SURAT CINTA UNTUK ANAK-ANAKKU - Anam Khoirul Anam

SURAT CINTA UNTUK ANAK-ANAKKU

Author: Anam Khoirul Anam - February 02, 2018
Advertisement

Advertisement

Nak, entah mengapa tiba-tiba diriku disergap pikiran picik dan pengecut, bahkan lebih pengecut dari seorang pengecut. Pikiran tentang bagaimana jahatnya dunia luar sana. Pikiran tentang dunia di mana akan sangat sedikit sekali ditemukan orang-orang yang benar-benar baik dan tulus. Dunia yang oleh sebagian orang mengatakan kejam dan keras. Dunia yang tak sekadar memilih atau menanggung sebab akibat. Dunia yang tak sekadar mencari atau menemukan. Dunia yang katanya hanya ada baik dan buruk. Dunia dalam kenyataan dan juga dunia yang dibangun dari mimpi-mimpi. Dunia yang dihuni oleh orang-orang baik dan orang-orang dengan tabiat buruk. Dunia yang sebenarnya tak mengerikan namun akan berubah menjadi sangat mengerikan bila salah jalan dan salah pergaulan. Ya, tak mudah menemukan orang yang benar-benar baik di luar sana. Menemukan orang baik, jujur, benar, dan saleh lahir batin ibarat mencari jarum di antara tumpukan jerami. Mungkin ini merupakan kekhawatiran yang sangat berlebihan dan terlalu cepat menyimpulkan sebuah kenyataan hidup, tapi itulah yang saat ini sedang menyerang pikiranku hingga kecemasan serupa kabut hitam dalam langit-langit benakku. Itulah yang kurasakan saat ini terhadapmu dan juga adikmu. 

Nak, diriku memang bukan satu-satunya orang tua, dan bukan satu-satunya orang tua terbaik untuk anak-anaknya. Tapi, kekhawatiranku tumbuh begitu cepat, bahkan lebih cepat dari umurmu sekarang ini. Bahkan kekhawatiranku merambat lebih cepat dari tumbuhan jalar di depan rumah. Mula-mula kekhawatiran itu bisa kuabaikan dan sembunyikan. Namun lama kelamaan kekhawatiran dan rasa cemas itu makin tak bisa kukendalikan. Ia memaksa kepekaanku dan juga perhatianku sebagai orang tua untuk lebih serius menjagamu. Naluriku sebagai orang tua tak bisa kupungkiri. Bukankah beberapa menit yang lalu bocah laki-laki sebayamu memelintir tangan kirimu, namun kamu hanya pasrah dan diam. Lalu, anak laki-laki itu segera melepaskan cengkeramnya dari tanganmu ketika aku menghampirimu. Aku lihat dirimu menahan tangis, ya, tangis seperti biasa kamu perlihatkan padaku. Tangis yang cukup lama tertahan untuk ditumpahkan. Lama sesenggukan, lalu air mata itu akan benar-benar pecah dari kantong bola matamu saat diriku memelukmu begitu erat sembari mengelus kepala ataupun punggungmu. Ya, kejadian itu seolah mengingatkanku pada peristiwa yang hampir saja merenggut nyawamu. Masih teringat jelas bagaimana dahan kelapa kering itu nyaris menimpamu saat kamu sedang berdiri di tepi kolam, beruntung dahan-dahan atau ranting pohon lain masih menjadi perantara pelindungmu, masih menjelma malaikat penolong yang dikirim Tuhan untuk menjaga nyawamu. Tak dapat kubayangkan bagaimana jika dahan kelapa kering itu benar-benar melukai atau bahkan merenggut nyawamu, bukan hanya kehilangan, tapi aku pasti akan menjadi orang tua paling bodoh serta ceroboh karena membiarkanmu dalam bahaya. Penyesalanku takkan pernah berarti bila hal itu terjadi.

