Showing posts with label CERPEN. Show all posts
Showing posts with label CERPEN. Show all posts

RADIO

DI kampungku, anak-anak usia 10 tahun sudah pandai mengaji, bahkan ada beberapa anak yang saking pintar mengaji bisa dua kali khatam membaca Alquran dalam kurun waktu sepekan. Lebih habat lagi, ketika bulan puasa, mereka berlomba-lomba mengkhatamkan kitab suci tersebut. Memang ada kebanggaan tersendiri ketika mampu mengkhatamkan lebih dari tiga kali selama bulan Puasa. Langgar selalu ramai dengan kegiatan agama ketika bulan puasa ataupun di bulan biasa. Ya, para orang tua di kampungku akan merasa malu kalau anak-anaknya tidak pandai mengaji, tidak alim. Memiliki anak tidak pandai ngaji merupakan aib. Orang tua yang memiliki anak berandalan akan mendapat pandangan miring meskipun tidak diperlakukan secara diskriminatif. Ada semacam pengecualian sikap terhadap orang-orang yang suul adab. Wajar jika sedari sore langgar tampak ramai suara orang mengaji atau kegiatan keagamaan. Kedisiplinan semacam itu sudah ditanamkan para orang tua pada anak-anaknya sedini mungkin agar kelak menjadi hamba saleh.

Kala itu, anak laki-laki yang tidur di rumah akan diteriaki sebagai banci dan diolok sebagai anak yang tak mau lepas dari susu ibunya. Sebagian anak berkata dengan nada mengejek, “Anak laki-laki tidur di langgar, bukan di rumah.” Lebih malu disudutkan seperti itu daripada berpenampilan lusuh dan kumuh.

Selepas mengembalakan ternak, mandi dan makan sore, biasanya mereka akan berduyun-duyun ke langgar. Sembari menunggu magrib, bermain bersama kawan sebaya di teras langgar. Setelah magrib, mereka berangkat ke pondok mbah Syarif untuk mengaji kitab kuning. Selepas kumandang azan Isya mereka kembali ke langgar, belajar, dan tidur di sana. Selepas salat Subuh mereka pulang ke rumah masing-masing dan bersiap berangkat sekolah. Begitulah rutinitas anak-anak di kampung kami.

Zaman sudah mengalami begitu banyak perubahan. Suasana semarak dari langgar laun sepi. Anak-anak yang dulu bergairah menjalankan ritus agama seolah-olah lenyap setelah tumbuh dewasa dan kerja di kota. Ada beberapa generasi tua yang masih setia salat berjamaah di langgar, lambat laun, satu per satu dari mereka lebih dulu dipanggil Sang Mahakuasa. Bakda Isya, Langgar menjadi sangat sepi setelah lampu dimatikan. Tak terdengar lagi senda gurau anak-anak. Tak terdengar lagi orang mengaji. Tak ada lagi suara gaduh anak-anak kejar-kejaran tau sedang petak umpet. Tak terdengar lagi amarah dari salah seorang warga yang merasa terganggu karena polah anak-anak tersebut. Semua sudah berubah dan benar-benar sepi lazimnya desa mati.

***
AKU benar-benar masygul tiap kali tidur di langgar saat mudik. Kenangan indah masa lalu dan ancaman masa depan tentang jalan hidupku terasa tumbuh jadi satu.

Seperti apa pun, ada kenangan masa kecil yang selalu kuingat dari langgar itu. Walau sekolah di kota, tiap mudik pastilah aku tidur di langgar. 

Akan aku ceritakan perihal bunyi radio yang sering kudengar tiap kali terjaga dari tidur malam di langgar itu—aku tak tahu apakah bunyi radio itu dipedulikan oleh teman sebayaku dulu atau tidak. Menjadi hal aneh serta konyol jika aku menanyakan hal itu pada mereka kala itu. Mereka pasti akan menjawab dengan nada mengejek, menganggap hal tak penting jika dipertanyakan. Maka dari itu aku selalu urung bertanya pada mereka. Bunyi yang sering kudengar adalah langgam Jawa, wayang, atau siaran berita dari RRI. Aku yakin jika asal suara itu dari rumah Mbah Warso. Bunyi radio itu akan berhenti setelah azan Subuh dikumandangkan. Aku tak tahu sejak kapan kebiasaan Mbah Warso tersebut, yang jelas aku sering mendengar suara radio sedari kecil dan saat terjaga di malam hari.

Hari itu, tepatnya hari Senin, aku mendengar kabar dari ayahku bahwa Mbah Warso meninggal dunia. Kata ayah, Mbah Warso meninggal karena jatuh saat di kamar mandi. Seminggu setelah dibawa ke rumah sakit, Mbah Warso mengembuskan napas terakhirnya. Jenazah almarhum dimakamkan sesuai agama yang dianut. Di kampung kami, hanya dia yang menjadi non muslim. Meski begitu, ia diperlakukan dengan baik tanpa diskriminasi apa pun dari warga. Ia selalu dilibatkan dalam kegiatan yang diadakan oleh warga kampung.

Sebulan sekali aku pulang untuk melepas rindu dengan keluarga sekaligus mengambil beras dan pesangon untuk kebutuhan makanan selama di rantau. Tentu saja, aku akan tidur di langgar jika mudik. Seperti biasa, aku pasti akan terjaga di tengah malam. Samar-samar kudengar suara radio yang bersumber dari rumah Mbah Warso. Sontak aku dirasuki pikiran ngeri. Aku merasa bulu kudukku berdiri. Merinding. Aku berusaha mengabaikan hal itu, namun suara itu makin jelas kudengar dan makin dekat di telingaku. Tentu saja persitiwa itu mengusik tidurku. Kulihat jam yang digantung di tiang menunjukkan pukul 02:19 WIB. Tentu saja, azan Subuh masih lama. Jika sudah demikian, butuh waktu tak sedikit untuk bisa tidur kambali sebelum Subuh benar-benar tiba. Perlu diketahui, aku adalah orang yang mudah paranoid. Apalagi jika berbau hantu, sudah pasti aku akan berpikir macam-macam yang lantas membuatku merasa ngeri sendiri. Jika sudah dirasuki pikiran semacam itu, menjadi pemberani adalah sebuah keterpaksaan.

Untuk membuktikan kebenaran pendengaranku semalam, bakda Subuh aku mengendap-endap ke samping rumah Mbah Warso. Tak kudapati tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Rumah itu semakin tak terawat sepeninggal almarhum. Banyak daun kering berserakan, terutama daun mangga, jambu dan nangka.

*** 
WALAUPUN sudah lama tinggal di kota, aku tetap ingin tidur di langgar saat mudik. Ternyata hanya aku yang tidur di sana. Sendiri dan sendirian. Dulu pamanku masih sering tidur di langgar, namun Tuhan sudah memanggilnya lantaran sakit jantung. Seiring waktu ... ah, sepi sekali dan tak lagi ada yang tidur di langgar. 

Kini langgar itu sudah mengalami banyak perubahan. Awalnya hanya dibangun dari bahan kayu dan bambu, setelah itu dibangun dengan batu bata dan berlantai ubin. Kini, langgar itu sudah dibenahi menjadi lebih baik. Tembok yang dulu retak sudah diperbaiki, dirapikan sekaligus diperindah sedemikian rupa dengan pintu ukiran, begitu pula dengan jendelanya. Lantainya sudah keramik, selain itu juga sudah dipasang pengeras suara. Sayangnya, beduk yang dulu jadi lambang kegembiraan menyambut hari-hari besar agama tidak turut diperbaiki. Malah beduk itu sekarang tidak berfungsi dan teronggok di sudut emper langgar. Barangkali sulit mendapatkan kulit sapi, atau mungkin ada alasan lain hingga tidak diperbaiki.

Ada kesedihan mendalam yang kurasakan tiap kali salat berjamaah di langgar. Dulu, larik jamaah salat bisa lebih dari lima, namun sekarang tinggal selarik dan hanya beberapa orang saja, itu pun jamaah kaum lansia yang masih diberi anugerah umur panjang. Entah ke mana generasi di bawahku? Jangankan mendengar orang mengaji, selepas salat, langgar itu berubah sepi tanpa harus menunggu Isya dan lampu mati.


Aku merasa benar-benar prihatin, namun tak bisa berbuat apa-apa. Aku sendiri merasa jauh dari kampung, terlebih lagi jauh dari langgar yang dulu menyimpan banyak kenangan.

Sampai detik ini, satu pertanyaan yang belum terjawab, yakni suara radio itu. Suara itu masih saja terdengar di telingaku saat tidur di langgar dan terjaga tengah malam. Suara radio. Ya, suara itu masih saja kudengar walau sudah ditinggal pemiliknya. Lantas, bunyi radio itu? Apakah hantu? Atau sekadar halusinasiku saja? Entahlah! Aku hanya tahu rumah Mbah Warso tak lagi dihuni, makin reot dan tak terawat.

Kuberanikan diri bertanya pada mbak Darsih yang rumahnya bersebalahan dengan rumah almarhum perihal suara radio itu. “Saya tidak mendengar suara radio kalau malam hari. Sejak Mbah Warso meninggal, saya tidak mendengar apa yang kamu maksudkan itu,” jawabnya.

“Oh, baiklah jika begitu. Terima kasih, Mbak.” pungkasku.

Untuk meyakinkan kembali apa yang kudengar, aku bertanya lagi pada kang Sarman. Jawaban serupa kudapatkan. Tak seorang pun mendengar suara radio yang bersumber dari rumah almarhum Mbah Warso.

