5 TANDA PENULIS YANG GAGAL - Anam Khoirul Anam

5 TANDA PENULIS YANG GAGAL

Author: Anam Khoirul Anam - June 05, 2018
Advertisement

Advertisement

Baca Juga

Kata siapa seorang penulis yang sudah menerbitkan banyak buku lantas disebut sebagai penulis yang berhasil dan sukses? Menerbitkan banyak karya belum bisa dijadikan tolok ukur bahwa penulis tersebut berhasil. Jika yang dimaksud berhasil adalah dalam hal menuntaskan karya dan menerbitkannya, semua orang tentu sepakat bahwa hal itu benar adanya. Namun ada pula penulis yang gagal dalam karirnya. Berikut adalah tanda-tanda kegagalan seorang penulis dalam karirnya sebagai seorang penulis atau pengarang.

1. Tidak Lagi Produktif dan Menerbitkan Karya
Ketika seorang penulis tak lagi produktif, sudah tentu tidak ada karya yang diterbitkan—apalagi dibaca oleh khalayak. Meski ada yang berpendapat bahwa tidak produktif menulis bukan berarti tidak berkarya, namun anggapan itu tetap dibantah oleh sebagian khalayak yang menilai bahwa eksistensi seorang penulis ditentukan oleh rutinitasnya menerbitkan karya—entah cetak maupun digital.

2. Lebih Banyak Menghabiskan Waktu di Luar Dunia Kepenulisan
Meskipun tidak intensif, keharusan seorang penulis yang mampu bertahan adalah ia yang senantiasa menjaga sekaligus membagi waktu antara berkarya, bekerja, ataupun rutinitas lainnya. Apabila seorang penulis tidak mampu membagi waktu antara menulis dengan aktivitas lain—bahkan tidak menulis sama sekali dalam sehari, kemampuannya pasti memudar bahkan laun tumpul. Maka wajar bila penulis produktif senantiasa atau membiasakan diri untuk terus menulis walau satu—dua paragraf sehari. Hal itu dimaksudkan untuk menjaga ketajaman sekaligus mengasah kemampuan agar tidak tumpul serta memancing ide-ide baru dalam berkarya. Seperti apa pun, ide akan muncul ketika ada upaya memunculkannya.

3. Hanya Menggantungkan Harapan dan Nasib Baik
Menjadi seorang penulis tidak bisa hanya duduk diam. Menggantungkan harapan dan nasib baik adalah pilihan yang salah besar. Jika menulis adalah bagian dari profesi ataupun pekerjaan, maka ia harus gerak aktif. Jika memiliki karya, mempromosikan karya sendiri adalah upaya untuk memperkenalkan diri serta membuka nasib baik untuk diri sendiri dan juga karya yang sudah dihasilkan. Memang tujuan masing-masing penulis tidak sama, akan tetapi jika berharap hasil lebih baik, tentu harus diimbangi dengan upaya yang lebih baik pula. Justru menjadi aneh ketika berharap hasil luar biasa tapi berperilaku sebaliknya. Berharap karya dikenal banyak orang, tapi hanya disimpan di dalam gudang.

4. Monoton
Menjadi seorang penulis tidak bisa melulu begitu. Ia dituntut kreatif dan mampu menyuguhkan hal-hal segar bahkan baru dalam karyanya. Ketika seorang penulis hanya monoton, sudah tentu akan ditinggalkan oleh pembacanya. Harus bisa membedakan antara gaya menulis dengan menyajikan ide kepada para pembaca. Gaya menulis memang tidak bisa diubah—selain karena karakter dari si penulis, gaya menulis adalah sarana komunikasi yang sudah dibangun atau dibentuk sedemikian rupa oleh seorang penulis agar menjadi pembeda antara satu penulis dengan lainnya. Sedangkan menyajikan sebuah ide tentu harus terus diperbarui agar pembaca tidak jenuh bahkan terlecut untuk membaca karya-karya selanjutnya. Ibarat menyajikan hidangan, seorang juru masak harus terus berinovasi tanpa menghilangkan ciri khasnya sebagai seorang juru masak guna mengundang lebih banyak lagi peminat. Persaingan dalam industri buku saat ini sungguh sangat ketat, cepat, dan selalu mengikuti arus zaman. Idealisme memang perlu dijaga, tapi membaca minat pasar juga amat perlu diperhatikan agar tidak kehilangan peminat.

5. Putus Asa
Apa pun profesinya, ketika seseorang sudah putus asa, sudah tentu ia gagal dalam banyak hal. Seorang penulis yang berhasil adalah ia yang pantang menyerah dalam kondisi apa pun. Bukankah semua pekerjaan—terutama menulis—butuh kerja keras? Percayalah! Ketika seorang penulis mampu menuntaskan ide sampai titik akhir, pasti akan memicu semangat untuk terus membaca dan berkarya, apalagi saat mendapat kabar bahwa kerja kerasnya berhasil terbit dan disukai oleh khalayak pembaca. Bandingkan dengan seorang penulis menyerah di tengah jalan—selain tidak membuahkan hasil—ia pasti tidak akan memetik hasil apa pun di dalam karirnya sebagai seorang penulis.

Dalam dunia menulis tidak ada kata pensiun, sebab menulis adalah panggilan jiwa dan juga proses kreatif menuangkan ide agar bermanfaat bagi khalayak. Menjadi seorang penulis harus tahan uji serta tahan banting, sebab dalam dunia menulis tidak ada gaji rutin dan tetap. Seorang penulis harus membahagiakan dirinya sendiri atas segala daya upaya yang dilakukan. Kreativitas serta produktivitas itulah yang akan menunjang kebahagiaannya secara lahir dan batin. Semakin banyak karya yang ia hasilkan, semakin banyak pula kebahagiaan yang didapatkan. Semakin banyak karya dibeli, semakin banyak pula hasil secara finansial yang didapatkan.[]
  • Share:

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like

Advertisement

0 comments

Advertisement