Nak, sekarang kamu makin tumbuh besar dan beberapa tahun lagi akan menjadi gadis remaja, gadis dewasa. Tak kusangka, dalam keterbatasanku mencari dan memberi nafkah untuk keluarga kita, Tuhan selalu memberi jalan kemudahan, walau kadang harus jatuh bangun untuk mendapatkannya. Tak kusangka pula, dalam keterbatasan dan sikap mandiri yang kuambil dan putuskan selama ini mampu memberi nafkah untuk kalian, entah bagaimana caranya, selama itu halal serta didapat dengan cara baik dan benar. Meski lambat, namun kita patut dan seharusnya banyak bersyukur karena kita tidak sampai menggelandang. Kita masih diberi tampat yang layak. Kita tak harus mengais rezeki dengan cara haram ataupun dengan cara tak baik serta tak benar. Kita harus banyak bersyukur, walau masih dalam kondisi semacam ini, kita masih diberi kesehatan lahir dan batin. Kita harus banyak bersyukur, dalam kondisi pendapatan yang tak tentu, aku masih dipercaya untuk bisa jadi perantara memenuhi kebutuhanmu dan juga keluarga kita sebagai wujud tanggung jawabku menjadi kepala keluarga.

Nak, tentunya, dahan kelapa kering dan juga perlakuan laki-laki sebayamu itu belum seberapa jika dibandingkan dengan kenyataan yang ada kelak. Mungkin apa yang terjadi kelak lebih dari apa yang kita pikirkan sekarang ini. Kelak, kamu akan mengerti dengan apa yang kukatakan ini. Sekarang nikmati saja masa kecilmu dengan penuh riang gembira. Tak perlu khawatir dengan kondisi kita sekarang, apa yang kita alami saat ini adalah bagian dari proses menuju kebahagiaan. Bukankah hari-hari telah kita lewati dengan kebahagiaan? Bukankah dalam kondisi seperti sekarang, aku masih bisa menemanimu dan menemani adik-adikmu bermain, belajar, serta menghabiskan waktu dengan mengaji proses kehidupan sebagai bekal pengetahuan. Bukankah dalam kondisi semacam itu, kita masih bisa meluangkan waktu untuk saling bercerita ataupun berbagi rasa. Meski dalam kondisi semacam itu, kita masih bisa tersenyum dan melakukan amal kebaikan untuk diri sendiri dan juga untuk orang lain. Oh, anakku, itu jauh lebih membahagiakan dan menjadi pelipur paling mujarab atas beban yang sedang kupikul. Percayalah anak-anakku, bahwa kebahagiaan itu jauh lebih lama dari penderitaan. Berapa lama kita dalam kondisi kekurangan? Tak lama. Kadang hanya sehari, dua hari, sebulan, setahun, seabad. Bukankah itu hanya sebentar, Nak? Itu hanya masalah hitungan waktu, toh, waktu terus bergulir dan tak selamanya kita akan hidup seperti itu. Kita tak pernah tahu semenit ke depan. Kita tak tahu apa yang akan terjadi di balik semua ketidaktahuan kita dalam menjalani hidup ke depan. Selama kita berupaya untuk mengubah diri menjadi lebih baik, bukan mustahil perubahan besar itu akan terjadi dalam hidup kita. Bukankah sudah sering kita dengar bahwa takkan berubah suatu kaum jika kaum tersebut tidak berupaya mengubahnya. Jadi, jika ingin perubahan lebih baik, mari kita ubah cara berpikir, perilaku, dan tutur yang lebih baik. Bukankah di sela-sela itu Tuhan senantiasa mencukupi apa yang kita butuhkan. Ya, rasa kurang itulah yang menjadikan kita merasa tak bahagia dan selalu gelisah. Semakin kita merasa kurang, maka semakin resah pula kita menjalani kehidupan. Maka dari itu cukupkan diri kita dari rasa kurang itu agar kita senantiasa merasa tanpa beban dan hidup dengan sangat tenang. Percayalah bahwa Tuhan tak pernah ingkar janji. Percayalah bahwa hidup perlu diuji agar semakin berisi.