Mungkin itu halusinasiku saja. Mungkin aku sudah terlalu akut dan masih terjangkit paranoid. Anehnya, aku tidak mengalami itu setelah kembali ke kota. Itu hanya terjadi dan kudengar saat tidur di langgar.[]
Yogyakarta, 30 Januari 2017

Cerpen ini telah dipublikasikan di MASTERPOEM (Edisi I Januari 2016)
Baca selengkapnya


SILAP

TERLALU banyak peristiwa memilukan kulihat di desaku. Kasus pencurian atau perampokan kian hari semakin merajalela. Pemerkosaan, perselingkuhan, bahkan pembunuhan nyaris terjadi tiap hari. Kriminalitas seakan menjadi hal biasa terjadi di desaku akhir-akhir ini. Entah tanda-tanda apa itu?

Desaku sedang sakit. Tentu saja, apa yang sekarang terjadi jauh berbeda dengan 10 tahun silam. Kehangatan antarwarga cukup harmonis dan dinamis. Satu sama lain saling tolong menolong dalam kebaikan. Tak ada tanda-tanda perpecahan. Semua rukun dan damai. Entah apa yang memicu perubahan interaksi sosial di desaku kini. Akhir-akhir ini banyak orang begitu mudah tersulut emosi. Ada yang menyebut orang-orang di desaku kini ibarat bom bersumbu pendek. Mudah tersulut emosi dan akhirnya meledaklah ucapan tak keruan hingga tak pelak timbul permusuhan. Tak sedikit pula orang yang begitu mudah menuduh orang lain tanpa perlu tabayun.

Sebelum aku memutuskan pergi ke Kalimantan tahun 2001, kondisi desa masih baik-baik saja. Siapa nyana jika desaku berubah suram dan dipenuhi onar. Menuding aparat desa karena tidak becus memimpin dan mengembalikan stabilitas desa seperti sediakala, rasanya tak tepat. “Sudah ada upaya pencegahan, namun sulit untuk dikembalikan dan dihentikan, Zul.” Begitu keterangan pak Lurah saat kutanya ikhwal kaos yang sudah terjadi di desa. Semua telanjur terjadi dan sulit untuk bisa dikendalikan serta dikembalikan dalam waktu singkat.

Kabar buruk yang menimpa desaku memang sudah kudengar sejak lama, namun aku belum sepenuhnya yakin dengan kabar angin yang kuketahui saat itu. Kukira hal itu hanyalah lelucon dan sesuatu yang mustahil terjadi. Selain dari orang tuaku, beberapa orang yang masih berteman baik denganku juga turut andil memberi informasi menyangkut perkembangan desa padaku. Aku tetap belum memercayai kabar miring itu sebelum benar-benar menyaksikan sendiri. Nyatanya, dugaanku meleset. Apa yang kuyakini selama ini berseberangan dengan fakta yang ada. Kaos itu kini benar-benar terjadi. Sekarang desaku berubah menyeramkan. Banyak orang makin nekat melakukan tindak kejahatan. Orang yang dulu kukenal kalem kini berubah beringas, bahkan tak pandang bulu. Apa pun dilakukan demi mendapatkan sesuatu yang diinginkan.

Mau tak mau, kondisi semacam itu memaksaku dan keluargaku pindah ke desa lain untuk menyelamatkan diri. Dan itu pula alasanku mengapa harus pulang kampung sebelum masa kerja habis. Pascakaos itu, entah esok kami akan kembali lagi ke desa atau bahkan tidak sama sekali?

“Kau tahu, banyak muda mudi dari desamu yang mulai terang-terangan berbuat amoral? Mabuk-mabukan, berzina, dan kelayapan saban malam. Ada juga yang suka balapan liar sekaligus melakukan tindak kriminal,” kata Maulana saat aku mampir ke rumahnya. Dia adalah teman sekolah sekaligus teman kerja sewaktu di Jakarta dulu. Ia memutuskan pulang kampung lebih cepat dan membuka usaha sendiri di rumah. Sedangkan aku tetap bekerja dan terus menjadi pekerja hingga mendapat tawaran kerja di Kalimantan.

Kabar terbaru yang kudengar dari desaku, si Kalimah telah membuang bayi hasil hubungan gelapnya ke sungai. Dulu dia adalah gadis lugu, bahkan sekadar berkumpul dengan teman sebaya saja ia malu bukan main. Ia tak banyak bergaul, lebih suka di rumah. Namun setelah ia kerja di kota, semua berubah. Ia tampil modis serta berbusana serba seksi.

“Kau tahu, anaknya Bu Murni—yang dulu tampak alim dan pandai mengaji—sekarang jadi pengedar narkoba. Seminggu yang lalu ia dijebloskan ke penjara. Kukira kau sudah tahu kasus-kasus terbaru di desamu tanpa kuberitahu lebih lanjut,” paparnya.

Aku menghela napas dalam-dalam lalu mengembuskan perlahan. Kurasa ada gumpalan menyesak di rongga dadaku. Ingin rasanya kulepas gumpalan itu ke awang-awang namun gumpalan itu tetap bertahan dan enggan beranjak dari dada.

Nyaris tak kudengar kabar menggembirakan dari desaku beberapa tahun terakhir ini. Tak lagi kudengar kabar bahwa desa kami berhasil meraih juara perlombaan tertentu. Dulu desa kami pernah dinobatkan sebagai desa paling bersih dan paling produktif dalam banyak bidang, terutama di bidang peternakan dan pertanian. Tak kudengar lagi muda mudi dari desa kami meraih gelar juara beragam lomba antardesa, kecamatan, bahkan tingkat provinsi. Sekarang sepi dan terganti dengan kenyataan pahit sekaligus menyayat hati.

“Kalau aparat desa saja tak mampu memperbaiki kaos tersebut, apalagi aku? Tentu berat bahkan akan mustahil terjadi adanya perubahan di dalamnya,” sanggahku sangat pesimis saat menjawab pertanyaan dari Maulana.

“Lantas apa kau akan diam dan membiarkan begitu saja desamu dengan kondisi semacam itu?”

“Tentu saja tidak! Desa itu adalah tanah kelahiranku. Tapi, apatah dayaku dengan kenyataan semacam itu?”

Kami sama-sama diam.

Hari sudah larut malam. Aku harus segera pulang. Walaupun Maulana memintaku untuk menginap, aku tak bisa meninggalkan orang tuaku di rumah. Meski mereka bisa jaga diri, tapi sergap binatang buas yang lapar bisa datang kapan saja. Rumah tempat kami singgah saat ini sangat dekat dengan hutan. Konon, ada salah seorang warga yang diterkam harimau saat buang hajat ke sungai. Semua harus waspada dan jaga diri. Meski sudah membuat pagar bambu sepanjang desa, kekuatan pagar tersebut masih sangat mudah diterobos binatang apa pun. Binatang yang lebih sering ditangkap warga adalah ular. Biasanya ular-ular tersebut masuk ke pekarangan, bahkan ada yang menyelinap ke dalam kandang lalu memangsa ayam atau unggas milik warga.

Di tempat tinggal sekarang, kami membuka lahan baru untuk bercocok tanam demi mempertahankan hidup. Sesekali kami menjual sayuran atau hasil panen cocok tanam ke pasar. Cara itulah yang bisa kami lakukan untuk mendapat penghasilan.

Sudah sebulan kami menempati rumah tersebut. Selama sebulan itu kami mendapati banyak kejadian tak terduga. Pekan pertama, Bapak sering melihat hantu bergayutan di pohon beringin tak jauh dari pekarangan rumah. Sedangkan Ibu sering menjerit histeris saat melihat ular masuk atau menyelinap di dapur. Kalau aku punya cerita berbeda, aku sering digoda perempuan yang sedang mencuci di kali. Anehnya, tiap kali ke sungai, aku pasti bertemu atau berpapasan dengannya. Tiap kali berpapasan dengannya, pikiran jalang menggodaku. Hal yang paling menggoda adalah saat ia basah kuyup dan sisa-sisa air masih menelusuri bagian dada atas yang tak terlindungi kemban. Rambutnya yang lurus dan basah semakin membuatku terpesona. Ketika berpapasan denganku, ia tersenyum tipis dengan tatap mata berbinar-binar. Ah, jangan teruskan! Meskipun aku belum tahu namanya—aku yakin dia bukan hantu—kutahu ia adalah anak tetangga yang rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah tempat tinggal kami.

“Hati-hati kalau ke sungai, Le! Kata Kang Somad, banyak makhluk halus menampakkan diri. Bahkan ada pula yang menampakkan diri saat siang hari,” ujar Ibu sewaktu aku ingin ke sungai untuk buang hajat.

Barangkali saking tak percaya dengan hal-hal semacam itu, aku hanya menyahut dengan jawaban singkat, “Iya, Bu.”

Ah, masa iya ada penampakan di siang hari. Kata Pak Ustaz, hantu tidak berani menampakkan diri di siang bolong, lebih-lebih pasti takut jika dibacakan ayat-ayat suci. Kalaupun benar menampakkan diri di malam hari—sepanjang aku tinggal di rumah itu—aku juga belum pernah menjumpainya.

*** 
SIANG itu, Kang Somad mampir ke rumah. Sebenarnya ia juga pendatang, hanya saja ia sudah puluhan tahun tinggal di desa ini. Ia menceritakan banyak ikhwal tentang warga maupun desa ini.

