4 HAL YANG TIDAK DISUKAI EDITOR DARI NASKAH PENULIS - Anam Khoirul Anam

4 HAL YANG TIDAK DISUKAI EDITOR DARI NASKAH PENULIS

Author: Anam Khoirul Anam - May 29, 2018
Advertisement

Advertisement

Baca Juga

Ketika seorang penulis mengirimkan hasil karyanya ke koran atau penerbitan, sudah pasti lebih dulu berhadapan dengan editor atau kurator sebelum naskah tersebut ditayangkan. Di meja editor inilah yang kemudian menjadi penentu apakah sebuah naskah layak tayang atau tidak. Di tangan editor pula tiap naskah yang masuk akan dikoreksi. Selain menilai kelayakannya, seorang editor juga menilai hal-hal yang berkaitan dengan isi naskah tersebut. Biasanya, tiap media memiliki standar masing-masing dalam menerima naskah.

Menjadi seorang editor tidaklah mudah, selain harus teliti juga harus punya kepekaan sekaligus cita rasa tinggi terhadap sebuah naskah. Ia tidak bisa sembarangan ambil keputusan dan juga tidak boleh memihak pada siapa pun. Ia harus bersikap netral dan jujur saat menilai atau dengan kata lain harus objektif. Bahkan harus mampu melepaskan diri dari penilaian antara senioritas maupun junioritas.

Diakui secara jujur atau tidak, seorang editor pasti memiliki standar penilaian. Kadang-kadang meski sudah berusaha bersikap netral, sebagai manusia pasti tak luput dari rasa suka atau tidak suka. Hal itu sangat wajar bila terjadi. Namun rasa suka ataupun tidak suka seorang editor akan tertutupi oleh sikap profesionalismenya dalam bekerja. Berikut ini adalah hal-hal yang kurang disukai atau bahkan tidak disukai oleh editor saat menghadapi naskah dari para penulis:
    
1. Naskah Berantakan
Hal pertama yang dilihat seorang editor saat membuka lembar naskah dari para penulis adalah perihal tampilan secara keseluruhan naskah. Ketika naskah disajikan secara berantakan alias tidak rapi, maka hal tersebut pasti akan mengundang jengah sebelum dibaca. Pengaturan naskah yang tidak konsisten, penggunaan spasi yang tidak sesuai ketentuan, dan hal-hal yang berkaitan dengan rupa naskah lainnya. Maka dari itu mengapa media memberi ketentuan tentang jenis font yang digunakan, berapa spasinya, bidang kanan-kiri-atas-bawah (margin) harus dengan ukuran tertentu—rata-rata 3-3-3-3. Jika dari tampilan awal saja tidak menarik serta berantakan, editor pasti enggan membaca. Paling tidak editor juga pasti membaca sekaligus mengukur profesionalisme seorang penulis dari cara ia menyuguhkan naskahnya.

2. Kekeliruan Ejaan
Sering kali penulis teledor masalah yang satu ini. Biasanya, setelah menyelesaikan tulisan, sebagian penulis malas untuk membaca ulang tulisan yang baru saja diselesaikan. Perlu diketahui bahwa sebagian media sangat amat risih jika mendapati kekeliruan ejaan dalam sebuah naskah, bahkan tanpa pikir panjang akan memasukkan dalam daftar penolakan walaupun naskah tersebut sangat bagus dan layak tayang. Editor juga sangat mempertimbangkan perilaku penulis terhadap karyanya sendiri, apakah penulis tersebut teliti atau ceroboh saat berkarya. Bukan berarti editor tidak mau membantu memperbaiki kekeliruan ejaan tersebut, seorang penulis bertanggung jawab penuh atas karyanya.

3. Susunan Kalimat
Meski sudah mahir menulis, namun susunan kalimat tidak baik juga menjadi alasan mengapa naskah sering ditolak. Sebagian penulis, entah karena belum tahu atau memang telah melakukan kekeliruan secara sengaja sehingga penyusunan kata dalam kalimat terasa tidak tepat. Penggunaan kata-kata bombas, atau preposisi yang tak semestinya. Menulis kata depan yang sering keliru, semisal ‘diambil’ tapi ditulis ‘di ambil’; ‘dimasukkan’ tapi ditulis ‘di masukkan’. Dan kekeliruan-kekeliruan elementer lainnya.

4. Gaya Bahasa Tidak Baku dan Tema Naskah
Meskipun tulisan merupakan buah kreativitas sekaligus hak seorang penulis, namun seorang penulis juga harus mempertimbangkan banyak hal ketika berkarya. Perlu disadari bahwa berkaya bukan hanya untuk dinikmati oleh penulis itu sendiri, melainkan ada pihak lain yang juga ingin menikmati. Tiap penulis memang memiliki karakter masing-masing, namun jangan sampai karakter itu justru menjadi ujung tombak yang membunuh pembaca sekaligus membunuh diri sendiri.

Penulis bebas mengunakan gaya bahasa apa saja, tapi berusahalah untuk tetap menggunakan bahasa baku sebagai pengantar dalam sebuah karya. Memang tidak salah ketika penulis memilih gaya bahasa pasar atau bahasa kekinian, namun perlu diingat bahwa dalam dunia menulis juga tak lepas dari masalah bisnis. Jika cakupan pembaca dibatasi oleh penulis itu sendiri, maka secara tak langsung juga berdampak pada ranah baca atau pembeli buku itu sendiri. Penulis juga harus pandai menempatkan diri dalam hal ini. Penulis juga harus mampu membaca selera pasar. Jangan sampai salah sasaran. Gaya bahasa populer serta kekinian, tentu akan ditolak oleh media yang bertolak belakang atau bahkan tidak menyediakan rubrik dengan tema kekinian. Perlu diingat, rata-rata media lebih mengutamakan naskah dengan tema lokalitas daripada naskah dengan tema urban.
  • Share:

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like

Advertisement

0 comments

Advertisement