Showing posts with label SAJAK. Show all posts
Showing posts with label SAJAK. Show all posts

EULOGI | KOLASE | ROMAN PICISAN

EULOGI
TAK ada ratapan hati yang paling agung selain memujamu
apatah arti kesendirian hayat bila sukma begitu sesak olehmu?
ke mana kaki berpijak, di situ pula terasa hadirmu

Tiada pernah jemu lidah lahir—batin ini sebut namamu
sirna segala sukacita dalam dada jika sekejap tanpa mengingatmu
bahkan telah kuserahkan seluruh hidup dan matiku hanya untukmu

Ketakutan selalu menghantui diriku saat berada jauh dari radiusmu
sering kali jiwaku dibuat merana karena sulit jangkau kilasmu
ragam memoar pedih pun laun entas ketika bersenyawa denganmu
Yogyakarta, 13 Januari 2018

KOLASE
KISAH paling janggal yang kututur untukmu adalah anomali kisi
bayang silam memantul lewat jendela memoar hingga padat terisi
tanpa ada elaborasi ragam warna, mana mungkin tercipta gradasi?

Saat kubaca larik sajak, membubul sayap jiwa sampai kulminasi
rapat ambigu menjejal otak walau tak tuntas pahami esensi
jarak menjadi tiada arti kala wadak mampu tembus dimensi

Cengkerama pasti muspra sebelum rohani bebas dari semua agitasi
kemarahan kian menegaskan garis asing serta pantik api emosi
mari jalani hidup penuh damai sekaligus tepis tiup agresi
Yogyakarta, 07 Mei 2017

ROMAN PICISAN
KETIKA pertama pandangan jiwa erat tertambat, luruh segala daya
tiap desir menghampiri kalbu, upaya menafsir pun berakhir lancut
betapa risau bila jarak terlalu lama ulur waktu bersua

Sukacita dan duka silih berganti bawa kabar dari kekasih
senyum sering kali gagal sembunyikan tangis karena perih rindu
saat rasa tak keruan, cinta adalah sumber belas kasih

Palung batin ini begitu sarat dengan takut berpadu cemas
ke mana kaki berpijak, pikiran tampak sibuk sekali menerka
hawa mistis membuat jalan hidup tanpa syarat maupun batas
Yogyakarta, 24 Agustus 2017

Sajak ini telah dipublikasikan di ANALISA (29/04/2018)
Baca selengkapnya


SKEPTISISME | AMARAH | MISTIKUS CINTA

SKEPTISISME
WALAU ruyup, tidur tak juga hanyutkan agonia dalam diri
begitu banyak sekat maya mengadang dan ciutkan nyala nyali
berharap udar serta moksa, namun masih jauh dari pasti

Asmarandana gagal tertuang, apa yang tersisa hanya kepingan asa
segala arah tampak kabur hingga kendur, bahkan terkikis upaya
semoga ketabahan Ibrahim mengilhami laku jiwa agar lekas sentosa

Meski lebur jasad ini, aku takkan mencari pujaan lain
kepedihan ini terjadi lantaran ada rentang pemisah tak terbantahkan
biarpun telah jauh menjejak, tempat kembali tetaplah dalam dekapan
Yogyakarta, 04 Ferbruari 2017

AMARAH
KE MANA lagi kau sesatkan langkah ini di bumi?
tatap mata kian remang ketika gelap suruk gala sepi
bahu panggul segala beban saat darah mendidih dalam diri

Benih api lumat sekam hingga jelaga terbang bersama udara
ambil air supaya kobar tak merambat hamparan ladang jiwa
bila lumbung ludes, lapar pasti bergelak sembari pesta pora

Lafalkan doa sebelum ganti hari, lekas kunci semua pintu!
tiap detik bunian intai anak-anak polos agar menjadi sekutu
jangan karena pernik, permata pun turut raib dari benianmu 
Yogyakarta, 20 April 2017

MISTIKUS CINTA
SEJAK hakikat itu bersemayam di hati, aku adalah lelakon
tiap kali getir kefakiran bertubi-tubi, kau tetaplah pelipur lara
oh, betapa agung cinta ini kepadamu walau tak serasi