Pada satu titik tertentu ia bercerita tragedi yang terjadi di desa ini, “Lima tahun lalu, ada warga sini yang tewas karena dibunuh. Rumahnya dijarah lalu dibakar.” tuturnya sembari menunjuk ke arah jurang dan pohon beringin. Menurutnya, mayat-mayat itu diperlakukan secara tak wajar. Ya, telunjuk Kang Somad menujuk ke pohon itu, pohon yang kata Bapak sering ada penampakan. Sekali lagi kutegaskan bahwa aku tak mudah percaya begitu saja jika tidak melihat langsung dengan kedua mata ini.

Lanjut Kang Somad, keluarga yang tewas itu dulu merupakan orang paling kaya di desa. Sebenarnya keluarga tersebut sangat baik, ramah dan suka menolong siapa saja. Anak gadis semata wayangnya selain cantik juga berpendidikan tinggi. Sayangnya, setelah menamatkan pendidikan, gadis itu tidak mendapat pekerjaan. Dari cerita Kang Somad pula, gadis itu sudah melamar kerja ke mana-mana, namun nasib baik tak kunjung berpihak. Sesering ia melamar kerja, sesering itu pula ia mendapat penolakan. Ia sendiri enggan melanjutkan bisnis keluarganya dengan dalih ingin mandiri. Padahal jika mau, ia bisa saja menempati posisi lebih baik selain menjadi seorang karyawati. Sayangnya, sebelum benar-benar bisa mewujudkan harapan, ajal sudah lebih dulu menjemput.

“Banyak orang menyukainya, namun pihak keluarga tidak menyetujui. Padahal pemuda yang ingin melamar jelas-jelas dari kalangan orang kaya. Entah apa alasannya hingga menolak lamaran dari orang-orang tersebut,” ungkap Kang Somad dengan nada berat.

Kang Somad pun menduga-duga kalau kematian seluruh keluarga tersebut tak lepas dari masalah cinta, dendam, atau karena sakit hati. Atau bisa jadi karena memang murni perampokan. Sampai detik ini belum terungkap apa motifnya. Setelah melalui proses penyelidikan, pihak aparat memberi kesimpulan bahwa hal itu terjadi karena perampokan.

Aku pun menyela cerita dari Kang Somad, “Aku mau tanya, Kang. Gadis yang sering mencuci di sungai itu siapa, ya? Kang Somad tahu?”

“Gadis?” jawabnya.

“Iya, Kang. Tiap kali ke sungai aku sering berpapasan atau mendapati ia sedang mencuci di sana.”

“Oh, itu Laksmi. Dia anak Pak Sadirin. Itu rumahnya …” sembari menunjuk ke sebuah rumah.

Ada sesuatu yang mengganjal setelah nama itu disebut. “Sepertinya, bukan dia yang kumaksud, Kang.”

“Lantas siapa lagi? Di sini banyak gadis, hanya saja yang sering mencuci di kali, ya, si Laksmi.”

“Bukan, Kang!” sanggahku. “Kalau si Laksmi, aku tahu. Tapi yang kumaksudkan gadis lain. Dia berambut lurus panjang, tinggi, kulit sawo matang, dan punya lesung pipi.”

Kulihat Kang Somad mengeryitkan jidatnya. Kukira ia sedang memikirkan sesuatu. Lalu ia melontarkan pertanyaan padaku, “Kapan kamu terakhir kali bertemu dengannya?”

“Kemarin siang waktu aku ke kali. Dan … oh, iya. Tadi sepulang dari kali aku juga berpapasan dengannya, kira-kira sepuluh menit sebelum Kang Somad mampir ke rumah.”

Mendengar penuturanku, Kang Somad seperti berusaha mengingat-ingat sesuatu. “Rambut lurus panjang? Tinggi? Kulit sawo matang, dan … punya lesung pipi?” Ia balik bertanya seolah memastikan sesuatu. “Seingatku, gadis yang memiliki tanda-tanda semacam itu si Maya, anak Pak Yadi.”

Aku pun menambahkan keterangan, “Dia tinggal di sana, Kang.”

“Di mana?” sahutnya sembari menolehkan wajah sejurus dengan arah telunjukku.

“Di sana!” kuulangi ucapanku tanpa mengubah arah telunjuk.

Kang Somad malah berekspresi heran. Berulang kali ia bertanya letak rumah yang kutunjukkan, “Rumah yang mana, Zul? Aku tak melihat rumah yang kamu maksudkan. Aku hanya melihat semak-semak,” Ia berkilah. “Ah, kamu jangan bercanda. Di sana tak ada rumah selain semak-semak bekas rumah Pak Yadi yang dibumihanguskan para perampok.”

Ada sesuatu yang mencekik kerongkonganku. Entah penglihatanku yang kurang baik, atau bagaimana sehingga rumah yang kumaksud tetap tak dilihat oleh Kang Somad walaupun sudah kutunjukkan berulang kali. Kang Somad pun pamit setelah memberi penjelasan lebih panjang lebar terkait gadis yang sering kujumpai di sungai itu. Sebelum pamit ia berpesan agar aku segera melupakan apa yang sudah terjadi selama ini.

“Jadi …” 

Renik berkeliaran dan beterbangan di sekelilingku. Tiba-tiba jantungku berdetak kencang dan tubuhku pelan-pelan bergetar sedemikian hebat. Semua yang kulihat pun berubah gelap.
Yogyakarta, 13 November 2016

Cerpen ini telah dipublikasikan di MASTERPOEM (Edisi V Desember 2016)
Baca selengkapnya


SYEKH MUSA DAN ANJINGNYA

SYEKH Musa baru saja keluar rumah pagi itu. Tiap pagi ia berangkat ke kebun atau sawah seusai memberi makan ternak, berihat ketika salat Zuhur, berangkat lagi ke sawah dan pulang sebelum salat Asar. Caping di kepalanya belum terganti walau sudah compang-camping dan usang. Sebuah cangkul menggantung di bahunya. Di tangan kanan ada sebilah arit, sedangkan di tangan kiri menenteng cerek. Sedangkan di belakang seekor anjing sedang membuntuti gerak langkahnya. Anjing itu berusia ratusan tahun. Padahal normal usia anjing secara umum di kampung tersebut paling lama antara lima sampai sepuluh tahun. Tapi tidak untuk anjing milik Syekh. Sebagian orang menganggap bahwa anjing tersebut bukan sekadar anjing biasa. Konon, anjing tersebut dahulu ditemukan oleh Buyut  keluarga syekh Musa di hutan sewaktu hujan lebat. Anjing itu menggonggong secara terus menerus bersamaan dengan petir yang menyambar-nyambar. Buyut akhirnya merawat anjing itu dengan baik dan mengamanahkan secara turun-temurun kepada anak-anaknya sampai lebih dari tujuh turunan. Sebagian orang mengatakan bahwa anjing itu adalah jelmaan. Ada pula yang mengatakan sebagai malaikat dalam perwujudan lain. Dan masih banyak lagi pendapat para warga perihal keberadaan anjing tersebut hingga kini. Anehnya, anjing itu hanya mau tinggal di rumah keluarga syekh Musa. Anjing itu tidak mau pindah pemilik sekalipun ada warga yang berniat merawat secara suka rela. Tapi usaha itu gagal karena anjing tersebut kembali lagi ke rumah semula, rumah keluarga syekh Musa.

Perlakuan serta sikap warga terhadap keluarga syekh Musa juga sangat berbeda, termasuk dalam menjaga tutur kata. Warga yang berpapasan di jalan akan menundukkan pandangan sembari mengangguk penuh senyum sebagai bentuk penghormatan. Para warga begitu takzim terhadap keluarga syekh Musa. Tak ada yang tahu secara pasti mengapa keluarga syekh Musa disebut sebagai keluarga malati  dan begitu disegani. Sebutan dan semua itu terjadi secara turun temurun. Keluarga syekh Musa bukan keturunan Arab, bukan pula keturunan priayi  atau kalangan alim ulama. Bukan pula dari kalangan kaya raya. Keluarga syekh Musa adalah kaum biasa, kaum jelata. Berpenampilan sederhana dan apa adanya. Warga merasa bahwa syekh Musa memiliki ilmu laduni . Hal itu terbukti ketika suatu hari syekh Musa berkata pada salah seorang warga yang hendak ke sawah, “Lindungi kepalamu dengan caping!” Hanya itu yang dikatakan tanpa memberi alasan mengapa harus memakai caping ketika ke sawah. Sehari setelah itu terdengar kabar bahwa warga yang ditegur tersebut meninggal karena disambar petir. Kepala remuk dan tubuhnya hangus terbakar. Di hari yang lain seorang warga juga hanyut terbawa arus karena mengabaikan perkataan syekh Musa agar tidak mandi di sungai menjelang magrib. Ada juga anak-anak yang disembunyikan makhluk halus karena main petak umpet di waktu magrib, padahal sudah berulangkali Syekh menegur supaya tidak keluyuran di waktu petang. Masih banyak lagi peristiwa-peristiwa yang kemudian membuat warga menuruti perkataan dari Syekh. Terkadang warga butuh menguraikan apa yang dikatakan oleh Syekh agar tak sesat laku dan sesat pikir. Entah cara semacam itu disengaja oleh Syekh, atau karena memang warga kurang sempurna menangkap serta memahami makna dari ucapan tersebut. Kata-kata yang disampaikan hanya sebatas isyarat.

