah begitu karena ingin mengalihkan kesedihan yang ia rasakan. Ia tak mau terus-menerus diliputi kesedihan. Selain ingin mendekatkan diri pada Allah Swt., ia juga masih mengharap kedatangamu. Ia masih berharap bisa hidup denganmu.”

Rusli benar-benar tak percaya dengan perkataan Gus Mualim. Ia masih ragu dengan kabar itu. Semua masih mental dan belum masuk di akal.

“Benarkah apa yang saya dengar ini? Jangan-jangan Panjenengan sedang bercanda.”

“Dengarkan penjelasanku ini, ya. Semoga kamu percaya dengan apa yang kukatakan ini.” Gus Mualim menjeda ucapnya sejenak, “Dia sering datang ke rumah dan meminta bimbingan. Sesekali ia juga mencurahkan isi hati soal hubungannya denganmu. Saat ia tahu bahwa kamu menikah dengan almarhumah, ia benar-benar terguncang. Ia nyaris tak percaya dan hampir lepas kendali. Mungkin jika tak kuat iman ia pasti akan melakukan tindakan di luar batas. Tapi tidak. Ia ingin bertahan. Ia masih menggunakan akal sehatnya. Kalau gadis lain mungkin akan berpikir cari ganti atau akan membalas sakit hatinya dengan hal-hal tak lazim. Sekali lagi kutegaskan bahwa dia bukanlah gadis semacam itu. Kekuatan cintanya untukmu benar-benar luar biasa. Aku benar-benar kagum dengan kenyataan ini. Ternyata kisah semacam ini bukan dongeng semata. ia tetap manusia biasa yang butuh cinta dan kasih sayang. Jadi, sangat rugi jika lantas kamu sia-siakan penantian cinta dan kerinduan di jiwa ....


NB: Cerita selengkapnya bisa dibaca dalam versi buku atau cetak.
Baca selengkapnya


TUJUH BELAS

SUDAH setahun Rusli mengarungi hidup berumah tangga. Entah mengapa ia belum bisa memusnahkan rasa di dadanya terhadap Sukma. Apakah ia tidak setia dengan Fatimah? Tidak! Ia tidak sedang selingkuh atau berkhianat. Ia hanya tak bisa melupakan apalagi memusnahkan Sukma dalam kehidupannya. Tampa harus membandingkan fisik, kedua perempuan itu memang benar-benar cantik. Mereka berdua juga sama-sama mengerti keadaan maupun masa lalunya. Perlu ditegaskan pula bahwa Rusli juga mencintai Fatimah, mencintai sepenuh tanggung jawab sebagai seorang suami. Namun cintanya pada Sukma benar-benar sulit dilupakan hingga kini. Rusli benar-benar dihatui rasa bimbang sekaligus rasa bersalah. Bimbang karena masih ada cinta untuk Sukma, merasa bersalah karena masih saja mencintai Sukma walau kini telah menikah dengan Fatimah.

“Mas ... a-ak-aku hamil,” kata Fatimah sembari menunjukkan test pack. Mata Fatimah tampak berkaca-kaca. Terpancar kebahagiaan di raut wajah ranum itu.

Begitulah Rusli. Meski mendapat kejutan, ia tetap berekspresi datar. Bukan berarti tidak bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah Swt., padanya. Ia hanya tak pandai mengungkapkan ekspresi dengan gerak tubuh secara berlebihan. Ia hanya mengucap syukur alhamdulillah atas kabar gembira tersebut secara apa adanya. Meski demikian, sisi nalurinya sebagai calon orang tua tetap tak bisa berdusta, ia pun menangis karena bahagia. Ia pegang bahu, memeluk dan mengakhiri dengan ciuman berulang kali di kening istrinya. Ia rengkuh istrinya hingga benar-benar terbenam dalam pelukan.

Di sisi lain, kabar tersebut memang alirkan desir bahagia, namun di lain sisi ada kehawatiran sekaligus rasa takut. Sejauh ini Rusli selalu dihantui tanda tanya. Ia selalu bertanya-tanya, apakah semua ini harus diakhiri atau dibiarkan saja hidup di dalam jiwanya? Semua telanjur terjadi. Ia tak ingin ada rahasia dalam rumah tangganya, tapi apalah daya, rasa cinta pada Sukma masih begitu kuat dalam dada. Ia tak ingin mengulang kisah cinta orang tuanya di masa lalu. Ia benar-benar bimbang.

“Mas ... maafkan aku!”

Kata-kata itu memicu hening hadir dalam kamar.

“Maaf untuk apa, Ma?”

Fatimah diam sejenak. Tampak ada ragu terpancar di wajahnya.

“Katakan saja, Ma! Ada apa?”

“Maaf jika aku sudah memutuskan hubunganmu dengan Sukma ....” ucapan itu tercekat oleh sesenggukan. Fatimah makin mengeratkan pelukan pada suaminya. Ia benar-benar diliputi cemas dan takut. “Aku benar-benar minta maaf,” lanjutnya dan semakin mengeratkan pelukan. Ia menyandarkan kepala sedemikian pasrah di bahu suaminya.

