9 PERTANYAAN PENULIS KEPADA REKAN PENULISNYA - Anam Khoirul Anam

9 PERTANYAAN PENULIS KEPADA REKAN PENULISNYA

Author: Anam Khoirul Anam - May 25, 2018
Advertisement

Advertisement

Meski tak mutlak benar, pertanyaan-pertanyaan berikut menjadi sangat populer di kalangan penulis dan berulang kali diutarakan. Pertanyaan manakah yang sering Anda ucapkan di antara pertanyaan-pertanyaan berikut?

1. Alamat Media dan Prosedur Mengirim Naskah
Pertanyaan terkait alamat media dan prosedur mengirim naskah sering kali disampaikan oleh sebagian penulis kepada sesama rekan profesinya. Tujuan utama sudah tentu ingin mengirimkan karya ke media tersebut. Entah karena mengalami kesulitan mencari alamat media massa yang dimaksud atau karena faktor lain sehingga informasi perihal alamat media massa tidak seluruhnya sampai kepada para penulis.

2. Di Mana Bisa Membeli atau Mendapatkan Karya Terbaru?
Perkembangan teknologi ternyata masih belum bisa menjamin bahwa segala sesuatu dapat dijangkau dan diketahui oleh banyak orang. Ketika seorang penulis berhasil menerbitkan sebuah karya dan sudah disebarluaskan ke pelbagai toko buku serta memberitahukan kepada khalayak melalui media massa atau media sosial, terkadang masih ada yang belum bisa menjangkau bahkan menanyakan di mana bisa mendapatkannya.

3. Berapa Harganya?
Dalam akad jual beli memang lazim jika bertanya soal harga barang yang ditawarkan kepada pembeli, namun akan menjadi suatu anomali jika sudah ada label harga tapi masih menanyakan berapa harga jual sebuah karya—kecuali jika memang tidak ada keterangan ataupun label harga, bertanya adalah kewajiban. Ketika ada seorang penulis sedang mempromosikan karyanya, hal paling lazim terjadi atau dijumpai adalah proses tawar menawar pembelian buku yang dipromosikan tersebut.

4. Kapan Bisa Bertemu dan Berkumpul?
Meski sudah saling sapa lewat telepon maupun media sosial, terkadang rasa ingin jumpa secara langsung dengan rekan seperjuangan dalam dunia menulis tak dapat dipungkiri. Rasa-rasanya tidak afdal jika tidak duduk serta saling bercengkerama secara berhadap-hadapan.

5. Karya Apa yang Saat Ini Sedang Dikerjakan?
Walaupun hal ini terasa tabu, terkadang rasa ingin tahu perkembangan rekan dalam berkarya dirasa perlu diketahui guna memicu semangat berkreativitas menulis. Setidaknya jika mengetahui bahwa rekan sesama penulis sedang sibuk mengerjakan sebuah karya, hal itu tentu berdampak pada pacu adrenalin atau hal-hal lain agar bisa melahirkan karya baru alias tidak ketinggalan dari rekan-rekan penulis lain.

6. Apakah Ada Royalti?
Pertanyaan semacam ini memang sangat wajar dilontarkan, sebab menulis bukan sekadar menuangkan ide. Menulis bukan sekadar hobi. Bagi sebagian orang, menulis adalah pekerjaan atau profesi yang bisa mendatangkan penghasilan. Menulis adalah proses kreatif yang perlu mendapat tempat dan perlu adanya penghargaan secara materiil maupun nonmateri. Sangat wajar jika sebagian penulis akan enggan kerja sama bila tidak ada royalti.

7. Berapa Honoriumnya?
Biasanya, setelah menanyakan apakah ada royalti atau tidak, nominal honorium atau royalti menjadi bahan pertanyaan selanjutnya. Ya, siapa pun ketika mengetahui serta mendapat honorium besar sudah tentu senang luar biasa, bisa jadi bara semangat terlecut setelah dipantik hingga berkobar-kobar adanya. Selain karena alasan pemenuhan kebutuhan hidup, besar maupun kecil honorium juga menjadi salah satu faktor pemicu animo berkarya serta kerja sama dengan media tersebut. Secara tak langsung—ketika tahu nominal honorium—tiap penulis akan mempertimbangkan apakah hendak mengirimkan karya ke media bersangkutan guna bekerja sama atau bahkan tidak sama sekali.

8. Berapa Lama Menunggu Masa Terbit?
Meski sudah melang-lang buana ke pelbagai media bahkan sering kali dimuat atau diterbitkan, tidak semua penulis mampu menahan diri soal masa tunggu ini. Menunggu memang merupakan hal paling membosankan. Maka wajar bila terjadi tarik ulur naskah dalam dunia menulis karena tenggat yang diberikan oleh kedua belah pihak (antara penulis dan media).

9. Nomor Telepon dan Proses Pencairan Honorium
Terkait masalah honorium, tiap penulis memiliki sikap beragam. Sebagian ada yang ingin mendapatkannya ada juga penulis yang bersikap masa bodoh. Bahkan bagi yang benar-benar menginginkan sampai-sampai harus menanyakan nomor telepon serta bagaimana proses pencairan honorium atas naskah yang sudah diterbitkan di media massa tersebut.
  • Share:

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like

Advertisement

0 comments

Advertisement