Showing posts with label RAGAM PUISI. Show all posts
Showing posts with label RAGAM PUISI. Show all posts

SKETSA RETAS | RIWAYAT SEBAGAI ISYARAT | JAWABNYA HANYA SUNYI | TERDAMPAR | DUA MUSIM | BERMAIN PERASAAN

SKETSA RETAS
TAK perlu berandai-andai perihal waktu
yang terus berlalu di kepalamu. Sebab ia
akan terus berlalu dalam detak jantung
lalu berlalu terbenam dalam imajimu.

Sebagaimana ia menunjuk perhitugan
dengan tepat lewat gigil tubuhmu
berputar naik turun, melingkar bak ular

Embus napas lembutmu menggesek lonceng
hingga lahirkan denting ritmis. Lalu kita sama-sama
pulas di atas alas kertas dengan seketsa retas.
Yogyakarta, 25 November 2013

RIWAYAT SEBAGAI ISYARAT
DAUN-daun patah dari rantingnya,
lalu jatuh di pelupuk matamu
dan berubah menjadi air mata.

Ia mengalir pada ilir, pun akhirnya
menggenang di sudut tirus bibirmu
yang meranum selepas hangat ciumku.

Matahari bergetar menghapus jejak
lekat di pusara hatiku. Butuh tujuh
kematianku untuk hidup abadi
dalam rasa jiwamu yang penuh cinta,
sarat padat oleh rindu. Merindu.

Aku dan dirimu adalah radius,
dan kita perlu menjelma kutub
agar senantiasa tarik ulur segala
riwayat sebagai bisik isyarat
: tentangmu dan tentangku.
Yogyakarta, 28 November 2013

JAWABNYA HANYA SUNYI
SIAPA sangka naluri yang terbungkus ini
lebih tajam untuk merobek-robek hatimu.

Bahkan logika tak sampai menjangkau radiusnya
kenyataan pun mementahkan perangai murahan
pada dinding zaman yang mulai usang. Tiada arti.

Lantas masa lalu hanya merayap senyap dalam gelap
meresap bersama waktu, serupa kenang menjulang.

Segalanya hanya berjalan pada nilai-nilai
serta aturan logis sekali pun nyaris tiada pasti.

Saat ada tanya, jawabnya hanya sunyi.
Yogyakarta, 28 November 2013

TERDAMPAR
AKU terasing di duniamu
aku bagai kapal terdampar
dan hanya terayun lembut
oleh ombak kecil pikiranmu.

Aku tak hendak menunggu
terjang badai perasaanmu
meski kutahu pastilah awakku
akan karam ke dasar hatimu.
Yogyakarta, 28 November 2013

DUA MUSIM
DIRIMU adalah musim semi,
dan aku adalah musim gugur.

Jika kita bertemu dalam satu musim,
maka takkan ada lagi kematian.

Bisa jadi kita menjelma hujan,
atau mewujud matahari.
Yogyakarta, 29 November 2013

BERMAIN PERASAAN
SEKALI lagi, kuingin bermain
dengan perasaanmu, Perawanku.

Seperti kita menembus hujan
bercampur cahaya matahari.

Atau saat kita berteduh
ketika angin menari-nari
bersama derai hujan; lebat
bergelombang begitu jalang.
Yogyakarta, 29 November 2013

Puisi ini telah dipublikasikan di FAJAR SUMATERA (12/06/2015)
Baca selengkapnya


DIAM ADALAH KEMATIAN TAK BERKESUDAHAN | LELAKI DALAM KESENDIRIAN | BAHTERA

DIAM ADALAH KEMATIAN TAK BERKESUDAHAN
DIAM adalah kematian tak berkesudahan. Ia terus berjalan di rimba hutan. Penuh hantu-hantu dan duri-duri tajam. Ia memekik penuh kengerian. Sorot matanya merah menyala, tajam dan beringas.

Diam adalah kematian tanpa ada awal bahkan khatam. Ia mengalir bukan sebagai air. Ia menusuk bukan sebagai benda tajam. Ia mampu menghujam sepi bahkan dalam gelak. Ia mampu tumpahkan air mata tanpa bisa menyeka.

Diam adalah kematian tanpa melepas roh dari jasad. Ia bersenyawa tanpa rupa. Ia bukan cuaca namun menyisakan dampak. Ia bukan musim yang menggugurkan atau menumbuhkan.