Suatu hari ada yang mencoba menantang seberapa hebat kedigdayaan Syekh. “Anak muda, kuakui kamu lebih hebat dariku. Namun alangkah lebih baik urungkan saja niatmu itu. Sebab keinginanmu justru akan membuatmu celaka. Ketahuilah bahwa kebencian dimulai dari amarah. Ketika amarah tak bisa dikendalikan maka kebencian akan menutup segala pandangan kebenaran dari dalam diri sendiri. Seseorang yang tak mampu menahan amarah akan senantiasa berjalan dalam kebencian sepanjang hidupnya. Amarah adalah api dan kebencian adalah batu dalam diri manusia. Selama amarah dan kebecian ada dalam diri maka akan sulit untuk membedakan antara kebaikan dan keburukan. Selamanya ia akan hidup dalam penderitaan yang dibuat oleh diri sendiri. Jangan turuti amarahmu, sebab kamu akan menjadi budak kebencian. Percayalah, Nak!” kata Syekh ketika mendapat tantangan tersebut. Pemuda itu tak peduli, ia nekat. Pemuda itu bukan hanya menantang kekuatan fisik, tapi juga ilmu pengetahuan. Warga yang turut hadir menyaksikan hanya mencibir pemuda tersebut, “Anak bau kencur! Seberapa hebat kemampuanmu hingga berani menantang Syekh. Aku yakin ilmu dan kekuatanmu belum seberapa jika dibandingkan dengan milik Syekh. Aku berani bertaruh, jika kau menang, akan aku beri kau makan seumur hidup. Tapi jika kalah, kau akan kugelandang. Akan aku arak kau keliling kampung.”

Sama sekali bukan skenario drama, pemuda itu kalah telak serta pulang dengan rasa malu karena diarak warga keliling kampung. Pemuda itu kalah dalam banyak hal, dari adu fisik hingga adu ilmu pengetahuan. Awalnya, Syekh melarang, namun kekuatan massa tak bisa dicegah. Sebulan setelah uji kemampuan, pemuda itu diketahui telah gila. Ia menggelandang sepanjang jalan. 

Kehidupan Syekh memang sederhana. Rumahnya bukan dibangun dengan tembok marmer, bahkan bukan dari batu bata atau batako. Rumahnya dari gedek  dan gebyok . Atapnya sebagian dari anyaman jerami. Rumah itu dihuni sembilan orang, termasuk Syekh. Banyak warga menawarkan jasa baik untuk memperbaiki rumah, namun ditolak. Syekh menolak bukan karena sombong, namun tak ingin bermegah-megah dalam menjalani hidup. “Semakin banyak harta yang kita bawa, semakin berkurang kebahagiaan yang didapatkan. Justru semakin bertambah beban yang kita tanggung dari tumpukan harta tersebut. Hidup kaya diperbolehkan asal tidak berlebihan,” ujar Syekh.

Suatu malam anjing Syekh menyalak hingga subuh. Tiap kali anjing milik Syekh menyalak, sontak melahirkan kehawatiran dalam diri para warga. Jika sudah demikian, hal itu bertanda bahwa akan terjadi peristiwa buruk. Akan terjadi bencana atau petaka. Benarlah pertanda buruk itu datang. Banjir bandang menerjang kampung tersebut. Rumah-rumah disapu habis. Warga yang mengabaikan seruan untuk naik serta mengungsi ke rumah Syekh dan justru lebih memilih menyelamatkan harta benda harus merelakan diri hanyut terseret banjir. Lagi-lagi, ketika pertanda buruk dan bencana menimpa kampung, rumah Syekh menjadi tempat pengungsian paling aman bagi para warga. Selain karena lokasi yang berada lebih tinggi dari rumah warga, rumah Syekh tak mudah tumbang diterjang angin atau ambruk digoyang gempa. Rumah itu umurnya hampir sama tua dengan kampung tersebut. Buyut syekh Musa adalah orang yang babat alas di kampung itu. 

“Bapak dan ibu sekalian jangan terlalu mudah terhasut oleh takhayul. Sering kudengar jika anjing ini menyalak pasti dikaitkan dengan tanda-tanda datangnya sebuah bencana. Memang ada kalanya benar, namun jangan mudah percaya pada hal-hal semacam itu. Itu sama sekali tidak dibenarkan. Percayalah pada kuasa Tuhan! Sebab hanya Dia yang mengatur alam semesta ini. Kalaupun toh anjing ini menyalak, bisa jadi ia sedang lapar atau mungkin karena hal-hal lain,” terang Syekh sewaktu menjelaskan pada warga yang panik karena mengira akan ada bencana setelah mendengar anjing tersebut menyalak secara terus menerus. Padahal tanpa sepengetahuan warga, anjing itu sedang kelaparan, pasalnya sedari siang lupa tidak diberi atau disediakan makanan. Waktu itu keluarga Syekh bepergian dan sampai di rumah hampir subuh. Wajar jika keluarga Syekh terkejut mendapati warga sedang berkumpul di pelataran rumah dengan wajah diliputi kepanikan. “Kami kira sedang terjadi sesuatu dengan rumah kami. Ah, ternyata bapak-ibu sekalian hanya tertipu oleh rasa lapar anjing kami. Maafkan anjing kami! Maaf atas kejadian ini hingga membuat bapak dan ibu sekalian merasa terganggu,” imbuh Syekh meredam kehawatiran dari para warga. Para warga kembali ke rumah masing-masing dengan rasa lega.

Ada peristiwa lain yang benar-benar mengherankan. Pernah suatu hari seorang warga pendatang mencoba meracuni anjing milik Syekh karena dianggap mengganggu tidurnya. Warga pendatang itu secara diam-diam menaruh tulang yang sudah dilumuri racun. Secara diam-diam pula ia menaruh tulang beracun itu di dekat rumah Syekh. Ia berharap anjing itu menjilati tulang beracun setiba di rumah setelah menemani Syekh dari sawah. Namun siapa nyana jika kenyataan berbalik, justru yang terjadi adalah senjata makan tuan. Warga pendatang tersebut mati keracunan akibat ulah sendiri. Mula-mula, ia mengira sehari setelah memasang perangkap anjing milik Syekh akan makan tulang beracun lalu mati, nyatanya ia masih mendengar suara gonggongan dari rumah syekh Musa. Ia kembali memasang perangkap secara diam-diam, namun ia lupa mencuci tangan setelah itu. Setiba di rumah ia langsung menyeruput kopi buatan istri dan melahap pisang goreng kesukaannya. Racun itu bereaksi secara cepat. Ia menyerang sel-sel darah. Menyerang tubuhnya hingga racun itu mencapai puncak dan menjadi penyebab kematian bagi warga pendatang tersebut. Nyawanya tak tertolong. Ia mati dengan mulut mengeluarkan busa bercampur darah.

“Maafkan suami saya. Ia telah bertindak ceroboh. Ia telah lancang ingin meracuni anjing milik Jenengan , Syekh. Saya mewakili suami dan keluarga ingin meminta maaf atas sikap yang sudah dilakukan oleh almarhum,” ujar Salamah sembari berisak tangis meminta maaf atas kekhilafan suaminya. Ia mengetahui hal itu dari ucapan suaminya sebelum mengembuskan napas terakhir.

Syekh memaafkan sepenuh hati. Ia juga mendoakan almarhum agar mendapat ampunan dari Sang Maha Kuasa.

Begitulah karisma syekh Musa. Ada banyak kisah perihal kehidupan syekh beserta keluarga. Walau sering memberikan petuah-petuah bijak pada para warga, namun ia tidak mau mengajarkan ilmu yang dimiliki secara formal. Tak mau mengikat juga tak mau diikat. Ia lebih suka mengajarkan ilmu pengetahuan yang dimiliki tanpa keterikatan waktu. Kadang ia menyampaikan pengetahuan yang dimiliki di sawah sewaktu rihat kerja. Kadang melakukan hal itu setelah menunaikan salat lima waktu di emper  musala. Atau di mana saja selama masih ada kesempatan. Ia tak mau disebut sebagai guru agama. Ia tak mau dijadikan pemuka agama di kampung tersebut sekalipun wibawa, ilmu, dan pengaruhnya jauh lebih besar serta dihormati warga daripada pejabat desa setempat. Ia tak gila gelar tertentu sekalipun para warga menyebutnya dengan Syekh. Ia tak gila harta, terlebih kekuasaan. Ia ingin berdiri sama dengan para warga. Merebah sama posisi dengan para warga.[]
Yogyakarta, 11 Oktober 2014

Sajak ini telah dipublikasikan di MASTERPOEM (Edisi IV April 2016)
Baca selengkapnya


MASA TUA

BAGAIMANA rasanya jika masa tua harus hidup sendiri? Padahal, anak, menantu, cucu, dan sanak saudara masih lengkap serta tinggal di sekitarnya. Bagaimana rasanya jika masa tua harus melakukan segala sesuatu secara sendirian? Padahal, hampir semua keluarga hidup di sekelilingnya bahkan memiliki cukup waktu untuk sekadar membantu urusan dapur, mencuci, atau membelikan obat sakit kepala ke warung terdekat. Namun, kenyataan tak demikian. Sekalipun dikelilingi keluarga dan ada salah satu kerabat membantu, hal itu karena rasa terpaksa. Sungguh, betapa nelangsa jika masa tua harus demikian adanya. Apakah itu rekayasa? Tidak! Tidak, Kawan! Perempuan tua itu benar-benar mengalami nasib menyedihkan semacam itu di masa tuanya. Walau dekat dengan keluarga, tapi ia justru menjalani hidup sendirian dan bagai hidup sendiri. Kesendirian yang benar-benar nyata setelah suaminya meninggal dunia. 