Kabut mata sontak menyingkir tatkala asa duduk mesra bersama
tanpa lelah sukma mendamba hingga lupa bahwa tubuh menua
kerinduan meremajakan segenap gelora yang lindap dalam paluh dada

Lewat tuturmu, kupandang terang makna abadi sekalipun mulut sengap
terjangkau pula segala pengertian ketika petuah cabik majal pikiran
fana telah memperdaya seluruh hidup, lantas apatah guna getun?
Yogyakarta, 22 Agustus 2017


Sajak ini telah dipublikasikan di RAKYAT SULTRA (12/03/2018)
Baca selengkapnya


EPIGRAF | MUSPRA | BARZAKH | FUGUE

EPIGRAF
RASA takut mengecam diri yang kini terpaku dalam sepi
waktu mengulur kemelut di ceruk dada tanpa kenal tepi
jiwa beku laun mencair meski hanya disentuh suam api

Betapa elok bila sepanjang hayat penuh dengan luhur budi
segala ucap menuntun laku—selain bentuk luar adalah wadi
jangan berharap sentosa jika berbuat bajik pun tidak sudi

Tahan sejenak hasrat sampai terang cahaya sekaligus sirna udi
tiap jalan atas ketulusan hati membuka pintu semesta radi
walau tak diukir pada prasasti, cinta kasih tetap abadi
Yogyakarta, 18 Mei 2017

MUSPRA
SAAT lempung itu diterbangkan ke udara, ia pun bernyawa
alazon takkan sepadan dengan para utusan atas umat manusia
tanpa keyakinan, apa yang tampak tetap disangka tipu daya

Tiap entropi alirkan tirta amerta ke hamparan jagat raya
kesunyatan bertalun jua hingga akhir masa meski dalih meraja
bila kilang telah hampa, hakulah nyata di depan mata

Betapa nelangsa para setti yang pulang tertungkup karena niaga
seumur hidup peras keringat, namun jerih terbang ke udara
lantas sukacita macam apa yang kini disandang di raga?
Yogyakarta, 24 September 2016

BARZAKH
KAWAN lama telah sampai di rumah saat magrib tiba
ia sampaikan kabar dari Maharaja agar aku segera menghadap
“Apa yang harus kusiapkan, sedangkan telah papa diriku kini?”

Tak ada saran darinya selain ingin segera mengajakku pergi
celupak kamar pun padam, apa yang tertinggal hanyalah senyap
“Jawablah bila para penggawa bertanya padamu!” ujarnya, saat melesat

“Sampai di sini saja aku mengantarmu. Masuklah, Kawan!” pintanya
liang terkuak, setelah aku masuk, ceruk tertutup sangat rapat
entah ke mana kawan lama mengelana, laun ruang mencekam
Yogyakarta, 02 Februari 2017

FUGUE
PARA saki telah merajut mimpi bersama laju angin surga
sebagian melesat ke langit, sedang yang lain masih merayap
dimensi dipahat dengan kata serta upaya tanpa ada jeda

Aku terus berkisar dalam silam, kini, maupun futuristis bijak
tak peduli walau acap kali tangan hanya menggapai udara
logika ini pun terperangkap begitu lama di ruang metafisik

Dari bentang angkasa terdengar nasar tabuh genderang tanda lapar
tangkup ingatan sontak terkuak, lantas kuar berkeliaran cari upajiwa
sesudah raga dicekam lara sangat akut, semogalah lekas bugar
Yogyakarta, 24 Februari 2017

Sajak ini telah dipublikasikan di SUMUT POS (06/08/2017)
Baca selengkapnya


MADAH KECAPI | SOLILOKUI

MADAH KECAPI
HAI para musisi, teruslah memetik dawaimu agar tergetar imajiku
gubahlah syair dalam lagu, biarkan ia hidup dalam ingatanku
tiap notasi adalah roh yang akan menari sepanjang waktu

Sekiranya dawai dan kecapi musnah terbakar dari muka bumi
masih ada bagitu banyak kecapi tersimpan dalam khazanah diri
tak perlu risaukan diri, kecapi tersembunyi akan hidup abadi

Percayalah! Lagu cinta takkan lekang, kecuali bagi si tuli
teruslah bernyanyi dengan riang hati, madah kecapi akan abadi
jangan mengatupkan bibirmu, sebab simfoni takkan menari dalam imaji
Yogyakarta, 08 Juni 2015