“Hukum aku jika itu bisa menghapus salah dan dosaku, Mas.” Fatimah makin tersedu-sedu. Suaranya pun tersendat-sendat. “Sebenarnya dari dulu aku sudah tahu kalau Jenengan menjalin hubungan dengannya. Banyak sudah yang kudengar dari hubungan kalian. Aku benar-benar tak mengira jika akhirnya seperti ini. Aku juga tak ada niat merebutmu darinya. Kala itu aku sadar bahwa tak mungkin mencintaimu. Jujur, sebenarnya dulu aku juga merasa jatuh cinta padamu. Tapi karena Jenengan sudah menjalin hubungan dengan Sukma, mau tak mau kupupuskan niatku mencintaimu.” Ia menyeka air matanya yang terus berlinang.

Rusli hanya mendegarkan curahan hati istrinya. Untuk saat ini ia belum bisa berkata banyak, apa yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah membelai kepala sembari terus menciumi kening istrinya. Jujur, semakin ia mendengar curahan hati dari istrinya, pilu begitu terasa mengiris ulu hati.

“Andai aku tidak egois dan ceroboh mengatakan bahwa aku suka denganmu, barangkali Abah akan berpikiran lain. Jujur saat itu aku tidak ada pilihan lain. Aku tidak cinta pada Kiai Latif. Apa yang terlintas di pikiranku hanyalah ingin hidup bersamamu. Berbulan-bulan aku pertimbangkan dan selama itu pula aku ingin melupakanmu, nyatanya tak bisa. Aku sudah berusaha istikharah, tapi aku belum mendapat jawaban. Maka dari itulah mengapa aku tak segera memberi jawaban atau kepastian atas pinangan dari Kiai Latif. Aku tak bisa membohongi diriku sendiri. Berulang kali Abah menanyakan kepastian, tapi aku tak bisa menjawab. Makin hari aku merasa tertekan. Puncaknya adalah saat Kiai Latif datang ke rumah untuk memastikan keputusanku. Aku merasa tersudut kala itu, sebab sudah hampir dua tahun kugantungkan harapan orang lain. Aku tak bisa berlama-lama hidup dalam tekanan semacam itu. Akhirnya dengan setengah keberanian kukatakan bahwa aku mencintaimu, Mas.” 

Tangis Fatimah makin pecah dan menjadi-jadi. Menyaksikan kejadian seperti itu, Rusli makin tak bisa berbuat banyak selain menjadi pendengar terbaik walau ada guncangan bertubi-tubi dalam jiwa.

“Andai dulu aku tak berkata begitu, mungkin Jenengan sudah hidup bahagia dengan Sukma. Aku benar-benar telah menghancurkan kebahagiaan kalian. Kejujuranku malah membuatmu harus menikahiku. Aku sadar dan tahu bahwa Jenengan menikahi diriku karena rasa terpaksa dan ingin menghormati Abah saja.”

Mendengar kata itu, Rusli menyanggah. “Sudah ... jangan berprasangka begitu. Jangan lagi mengungkit-ungkit masa lalu.”

“Aku sadar semua ini salahku. Aku merasa bahwa Mas belum bisa melupakan Sukma. Cintamu masih sangat besar untuknya. Mas masih mencintainya, kan? Mas masih berharap bisa hidup dengannya, kan?”

Cepat-cepat Rusli menutup bibir Fatimah dengan telunjuknya. Ia tatap wajah istrinya dalam-dalam. Ia usap air mata yang masih mengalir deras itu.

“Untuk menebus semua kesalahan dan juga dosaku, aku rela jika Mas menikahinya.”

Mendengar ucapan itu, emosi Rusli sedikit tersulut. “Sudah cukup! Jangan lanjutkan ucapanmu. Sekarang pikirkan saja calon anak kita yang sekarang masih dalam rahimmu. Aku tak mau memperkeruah suasana bahagia ini masalah yang sudah berlalu. Sekarang kita sudah menikah. Baru saja kita mendapat kabar bahagia, jangan mengusik kebahagiaan itu dengan kisah masa lalu. Sudahlah! Tenangkan pikiranmu. Mari jaga anugerah yang kini ada dalam kandunganmu.”

“Tidak, Mas! Hidupku tidak akan tenang sebelum menebus semua kesalahan dan dosaku. Aku tersiksa memedam semua ini. Aku tak bisa mejalani hidup dengan tenang jika terus membiarkan hal ini berlarut-larut. Mengertilah bahwa semakin hari batinku tersiksa.”

“Lalu ... apa yang kamu inginkan?”

“Kembalilah padanya! Aku rela jika hal itu membuatmu lebih bisa menikmati kebahagiaan sesungguhnya. Mungkin Mas tak bisa merasakan atau memahami perasaan wanita. Bagaimana perasaan wanita jika sudah mencintai lelaki pujaannya. Apa pun akan dilakukan. Ia rela berkorban untuk kebahagiaan orang yang begitu dicintai. Bahkan seorang wanita yang telanjur jatuh cinta tidak akan berpikir apakah ada pengkhianatan atau tidak. Pantang bagi wanita mengkhianati, kecuali jika jelas-jelas dikecewakan dan ditusuk dari belakang, ia pasti akan meradang. Ia akan memberikan seluruh hidupnya secara tulus. Seperti ibu yang begitu tulus mencintai anaknya. Sebaliknya, ketika ia disakiti, ia akan merana sepanjang masa. Barangkali saat ini kita bisa tertawa dan bahagia—apalagi saat ini aku telah mengandung—tapi, apakah Mas merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Sukma? Kurasa tidak! Soal perasaan, laki-laki dan wanita sangat jauh beda. Wanita jauh lebih peka dan berperasaan. Sebagai sesama wanita, aku bisa merasakan apa yang kini dirasakan oleh Sukma. Aku yakin sampai saat ini Sukam pasti merasa kesakitan, merasa sakit, dan menahan rasa sakit tak terkira pada dirinya. Kumohon, Mas! Hargailah permohonanku ini.”