Dulu, bu Saptini—begitulah para warga memanggilnya. Nama lengkapnya adalah Widyawati Saptiningtiyas—adalah orang yang sangat kaya raya, disegani dan sangat terpandang di kampung. Bahkan para Pejabat Desa pun merasa segan padanya. Di masa kejayaan, banyak orang merasa terbantu, terutama secara materi. Setidaknya, berkat bantuan dari bu Saptini, desa tersebut tidak mengalami kesulitan jika butuh dana, termasuk dana besar sekalipun. Bu Saptini memang suka menolong serta memberi bantuan, bantuan untuk perorangan maupun bantuan ke desa. Tak heran ketika mengadakan resepsi pernikahan anaknya, ia menggelar acara budaya selama seminggu penuh. Dari pertunjukan wayang, jatilan, sampai hiburan musik. Semua digelar semalam suntuk.

Itu dulu. Dulu semasa ia kaya dan jaya.

Setelah ia ditangkap dan dipenjara atas kasus pemalsuan serta menghilangkan sertifikat tanah, semua berubah total. Satu demi satu, kelurga menjauhinya. Warga kampung yang dulu memperlakukan dirinya dengan sangat terhormat, kini hanya bertegur sapa sekadarnya. Semua tak seperti dulu, semua benar-benar berubah setelah ia jatuh miskin. Sudah jatuh, tertimpa tangga. Setelah bebas dari penjara, ledakan tagihan dari sana-sini makin menjadi-jadi. Mau tak mau seluruh aset yang dulu dibanggakan harus berpindah tangan untuk menutupi utang atau tagihan-tagihan yang tiap hari datang silih berganti. Tiap hari ada saja orang datang mencari; dari menanyakan sertifikat yang tidak ada kejelasan, menagih utang, bahkan ada yang datang ingin membunuhmya. Masa tua yang seharusnya sudah hidup tenang, berkumpul dengan anak cucu serta keluarga besar, justru dihabiskan untuk kejar-kejaran dengan para penagih. Harus kucing-kucingan dengan banyak orang agar selamat dari bahaya yang sewaktu-waktu datang menimpa. Berusaha keras menghindari ancaman-ancaman dari siapa pun, termasuk Depkolektor. Pernah suatu hari ia bertengkar hebat, lebih tepatnya beradu mulut, dengan salah seorang penagih. Sepenuh keberanian dan suara tinggi ia berkata, “Saya tidak takut. Bahkan jika Anda ingin mengajak saya bertarung pun, saya berani. Ayo! Ayo kalau berani! Saya akan lawan Anda. Akan saya layani walaupun harus bersimbah darah.”

Ya. Walau sudah tua, ia tak takut pada siapa pun yang ingin menantangnya; meski hanya sendiri dan seorang wanita.

Dampak dari semua itu adalah rumah sering kosong. Berhari-hari, bahkan sampai berbulan-bulan ia tak ada di rumah. Kalaupun harus di rumah, ia harus benar-benar memastikan semua aman. Mematikan ponsel dan menutup pintu rapat-rapat jika ada di rumah. Kadang untuk menyelamatkan diri, ia pulang larut malam. Berhenti sejenak di seberang jalan guna memastikan bahwa tidak ada seorang pun menunggu di depan rumah. Apabila sudah dalam kondisi terdesak maka secara terpaksa ia berbohong sedang berada di luar rumah, padahal saat itu berada di dalam rumah. Begitu seterusnya ia menjalani hidup. Begitulah caranya menyelamatkan diri dan sembunyi.

***
“YA, seperti inilah kondisi rumah saya.” ucapnya ketika ada salah seorang datang ingin mengontrak rumah. “Maklum, saya jarang ada di rumah dan rumah ini tidak ditempati, jadi tampak tak terawat.” imbuhnya.

Setelah melakukan negosiasi harga dan kesepakatan lain terkait kontrakan, akhirnya orang tersebut berminat mengontrak rumah yang terletak bersebelahan dengan rumahnya. Setelah rumah tersebut di tempati atau dikontrak, tentu saja tampak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Dan rumah tersebut baru sekali itu dikontrakkan. Dulu begitu sepi tak berpenghuni. Setidaknya, dengan adanya orang yang mengontrak rumah, ada seseorang yang bisa diminta bantuan untuk mengangkat jemuran, mengantarkan pergi ke suatu tempat, atau sekadar membelikan obat meriang. Padahal bisa saja ia minta tolong pada anak, menantu, atau keluarga lain, tapi ia tak melakukan itu. Ia justru merasa lebih baik minta bantuan orang lain daripada keluarga sendiri.

“Saya melakoni pekerjaan seperti ini sudah bertahun-tahun. Dan saya menjalani hidup seperti ini juga sudah cukup lama, bahkan sebelum suami saya meninggal. Banyak hal yang harus saya hadapi. Dari risiko ringan sampai ingin dibunuh orang pun sering saya hadapi. Jadi, semisal ada orang yang mencari saya, katakan saja: Tidak tahu. Itu urusan pribadi saya, jadi tidak perlu ditanggapi dan tak perlu diladeni.” tuturnya sewaktu datang bertamu ke kontrakan.

“Kalaupun saya harus ganti pekerjaan, apa pekerjaan itu? Saya sudah sering gonta-ganti pekerjaan, tapi bagi saya, pekerjaan ini yang masih mampu dilakukan. Dagang? Adik saya sudah berdagang. Tokonya saja ada di samping rumah ini. Sedangkan kamu tahu sendiri, saudara saya itu tidak suka kalau disaingi. Saya tidak ingin cari masalah dengan keluarga sendiri. Menjadi petani? Tenaga saya tidak kuat jika harus ke sawah. Dulu pernah iseng menanam padi, ujung-ujungnya saya diopname seminggu di rumah sakit. Maka dari itu saya memutuskan untuk tetap berprofesi seperti ini, walau harus berhadapan dengan maut,” ucapnya menjawab pertanyaan dari Pengontrak.

Suatu hari, ia jatuh sakit. Awalnya hanya mengeluh masuk angin, dan seperti biasa ia hanya cukup minum obat dan dikeroki punggungnya. Biasanya dalam waktu sehari ia sudah sembuh, namun sakit kali ini tak seperti biasa. Ia muntah-muntah tiap beberapa menit. Buang air besar tiap beberapa menit sekali. Begitu seterusnya sampai beberapa hari. Ia tampak kurus dan pucat. Meski demikian tak ada keluarganya yang tahu jika ia sedang sakit. Ia hanya minta tolong pada Pengontrak rumah untuk diantar ke dokter. Setelah periksa, berangsur ia pulih. Setelah kondisinya sehat, ia kembali melakukan aktivitas kerja seperti biasa. Namun lagi-lagi, tubuh ringkihnya meminta hak. Istirahat yang tidak cukup, makan tak teratur, terlebih masa tidur yang kurang dan tak teratur memaksa ia harus dibawa ke rumah sakit. Pemandangan berbeda terjadi, sudah jelas-jelas ia jatuh sakit, tak seorang pun dari pihak keluarga datang menjenguknya. Jangankan menjenguk, mengetahui kabar jatuh sakit saja tidak tahu. Justru yang datang menolong adalah Pengontrak rumah dan beberapa teman yang berhasil dihubungi. Anak dan cucunya tak tampak datang. Adiknya yang hanya tinggal di bagian belakang rumah juga tak tampak datang. Ini sungguh merupakan pemandangan yang benar-benar ironis. Sangat memprihatinkan.

Satu tahun berjalan begitu cepat. Pengontrak rumah memutuskan untuk tidak memperpanjang masa kontrakan. Tak ada alasan cukup kuat mengapa harus pindah rumah. Mau tak mau, rumah itu harus kembali dihuni sepi. Entah esok mau dikontrakkan lagi atau tidak. Diwariskan atau justru akan dijual. Entahlah?

“Baiklah jika memang ingin pindah. Saya hanya bisa mendoakan dan berterimakasih karena selama setahun sudah membantu kerepotan saya. Saya juga minta maaf jika ada kesalahan. Bagaimanapun, orang tua tetap memiliki kesalahan,” ucapnya setelah Pengontrak rumah ingin berpamitan.

Kini, ia harus kembali menyelesaikan pekerjaan rumah sendiri. Sewaktu masih ada Pengontrak rumah, setidaknya ada yang membantu membersihkan kamar mandi. Mengangkat jemuran jika ia pergi jauh dan tak pasti jam berapa akan pulang. Membersihkan kamar, mencari tikus mati di dalam lemari, membersihkan ruang tamu atau sesekali waktu mencabut rumput di halaman rumah. Selebihnya meminta tolong melakukan sesuatu jika ia sedang ada keperluan.

*** 
PAGI itu, desa Timbulharjo mendadak geger. Mayat perempuan ditemukan telah membusuk di dalam kamarnya. Tubuhnya sudah dikerumini banyak belatung. Sebagian kulit tubuhnya sudah mengelupas. Menurut keterangan salah satu warga yang menemukan kali pertama menjelaskan bahwa sehari sebelum mayat ditemukan, tercium bau busuk sangat menyengat.