SOLILOKUI
TAK perlu mencari pesona dari jasadku, ia akan pudar
bukan pula luas alam pikir maupun kedalaman hatiku ini
keabadian itu tak pernah menyatu pada paras nan kasatmata

Bila ingin ragam mutiara, menyelamlah hingga ke dasar laut
kau pun akan saksikan keindahan lain saat menyelamkan diri
daratan hanya memberimu limbah cangkang, bebatuan, dan anasir pasir

Entaslah! Bukankah kau telah dapatkan banyak hal dariku sekaligus?
biarlah segala lebur, namun hanya satu yang takkan musnah
percayalah! Cinta tak pernah menyatu pada paras nan kasatmata
Yogyakarta, 28 Februari 2016

Sajak ini telah dipublikasikan di RAKYAT SULTRA (25/07/2017)
Baca selengkapnya


PARAFRASA | PERSEMBAHAN HIDUP | SULUK KEBAHAGIAAN

PARAFRASA
BULAN telah meninggi di antara gelap, selimuti raut bumi
tiada terbenam dalam laju ingatan pun ucapan wajah seri
bergegaslah ke peraduan kekasih sebelum segala pintu rapat terkunci

Benarkah segala yang menyesak dalam diri adalah kebenaran isi?
semoga ini bukan ragam ampas yang telah kehilangan sari
jika jiwa ini telah sarat sepah, mahaseri melesat pergi

Lihatlah, matahari telah meninggi di balik cadar halimun pagi
jangan lagi mengarak segala laju ingatan dan ucapan mahasuci
sebab, hati yang dibiarkan kosong akan diisi selain esensi
Yogyakarta, 03 Agustus 2016

PERSEMBAHAN HIDUP
MARI mendaki sigai adiwidia ini menuju langit penuh cahaya!
bukankah selain di dunia, kelezatan hayati ada di sana?
singsing belikat lalu kirap seluruh celih agar atma sentosa

Anjak dan bawa samir guna mengalingi persembahan kepada Maharaja
adakah isytiak lain dalam rindu daripada jumpa kekasih tercinta?
selama masih ada cinta di dada, suluk manunggal jua

Bila batu di kepala meledak, semogalah serupa cerlang supernova
mata air takkan berdaya guna sebelum menyembul sampai belanga
tanpa ablasi dari ceruk indung, durat tak memiliki harga
Yogyakarta, 21 September 2016

SULUK KEBAHAGIAAN
SEJAK kau rampas asa dari atrium, aku mendadak mandam
siang—malam berkeliaran hanya untuk cari di mana param
acap kali albedo burai memoar, tak ayal rindu menderam

Walau malaise, tuntaskan semua kaos dan jangan cuma berperam
tanpa ada jerih payah, mana mungkin bakam dapat digenggam
selama keyakinan masih di jiwa, segala aral pasti terbelam

Tekad gugah jasad agar memacu—bagai angin menyapu sekam
hati kukuh tiada mudah dirayu oleh rupa muslihat kekam
laku dari para pecinta tuntun sukma menuju makam tenteram
Yogyakarta, 10 Februari 2017

Sajak ini telah dipublikasikan di PALEMBANG EKSPRES (11/07/2017)
Baca selengkapnya


LONCATAN MOZAIK AGNOSIA

LONCATAN MOZAIK AGNOSIA
TERSIMPUL loncatan pandang dari titik masa ke ruang imaji
embus mengarak ragam mozaik di ingatan, menyuluh biduk elegi
mari saling bertutur pun memberi isyarat atas hendak hati

Ah, tak perlu mengaduk air terjun sekadar mendengar deburnya
sebagian lidah meraka hanya karena tak sejalan dengan logika
bukankah tak ada mimpi datang secara tiba-tiba dan terpaksa?

