ALASAN UTAMA NASKAH DITOLAK KOMPAS - Anam Khoirul Anam

ALASAN UTAMA NASKAH DITOLAK KOMPAS

Author: Anam Khoirul Anam - March 12, 2018
Advertisement

Advertisement

Baca Juga

Siapa yang tak kenal koran Kompas? Bagi sebagian kalangan media ini adalah barometer jurnalistik. Bahkan ada yang menganggap kalau belum tembus di media ini, kelas maupun karir kepenulisannya belum mumpuni. Meski tak semua menganggap demikian, namun tak dapat dipungkiri bahwa semua penulis berharap karyanya bisa ditayangkan di media ini. Bisa jadi, tiap hari seluruh penulis di negeri ini berlomba-lomba menulis serta mengirimkan hasil karyanya. Katanya, ketika naskah yang dikirim berhasil tayang—selain menambah dan menaikkan popularitas—honor yang diberikan sangat besar.

Bagi penulis yang karyanya belum pernah ditayangkan, barangkali perlu mengoreksi lebih mendalam terkait naskah yang sudah dibuat. Tapi, bagi yang sudah berulang kali ditayangkan, tentu tinggal duduk manis seraya berkarya dan mengirimkan lagi sampai masa tayang tiba.

Berikut ini alasan mengapa naskah yang dikirim ke Kompas sering kali ditolak. Dalam hal ini khusus untuk rubrik Sastra (Cerpen/Puisi):
1. Ketika penulis sangat lemah dalam mengolah naskah, apalagi tidak mampu membuat kurator terkesan sekaligus tertarik membaca isi naskah tersebut hingga titik akhir, tentu berpeluang besar ditolak. Kurator lebih suka dengan narasi pembuka cerita yang memikat. Penuh kejutan-kejutan atau ledakan imajinasi sehingga memicu hasrat baca. Narasi di paragraf pertama ini dinilai kurator sangat menentukan apakah naskah tersebut layak ditayangkan atau tidak.

2. Selain harus karya asli, naskah harus inovatif, tidak ada kekeliruan ejaan di dalamnya. Editor atau kurator mana pun pasti sangat risih ketika mendapati kekeliruan mendasar ini. Kurator menganggap kekeliruan ejaan sedikit saja menunjukkan bahwa si penulis tidak cermat saat berkarya. Kurator benar-benar tidak menolelir kekeliruan ejaan, bahkan di mata mereka masalah ini amat jorok. Gunakanlah kaidah menulis secara baik dan benar. Kurator sangat menjaga etika berbahasa. Tidak memicu SARA, diskriminasi terhadap kelompok tertentu, atau hal-hal lain yang melanggar norma. Menurut kurator, naskah juga harus dengan tema segar—walaupun tidak dibatasi oleh tema-tema tertentu, dan tidak klise. Mengarah pada kebaruan sastra yang meliputi aspek bahasa, tema, alur, serta teknik menulis yang mumpuni.

3. Berhubung rubrik sastra diberi ruang sangat terbatas, maka naskah maksimal 10.000 karakter. Jika kurang dari itu, atau malah lebih dari itu, besar kemungkinan masuk daftar naskah ditolak. Alasan ini tak lain lebih pada soal tata letak halaman yang diberikan pihak media.

4. Secara spesifik, kurator cenderung memerhatikan hal-hal unik serta lokalitas. Tema urban nyaris tidak ditayangkan alias ditolak.

5. Sangat dianjurkan menggunakan jenis font Times New Roman (TNR), spasi 1, 12 pt. 

6. Sebaiknya kirim 1—2 karya dalam sebulan. Kirimkan karya yang benar-benar sudah matang. Mengirim 1 atau 2 naskah dengan nilai kematangan sempurna tentu jauh lebih baik ketimbang mengirim banyak namun tidak memenuhi kriteria.

7. Hindari penggunaan kata bombas (menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI): bom·bas n 1 ucapan yang baik terdengar, tetapi tidak mengandung arti; omong kosong; 2 Sas ungkapan yang berlebih-lebihan dalam berlakon; bahasa atau kata yang muluk-muluk). Bisa jadi, kata bombas malah membunuh imajinasi yang sedang dibangun penulis di hati pembaca. Lebih baik gunakan gramatikal sederhana dan mudah dipahami pembaca.

8. Ketika membuka awal cerita dengan dialog, berusahalah mempertahankan karakter lakon secara kuat. Jika tidak mampu mempertahankan karakter lakon dengan kuat, maka bukalah dengan narasi. Sangat dianjurkan menggunakan narasi puitis.

9. Gaya menulis apa pun tetap diberi tempat—misal; realisme, surealisme, absurd, ataupun solilokui. Meski dengan gaya bahasa atau pengantar sesuai kehendak penulis, namun kekayaan diksi dan gaya bahasa pengantar dalam naskah sangat diutamakan.

Jika semua kriteria sudah terpenuhi namun masih tetap belum ditayangkan, maka bersabarlah. Bisa jadi naskah masih dalam masa tinjau atau masih dalam daftar antrean. Tiga kurator atau editor—terutama untuk rubrik sastra—wajib membaca naskah yang masuk. Setelah itu mereka membuat nominasi naskah yang berpotensi lolos seleksi. Bahkan dalam sepekan kurator atau editor melakukan sidang guna menentukan naskah mana saja yang layak ditayangkan.

Siapa pun penulis yang mengirim naskah ke media ini tetap diberi kesempatan untuk lolos seleksi atau ditayangkan dengan catatan memenuhi persyaratan di atas. Jadi ... teruslah berkarya dan kirimkan! Jika memang memenuhi persyaratan dan benar-benar berkualitas, tidak menutup kemungkinan ditayangkan.

  • Share:

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like

Advertisement

0 comments

Advertisement