Nak, apakah aku harus memintamu untuk selalu di rumah agar memudahkan pengawasan terhadapmu? Tidak! Kiranya cara itu bukan merupakan cara yang baik dan bijak. Jika itu kulakukan, pastilah diriku akan menjadi orang paling jahat yang akan memberangus hakmu untuk melihat dunia luar. Apakah aku harus membiarkanmu bebas berkeliaran di luar sana? Ah, bukankah jika itu kulakukan sama saja diriku akan semakin menjadi orang tua paling jahat karena membiarkan anaknya tanpa pengawasan. Aku pasti menjadi orang tua yang tak peduli dengan keselamatan anaknya. Bukankah jika cara itu kuambil justru memicu gunjingan banyak orang karena membiarkan anaknya berkeliaran di luar rumah. Bukankah tidak semua teman-teman sebayamu akan memperlakukanmu sebagai teman yang baik? Mungkin kamu akan dijahili. Mungkin kamu akan didorong sama seperti kejadian beberapa waktu lalu di teras masjid, atau hal-hal lain yang cenderung mengundang bahaya. Dan lagi-lagi, kamu tak melawan. Entah karena tak berani atau karena memang tak ada niat membalas. Tentunya aku tak mengajarkan cara balas dendam semacam itu. Aku tak mengajarkanmu menjadi seorang pendendam atau melakukan hal-hal brutal. Bukan karena kamu wanita, tapi semua karena tak ingin membesarkan masalah hanya karena masalah sepele yang tak berdampak fatal. Meski wanita, jika kamu benar maka tegakkan dan katakan sebenar-benarnya. Tak perlu takut sebab bagaimanapun kebenaran disembunyikan tetap akan menjadi kebenaran. Seperti apa pun bangkai disembunyikan pasti tercium juga baunya. Aku tahu bahwa kamu butuh teman bermain. Kamu butuh interaksi sosial. Aku masih mengedepankan prasangka baik dalam hal itu. Aku masih menyadari bahwa semua terjadi karena apa yang dilakukan teman-temanmu waktu itu masih dalam batas kewajaran sebagaimana sikap atau perilaku anak-anak kecil yang belum bisa dipersalahkan atas tindakannya. Tapi, apa yang ada dalam pikiran dan juga apa yang kurasakan tak bisa berdusta melihat kejadian itu. Naluriku ingin sekali menegur dan membelamu, tapi semua kuurungkan karena pertimbangan bahwa itu masih dalam batas kewajaran dan dilakukan oleh anak kecil yang belum mengerti banyak hal tentang hal baik dan buruk, atau karena pertimbangan-pertimbangan lainnya. 