Agnosia telah halangi maksudmu hingga tak tuntas memacu gerakku
terlebih nahu yang kudengar teramat samar hingga kuwur tingkahku
kecuali dirimu ingin bermain-main dengan luka lama di jiwaku
Yogyakarta, 04 Agustus 2016

Sajak ini telah dipublikasikan di RAKYAT SUMBAR (18/06/2017)
Baca selengkapnya


PARAFASIA | GAIRAH BERKATA DAN BERMAKNA | CAHAYA JIWA | SNOBISME | SAYAP MAKRIFAT

PARAFASIA
TIDAKKAH engkau malu bahkan sedih atas anomali ucapmu itu?
mencipta ragam ambigu tentu tak sama dengan menebar kedunguan
ambigu akan memecah kedunguan di akal, namun tidak sebaliknya

Lidah yang bergerak lincah tanpa pengetahuan hanyalah endapan daging
laun pasti menebar bau busuk sekaligus jadi biang penyakit
berhentilah meracau, kapan saja, itu bisa menyakiti jasadmu sendiri

Air jenih yang telah dikeruhkan pasti akan kembali sediakala
kecuali jika diubah bentuk lain hingga tak lagi bersih
mencipta ragam ambigu tentu tak sama dengan menebar kedunguan
Yogyakarta, 24 Juli 2016

GAIRAH BERKATA DAN BERMAKNA
TERUSLAH mendaki sigai kata, kita belum sampai puncak makna
lisan pun tulisan berwicara agar sentosa serta berdaya guna
batas bukan pada bentuk luar, melainkan terletak pada adiwidia

Ahmad telah membelah bulan agar semesta jiwa lebih terang
sebelum hakikat digait dari sumur, sujudlah alkamar pun bintang
mukjizat telah mengubah liat lempung terbang bebas menjadi burung

Mari memerah susu agar jelas antara manfaat ataupun mudarat
bila fisik terus digubris, dimensi lain musnah dari makrifat
sebelum sampai titik kulminasi, jangan ikat esensi dalam belikat
Yogyakarta, 11 Oktober 2016

CAHAYA JIWA
API dalam jiwa ini mudah taram lalu berkobar nian
ia tak akan padam, kecuali dimatikan si Penunu Jiwa
redup karena ulah daif, lantas benderang saat tersulut rahmatNya

Oh, bila sukacita ini tercerabut, pastilah hati terbakar kesedihan
janganlah memalingkan wajah saat pedih meraja dalam kujur sukma
betapa tiada arti diri bila kekasih tak memacu gelora

Jika raga tak dipedulikan lagi, ia hanyalah ampas kehidupan
sebelum semua kelam, raihlah roh ini! Bawalah pada cahaya
bila semesta jiwa penuh nyala, teranglah cinta tanpa dusta
Yogyakarta, 03 Agustus 2016

SNOBISME
LERAK simpul kuduk agar adiwidia katarsis atas segala ahmak
sering kali makam akal tanggal sebab tak tuntas menyimak
bila kau sulut amonit bersumbu pendek pastilah lekas meledak

Janganlah lantip dan celi hanya sampai pada sebidang tembok
lesak anak panah dari tali busur pun kadang belengkok
apatah Saad [1] sunyata telah silap hingga bidik bana berbelok?

Ternak tersesat menjejak aneka jalan, tapi lupa arah balik
bukankah lebih mudah jernihkan air daripada jiwa penuh sirik?
keruh pikiran bila terus menerus diabaikan justru memicu purik
Yogyakarta, 20 Desember 2016

SAYAP MAKRIFAT
SEONGGOK kepala hanya akan menjadi batu bila tak bercahaya
ketika wajah menatap langit, hening merayap anak tangga semesta
gelap meledak mewujud butir api, lalu luruh merajam bebatuan

Awan berarak tumpahkan seluruh isi mangkuk di gigir waktu
jiwa yang lelap akan terjaga dalam kekosongan segala penglihatan
apa yang engkau nikmati—hai, roh—dari kefanaan raga?

Bilah pisau yang tumpul takkan mampu menghujam keras baja
ia hanya lahirkan bunyi nyaring namun menyakitkan gendang telinga
bila tiada makrifat, semesta takkan mampu dilihat walau sekejap
Yogyakarta, 04 September 2015


[1] Saad bin Abi Waqqash.