Diam adalah kematian tanpa kata kasihan. Ia bukan badai namun memorak-poranda segala benda. Apa yang berdiri tegar, luruh dalam kepasrahan. Ia berjalan dengan bekas mendalam.

Diam adalah kematian dalam rasa cemburu. Ia bukan benda namun begitu padat menyumpal rongga-rongga rasa dan juga ruang di dada. Ia bukan benih api namun bisa padam dan menyala kapan saja.

Diam adalah antara dirimu dan diriku dalam kematian tak berkesudahan.
Yogyakarta, 03 Februari 2015

LELAKI DALAM KESENDIRIAN
SEBAGAIMANA engkau menepis angin, itulah rindu yang kuterima darimu. Kuat atau lembut sama-sama gagal kutepis. Ia menyusup lewat pori, lantas menjelma kabut di antara ngarai kesendirian. Ia berjalan lamban di antara bebatuan hingga lahir madah kutukan bagi lembah-lembah sunyi. Rumput merumpun, menghimpun sinergi bersusun. Demikian itulah rasa perasaanku padamu.

Aku bukan Daud bersuara merdu juga melunakkan besi. Bila rindu begitu menggebu-gebu, rasa malu begitu kuat pupuskan luap itu untukmu. Rasa itu bak putri malu bila engkau sentuh. Aku tiada daya dan tak berdaya. Hanya menepi meratapi diri sebagai pengecut yang telah mencintaimu.

Aku bukanlah Yusuf berparas tampan. Tentu saja bukan pesona lahir dan rohani yang membuatku menjadi pecundang atas kata-kata cinta, namun kesepian dan kesendirian memaksaku untuk mencari pasangan. Bukan soal lahir dalam kesendirian dan mati dalam kesendirian, namun jiwaku butuh isi. Jiwaku butuh belaian, sentuhan magis dari rasa cintamu agar kukenal ragam rasa itu benar-benar ada di dada. Bila tanpa lawan sebagai pasangan, apalah arti cinta? Mungkin aku mampu bertahan sendiri, namun pemberontakan akan terjadi dan meruntuhkan segala kedirian dalam diriku sendiri.

Lebih tepat, aku adalah lelaki yang berjalan sendirian di kegelapan. Aku mencarimu untuk hidup bersama sebagai cahaya. Cahaya untukmu dan cahaya untukku agar terus berjalan bersama menuju masa-masa mendatang.
Yogyakarta, 04 Februari 2015

BAHTERA
BAHTERA Nuh hanya diisi oleh jiwa-jiwa percaya
bila tiada percaya, tentu akan tewas tenggelam bersama Kan’an
tentu dasar kebenaran yang mengangkat kesadaran akal
kebenaran itulah yang membawa jiwa-jiwa dalam keselamatan

Tanpa keyakinan, batang kayu takkan menjadi perahu
tanpa keyakinan, dahan takkan menjadi dayung
tanpa keyakinan, 80 jiwa takkan sampai ke Araat
tanpa keyakinan, bumi hanyalah hamparan fosil

Lantas jiwa-jiwa ingkar hanya mengendon dalam fana
apakah jiwa-jiwa itu abadi? bahagia dalam fana adalah ilusi
ilusi tak pernah abadi dan mudah terganti dalam sekejap
mata yang mengerjap, terjaga di antara muslihat dan percaya
Yogyakarta, 05 Februari 2015

Puisi ini telah dipublikasikan di PIKIRAN RAKYAT (17/05/2015)
Baca selengkapnya


SESAK DI DADA | ANTARA KESUNYIANKU DAN KESUNYIANMU

SESAK DI DADA
BILA menahan sesak di dada
adalah bagian dari rindu karena mencintaimu,
tentulah akan kurelakan itu hanya untukmu.

Biarlah debar jantungku ketika pagi menjelang
menjadi orkestrasi syahdu yang akan membawamu
pada kesejatian cintaku. Dan coba dengarkan detak waktu
yang merangkai harmoni antara jiwamu dan jiwaku,
adakah ia bagai genderang perang yang ditabuh
di antara mata yang digayuti kantuk?