“Cukup! Cukup, Ma. Hentikan ucapanmu itu.”

Fatimah tak kuasa menahan tangis. Ia makin tersedu-sedu. Ia pun beranjak dan masuk ke dalam kamar. Rusli pun menyusul istrinya.

Gelap malam semakin sempunakan kegelapan dalam kamar. Isak tangis itu mulai surut seiring laju hening. Tubuh yang kini berisi janin itu tak lagi menggigil kedinginan. Orang yang begitu ia cintai telah mendekapnya begitu erat. Saking cinta dan begitu sanyang pada istrinya, tak henti ia mencium kening istrinya. Membelai rambutnya yang lurus tergerai. Sebelum benar-benar terlelap, ia cium penut istrinya sembari melafalkan doa. Kebahagiaan itu terasa lengkap ketika mimpi indah membawa seluruh lelah ke dalam taman cinta bertabur caha ....


NB: Cerita selengkapnya bisa dibaca dalam versi buku atau cetak.
Baca selengkapnya


ENAM BELAS

SUDAH terlalu lama Kiai Latif menunggu keputusan dari Fatimah. Hampir setengah tahun ia menunggu namun belum ada kepastian sama sekali. Lambat laun kesabarannya juga menipis bahkan mungkin telah habis. Sepenuh keyakinan ia pun datang ke Kampungkuning guna menemuai Kiai Mahfud, orang tua Fatimah. Selain silaturahmi, ia juga menyampaikan maksud kedatangannya bertamu.

“Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada Panjenengan, seyogianya hal semacam ini kita bicarakan dengan yang bersangkutan. Saya kira ini bukan masalah sepele. Ini masalah masa depan—terutama bagi Fatimah,” kata Kiai mahfud menanggapi maksud kedatangan Kiai Latif. “Jika Fatimah mau dan berjodoh, sebagai orang tua, kami hanya bisa memberi doa restu saja. Bahkan jika memang Fatimah mau menikah dengan Panjenengan, kami pun merasa beruntung. Tapi, kita juga sudah sama-sama tahu bahwa seorang gadis memiliki hak untuk menerima atau menolak pinangan. Alangkah lebih baik jika yang memberi putusan adalah Fatimah langsung.”

Mimik Kiai Latif tampak meredup. Pancaran wajah yang semula berseri-seri kini berangsur surut. Jauh di dasar hati, tebersit kekecewaan. Senyum yang tersungging tak lagi sama sediakala.

“Baiklah, Pak Kiai. Saya tidak akan memaksa Fatimah memberikan jawaban secara terburu-buru. Biarlah atas kerelaan Fatimah sendiri memberikan jawaban atas niat baik saya ini.”

Menunggu dan terus menunggu adalah hal yang bisa dilakukan Kiai Latif sampai benar-benar ada jawaban dari Fatimah. Menunggu memang sangat membosankan sekaligus melelahkan. Bahkan bersabar dalam menunggu sesuatu tak kalah gigih dengan melawan musuh di medan perang. Terus ... atau mundur. Berhasil ... atau malah gagal.

Sebagai orang tua, sebenarnya Kiai Mahfud merasa senang menerima pinangan dari Kiai Latif. Selain sudah jelas bibit, bebet, dan bobotnya, siapa yang tak kenal dengan Kiai Latif? Di kalangan masyarakatnya, Kiai Latif dikenal dermawan dan rendah hati. Bagi masyarakatnya, Kiai Latif juga sangat karismatik. Di lain sisi, sebagai orang tua, Kiai Mahfud juga harus bersikap adil pada putrinya. Semua harus diperhatikan serta dipertimbangkan. Tentu saja semua tak lepas dari ketetapan Allah Swt. Jika Ia berkehendak, maka semua pasti terjadi. Jika Ia tak berkehendak, maka semua tidak akan pernah terjadi.