Sajak ini telah dipublikasikan di FLORES SASTRA (03/05/2017)
Baca selengkapnya


MONISME | KOSMOGRAFI JIWA | MEGATRUH | MONOLOG TANPA JEDA

MONISME
TANGKAPLAH percik cahaya gemintang di jagat mahaluas dengan sukacita
apakah kau akan lewatkan malam hanya menyelinap dalam selimut?
bila kau menyerap intipati, Venus pun jadi pelipur lara

Selepas Isa, masihkah kau nyinyir soal hidangan dari langit?
sebelum bumi lebur, ia tetap akan mengantar berkat Tuhan
lihatlah ladang maupun sawah masih tumbuhkan bakal pangan untukmu!

Bagaimana rasanya bila ingin melepas rindu tapi tak berhasrat?
jangan samakan laut yang tenang dengan riak hilir sungai
hati gaduh pasti akan goyahkan langkah ke segala arah
Yogyakarta, 12 Agustus 2016

KOSMOGRAFI JIWA
SUDAH terbuka lebar pintu sukma sambut hadirmu kekasih tercinta
masuklah agar nyata segala kebenaran dan tak ada rahasia
tetaplah ada di sana, kau adalah maharaja di dalamnya

Semesta menjadi adiwidia bagi jiwa yang terjaga serta percaya
bila keyakinan hati sirna, hampa meraja hingga ruas dada
ucap pun laku mudah tersesat ketika hakikat penglihatan buta

Haruskah kupalingkan wajah bila telah sampai di puncak pencarian?
begitu banyak dukacita kulewati dalam hidup ini penuh kepasrahan
marjikmu bukan maukif, sedang di alam ini cuma persinggahan
Yogyakarta, 06 September 2016

MEGATRUH
CERAPLAH daun yang lerah dari tangkai saat angin menerpa
kelarah tak jemu mengerip sari hingga laras di sabana
tak ada yang mampu memegat dayuh menyembul ke angkasa

Larik megatruh pun mengguguh dewala hingga kabut pekat berjelaga
raga berkeliaran, sedangkan batin bertikai tanpa jeda atas sunyata
roh merasuk antah-berantah, memicu ragam anomali rasa dalam dada

Pagutlah sukma yang laun meringkuk di ruang paling tepi
lekaslah gait kewarasan sebelum deram ahmak ringkus akal budi
nanar rintangi cergas hingga surut aforisme dari lubuk hati
Yogyakarta, 9 Oktober 2016

MONOLOG TANPA JEDA
SIRNALAH diri dan terjaga kini atma dalam gita puja
mari wedar sengap agar rohani maupun pikir sarat adiwidia
bila wadak telah anestesi, di balik kasatmata hidup sunyata

Tiada jeda luah cinta bagi kekasih yang merindu damba
meski malam pencilkan cita, Orion tetap menjadi syarik setia
pandang kerlip itu sebelum balau menyusup serta meraja

Kalbuku, berapa mil lagi kelana ini terus menjejak marga?
bukan karena buta lantas seluruh pancaindra lenyap waskita
laik Sinai ditempa, bebal perlu dirambah biar lebih cendekia
Yogyakarta, 21 Januari 2017

Sajak ini telah dipublikasikan di RAKYAT SUMBAR (29/04/2017)
Baca selengkapnya


APOSIOPESIS | SIMPAN KATA SEBELUM BERWICARA

APOSIOPESIS
PERNAHKAH sesekali waktu kesadaran pun kata lepas dari logika?
lantas mengalir dari bibir perihal lain atas percakapan semula
sungguhpun telah pulih, rasa yang lahir tiada senikmat sediakala

Tak usah memaksa sayap burung imajiner mengepak lebih tinggi
sebagaimana eklips taramkan raut bumi, biarlah cerlang rekah sendiri
enyahkan segala celih raga agar nyala hasrat tetap berseri

Sepanjang waktu suara kalbu menyeru, namun majal di kepala
anjaklah dari ruang gelap sebelum tubuh roboh tanpa daya
penuhilah mata dengan cahaya agar terang adiwidia semesta jiwa
Yogyakarta, 18 September 2016

SIMPAN KATA SEBELUM BERWICARA
TAHANLAH kata-kata bila tak ingin pipi tertampar tangan sendiri
sebelum semua menjadi terang, kekanglah hasrat wicara dalam diri
sebagaimana Musa mendapat hujah adiwidia dari Khidir perihal esensi

Anak panah yang dilesatkan secara asal takkan tepat sasaran
tak usah sesekali buang ludah melawan arah laju angin
bukankah acap kali mala berbalik menjadi senjata makan tuan?

