ALASAN UTAMA NASKAH DITOLAK REDAKTUR MEDIA MASSA/KORAN - Anam Khoirul Anam

ALASAN UTAMA NASKAH DITOLAK REDAKTUR MEDIA MASSA/KORAN

Author: Anam Khoirul Anam - March 07, 2018
Advertisement

Advertisement

Sering kirim naskah ke media massa/koran tapi selalu ditolak? Meresa jengah tiap kali mengirim naskah tapi selalu tidak mendengar kabar bahwa naskah telah diterbitkan oleh media massa tertentu? Siapa pun pasti ingin semua berjalan mulus. Semua penulis pasti berharap tiap kali menulis dan mengirim ke koran selalu lolos seleksi dan diterbitkan. Tapi kenyataan tidak demikian. Semua butuh proses, air mata, dan perjuangan hingga berdarah-darah. Butuh sedikit rasa teriris dalam hati. Butuh rasa pedih dan perih dalam dada saat berkarya.

Sebagian penulis mungkin sudah mengetahui alasan utama mengapa naskah ditolak media, tapi sebagian yang lain belum tentu mengetahuinya. Memang bukan menjadi sesuatu yang mutlak, namun alasan-alasan ini besar kemungkinan menjadi penyebab utama mengapa naskah selalu ditolak.

1. Tema. Ketika mengirimkan naskah ke media, hal yang menjadi sorotan utama pihak redaktur adalah tema naskah tersebut. Redaktur pasti memilih naskah dengan tema kuat, segar, berkarakter, dan memiliki daya pikat serta daya jual tinggi.

2. Tidak Sesuai Kriteria. Biasanya media massa memberi ketentuan atas naskah yang ingin diterima. Semisal harus 600—700 kata/karakter, sasaran atas tema naskah, atau hal-hal lain soal teknis kepenulisan. Ketika seorang penulis mengirim naskah tidak sesuai kriteria, besar kemungkinan ditolak.

3. Gaya Penulisan Naskah: Bicara soal gaya penulisan naskah, tiap penulis memang tidak bisa diseragamkan. Antara penulis satu dengan penulis lain pasti memiliki gaya berbeda, namun penulis yang berkarakter pasti memesona siapa saja—terutama simpati redaktur. 

4. Kaidah Penulisan Naskah: Redaktur pasti menilai apakah naskah tersebut sesuai kaidah kepenulisan atau tidak. Apakah sudah tidak ada kekeliruan mendasar di dalamnya, semisal ejaan, kosakata, kerapian naskah, dan lain sebagainya. Naskah yang disuguhkan secara mentah, tentu kecil peluangnya untuk diterima. Mentah dalam arti masih berupa abstraksi belum berupa karya yang siap dibaca.

5. Kreativitas Mengolah Naskah: Penulis kreatif pasti berusaha keras mengolah naskah-naskahnya. Di tangan penulis kreatif, apa pun menjadi suguhan menarik untuk dibaca dan dinikmati. Daya kreatif ini pula yang menjadi daya saing antarpenulis yang sama-sama mengirim naskah ke media.

6. Produktivitas: Kadang media juga melihat keseriusan seorang penulis dalam berkarya dan mengirim naskah. Kalau hanya sekali saja mengirim, setelah itu tidak ada lagi karya baru, tentu menjadi penyumbang besar atas sebab utama mengapa tak kunjung diterima. Redaktur juga menilai progres sekaligus kualitas tulisan yang masuk meja redaksi. Semakin banyak naskah yang dikirim dengan progres serta kualitas baik, semakin besar pula peluang untuk diterima atau diterbitkan.

7. Senioritas: Meski absurd, kadang senioritas masih berlaku. Rata-rata para senior sudah menguasai teknik menulis maupun poin-poin yang sudah disebutkan di atas. Selain itu, para senior tentu sudah teruji profesionalitasnya dalam berkarya. Tak heran jika di media massa tertentu melulu diisi oleh orang-orang itu saja. 

8. Selera Redaktur: Pendapat ini mungkin kurang objektif bahkan aneh, tapi hal ini bisa saja terjadi. Barangkali kita pernah membaca sebuah karya yang sudah diterbitkan di media tertentu tapi rasanya biasa-biasa saja—bahkan jauh dari kata memikat? Atau mungkin kita pernah membaca atau menjumpai karya yang kurang sesuai dengan harapan. Perlu diingat bahwa redaktur memiliki kuasa sebagai pengampu. Tanggung jawab penuh atas rubrik tersebut ada pada dirinya. Baik dan tidak sebuah rubrik juga tergantung bagaimana seorang redaktur mengelolanya. Bahkan ketika redaktur sudah ambil keputusan serta naskah sudah terbit, ia tidak bisa dipersalahkan.

Dari poin-poin di atas, hal utama yang menjadi penyebab naskah ditolak adalah nomor 1—6. Sedangkan untuk nomor 7—8, hal itu hanyalah urusan internal keredaksian. Setidaknya, ketika seorang penulis ingin naskahnya diterima, maka hal yang perlu ditingkatkan adalah kreativitas dan produktivitasnya dalam menulis. Tanpa kreativitas dan produktivitas, seorang penulis tidak akan pernah mampu membuat tema serta karakter kuat.

Semakin banyak karya yang diterbitkan, sudah pasti akan menaikkan popularitas sekaligus mendapat penghasilan tambahan dari menulis. Faktanya, penulis kawakan pun masih sering mendapat penolakan dari media—apalagi penulis yang baru. Kirim dan teruslah mengirim naskah yang benar-benar sudah siap. Percayalah! Keberuntungan serta keberhasilan bukanlah rekayasa, apalagi sekadar omong kosong.

  • Share:

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like

Advertisement

0 comments

Advertisement