Apa yang dialami oleh Kiai Mahfud saat ini mengingatkan kembali pada memoar waktu muda dulu. Sewaktu di pondok, ia punya teman—Mirah namanya—meski tidak akrab dan hanya bertemu jika ada perlu. Setidaknya, pertemanan itu tak luput dari saling berbagi kisah hidup. Mirah sering menceritakan masalah yang sedang dihadapi, terutama soal keinginan orang tuanya yang hendak menikahkannya. Orang tua Mirah memaksa agar mau menerima lamaran dari guru ngajinya. Jauh dari dalam hati, Mira sama sekali tak suka pada laki-laki itu. Entah karena takut kualat atau tak ingin durhaka pada orang tua, Mirah akhirnya menerima lamaran tersebut. Rumah tangga Mirah tak bertahan lama, hanya seumur jagung. Ia tak mendapatkan kebahagiaan lazimnya seorang istri. Lahir batinnya terluka. Ternyata baru diketahui bahwa suami Mirah sudah punya tiga istri dan Mirah merupakan istri keempat. Selama menikah, Mirah tak mendapat kepuasan lahir maupun batin. Ia dicampakkan setelah malam pertama dilakukan. Karena tidak mendapatkan nafkah secara semestinya, ia meminta cerai. Ia meminta dikembalikan kepada orang tuanya. Proses cerai pun tak berjalan mulus. Suami Mirah tak kooperatif saat sidang perceraian dilakukan. Suaminya banyak alasan dan pergi keluar kota dengan istri-istrinya yang lain. Ia malah dijadikan pembantu di rumah itu. Mirah ingin kabur, tapi takut jika dimarahi orang tuanya. Sejauh ini orang tuanya hanya tahu bahwa kondisi rumah tangga yang dibina selama ini aman dan baik-baik saja. Ia ingin mengakhiri penderitaannya dengan cara bunuh diri, tapi gagal karena kepergok orang lain. Tuhan pun mendengar doanya, ia pun dikembalikan pada orang tuanya walau dilakukan dengan cara tak baik.

Berbekal dari pengalaman yang dilihat dan didengar sampai saat ini, Kiai Mahfud tak ingin gegabah. Ia tak mau mempertaruhkan masa depan putrinya dengan risiko-risiko tak diharapkan. Tidak bisa semua disamaratakan, tidak semua orang—terutama Kiai—berperilaku buruk. Meski tidak tahu persis, tapi ia yakin kalau Kiai Latif adalah orang baik. Ia juga yakin bahwa rumah tangga yang dibangun atas dasar cinta akan senantiasa menhadirkan kebahagiaan. Meski tinggal di bawah kolong jembatan, keceriaan dan juga kebahagiaan pasti selimuti hati. Hidup dalam kecukupan ataupun kekurangan, selama cinta kasih masih ada di dada, maka kebahagiaan senantiasa meraja. Tapi, ketika tak ada rasa cinta apalagi dipaksa atau merasa terpaksa sudah pasti derita yang menimpa. Cinta karena dusta sudah pasti membuat hidup merana. Walau tinggal di istana, tapi terasa dipenja ....


NB: Cerita selengkapnya bisa dibaca dalam versi buku atau cetak.
Baca selengkapnya


LIMA BELAS

SUMPAH serapah keluar dari moncong para pendukung Kiai Aziz yang merasa kecewa atas perolehan penghitungan suara dalam pemilihan kepala daerah tahun ini. Kiai Aziz kalah tipis dengan Gus Mualim—hanya 10% dari total pemilih. Mau tak mau, Kiai Aziz harus menerima kekalahan ini dengan lapang dada. Tapi, sebagai simpatisan yang fanatik tentu tidak akan terima bila jagonya kalah berlaga.

“Ini pasti ada kecurangan! Kami tidak terima. Kami minta ada penghitungan ulang.”

“Ya. Banyak sekali pelanggaran dalam pilkada kali ini, tapi pengawas tidak tegas.”

“Tidak mungkin Kiai Aziz kalah, sebab pendukungnya jauh lebih banyak dibandingkan dengan kubu sebelah.”

Emosi para pendukung Kiai Aziz tak bisa dikendalikan lagi. Mereka mengamuk. Merusak apa saja yang ada di lapangan tempat pemungutan suara. Akibat ulah mereka yang sangat arogan, banyak fasilitas umum akhirnya rusak. Para pendukung Kiai Aziz benar-benar kesetanan.

“Bakar!” seru seorang laki-laki bertubuh tambun.

“Mari tegakkan keadilan dan kejujuran!” pekik seorang laki-laki sembari mengubrak-abrik kursi plasti yang semula dijadikan sebagai tempat duduk para pemungut suara.

Tentu saja situasi ini membuat panik dan takut semua orang yang hadir di lapangan.

Meski ada aparat, namun mereka tak berkutik. Usaha pencegahan gagal. Huru-hara terus terjadi. Umpatan, makian, ujaran-ujaran kebencian dilontarkan.

Diterima atau tidak, Gus Mualim tetap melaju dan segera dilantik sebagai kepala daerah. Ia telah dipilih langsung oleh perbagai lapisan masyarakat. Tentu saja keputusan itu tidak bisa lagi diubah walaupun dari kubu Kiai Aziz melakukan banding ke Mahkamah Konstitusi. Tapi upaya banding ditolak.

Tak ayal Kiai Aziz pun pingsan mengetahui perolehan suara tersebut. Ia tak bisa menerima kenyataan telah kalah dalam pemilihan kali ini.

Keributan terus berlanjut. Suasana makin memanas ketika massa membakar sebuah toko dan menjarah isinya. Keributan itu memakan korban. Tiga orang tewas dan puluhan orang luka berat dan luka ringan. Suasana makin mencekam saat para pendukung Kiai Aziz berarak-arakan ke jalan raya. Mereka meyalakan petasan dan melemparkan ke segala arah.

Kampungkuning mencekam.

Sebagai tindak lanjut—sehari setelah huru-hara terjadi—satu kompi aprat kepolisian datang menciduk beberapa orang yang dijadikan sebagai provokator. Sepuluh orang ditetapkan sebagai tersangka. Tak hanya dari kubu Kiai Aziz, tapi juga ada dari kubu Gus Mualim. Mereka harus bertanggungjawab atas perbuatan yang sudah dilakukan.

