MENULIS DARI KORAN SAMPAI KE PENERBITAN - Anam Khoirul Anam

MENULIS DARI KORAN SAMPAI KE PENERBITAN

Author: Anam Khoirul Anam - March 05, 2018
Advertisement

Advertisement

Baca Juga

Seiring perkembangan zaman semakin banyak bermunculan penulis baru, entah di koran ataupun penerbitan. Satu sama lain saling unjuk kemampuan dalam menulis. Ada yang memiliki progres begitu pesat, ada yang sedang, ada pula yang lambat. Semua kembali pada usaha yang dilakukan oleh masing-masing penulis. Ada penulis yang begitu produktif sekaligus sering muncul di pelbagai media massa, dalam sepekan bisa 4—5 tulisan diterbitkan—tentu saja media dan waktu berbeda-beda atau bahkan dalam kurun yang sama. Ada penulis dalam sebulan 2—3 kali diterbitkan, ada juga yang 1—2 tulisan selama sebulan.

Apakah setelah diterbitkan dari media massa lantas sudah selesai? Sebenarnya belum, masih ada proses panjang jika penulis ingin menempuh medan juang kepenulisan. Penulis masih bisa menerbitkan ulang semua tulisan-tulisan yang sudah diterbitkan oleh pelbagai media tersebut dalam bentuk buku. Itu sah dan tidak menyalahi aturan—kecuali penulis sendiri menyalahi kode etik ataupun kontrak kerja sama. Selain dapat dijadikan dokumentasi, upaya itu juga akan semakin menambah pundi-pundi penghasilan. Perlu diingat bahwa nasib sebuah karya ada di tangan empunya. Jika penulis memutuskan setelah terbit di media tertentu sudah selesai, maka hanya sampai di situ saja nasib karyanya. Tapi jika penulis ingin memperpanjang nasib karyanya, tentu butuh media dan upaya lebih keras lagi.

Mengapa menerbitkan ulang naskah yang sudah terbit dari media massa dalam bentuk buku dirasa sangat penting? Pertama, arsip yang masih berupa cetak koran cukup rentan rusak atau hilang. Selain itu kerusakan juga bisa terjadi karena kelalaian diri sendiri, bisa juga usang digerus zaman. Teramat sayang jika usaha yang telah dilakukan sebegitu rupa lantas raib tanpa sisa. Kedua, selain menjaga keberlangsungan karya, apabila naskah tersebut diterbitkan ulang dalam bentuk buku juga memperluas jangkauan baca, bahkan sampai tujuh turunan pun masih tetap ada. Bukankah tiap hari media massa akan terus menerbitkan naskah-naskah baru dan menyimpan naskah lama? Meski sudah ada arsip, naskah lama pasti jarang dibaca atau dicari oleh pembaca. Lagi-lagi, jika ingin terus dinikmati oleh para pembaca, mau tak mau, langkah yang perlu ditempuh selanjutnya, ya, dicetak menjadi buku.

Proses penerbitan ulang bisa dilakukan dengan cara:
1. Mengajukan ke Penerbit
Setelah mengumpulkan beberapa tulisan yang sudah diterbitkan tersebut dalam satu file, penulis mengajukan ke penerbit. Perlu diingat, meski sudah diterbitkan media massa, tidak ada jaminan naskah tersebut langsung diterima oleh penerbit. Pihak penerbit biasanya akan mempertimbangkan segala sesuatu terhadap naskah yang diterima. Bisa saja langsung diterima, atau malah ditolak karena alasan tertentu.

2. Menerbitkan Secara Mandiri
Cara ini jauh lebih mudah ketimbang mengajukan langsung ke penerbit. Selama penulis memiliki cukup dana operasional, pastilah naskah tersebut dicetak.

Ketika ingin menerbitkan atas dana sendiri, penulis perlu hati-hati agar tidak terjadi hal-hal yang kurang menyenangkan. Pahami betul penerbit yang ingin diajak kerja sama. Teliti secara mendalam sebelum ambil keputusan. Jalin komunikasi secara intensif sebelum atau setelah kerja sama.

3. Inisiatif Penerbit
Biasanya media massa yang memiliki penerbit sendiri akan berinisiatif menerbitkan ulang kumpulan artikel atau naskah-naskah yang sudah terbit sebelumnya dalam bentuk buku. Namun dalam hal ini media bersangkutan juga melakukan seleksi sekaligus memilah rubrik yang ingin dijadikan buku; misal rubrik Catatan Pinggir, Kumpulan Cerpen, Kumpulan Puisi, Kumpulan Esai, atau yang lainnya. Tentu saja penulis tidak perlu repot-repot dalam hal ini. Tinggal menunggu kabar baik dan menerima royalti. Faktanya, tidak semua penulis mendapat kesempatan macam ini. Paling lazim, ya, poin 1 dan 2 di atas.

Dari semua upaya di atas, sudah tentu akan kembali pada penulis sendiri. Mengapa demikian? Selama karya yang sudah dilahirkan terus bertahan sepanjang zaman, selain menjadi media pembelajaran dan pengetahuan—bahkan ladang amal—apa pun hasilnya akan menunjukkan pada generasi masa mendatang bahwa kita ada sekaligus mewariskan ilmu bermanfaat.

Artikel ini sudah didokumentasikan di ARSIP SASTRA NUSANTARA 
  • Share:

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like

Advertisement

0 comments

Advertisement