Tentunya bukan keterkejutan bodoh semacam itu aku mencintaimu
cintaku padamu mungkin lebih halus dari air
ketika dahaga mencekik kerongkongan di musim kemarau

Keraguan apa lagi yang membuatmu merentangkan jarak
ketika kita saling tersulut bara api di persimpangan jalan
di antara gelap malam. Tentu kamu takkan meninggalkan aku
sebelum menunjukkan satu bintang sebagai penggantimu
dan petunjuk arah bagiku sebelum kamu benar-benar pergi
menjauh dari kehidupanku.
Yogyakarta, 04 April 2013

ANTARA KESUNYIANKU DAN KESUNYIANMU
MENGAPA hanya sunyi sepi yang mempertemukan kita
mengapa dalam sunyi kita hanya mampu bicara dan berjumpa

Di antara sederetan rindu sedemikian menggebu
kesunyian makin abadi dalam roman asmara antara kita
sunyi menjadi jarak yang begitu jauh untuk kita tempuh,
bahkan serasa tanpa ujung untuk kita jejak

Kita saling menatap namun tiada saling menyentuh
aku hanya mampu menatapmu lewat kilas bayang
di alam pikirku, dalam segala imajiku

Kita bersama namun terbentang ruang, jarak, dan waktu
namun aku percaya dalam sunyi itu
kita menaruh cinta yang bercahaya
dan aku percaya dalam sunyi itu
kamu menaruh surat cinta sebagai isyarat hati
karena rindu yang tertahan di jiwamu untukku
Yogyakarta, 04 April 2013

Puisi ini telah dipublikasikan di ANALISA (21/12/2014)
Baca selengkapnya


KATA-KATA ITU ADALAH SEPI | DERAI HUJAN | RAHASIA

KATA-KATA ITU ADALAH SEPI
SELALU ingin meletup kata-kata sepi itu
dari bibirku ketika berbicara denganmu,
atau bahkan dengan siapa pun.

Kata-kata itu tercegat di benak dan terus kuredam
di antara laju suasana yang menirus hening di pelupuk mata.

Aku tak mengerti mengapa hanya kata-kata sepi
yang hadir dan ingin terucap di antara celah kosong tutur kata
apakah sebenarnya aku adalah sepi itu sendiri,
atau sepi yang mencoba menutup segala kata-kata?
sungguh! Betapa aku tak mampu melepaskan sepi itu
dari diriku dan juga tutur ucapku.
Yogyakarta, 04 April 2013

DERAI HUJAN
PERNAHKAH kamu lihat titik-titik air
yang beterbangan bersama deru angin?

Ia berhambur bagai butiran salju
yang jatuh di wajahku

Malam begitu gelap,
dan hanya debur suara air mengguyur

Aku pun terjebak menunggu segalanya mereda,
termasuk rasaperasaanku

Sebegitu dalam diriku larut di antara laju waktu
hingga imajiku sampai ke lubuk jiwamu

Dan satu-satunya hal menakjubkan adalah ketika kulihat bayangmu
hadir bersama titik-titik air yang jatuh tepat di wajahku.
Yogyakarta, 04 April 2013

RAHASIA
ALIRKAN rahasia dalam diriku,
seperti suara-suara mengalir masuk
dalam palung jiwa lewat pendengaranku

Jika rahasia itu adalah kebaikan
mungkin itu akan baik jika kita ungkap
ketika keterbatasan menghentikan pemahaman

Namun jika rahasia itu adalah keburukan,
biarlah ia tetap ada dalam diriku
dan takkan ada seorang pun tahu
terkecuali hanyalah kita

Sekarang tanamkan benih rahasia itu
di kedalaman hati, dan mari menutup rapat bibir kita
dengan dialog lain agar rahasia itu terkubur dalam kata-kata.
Yogyakarta, 04 April 2013

Puisi ini telah dipublikasikan di ANALISA (19/10/2014)
Baca selengkapnya


DISTORSI# 19 | GETAR PERASAAN

DISTORSI# 19
BANYAK yang datang, lalu pergi begitu cepat dan sangat cepat.
kenangan yang tertinggal serasa membungkam
bahkan rumit terucap kata dan nyaris tak tergores dalam abjad bercampur tinta.

Ada, sekilas, berkelebat, lalu menyisakan pedih perih yang mengiris sunyi.
lelucon? Bukan! Kenyataan memang demikian adanya,
bahkan absurd pun saling jelma dalam rupa-rupa ambigu.