*** 
“ALHAMDULILLAH. Selamat, ya, Gus. Sekarang Panjenengan sudah resmi menjadi kepala daerah.”

“Alhamdulillah. Terima kasih, Man. Berkat bantuanmu juga saya berhasil jadi kepala daerah. Barangkali jika tanpa dukungan kalian semua, saya belum tentu menang.”

Sebagai bagian dari rasa syukur, Gus Mualim mengundang ribuan anak yatim piatu ke rumah. Mereka pun mendapat santunan dan juga pendidikan gratis. Sebagian anak-anak yatim yang masuk pendataan kini telah tinggal di asrama. Bukan hanya anak-anak yatim piatu, anak-anak dari keluarga tak mampu juga mendapat tunjangan serta pendidikan secara cuma-cuma.

Meski telah menjabat sebagai kepala daerah, Gus Mualim tak mau menjadi sombong atau takabur. Ia ingin mencontoh sekaligus meniru kepemimpinan para aulia—sekalipun tidak sepenuhnya sama. Ia ingin menerapkan kepemimpinan yang adil dan merata agar rakyatnya sentosa. Seperti halnya khalifah Umar r.a, yang selalu mengawasi rakyatnya langsung tanpa perantara. Ia tak mau sekadar mendengar lapoan dari orang lain. Saat terjun dan mendengar langsung keluhan itulah ia melihat, mendengar sekaligus merasakan penderitaan yang dirasakan rakyatnya kala itu. Tentu saja ketika terjun langsung dan tahu betul persoalan yang ada, ia bisa langsung ambil tindakan. Ia sadar bahwa menjadi pemimpin memiliki tanggung jawab yang berat. Ia berusaha keras untuk bisa melayani rakyat dengan sebaik mungkin tanpa berharap balasan. ia sadar bahwa rakyatnya memiliki hak sama dalam menjalani hidup.

Bukan lagi menjadi rahasia jika sebagian besar anggota dewan yang ada di parleman sering kali menunjukkan sikap kurang terpuji. Bahkan kadang semena-mena. Entah karena sudah gelap mata, haus hormat atau memang keserakahan telah penuh dalam diri sehingga empati atau simpati terhadap rakyat musnah. Seolah-olah bekerja untuk memperjuangkan rakyat, nyatanya tidak. Mereka hanya memperjuangkan diri sendiri, keluarga, dan kelompoknya saja.

Gus Mualim sangat menyayangkan dan tak habis pikir, mengapa masih saja ada oknum anggota dewan yang suka berbuat amoral. Berjudi, pengedar narkotika, korupsi dan main perempuan. Lebih parah lagi sebagian besar oknum tersebut sangat paham agama dan berpendidikan tinggi. Barangkali mental mereka telah rusak sehingga melakukan penyimpangan adalah sebuah kewajaran. Tak lagi takut dosa. Seolah-olah berani melawan aturan Tuhan. Agama hanya simbol semata. Agama hanya menjadi ritual yang kehilangan esen ...


NB: Cerita selengkapnya bisa dibaca dalam versi buku atau cetak.
Baca selengkapnya


EMPAT BELAS

SORE tampak bersahabat. Para santri menghabiskan waktu senja dengan zikir petang. Sebagian ada yang melafalkan tahmid, tahlil, tasbih ataupun selawat. Ada pula yang membaca ayat-ayat Alquran; di antaranya surat Almulk, Alwaqiah, Surat Yasin, atau surat lainnya. Aktivitas semacam ini terasa begitu syahdu. Begitu mengasyikkan. Tiap tempat—bahkan sampai sudut-sudut ruang—terdengar lafal-lafal suci diucapkan. Sungguh hal ini membuat hati bergetar dan membawa terbang tinggi menuju ribaan Gusti, Sang Pencipta Jagat Raya.

Pancaran matahari berangsur redup. Surup. Laun remang lalu menghilang di balik onggok perbukitan.

“Rus, besok tolong antarkan Fatimah ke pondok. Aku tidak bisa mengantar karena ada undangan di kelurahan,” pinta Kiai Mahfud.

“Insya Allah, Pak Kiai.”

“Jangan lupa ... setiba di sana sampaikan salamku pada Kiai Latif.”

“Insya Allah, akan saya sampaikan.”

Lamat-lamat terdengar surat Arrahman dilantuntan lewat sepiker masjid, kemudian disusul kumandang azan Magrib. Satu per satu para santri berduyun-duyun menuju tempat ibadah. Secara bergantian mereka wudu. Salat rawatib. Lalu salat Magrib berjamaah.

Setelah salat berjamaan, mereka menuju kelas masing-masing untuk mengaji.

Seperti biasa, pada malam Selasa, Rusli harus mengajar qariah di asrama putri.

“Nikmah ... di mana Sukma? Kok hari ini tidak kelihatan?” tanya Rusli sebelum memulai pelajaran qariah.

Entah dibuat-buat atau memang benar-benar batuk. Mendengar pertanyaan seperti itu, salah satu di antara santriwati terbatuk-batuk. Ada juga yang berdeham.

“Dia pulang kampung.”

“Kalau boleh tahu, ada keperluan apa dia pulang?”