Di lain sisi, ketika kamu selalu di rumah atau kita lebih suka berada di rumah, orang-orang akan mengolok, mencibir dengan nada sinis serta bergunjing di belakang. Orang-orang akan memandang kita sebagai keluarga tertutup karena tak suka bertetangga, tak bisa bergaul, beradaptasi, atau apa pun tuduhan-tuduhan yang menunjukkan pada kita sebagai makhluk individualis. Sedangkan jika kita sering berkumpul, apa yang terjadi malah saling membicarakan aib orang lain, atau memamerkan apa yang sedang dimiliki atau menceritakan sesuatu yang belum atau sesuatu yang pernah dilakukan—meski ada hal-hal positif lain di dalamnya—namun kadarnya lebih sedikit dari kebaikan serta kemanfaatan yang ada. Hal itu yang masih membuatku bingung harus bagaimana dan seperti apa menyikapinya. Kekhawatiranku terhadap pengaruh buruk lingkungan begitu kuat agar dirimu tak tercemar atau bahkan menjadi keruh akibat pengaruh buruk yang belum bisa kamu cerna serta bedakan baik buruk akibatnya di kemudian hari. Aku khawatir jika perangai buruk justru lebih tampak padamu daripada perilaku santun, baik, penuh tata krama, dan juga penuh nilai religiusitas. Kadang pengaruh negatif mencoba hasut pikiranku dengan mengatakan pada diriku sendiri, "Untuk apa banyak teman jika akibatnya justru merusak. Buat apa punya teman jika diperlakukan tak adil dan diperlakukan sedemikian jahatnya. Buat apa punya banyak teman jika tak merasa aman. Buat apa punya banyak teman jika harus menjadi korban. Buat apa punya banyak teman jika tak mendatangkan kemanfaatan." Tidak, Nak! Jangan membiarkan pikiran semacam itu tumbuh liar dalam dirimu, itu bukan cara berpikir yang baik. Kita tak boleh berprasangka buruk seperti itu. Itu hanya akan merugikan diri sendiri. Dalam menjalani hidup, terlebih menjalin hubungan sosial, kita hanya perlu hati-hati, jaga diri dan lebih tepat saat memilih. Tak perlu bersikap kaku semacam itu. Kita butuh orang lain dalam menjalani hidup. Kita hanya perlu memilih yang baik dan melenyapkan yang buruk. Aku hanya berpikir dan berusaha bagaimana harusnya menjadi orang tua yang adil, menjadi orang tua yang bijak serta mampu menanamkan nilai agama, etik, nilai moral, dan pola didik yang terbaik untukmu dan juga adikmu. Sedari kamu dalam kandungan, aku sudah percaya dirimu adalah orang baik dan bisa dipercaya, maka dari itu seiring tumbuh kembangmu aku akan menjaga kepercayaan itu, walaupun entah kelak kepercayaan yang kujaga dan pertahankan akan gugur atau justru akan semakin membaja.

Nak, ingatlah! Untuk menjadi orang baik, jujur, benar, dan saleh lahir batin itu tak gampang. Ibarat ingin sampai ke puncak gunung, seseorang harus melewati banyak hal, tak hanya rintangan tapi kemudahan jalan itu juga bagian dari ujian untuk bisa sampai ke puncak tertinggi dari gunung yang ingin didaki. Untuk menjadi insan kamil butuh jiwa-jiwa militan. Untuk bisa menjadi insan kamil harus ditempa banyak cobaan sebagai bentuk kemandirian. Kemandirian itulah yang akan membuat seseorang mampu menghadapi aral melintang. Kemandirian itu pula yang akan membuka pikiran, membuka logika atau nalar. Kemandirian pula yang akan mengajarkan tentang sebuah ajaran kepasrahan terhadap Tuhan dan tidak selalu menggantungkan belas kasih dari orang lain selain hanya kepadaNya.

Nak, sungguh jika kekhawatiran ini kutuliskan, tentu takkan menemu ujung. Kekhawatiran tentang bagaimana atau begitu jahatnya dunia luar sana. Semakin kutulis, kekhawatiranku semakin menjadi-jadi. Jujur aku lebih takut rusak moralmu daripada rusak fisikmu. Aku takut akhlakmu rusak sebagaimana sering kusaksikan semakin banyak orang-orang yang kehilangan atau bahkan meninggalkan pekerti yang baik. Tentu saja bukan itu harapanku. Aku tak berharap dua-duanya. Aku berharap, berdoa, semoga kamu dan adik-adikmu akan terus baik-baik saja secara lahir batin. Rusak fisik lebih mudah pulih, tapi rusak moral lebih susah menyembuhkannya. 