Ingat dan lupa berjalan sama dalam benak di waktu bersamaan.
peduli, memerhatikan, atau bahkan tak acuh rasanya sama,
sama-sama diam dalam sunyi sendiri.

Tawar bercampur asam. Begitulah kebersamaan,
seakrab apa pun keberadaan mimpi dan harapan.

Aku, kamu, dan siapa saja bukan satu pikiran, rasa, atau yang lain
selain berdiri sendiri mencari diri sendiri yang tak kunjung dikenali.
Yogyakarta, 04 April 2013

GETAR PERASAAN
SERING aku merasakan getar perasaan itu
di kejauhan ruang batinku yang hening dan sunyi
menarik ulur serta menahan entakan sesak di dada
karena rindu yang menyumbat rongga napas
embusnya terdengar berat dan seperti rintihan tak terperi

Jauh aku menatap, walau kosong,
namun aku menemukan bening cinta di pelupuk matamu

Mungkin perumpamaan embun pagi
belum cukup mewakili hakikatmu yang sebenarnya

Aku berlabuh kala senja meraup wajah,
berlayar di samudera mimpi,
hingga pagi muncul di hadapan paruh ayam jantan.

Ini bukan lelucon atas tragedi,
bukan pula rasa yang berkabung dalam sukacita
sebab logika memutar arah dari jalan mimpi menuju kenyataan

Mungkin kita sedang menitikkan butir air mata,
namun jiwa kita meronta tak kuasa menahan gelak tawa

Kita adalah penipu bagi diri kita sendiri
hingga tipu muslihat itu benar-benar menjadi tuan
yang memakan senjatanya sendiri.
Yogyakarta, 04 April 2013

Puisi ini telah dipublikasikan di ANALISA (07/09/2014)
Baca selengkapnya


BATU DI KEPALAMU | BUNGA SEMESTA | RISALAH DEBU

BATU DI KEPALAMU
BATU-BATU muram dalam temaram cahaya bulan
gemericik air mengalir menuju sunyi jiwa nan sepi
bola mata terjaga dan semilir angin lewat
mengangkat sesak di dada.

Tembang liris hati iringi langkah matahari
singsingkan pekat di ufuk timur.
seperempat malam aku terjaga,
memecahkan keras batu
yang bertengger di kepalamu.
Yogyakarta, 02 Juni 2014

BUNGA SEMESTA
BUNGA-BUNGA bermekaran
tanpa tangkai, akar tunggang,
bahkan tiada helai dedaunan
menjalar liar dengan beragam
aroma dan hias rupa warna
hidup, tumbuh segar, di dada
semesta, roh para pecinta
: kadang layu pun gugur binasa
di telapak tangan, kosong, terbuka
Yogyakarta, 04 Juni 2014

RISALAH DEBU
TANPAMU, tentu diriku bukan sebutir debu
pasti diriku hanya akan menjadi tanah basah

Tanpamu, tentu diriku bukan sehelai daun
pastilah diriku hanya menjadi biji mati

Tanpamu, tentu diriku bukan embus angin
pastilah diriku hanya ombak yang gagal menerjang

Tanpamu, tentu diriku bukan benih api
pastilah diriku hanya kayu di hutan belantara

Tanpamu, tentu diriku bukan diriku
pastilah diriku hanya kekosongan ruang dan waktu
Yogyakarta, 07 Juni 2014

Puisi ini telah dipublikasikan di MEDAN BISNIS (20/07/2014)
Baca selengkapnya


DUNIA DAUN-DAUN | JALAN MENUJU KEUTUHAN

DUNIA DAUN-DAUN
Menguncup dalam balut roh-roh
berkembang dalam senyawa
menguning ketika zat telah sampai usia
jatuh berguguran bersama embus angin
serupa nyanyian semesta, meski tanpa suara
imajinasi terbang melingkari waktu tanpa jeda
Yogyakarta, 14 Januari 2014

JALAN MENUJU KEUTUHAN
JALAN menuju keutuhanmu adalah kesunyian
ketika ruangmu penuh, maka jadilah senyawa
: aku pun untuh dalam dirimu.

Tak perlu menunggu kata-kata jatuh, runtuh,
sebab rindumu sudah cukup matang tuk disentuh.