“Kemarin dia dapat kabar kalau mamanya sakit. Saat ini sedang dirawat di rumah sakit. Sebenarnya saya mau menemani, tapi dia menolak.”

“Sudalah lama mamanya sakit?”

“Kabar yang saya dengar baru seminggu ini. Sukma baru bisa pulang kemarin karena masih sibuk urus skripsi.”

Entah mengapa tiba-tiba desir kekhawatiran itu menyembul dari dasar hati. Kilas wajah nan rupawan itu memenuhi pikirannya. Meski berusaha menepis, namun rasa itu makin menjadi-jadi. Kalut-malut membuat laju kesadaran semrawut. Kekacauan itu bukan hanya dalam diri saja, namun juga pada proses belajar. Acap kali Rusli mendapat teguran dari para santriwati karena ada kekeliruan saat mengajar. Meski sudah berupaya untuk tetap konsentrasi, tetap saja ada kekeliruan.

Dalam hati kecil, Rusli berdoa atas keselamatan Sukma. “Semoga kau baik-baik saja dan selamat sampai tujuan.”

Apakah ini yang dinamakan cinta? Merasa waswas bila seseorang yang terasa begitu akrab tiba-tiba berada jauh dari radius penglihatan. Inikah getar cinta itu? Ketika jauh dari seseorang yang begitu diperhatikan, mendadak debar penuhi rongga dada. Inikah yang disebut kasmaran? Bila tak menatap wajah orang yang dikasihi sebentar saja, apa yang ada dalam diri pun terasa nyeri. Apakah ini yang disebut ... ah, betapa rumit menjelaskan semua yang kini melanda.

“Mas Rusli sakit, ya?” tanya Nikmah.

“Ti ... tidak,” jawab Rusli, gugup.

“Tumben hari ini banyak koreksi. Apakah ada yang sedang dipikirkan, Mas?”

Rusli menggelang.

Sejak Rusli mengajar, tingkah Sukma terlihat beda dari sebelum-sebelumnya. Saat santriwati membicarakan Rusli, tampak Sukma sangat antusias. Hari demi hari pasti membicarakan Rusli. Ya, kehadiran Rusli sebagai ustaz pengganti memang membawa perubahan sekaligus menjadi warna baru di asrama putri.

Syukurlah proses belajar malam itu bisa rampung sampai pada waktunya—walaupun kurang maksimal seperti biasa.

“Kapan Sukma kembali?” tanya Rusli seusai mengajar.

“Entah, Mas? Dia juga tidak memberi tahu kapan kembali.”

Walaupun tak dikatakan, bahasa tubuh dan sikap mampu menunjukkan apa yang tersembunyi dalam hati. Barangkali sebagian atau bahkan para santriwati menangkap isyarat bahwa selama ini ada rasa suka terpancar dari dalam diri Rusli pada Sukma. Begitu pula apa yang terjadi pada diri Sukma. Para santriwati sering menggoda Sukma dengan mengatakan bahwa antara Rusli dan Sukma adalah pasangan serasi jika kelak menikah. Malu tapi mau, tiap kali digoda semacam itu, wajah Sukma bersemu merah.

“Jika nanti Sukma sudah pulang, saya titip salam. Sampaikan juga kalau besok saya mau ke Jombang mengantar Fatimah mondok.”

Ah, ternyata Rusli tak mampu mengendalikan diri dan perasaannya. Antara sadar dan tak sadar ia berkata demikian, padahal ia tahu hal itu tak layak. Jika tak ada rasa, mana mungkin ia berani—apalagi hal itu disampaikan secara khusus? Hal itu semakin menguatkan dugaan para santriwati bahwa selama ini memang benar ada rasa suka dalam diri Rusli pada Sukma.

“Enggak titip salam rindu sekalian, Mas?” celetuk salah seorang santriwati dari balik jendela.

“Jaga sikap kamu, Rika!” tegur Nikmah—padahal sebenarnya hanya basa-basi dan ingin melakukan hal serupa, hanya saja ia tak berani melakukannya. “Insya Allah, nanti saya sampaikan.”

“Terima kasih.”

“Sama-sama, Mas.”

Rusli beruluk salam dan pamit.

Sepanjang perjalanan menuju pondoknya, pikiran Rusli makin tak keruan. Wajah Sukma selalu terbayang. Langit yang cerah dan ditaburi gemintang membuat malam itu terasa pi ...


NB: Cerita selengkapnya bisa dibaca dalam versi buku atau cetak.
Baca selengkapnya


TIGA BELAS

AKHIR-AKHIR ini dunia politik makin memanas. Kurang dari dua bulan lagi pemilihan kepala daerah akan segera dilaksanakan. Pamflet, spanduk, iklan media massa, sosial media atau sarana lain begitu gencar disebar dan ditayangkan. Partai pengusung calon pun tak kalah sibuk mencari simpatisan sekaligus menggalang suara ke seluruh pelosok desa. Masing-masing calon membentuk tim sukses. Tiap tim sukses inilah yang menjadi ujung tombak untuk membidik sekaligus menjaring simpatisan sebanyak-banyaknya. Selain menumbuhkan fanatisme pada para simpatisan, tim inilah yang juga turut menggerakkan sekaligus menyebarkan informasi kepada publik terkait calon pejabat. Semua berlomba dan menawarkan janji surga. Semua cara dilakukan untuk meraih kemenangan, tak peduli benar atau salah, asal bisa duduk di atas kursi kekuasaan. Dari cara sembunyi-sembunyi, terstruktur dan masif sampai dengan cara vulgar, semua dilakukan begitu gencar sedemikian rupa. Dosa urusan belakang, berkuasa jauh lebih utama. Persetan dengan kebersamaan dan keragaman.