“Pagi itu saya hendak ke sungai. Saya selalu mencium bau tak sedap tiap kali melintas di depan rumah ini. Didorong rasa penasaran, saya mencoba mencari sumber bau tersebut. Pikir saya, siapa tahu ada tikus atau binatang lain yang mati di sekitar sini. Namun saya tak menemukan ada binatang mati di daerah sini. Akhirnya saya mengetahui sumber bau tersebut setelah berada di emper rumah ini. Awalnya saya ketuk pintu rumah, namun tidak ada sahutan. Berulang kali saya ketuk dan memanggil pemilik rumah tidak ada sahutan sama sekali, hingga akhirnya warga satu per satu berdatangan. Setelah pintu berhasil dibuka, baru diketahui bahwa ada mayat yang sudah membusuk di dalam rumah.” Begitulah kesaksian salah seorang warga atas peristiwa tersebut.

Saksi lain menambahkan bahwa beberapa hari sebelum ditemukan tewas, perempuan tua itu memang sudah tak terlihat selama beberapa hari. Biasanya, sekalipun tidak pasti ada di rumah, tetangga dekat akan melihat walau hanya sekelebat di luar atau di dalam rumah, atau mungkin bertegur sapa seperlunya saat perempuan tua tersebut duduk di emper rumah. Tapi tidak untuk beberapa hari sebelum ia ditemukan meninggal dunia.

Ya, bu Saptini telah ditemukan tewas secara mengenaskan di rumahnya sendiri. Tak ada tanda-tanda kekerasan yang mengakibatkan ia meninggal sedemikian tragis. Ia meninggal secara wajar, namun tak seorang pun mengetahui kapan napas terakhir kali meregang dari raganya. Tak ada yang tahu sebab utama mengapa ia meninggal dengan cara semacam itu. Besar kemungkinan bahwa ia sedang sakit parah namun tak seorang pun datang menjenguk serta menolong saat sakaratul maut. Barangkali, jika bau busuk tak menyengat, jasadnya tetap tak berpindah dari tempat tidur. Lebih aneh lagi adalah adiknya yang tinggal di belakang rumah tak mengetahui perihal itu. Ia justru baru mengetahui setelah ada keramaian orang yang ingin melihat jasad bu Saptini untuk terakhir kali.

Setelah dimandikan, dibalut kain kafan, dan disalati, jenazah bu Saptini dikuburkan di pemakaman umum desa.[]
Yogyakarta, 10 Maret 2015

Cerpen ini telah dipublikasikan di SUARA KARYA (28/11/2015)
Baca selengkapnya


ANOMALI

TIBA-TIBA saja kau menyelinap masuk dalam mimpiku. Aku tak ingin gegabah ambil kesimpulan bahwa hal itu merupakan isyarat baik, bahkan tak sanggup menganggap hal itu sebagai tanda buruk. Apa pun bisa terjadi dalam perjalanan waktu. Namun, aku benar-benar tak pernah menduga bila rentang waktu membuatmu kembali hadir dalam ingatan dan mimpiku. Tentu saja dalam hal itu bukan soal bertemu atau tak bertemu, melainkan perkara kebenaran rasa abadi dalam dada. Barangkali rindu yang mengendap di bawah sadar telah menguap; letupan tentangmu, lantas menyebut dan mewujud bayangmu lagi.

Semua berlangsung begitu cepat dan terjadi secara tiba-tiba malam itu. Kukira semua telah memudar, ternyata tidak. Jeda tidak membuatmu tiada, justru semakin mengada.

Berulang kali kukatakan padamu bahwa cukup begini saja antara kita. Pertemuan hanya akan hancurkan segala bentuk imaji. Semakin tak ada pertemuan, semakin sempurna segala rasa yang dirasa. Pertemuan hanya akan menjadi pengikat segala gerak antara kita. Semakin sering kita bertemu maka akan semakin membuat aturan-aturan mengikat antara kita. Tanpa pertemuan, tentu kau bebas. Kau boleh dan bisa hidup bersama siapa pun, leluasa melakukan apa saja, tak perlu hidup dalam satu atap hingga kau merasa diawasi dan dibatasi. Percayalah bahwa seluruh rasa dalam perasaanku selalu tertuju padamu. Hanya saja perlu kutegaskan bahwa rasa perasaan itu bukan lazimnya cinta antar sejoli. Namun lebih pada keakraban emosional. Tak kurang, tak lebih.

Ini bukan soal bertepuk sebelah tangan, atau gagal dalam berhubungan. Bukan, bukan itu, Din! Bukankah sudah kukatakan berulang kali bahwa pertemuan justru akan hancurkan segalanya. Bukan hanya hancurkan hubungan, namun akan hancur pula antara diriku dan dirimu. Berapa banyak hubungan hancur berantakan setelah pertemuan? Berapa banyak rasa rindu dan cinta justru begitu abadi tanpa ada pertemuan? Berapa banyak hubungan bisa terus erat walau tanpa jamah tangan? Aku cukup bahagia dengan keadaan semacam ini, Din. Sekadar menatapmu tanpa menyentuhmu. Bagiku, itu adalah penderitaan yang terasa begitu nikmat. Masygul yang terasa hangat. Ini bukan soal absurd atau logis, ini hanya anomali dalam dunia nyata. Jangan pula kau pahami hal ini hanyalah cinta dalam hati, sebab dari awal aku tak menaruh hati karena rasa syahwati.

Sebut saja apa yang kau lihat dan rasakan adalah anomali. Kata itu cukup mewakili keganjilan-keganjilan yang ada antara kita, terutama untuk diriku sendiri.

Apakah kau telah lupa akan pertemuan kita dalam labirin itu, Din? Kita sudah berpuluh-puluh kali melakukan percakapan. Bahkan aku telah lupa sudah berapa tahun kita bersama. Kita saling berbagi rasa, berbagi cerita, termasuk berbagi rasa pahit yang sudah kita telan saat menjalani kehidupan. Bukankah kita sudah saling berjumpa walau tanpa kehadiran jasad sebagai penegas, bahkan sampai detik ini kita tak pernah bersanding dalam pertemuan. Kita hanya bertemu di dunia maya. Aku telah melihat rona wajahmu, begitu pun denganmu terhadapku. Tentu saja rentang jarak dan keperluan kita masing-masing yang membuat kita takkan bertemu. Kau dengan duniamu, dan aku dengan duniaku. Kau pernah bilang padaku bahwa kita bisa bertemu kapan saja jika kau sedang pergi ke Yogya, namun aku menolak semua itu. Tentu saja alasanku tetap sama seperti yang sudah kujelaskan padamu tiap kali kau ajukan permintaan itu.

Din, begitu lama kita tak bertatap muka. Ya, tentu saja kau tampak baik-baik saja dan selalu sehat. Seringkali aku melihatmu bebergian hingga ke daratan Eropa. Terakhir kulihat dirimu begitu sibuk di negeri Seribu Satu Malam. Bisnis kopi yang kau geluti memang mengharuskan dirimu menjadi perempuan petualang. Aku masih sempat berbincang denganmu walau hanya beberapa menit saja sewaktu kau di Maroko. Bagiku itu sudah lebih dari cukup. Dari percakapan singkat itu pula kau tahu bahwa diriku sudah membina keluarga. Saat kau bertanya kabarku, aku baru dikaruniai seorang putri. Kau minta maaf karena tak mengetahui kabar pernikahan atau pun kelahiran putriku. Kini aku sudah dikaruniai dua orang putri. Tentu saja kabar terbaru itu belum sampai di telingamu saat ini. Beberapa hari terakhir kulihat kau begitu sibuk, saking sibuk dengan beragam urusanmu, kau harus rihat selama beberapa pekan di rumah. “Jika aku tak membalas sapaanmu, berarti aku sedang sibuk.” pesanmu yang masih kuingat betul hingga kini. Benarlah, bahwa tiap kali kukirim pesan untukmu, kau hanya melihatnya tanpa memberi balasan. Aku benar-benar maklum dan sebenar-sebenarnya sadar diri bahwa ada batas yang tak bisa dilanggar. Hal itu pula yang membuatku selalu saja urung niat bila ingin meneleponmu. Aku tak ingin mengganggumu. Kau pasti sibuk dan tak ingin diganggu hanya untuk obrolan tak penting. Bahkan untuk membicarakan hal penting pun aku hanya mampu menulis lewat pesan, sebuah pesan yang kadang kau balas dan kadang hanya kau lihat tanpa balas.

Sungguh, Din. Kehadiranmu dalam mimpiku malam itu benar-benar membuatku terusik. Walau hanya beberapa menit kehadiran bayangmu dalam mimpiku, diriku serasa terbawa kembali ke masa-masa yang sudah terlewati bersamamu. Bagi sebagian orang barangkali akan menganggap bahwa itu hanya mimpi; bunga tidur yang belum tentu benar adanya. Bagiku, walau hanya mimpi, tetaplah memiliki arti tersendiri.

Bukankah di satu titik tertentu kita pernah merasakan kebahagiaan yang sama. Di satu titik tertentu pula kita merasakan kesunyian yang sama. Hal itulah yang membuatmu terasa begitu berbeda, berbeda dari sekian banyak orang yang pernah kukenal. Aku mengenalmu sebagai perempuan yang tangguh. Perempuan yang tak mudah menangis hanya karena ditinggal seorang lelaki. Percerian tak membuatmu lemah, justru membuatmu semakin kuat.

“Sekarang yang aku pikirkan dan kulakukan adalah membesarkan anak-anakku dengan segala kemampuanku,” ucapmu kala itu. Kata-kata yang begitu membekas di ingatanku.

“Itulah yang membuatku bangga sekaligus bahagia telah mengenalmu, Din. Selain mandiri, kau adalah sosok ibu yang sangat luar biasa,” ucapku.