Mata air yang menyembul keruh hanya berfaedah sedikit sekali
belajarlah pada lebah, banyak obat darinya untuk sakit jasmani
simpan kata sebelum bertutur bila ingin harkat tetap beraji
Yogyakarta, 13 Oktober 2016

Sajak ini telah dipublikasikan di MEDAN BISNIS (23/04/2017)
Baca selengkapnya


PEREMPUANKU | KAU YANG BERTAKHTA DI HATI | PERTEMUAN

PEREMPUANKU
TETAPLAH kau menjelma perawanku yang tak terjamah apa pun
jadilah wanitaku yang saban malam meratapi kedatangan kekasih sejati
abadilah kau sebagai gadisku yang tak goyah bujuk rayu

Kekallah kau perempuanku sedari hidup pun mati—tanpa cela
jangan embuskan rindu di hatimu ke ruang tak berpaduka
sebab di sukmaku segala laku cinta antarkita hidup sentosa

Bagaimanapun, kau adalah ratuku di antara para bidadari surga
lubuk jiwaku sarat olehmu, tak ada lagi makam tersisa
teruslah jadi istriku yang tak pernah tercerai dari raga
Yogyakarta, 23 Agustus 2016

KAU YANG BERTAKHTA DI HATI
WALAUPUN masa luruh bergulir bak anasir dalam jam pasir
tak ada yang bisa gantikan segala luap rinduku padamu
kau yang bertakhta di hatiku tak lekang oleh waktu

Sering kali kueja dan kukecap risalah rasa dunia ini
ragam rupa maupun warnahidup tak luput dari penglihatan
kau tetap bertakhta dalam lubuk jiwa dan tak tergantikan

Masihkah mawar itu mengilhami agar perih perpisahan lekas pergi?
tanpa cinta, hidupku penuh kecam ketakutan dan limpah kelemahan
kau yang telah bertakhta di hatiku akan abadi selalu
Yogyakarta, 01 Oktober 2015

PERTEMUAN
ADA yang lebih manis dari gula, yakni pertemuan rindu
adalah rindu pada kekasih yang tak dapat dicumbu rayu
ia tak jauh, tak pula dekat, namun terus menghantu

Lidah telanjang hanya sampai pada rasa nikmat pengecapan lahir
lidah jasad hanya mengecap wujud, tapi tidak bagi roh
pengecapan roh penuh rindu akan sampai pada esensi kenikmatan

Adakah pertemuan yang lebih manis dan indah dari cinta?
ketika hasrat tertahan di dada, lalu meledak dalam jumpa
kerinduan pada kekasih adalah napas bagi rasa di jiwa
Yogyakarta, 05 Juni 2015

Sajak ini telah dipublikasikan di ANALISA (23/04/2017)
Baca selengkapnya


LARUT | VIVASE | ZULMAT | DADA YANG PENUH BISIKAN | ARUMBA

LARUT
JIWAKU telah mabuk kepayang, seluruh rasa hatiku larut luruh
pikiran melesat bersama renik makrifat, sibak ragam gelap penglihatan
bagai air dan gula, aku mewujud dalam satu rasa

Segala perhatian takkan beranjak, ia mukim dalam gazal makna
di sana segala tercurah tanpa jeda dan batas masa
merasa begitu hidup di dalam, kematian mengancam di luar

Hatiku telah terpaut pada pesona kekasih, tiada derai tangis
tak ada ratap lara walau derita datang silih berganti
dari zat yang sama segala peristiwa datang dan pergi
Yogyakarta, 24 November 2015

VIVASE
DESIR liris menelusuri ulu hati kala simfoni gugah mimpi
legit dunia laun terbangkan kilas ingatan hingga hanyut elegi
jauh sudah pacu hasrat mengitari bumi cari kekasih abadi 

Lagu cinta luruh dalam pusaran waktu sejak jarak mengancam
kini sumbu tiada nyala lagi—jangan sampai cahaya jiwa padam
dapatkah melihat gemintang bila langit penuh kabut hitam?