“Pak Kiai, kedatangan saya kemari selain untuk silaturahmi, saya juga mohon doa restu agar dalam pemilihan nanti bisa berhasil dan meraih suara terbanyak.”

“Insya Allah. Semoga dikabulkan.”

“Amin ...”

Tiap kali pemilihan umum diselenggarakan—entah karena betul-betul ingin mendapat restu atau karena muatan politis lain. Atau mungkin karena ingin pencitraan supaya dianggap sebagai politikus yang dekat ulama, politikus religius, jujur dan bersih serta senantiasa dekat dengan orang-orang saleh—para calon pejabat maupun politikus satu per satu berkunjung ke pondok. Agar upaya itu tersebar luas dan mengesankan, tidak lupa mereka mengundang wartawan atau reporter agar diliput serta ditayangkan di media cetak maupun televisi. Praktik ini secara terang benderang terbukti ampuh untuk mendongkrak suara sekaligus mencuri perhatian, bahkan mampu menaikkan popularitas. Diakui ataupun tidak, berkunjung ke pondok dan para ulama sangat mujarab menepis stigma masyarakat atas masa lalu seseorang. Semakin sering calon atau politisi dekat dengan ulama malah menjadikan ia disanjung, dielu-elukan, dan digadang-gadang sebagai calon pemimpin idaman.

Setelah menjabat akhirnya lupa daratan. Kacang lupa pada kulitnya. Semua hanya tinggal omong kosong belaka. Aneh, bukan? Entahlah! Ah, benar-benar konyol dan sangat jenaka.

Ada juga para calon yang mendatangi para kiai dengan niat tak kalah hebat. Bukan hanya bersilaturahmi tapi juga memberi sumbangan dana fantastis. Seperti yang sudah diketahui di kalangan masyarakat, keberadaan kiai sangatlah disegani serta karismatik. Secara tak langsung dan sangat rasional kalau para politisi ingin berlomba-lomba meraih suara atau simpatisan dari pesantren. Memang sangat logis cara ini diambil, ketika seorang kiai sudah bisa dikendalikan maka para santri pun pasti ikut serta. Apalagi kebanyakan santri masih percaya bahwa menentang perintah kiai atau ulama sama artinya menentang perintah nabi—bukankah para ulama atau kiai merupakan pewaris para nabi? Pemali. Setuju atau tidak, faktanya kebanyakan santri tidak ada yang membangkang. Para santri selalu berupaya tunduk pada perintah meskipun bertentangan dengan hati nurani.

Entah daya magis apa sehingga tiap kali ada pemilihan pejabat negara, rumah Pak Kiai selalu didatangi para calon-calon pejabat tersebut. Sehari ini saja sudah ada enam calon pejabat yang bertamu. Walau beda daerah namun tujuan mereka tetap sama yakni minta doa agar dalam pemilihan nanti mendapat suara terbanyak dan menjadi pejabat.

Meski di luar musim pemilihan umum ada banyak orang yang datang membawa bingkisan, tapi menjadi sangat berbeda ketika pemilihan umum tiba. Tanpa diminta, para calon yang datang tersebut membawa bingkisan sekaligus amplop berisi uang. Sudah pasti beda antara orang biasa dengan calon pejabat ataupun para pejabat, amplop yang diberikan calon pejabat atau pejabat tersebut jauh lebih tebal dan lebih banyak. Bagi kiai yang tamak, kesempatan semacam ini tentu tidak disia-siakan. Bagi otak yang keblinger pastilah mengartikan hal itu sebagai rezeki yang tak terduga. Padahal bisa jadi cara ini masuk dalam kategori suap serta tak tulus adanya.

Dulu Pak Kiai pernah ditawari oleh suatu partai untuk ikut mencalonkan diri sebagai pejabat daerah, namun beliau menolak mentah-mentah. Selain fasilitas, partai tersebut juga menawarkan kenikmatan-kenimatan lain jika Pak Kiai mau dicalonkan. “Mengapa tidak mau, Pak Kiai? Ini kesempatan, apalagi Pak Kiai memiliki reputasi dan peluang besar untuk menang,” bujuk pengurus partai tersebut. Meski tak disampaikan langsung, namun bahasa tubuh Pak Kiai sudah cukup mewakili kata tidak atau menolak. Kelihatannya Pak Kiai tak ingin melumuri tubuh, jiwa dan pikiannya dengan noda politik. Baginya, politik adalah kepalsuan.

Suatu hari Pak Kiai memberi wejangan pada santri-santrinya, “Jika ingin bahagia banyak jalannya, namun bukan dengan cara menipu. Segala yang ada di dunia ini hanyalah sementara. Teramat sia-sia jika hidup diperbudak dunia. Apa yang sudah Allah Swt., berikan adalah amanah dan kelak pasti dimintai pertanggungjawaban.”