“Luar biasa atau tidak, memang begitulah peran seorang ibu. Ada suami atau tanpa suami, memang begitulah tugas seorang ibu,” terangmu, mengakhiri percakapan.

Ya, aku tahu. Kau pasti akan melakukan apa saja untuk keluargamu. Melakukan hal terbaik untuk kebahagiaan hidupmu dan juga keluargamu.

Di lain sisi, seringkali kau mengeluh perihal insomnia yang menjangkitimu. Jika aku terjaga tengah malam dan mendapatimu belum tidur pastilah jawabanmu akan selalu sama, “Lagi-lagi aku insomnia.”

Aku tak perlu banyak tanya bila kau sudah berkata demikian.   

Jika insomnia sudah menyerangmu, semalam suntuk kau takkan tidur. Beberapa gelas kopi pasti akan habis kau reguk. “Semakin banyak kau minum kopi, maka pengaruh kafein akan terus membuatmu terjaga,” ucapku. Namun kau tak peduli, kau tetap melakukan hal sama jika sudah insomnia. Kadang aku menemanimu sampai subuh, kadang hanya beberapa jam saja. Kau sudah tahu betul siapa diriku, aku tak pernah kuat jika harus begadang. Terlebih sekarang ditambah mengurus keluarga, aku semakin tak kuat jika harus berjaga hingga malam buta. Dari situlah kemudian aku menyebutmu sebagai Ratu Kopi. Semakin sering kau insomnia, sudah pasti waktu istirahatmu berkurang. Semalaman tak tidur, lalu selepas azan subuh harus berangkat kerja dan pulang kurang lebih pukul 21.00 WIB. Sungguh membayangkan saja, jika itu harus kuhadapi, pasti aku tak mampu. Maka dari itulah mengapa aku sering memujimu sebagai perempuan tangguh dan luar biasa. Tangguh sebagai pribadi perempuan sekaligus tangguh sebagai seorang ibu.

Sesekali rindu meletup-letup di dada. Barangkali karena kondisi serta situasi sudah berbeda, pertemuan itu tak lagi seperti dulu. Aku tak lagi seperti dulu, begitu pula denganmu. Bukan hanya cerita, menulis satu bait puisi saja saat ini nyaris tak ada lagi di antara kita. Entah kau sudah melupakanku, atau karena hal lain, namun aku masih tetap mengingatmu. Mengingat serpih kenangan di masa silam. Ingatanku masih tetap sama walau dengan kondisi serta perasaan berbeda.

Walau tak pernah bersentuh secara jasad. Namun ada begitu banyak jejak kenang tersimpan. Kau bukan rahasia dan bukan untuk dirahasiakan. Perlu kau tahu bahwa semakin banyak pesan kukirim padamu, sama halnya aku menitipkan bom waktu di tanganmu. Sekali saja kau membalas pesanku, kebahagiaan akan meledak-ledak dalam diriku. Sudah tentu akan ada banyak bunga bertaburan jika kau membalas pesan yang kukirimkan. Perlu kau tahu bahwa dalam pesan itu selalu ada yang kutunggu darimu.
Yogyakarta, 19 April 2015

Cerpen ini telah dipublikasikan di SOLOPOS (03/05/2015)
Baca selengkapnya


PEREMPUAN YANG KEHILANGAN CAHAYA

AKU melihat senyum picik di wajahnya. Lagi-lagi senyum yang sama. Senyum yang diberikan kepadaku kala pertama kali bertemu di sebuah ladang jagung tak jauh dari rumahku. Kuraba sebidang gambar yang sedang menghiasi surat kabar hari ini. Sebuah foto di bagian berita utama. Kulihat lagi senyum itu, senyum yang sama, tipis dan terasa manis bila dipandang. Bagi yang belum mengenal dekat, senyum itu sudah pasti akan memikat. Terlebih tutur lembut dan begitu santun akan semakin membuat hati terpedaya dibuatnya. Kesan pertama ini sungguh-sunguh masih melekat erat di pikiranku, bahkan sampai detik ini.

“Air dalam satu gelas tentu akan lebih mudah keruh hanya dengan setetes tinta, tapi setetes tinta takkan berarti apa-apa jika jatuh di hamparan lautan. Hati dan pikiran luas takkan mudah keruh hanya karena setitik kebencian, terlebih hati dan pikiran luas itu dipenuhi rasa cinta serta kasih sayang, tentu kebencian hanya akan menjadi sampah yang mengapung di bibir pantai. Air laut tentu akan lebih mudah menghempas atau menghilangkan kotoran itu dengan terjang ombaknya, namun tidak untuk segelas air yang dibiarkan kotor oleh setetes tinta. Ia akan semakin kotor dan menjadi racun jika diminum.” Ia berpetuah padaku suatu hari.

Sungguh kata-kata itu begitu kuat menyihirku. Kata-kata itu kemudian menjadi pembasmi hama pikiranku yang liar. Kata-kata itu menjadi mantra penjinak perilaku yang kurasakan begitu sundal untuk diriku sendiri. Berawal dari kata-kata itu pula aku mulai mengubah cara pikirku, tutur kata, atau pun perilaku diriku tiap hari. Percakapan singkat itu terasa begitu lama membenam dan begitu kuat terngiang di benakku. Lelaki itu benar-benar mampu mengubah diriku lewat kata-kata magis yang sering dituturkan padaku. Percakapan yang diakhiri dengan senyuman yang sama seperti yang kulihat hari ini di media massa.

Setelah perjumpaan itu, kami sering berbalas kabar lewat jejaring sosial, atau nomor telepon pribadi. Entah mengapa aku merasa laki-laki ini berbeda dengan lelaki yang kukenal sebelum-sebelumnya. Dengan begitu mudah aku merasa dekat dengannya. Tak hanya nasihat, tapi juga mengajak diriku untuk terus berbuat baik dan menebarkan kebaikan. Bahkan sempat terbesit dalam pikiranku untuk bisa hidup bersamanya. Namun pikiran itu aku singkirkan karena trauma yang menimpaku sepuluh tahun silam. Aku tak ingin gegabah menuruti hasratku. Aku tak ingin kejadian sepuluh tahun silam kembali terulang.

“Sungai yang dangkal perlu dikeruk jika ingin airnya jernih dan tak beriak. Sedangkan sungai yang dalam tak perlu dikeruk untuk menjadikan air mengalir secara teratur dan tentunya takkan terdengar suara beriaknya untuk menunjukkan kedalamannya. Aliran air yang ada di sungai dangkal akan sangat mudah kotor, sampah-sampah tersangkut, dan keruh. Sedangkan alir sungai yang dalam tak perlu membersihkan kotoran sebab debit air yang melimpah akan membersihkannya serta membuat air tersebut tetap bersih, terkecuali kotoran di dasar air yang perlu dibersihkan oleh air itu sendiri.” Tulisnya suatu hari lewat pesan singkat. Ia sering kali mengirimkan kata-kata aforismik semacam itu padaku. Inilah yang kemudian menjadi daya pikat buatku atas dirinya. Hal semacam itu pula yang lambat laun mengubah kepribadianku. Kata-katanya seperti hipnotis hingga memengaruhi sebagian atau bahkan seluruh kesadaranku. Aku merasa ada dorongan dari dalam ketika membaca atau mendengar kata-kata yang ia ucapkan. Perubahan yang kualami diperkuat oleh pendapat teman-teman akrabku yang menyatakan bahwa diriku telah banyak berubah. “Eh, kamu sekarang terlihat sangat cantik dengan berjilbab seperti ini,” itu salah satu pendapat teman se-kantorku. Ada lagi yang berkata, “Dulu kamu perempuan paling tomboi yang kukenal. Nyaris jadi perempuan nakal. Atau apalah itu istilahnya. Sekarang kamu jauh lebih anggun dan menawan.” Dan begitu seterusnya kata-kata sanjung puji diberikan padaku atas perubahan diriku. Kata sanjung puji itu tentu membuatku merasa senang dan berbunga-bunga, nyaris tak kudengar nada sumbang di dalamnya. Tak ada yang nyinyir atau mencibir dengan nada-nada negatif. Nyaris tak kudengar sindiran atau kata-kata yang membuatku patah arang.