Beranjaklah ke padang rumput, di sana sedia penawar rusuh
kalaupun kaki enggan berlari, masih ada roda untuk dikayuh
mari diam sejenak ketika luap rindu menggebu sulit dilabuh!
Yogyakarta, 06 Maret 2017

ZULMAT
AWAN gelap berarak dari segala penjuru, menutup wajah langit
sesekali kilat menyambar, guruh berjalan, bertikai dan cekam perasaan
belum reda derai hujan kini, padahal sudah berlangsung lama

Sebagian orang memilih berteduh, sebagian yang lain tetap melaju
dalam hujan ada rahmat sekaligus bencana bagi alam semesta
bukankah kerusakan jagat ini lebih banyak disebabkan ulah manusia?

Semoga angin datang menyingkap segala pekat agar memancar cahaya
jika mahaledak terjadi, biarlah senyum bahagia merekah di dada
tanggal segala yang disebut aku selain hanya kebenaran abadi
Yogyakarta, 25 Juli 2016

DADA YANG PENUH BISIKAN
DI dada paling dalam, saban waktu berembus bisik agitasi
pengacum takkan pergi walau negeri telah hangus oleh api
gelap begitu nyata meraja kendati sorot hadir tanpa henti

Mari berlindung dari segala bentuk kejahatan siang dan malam
para penyihir terus membadi guna silap si mata tajam
bila seluruh kesadaran rohani lengah, buhul pun serupa biram

Jangan biarkan pintu terbuka ketika matahari suruk ke barat
setan mencalang tiap jiwa lalai agar kabihat serta tersesat
sebelum malaikat maut datang tetak laju napas, lekaslah tobat!
Yogyakarta, 05 Maret 2017

ARUMBA
OH, dengarlah rintih kepedihan atas perpisahan tak terduga ini
surya raib dari semesta jiwa yang semula penuh nyala
kabut kelam di segala ruas jalan sebelum malam tiba

Mungkin aku terlalu takjub pada bulan hingga lalaikan matahari
pendar siarah tiada arti bila mahacahaya tak bersinar lagi
adamu tetap tersiar bagi sebagian orang, walau terus bersembunyi

Seruling bertalu-talu riwayatkan masygul diri atas kepergianmu dari sisi
sewindu sudah ragam suka maupun duka kau ajarkan padaku
meskipun telah tiada, kau tetap ada di palung sukmaku
Yogyakarta, 25 Agustus 2016

Sajak ini telah dipublikasikan di REPUBLIKA (26/03/2017)
Baca selengkapnya


SAJAK PENUH KEAGUNGAN | BUKAN HARI TERAKHIR

SAJAK PENUH KEAGUNGAN
KATA-KATA serupa hujan badai di langit kepalaku, hunjam cerau
sebab letup adalah keniscayaan, larik dan bait saling buru
memori memantik cipta dalam tulisan, tak ayal luberlah sedu

Tiap deret memacu debar di dada seraya picu jibaku
jari dan bibir pun mengatup kelu menahan haru biru
penuh keagungan, irama surgawi gait balau nan membatu

Musikus merunut notasi hingga nada padu di tiap lagu
mari alirkan karsa dalam jiwa agar lerai ragam belenggu
telah kugubah sajak, semoga esok lahir ode cinta sarat rindu
Yogyakarta, 05 Februari 2017

BUKAN HARI TERAKHIR
PENUH harap di dada, orang-orang berduyun ke tempat ibadah
deras agitasi ditiupkan agar lekas tobat hingga dosa luruh
bayang siksa dan kehancuran memadati pikiran—tersisa rasa pasrah

Surga terasa amat jauh digapai, sedangkan neraka sangat nyata
laun satu per satu menyadari kedaifan semasa di dunia
dalam sujud terbesit doa supaya enyah lalai serta lupa

Sebelum ajal tiba, masih terbuka pintu ampunan dari Tuhan
sungguh, semua pasti ditinggal dan musnah, kecuali jejak perbuatan
tiap jiwa menuai bahkan menghuni tempat sesuai dengan ganjaran
Yogyakarta, 05 Februari 2017

Sajak ini telah dipublikasikan di MEDAN BISNIS (26/03/2017)
Baca selengkapnya