Kata-kata apa lagi yang mampu menyihir
rindumu yang matang dalam kesunyian?
mantra hanya manjur bagi logika percaya

Kita petik saja buah ranum itu,
dan kita kecap asam pun manisnya
lidah jiwa kita pasti akan penuh cita rasa.
Yogyakarta, 13 Januari 2013

Puisi ini telah dipublikasikan di MEDAN BISNIS (23/03/2014)
Baca selengkapnya


ABRAKADABRA | JANJI MATI | TENTANG KATA-KATA | PENGLIHATAN MANUSIA | APA YANG AKAN KEMBALI

ABRAKADABRA
TUHAN, jika diizinkan, bolehkah aku meminjam imajinasiMu
agar aku bisa menjadi tuhan kecil bagi hidupku sendiri?
tentunya itu akan jauh lebih ajaib dari pesulap mana pun
yang mewujudkan sesuatu dengan abrakadabranya.

Tuhan, jika diizinkan, biarkan aku menjadi tuhan kecil
bagi hidupku sendiri, sebab aku akan memiliki semesta.

Tuhan, jika diizinkan, aku akan membangun surga
dan menyiksa diriku sendiri dalam neraka buatanku
jika nyata-nyata diriku adalah seorang pendusta.

Tuhan, jika diizinkan, bolehkah aku meminjam imajinasiMu
agar aku bisa menjadi tuhan kecil bagi hidupku sendiri?
tentunya itu akan jauh lebih ajaib dari pesulap mana pun
yang mewujudkan sesuatu dengan abrakadabranya.
Yogyakarta, 21 Oktober 2013

JANJI MATI
MASIH ada janji yang berkelepak di tiap sudut ruang batin.
ia memintaku menelusur bagai ular ke persemayamanmu,
lalu melepaskan bisa di cawanmu sebagai penawar luka.

Ya, janjiku adalah luka sekaligus obat yang memulihkan sakitmu.
Sering kamu memaksaku membelah dada, lalu menukarnya denganku.
"Biarkan ini tetap jadi milikmu! Sebab ketika malam menggerayang,
sunyi akan merenggutnya dan aku akan dibiarkan menjadi orang asing.
Kalau ini menjadi milikmu, bukankah takkan ada sepi berkisar antara kita?"
tegasmu, sembari menekan tulang dadaku bermaksud serahkan hatimu.

Ia pun menghunjamkan belati di dadaku, menyibaknya, lalu melesakkan
segumpal darah itu bersama jantungku yang berdetak lembut
napas kami saling berpeluk lalu terbang ke udara.
Yogyakarta, 23 Oktober 2013

TENTANG KATA-KATA
KATA-kata adalah bisikan roh semesta
yang diembuskan dalam hati.

Lalu pikiran mengeja menjadi pengantar
bagi pemahaman satu sama lainnya.

Adakalanya kata-kata menjadi cahaya,
namun tak sedikit yang mewujud kegelapan.

Dan adakalanya kata-kata penuh cita rasa,
namun tak sedikit yang tawar tanpa makna.
Yogyakarta, 29 Oktober 2013

PENGLIHATAN MANUSIA
MANUSIA melihat kehidupan seperti melihat panorama
dalam sebingkai cermin, sedangkan kenyataan sebenarnya
adalah di luar cermin itu sendiri.
Yogyakarta, 29 Oktober 2013

APA YANG AKAN KEMBALI
SAMA halnya dengan bayi yang tak memilih rahim seorang ibu sebagai tempat pertama ketika ditiupkan ke dunia, demikian pula dengan roh yang tak memilih jasad siapa pun sebagai wadah untuk menjalani kehidupan.

Tak satu roh pun memilih singgah pada tubuh sempurna, bahkan yang cacat adanya. Semua terjadi dan berjalan sesuai aturan Sang Pencipta. Roh yang putih bersih akan menjadi sangat kotor bila kebiadaban dari sikap bejat sudah menguasai akal. Roh yang suci akan penuh noda nista ketika segumpal darah itu telah sarat dengan kotoran nafsu duniawi.

Oh, betapa akan sangat merugi bagi roh yang tak pernah tersentuh air dan senantiasa dibasuh agar tetap suci. Sungguh betapa sangat malang roh yang kembali dengan wajah penuh aib.