Selain merasa tak memiliki cukup kemampuan sekaligus kualitas yang baik dalam kancah politik, Pak Kiai juga merasa bahwa amanah terhadap para santrinya jauh lebih utama. Ia lebih memilih mengurus pondok daripada ikut campur dalam dunia politik. Ia pernah dengar bahwa politik itu kotor. Kebenaran yang tampak bukanlah kebenaran sesungguhnya. Faktanya memang demikian. Banyak calon atau bahkan partai tertentu melakukan manuver-manuver yang sangat licik, keji, bahkan teramat jahat. Beragam isu dilancarkan agar menarik massa sebanyak-banyaknya. Lebih mengerikan lagi adalah, ada oknum yang melancarkan isu seputar ras, suku, bahkan agama. Bagi oknum tersebut, isu semacam ini masih ampuh untuk memikat hati banyak orang. Mengangkat isu-isu sensitif, apalagi disangkutkan dengan isu agama, ternyata cukup manjur menggiring opini publik. Apalagi jika ada doktrin sebagai pelengkap di dalamnya, secara tak langsung pasti berpengaruh pada keyakinan seseorang. Metode ini cukup mudah merasuk sekaligus merusak hati dan pikiran, sebab seseorang akan mudah terpancing jika hal itu diusik. Jika pengaburan cara berpikir berhasil, maka kebenaran dalam hati nurani lambat laun tertutup. Puncak dari semua itu adalah perang opini antarsesama. Satu sama lain berusaha menunjukkan kekuatan masing-masing. Berdebat dan saling melontarkan ujaran secara berlebihan. Lebih menyedihkan lagi, ketika semua sudah saling beradu dan unjuk kekuatan masing-masing, kebencian demi kebencian disuarakan begitu lantang bahkan dilakukan secara terbuka. Ketika kebencian menguasai hati, kebenaran dari orang lain pun tak ada arti. Meski mata terbuka, namun buta adanya. Meski telinga masih mendengar, namun tuli adanya. semua tertutup rapat. Apa yang ada hanyalah kebenaran diri sendiri, sedangkan orang lain selalu salah. Ironis. 

Pak Kiai tak ingin mengalami apa yang sudah terjadi pada pondok-pondok lain. Nyatanya, ketika seorang kiai terjun ke dunia politik—entah mengapa—lambat laun mengalami penurunan animo maupun kualitas. Hidup segan, mati tak mau. Satu per satu para santri pindah ke pesantren lain. Tak terurus, terpuruk, dan lebih fatal lagi adalah kehancuran pondok itu sendiri. Semua tak lepas dari sikap maupun perilaku kiainya yang justru sibuk mengurus politik dan kedinasan ketimbang memerhatikan pondok.

Selain itu, alasan utama mengapa Pak Kiai tak ingin terjun ke dunia politik adalah keinginan kuat mengemban amanah dari orang tuanya. Amat sayang jika pesantren yang sudah dibangun bertahun-tahun bahkan lintas generasi lantas musnah hanya karena keputusan tak tepat. Pak Kiai ingin istikamah di jalan yang sudah digariskan oleh Allah Swt.

Sebagai warga negara yang baik, Pak Kiai juga tidak mau hanya berpangku tangan. Tak juga ingin menjadi orang yang disebut sebagai golongan putih. Pak Kiai tak ingin menentang aturan negara. Apa pun itu, ia akan berusaha menaati aturan yang berlaku. Sebagai tokoh, seyogianya dapat memberikan teladan pada para santri dan juga masyarakat di sekitarnya.

Dulu, pesantren ini didirikan sewaktu Indonesia masih dijajah Belanda. Bahkan secara tak langsung pondok pesantren ini telah melahirkan pejuang-pejuang militan. Dari sini pula harakah Islam dimulai. Berawal dari pesantren ini pula nilai-nilai luhur ditanamkan. Bahkan dari pesantren ini pula lahir tokoh-tokoh tersohor di negeri ini. Maka dari itulah mengapa Pak Kiai menolak jika ditawari menjadi pejabat.

“Kenapa Pak Kiai tidak mau dicalonkan?”

“Buat apa?”

“Siapa tahu nanti kalau Pak Kiai berhasil menjadi seorang pejabat negara, kan, bisa lebih mengembangkan pesantren. Membangun pondok lebih bagus dan lebih megah lagi.”

Mendengar kata itu, Pak Kiai sontak tertawa. “Sampean tidak lihat? Tanpa mencalonkan diri menjadi pejabat, orang-orang sudah berdatangan. Malah yang datang kebanyakan pejabat—termasuk Sampean ini,” kelakar Pak Kiai.

“Tapi ...”

“Barangkali perlu saya sampaikan juga bahwa tiap hari ada saja orang datang ingin memberi bantuan untuk pengembangan pondok ini. Banyak donatur maupun investor yang silih berganti datang menawarkan kerja sama. Kalau saya mau, soal dana pengembangan pondok, insya Allah, bukan hal sulit. Jadi ... untuk apa saya mencalonkan diri?” imbuhnya sembari tersenyum manis.

“Wah, kalau saya jadi Pak Kiai, pantang menolak. Jangankan ditawari, tidak ditawari saja nekat mencalonkan diri.”

“Ya, itu kalau Sampean.”


NB: Cerita selengkapnya bisa dibaca dalam versi buku atau cetak.
Baca selengkapnya