Malam itu, ia menelepon dan berkata demikian padaku, “Gula tak mempersoalkan apakah ia larut di dalam air panas atau air dingin, hanya saja air panas lebih cepat membuat dirinya larut daripada air dingin. Demikian halnya dalam cinta. Tanpa saling bicara, rindu takkan pernah larut di dalamnya, dan tentunya akan semakin lambat untuk bisa saling memahami antara satu sama lainnya.” Apa maksud dari kata-kata itu? Apakah kata-kata itu bertanda bahwa ia merindukan aku? Ah, tidak! Aku tak ingin secepat itu ambil kesimpulan. Sebab hal serupa sudah sering kali dilakukan beberapa lelaki sebelum kehadirannya, terutama lelaki yang sudah menghancurkan kesucian tubuhku. Tapi sudahlah! Lelaki itu sudah kuanggap mati dalam hidupku, sekalipun ia sempat menjadi suamiku yang lantas menceraikan aku karena telah menghamili perempuan lain. Sekarang ia sudah cukup bahagia dengan anak dan istrinya. “Untuk apa aku hidup dengan perempuan mandul” kata-kata menyakitkan itu begitu kuat menancap di ulu hatiku. Apabila kata-kata itu muncul, sering kali melahirkan anak-anak pesakitan. Aku ingat betul kata-kata itu ia ucapkan seminggu sebelum menceraikan aku. Kami bertengkar hebat malam itu, sampai-sampai tetangga menonton pertengkaran kami. Mungkin itu pula alasan dirinya berbuat serong di belakangku. Tuduhan dirinya menganggapku mandul adalah keliru besar, sebab dua tahun pasca perceraian aku telah menggugurkan kandunganku karena hubungan gelapku dengan rekan kerja namun beda kantor. Aku tak bisa menuntutnya, sebab aku kalah kelas dan kalah kuasa. Ia merupakan anak dari salah seorang pejabat negeri ini. Ia dan keluarganya yang meminta menggugurkan kandunganku. Alasannya karena tak ingin menanggung aib. “Gugurkan kandunganmu, atau akan kubunuh seluruh keluargamu!” ancamnya sembari melepar beberapa lembar uang ke wajahku. Ia cekik leherku sebelum pergi meninggalkan aku. Berawal dari itulah suara-suara negatif begitu kuat memengaruhi pikiranku. Aku gagal melawan hasutan dari diriku sendiri. Aku pun menggugurkan kandunganku yang masih tiga bulan. Aku tak ingin keluargaku, terutama kedua orangtuaku, mengetahui hal itu. Aku tak ingin merusak harapan dan kebahagiaan mereka. Aku tak ingin mereka lebih banyak menanggung malu karena ulahku. Aku belum bisa membalas budi baik mereka. Aku belum bisa membalas jasa-jasa mereka. Aku sudah gagal berumah tangga, dan aku tak ingin menambah lagi beban hidup mereka dengan masalahku. Biarlah masalah ini hanya aku dan Tuhan yang tahu.

Peristiwa itu benar-benar telah mengikis pemahamanku tentang bagaimana lazimnya hidup sebagai perempuan. Perubahan pun terjadi dalam diriku. Aku mengubah penampilanku yang lugu menjadi tomboi bahkan nyaris seperti laki-laki. Aku pun meniru gaya hidup laki-laki. Begitu seterusnya. Dan sampai pada puncaknya aku mengubah lagi penampilan serta cara pendang hidupku setelah bertemu dengan Wigunani di ladang jagung tersebut. Kehadirannya seperti oase di tengah-tengah keringnya pikiran serta pemahamanku tentang kehidupan. Kehadirannya seperti hujan yang menyuburkan kembali rumput-rumput kehidupanku. Ia telah menyemai kembali biji bunga di taman jiwaku hingga aku tumbuh kembali menjadi rumpun bunga.

***
KATA-kata manis tinggalah kata-kata saja. Ia seperti asap yang diterjang laju udara. Wigunani pun tak jauh beda dengan laki-laki yang pernah kukenal. Aku tak mengatakan kalau dirinya sebagai bajingan atau menjuluki diri serta kepribadiannya buruk. Aku hanya terkejut saja dengan apa yang sudah dilakukannya padaku. Awal mulanya adalah ketika malam-malam ia mengajakku memuaskan nafsu kami masing-masing secara bersamaan lewat telepon seluler. Mula-mula aku menolak, namun apalah daya, kata-kata manisnya meluruhkan semua hasratku. Otot-otot serta kesadaranku mengendur. Aku pun melakukannya dalam perasaan bersalah. Aku kalah malam itu. Dan kekalahanku berlanjut di malam-malam berikutnya. Begitu seterusnya hingga hal itu mengalahkan kekuatanku untuk melarangnya menjamah tubuhku. Kami pun melakukan itu tak hanya sekadar di dunia maya, namun kami melakukan hal itu lebih jauh dan secara rahasia di mana pun kami bisa melakukannya.

Apa yang kulakukan dengan Wigunani tak sampai pada kesalahan lebih fatal. Aku tak hamil. Aku selalu mencari cara agar tidak hamil dan itu yang ada dalam pikiranku kala itu. Dan sepertinya caraku berhasil sampai hari terakhir ia pergi meninggalkan aku tanpa kabar atau pesan. Peristiwa ini tak mengoyak keinginanku untuk menjadi pribadi berperangai buruk. Aku tak ingin mengulangi keburukan itu lagi.

Entah, aku tak mengerti dengan semua yang terjadi pada diriku. Tak ada niat diriku untuk hidup demikian. Aku tak akan mengarahkan pikiranku menuju pemikiran macam-macam, apalagi berpikir negatif pada Tuhan. Aku juga tak ingin ambil kesimpulan bahwa laki-laki semua sama saja. Tidak semua lelaki adalah bajingan. Tidak semua laki-laki berengsek. Tidak! Aku tak cukup mengurai semua itu lebih dalam. Bahkan untuk menilai sesama jenisku, kaum perempuan, aku masih kesulitan. Tak perlu jauh-jauh, menilai diriku sendiri saja aku tetap tak tuntas. Menilai diriku sendiri saja tak becus.

Lama tak dengar kabar dari Wigunani, baru kutahu jika dirinya menjadi ajudan salah satu petinggi Negara. Sayangnya, kemunculan yang kuketahui adalah tertangkap dirinya atas berbagai macam kasus. Dari pencucian uang sampai dengan perdagangan kaum perempuan. Ia dijerat pasal berlapis atas perbuatannya itu. Miris memang, tapi setidaknya hal itu bisa menjadi peringatan sekaligus pembelajaran untuk diriku sendiri. Aku takkan menghakiminya sebagai lelaki yang buruk, justru dengan adanya kejadian demi kejadian itu apa yang tersembunyi akan terbuka lebar-lebar. Aku harus mengambil pelajaran dari nama dirinya, Wigunani asal kata serapan bahasa Jawa yang kurang lebih artinya: berguna. Tentu maksud nama yang diberikan kedua orangtuanya agar anaknya kelak bisa berguna bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Namun sayang nama itu tinggal nama baginya, ia tak mengindahkan namanya sendiri dengan akal sehat dan juga perilakunya. Setidaknya, dari kejadian itu aku bisa mengetahui siapa dan bagaimana Wigunani sebenarnya. Tak perlu menuntut atau mencaci-maki dirinya. Itu hanya akan jadi penyakit.

“Ana? Selamat, karyamu dimuat di koran nasional hari ini. Aku juga sudah membaca novel terbarumu. Novel itu pengalaman pribadi, atau ...” kata Safia lewat telepon. Temanku yang satu ini memang gemar membaca dan mengikuti perkembangan dunia sastra. Tak hanya koran tapi sampai perbukuan pun diikuti terus hingga ia tahu karya siapa saja yang dimuat hari itu, terutama hari Ahad. Tentunya, ia sering kali memberitahukan karya-karyaku jika dimuat di salah satu media massa.

“Terima kasih informasinya. Novel itu hasil rekam jejak orang lain yang kutulis ulang dalam bentuk tulisan. Apakah berkesan?”

“Sangat berkesan sekali. Inspiratif dan luar biasa,” terdengar ia menghela napas dalam-dalam, “Aku ingin sekali bisa sepertimu. Menulis. Hanya saja, aku sering gagal menulis. Aku sudah berusaha, namun belum juga menuai hasil.”

Aku hanya tersenyum mendengarnya. Ucapan itu tak hanya sekali ia lontarkan, namun berulang kali ia katakan ketika meneleponku berikut pemberitahuan tentang karya-karyaku yang ia beli atau dimuat di media massa. Setidaknya ia menjadi pembaca, penggemar, sekaligus informan pribadiku.

“Inilah hidupku. Jalanku tentu tak sama seperti jalanmu. Kamu punya potensi sendiri. Kamu punya kualitas serta kuantitas sendiri. Bukankah dalam hal pengetahuan dan akademis kamu lebih unggul dariku. Tak sebatas itu saja, kamu juga menjadi pemilik sebuah perusahaan ternama di Jakarta. Lalu apa yang kurang? Jadi penulis itu senangnya kalau dikabari dapat royalti atau karyanya terbit, selebihnya masih tetap harus berjuang menghasilkan karya terbaik dan bersaing untuk mempertahankan diri dalam berkarya. Harusnya kamu lebih bersyukur diposisikan seperti sekarang. Demikian halnya denganku, aku harus bersyukur karena sudah diposisikan seperti sekarang.”

Begitulah obrolan demi obrolan yang kami bangun selama ini, selama kami bersahabat. Aku di Yogyakarta, sedangkan ia di Jakarta. Kebetulan dulu ia sekampus, hanya saja ia lulus lebih dulu. Menikah lebih dulu, dan hidup mapan lebih dulu.

Lagi-lagi aku teringat apa yang diucapkan Wigunani padaku, “Sering kali kita merasa pintar dan merasa lebih atau sikap lebih lainnya, namun tak sadar jika kita sering kali terjebak dalam perilaku bodoh yang dibuat sendiri. Serigkali kita menampar wajah sendiri lewat cermin orang lain. Sering kali kalah hanya karena kesalahan yang teramat kecil dan sangat remeh.”

Ya, sekalipun ia telah menciderai perasaanku, namun aku tetap mengingat kata-kata bijaknya. Sekali pun kata-katanya tak sesuai dengan perilakunya, namun aku yakin ia adalah orang baik. Ia hanya melakukan kesalahan kecil yang kemudian berdampak besar, bahkan berdampak buruk, bagi dirinya sendiri.[]

Cerpen ini terhimpun dalam antologi 'CINTA PERTAMA' (Pustaka Puitika: Maret 2015)
Baca selengkapnya