Lalu, apa yang akan dikatakan oleh roh pada Sang Mahahidup selepas dari jasad? Apakah ia akan kembali dengan rupa yang sama seperti kali pertama ditiupkan?
Mungkin ia akan kembali dengan rasa malu tak terkira.
Yogyakarta, 01 Agustus 2013

Puisi ini telah dipublikasikan di MINGGU PAGI (03/11/2013)
Baca selengkapnya


NYANYIAN MISTIS DEDAUNAN | INSOMNIA

NYANYIAN MISTIS DEDAUNAN
DAUN kering pun mengalunkan nada lirih nan liris
dalam kesunyian diri sendiri. Dengarlah! Nada magis
yang terlahir dari sehelai daun berserakan diembus angin
bahkan dikira telah mati berguguran karena pancaroba

Dengarlah lebih meresap! Apa yang terdengar di antara sunyi
bukankah gerisiknya memicu nada-nada kehidupan?
bagkitlah dari hampa, sebab di langit ada nyawa
yang tersimpan di balik keliman kata-kata.
Yogyakarta, 27 September 2013

INSOMNIA
BERSABARLAH! Mungkin kita tak bisa bernyanyi
diiringi kerlip kunang-kunang yang biasa melayang
di depan rumah. Entah sebuah pertanda
atau karena cuaca hingga kunang-kunang tak datang.

Tak perlu gelisah karena dawai gitar dibawa sunyi pergi
hiraukan saja nyinyir malam yang mengejek dengan geluduk
bercampur kilat memecut pekat. Masih ada jangkrik mengerik
sebagai teman walau tak sempurna mimikri mengusir pilu
mengerikiti ruang di dada.

Mungkin butuh belasan cangkir untuk menunggu subuh
dan ratusan lembar kisah agar jenuh lekas berlabuh
tak perlu baca mantra hanya sekadar ingin hadirkan mimpi,
sebab ia telah lelap di alam lain. Meski mata merah
namun bukan karena nanar, ini hanya karena kita terus terjaga
tanpa jeda sepanjang malam buta.
Yogyakarta, 28 September 2013

Puisi ini telah dipublikasikan di BANJARMASIN POST (27/10/2013)
Baca selengkapnya


PERIHAL KESENDIRIAN | MEMETIK SUNYI | DENGARLAH AKU | SEPARUH DIRIKU

PERIHAL KESENDIRIAN
BIARLAH kesendirian ini menguncup.
kelak jika perjumpaan itu tiba,
ia akan terbuka dengan leluasa.

Kesendirian ini bukan seperti bayi dalam kandungan,
sebab setelah terlahir ke dunia ia justru tak leluasa.
kesendirian ini adalah dahaga di musim kemarau.

Tentunya ia takkan menuju laut
sekalipun di sana air melimpah.
ia akan pergi ke puncak gunung kesunyian.
meski terjal dan mendaki
tapi di sanalah segala dahaga terobati.
Yogyakarta, 06 Oktober 2013

MEMETIK SUNYI
MEMETIK sunyi di kegelapan
yang merayap sepanjang jalan.

Hanya deru menyumpal lubang telinga
meski sekali klakson memekak.

Setapak tirus menghitam,
legam serupa telusur ular.

Langit diam seribu bahasa
dalam laju kata di atas roda.

Dan bintang tak pernah kulihat menari
selain hanya monolog sunyi dalam penglihatan.
Yogyakarta, 06 Oktober 2013

DENGARLAH AKU
DENGARLAH apa yang datang padamu.
rasakan bagaimana angin mengantarkan
pesan jiwaku padamu.

Kalaupun bibir ini tak sanggap mengecup keningmu,
biarlah angin yang memberi isyarat itu.

Tak perlu datang dalam mimpiku,
sebab aroma mawar ini telah menjelma dirimu.

Biarlah kegilaan ini tetap bertahan
sampai dirimu benar-benar datang
membasuh kerinduanku yang tertahan.
Yogyakarta, 07 Oktober 2013

SEPARUH DIRIKU
AKU setengah mati, setengah hidup.
aku setengah isi, dan setengah kosong.
sebab padamu segalanya penuh.

Tak lagi ada setengah, melainkan utuh,
bahkan tiada cacat sedikit pun darimu.

Aku setengah mati, setengah hidup.
aku setengah isi, dan setengah kosong.

Sebab ada pemisah yang membuatku tak lagi penuh.
Yogyakarta, 07 Oktober 2013

Puisi ini telah dipublikasikan di PADANG EKSPRES (20/10/2013)
Baca selengkapnya