Itulah kekhawatiranku sekaligus rasa takutku setelah kamu dan juga adik-adikmu mulai bersentuhan dengan dunia luar yang tanpa kendali itu. Satu hal yang ingin kusaksikan darimu, selain sehat lahir batin, imanmu jauh lebih penting dari apa pun. Ingatlah, Nak! Kekayaan takkan pernah memberi janji kebahagiaan. Kebahagiaan sama sekali tak didapat dari limpahan kemewahan. Kebahagiaan bisa saja lahir dari kesederhaan. Bahkan kebahagiaan bisa lahir dari derai air mata. Kekayaan boleh dicari dan dikejar sampai ujung dunia selama mampu dan bisa menempatkan diri secara baik, benar, dan bijaksana. Tapi, kemewahan bukan segala-galanya dan bukan tujuan hidup sebenarnya. Semakin banyak harta, pada dasarnya akan semakin mengurangi kebahagiaan serta ketenteraman hidup. Akan semakin banyak yang harus dipertanggungjawabkan atas harta kekayaan itu sendiri. Hidup sederhana dan merasa cukup, itu jauh lebih membahagiakan daripada banyak harta namun didapat dari sesuatu yang tak lazim. Tak perlu berbangga diri, sekadar menunjukkan pada orang lain karena dianggap kaya. Tak perlu berbangga diri karena mampu membeli segala kebutuhan dan keinginan. Semakin mudah kita mendapat sesuatu, maka semakin rumit mengendalikan diri. Untuk apa hidup kaya raya tapi hanya pura-pura. Untuk apa hidup kaya raya kalau hanya ingin dilihat secara luarnya saja, sedangkan dari dalam hancur bahkan luluh lantak? Sungguh betapa sangat tersiksa hidup semacam itu, anakku. Lihat! Berapa banyak orang yang justru kehilangan arah serta mengakhiri hidup karena tipis iman—padahal mereka kaya, terkenal dan dipuja banyak orang? Itulah yang kumaksud sebagai kemudahan adalah bagian dari ujian. Jangan mengira dalam keadaan serba kekurangan tak bisa mendapatkan keinginan. Justru dalam kesederhanaan itu seseorang sedang dipersiapkan kebahagiaan paling hakiki oleh Tuhan. Dalam kesederhanaan itu seseorang telah sampai pada batas pemahaman tentang bagaimana mengendalikan segala keinginan secara berlebihan. Percayalah bahwa Tuhan telah mempersiapkan diri kita sebagai umat yang bahagia!

Nak, semoga kekhawatiranku tak terjadi padamu dan juga pada adik-adikmu kelak. Semoga Tuhan senantiasa menjagamu, adik-adikmu, menjaga dan melindungi kita semua dari segala mala bahaya, fitnah, dan kejahatan yang tampak maupun yang tak tampak. Aku senantiasa berdoa untukmu. Aku yakin kamu pasti bisa menjadi kakak yang baik dan menjadi panutan bagi adik-adikmu kelak. Aku yakin itu dan aku percaya kamu mampu menjadi pelindung bagi ibu dan juga adik-adikmu kelak. Hidupku tak ada yang tahu sampai kapan bertahan, sebab hanya Tuhan yang Tahu tentang kematianku. Setidaknya, dengan kamu membaca tulisan ini, selain tahu, kamu akan terus berada dalam lingkaran doa, harapan, dan juga mimpi-mimpiku tentang dirimu sebagai insan kamil. Sekalipun dirimu terlahir sebagai perempuan, tetaplah berjiwa kesatria, berjiwa tangguh lazimnya kaum laki-laki. Seekor singa meski buas, ia tetap memiliki jiwa penuh kasih sayang. Ia hanya buas ketika bahaya mengancam, selebihnya ia tetap menjadi induk yang baik untuk anak-anaknya. Semoga keselamatan dan keberkahan hidup senantiasa menyertaimu. Semoga dimudahkan urusan baikmu dan dijauhkan dari keburukan serta kejahatan.

Mari lekas tidur, anak-anakku. Malam mulai larut. Biarlah di luar sana suara-suara masih bergelak. Di antara lampu menyala itu, kegelapan lebih berkuasa. Jika lampu itu padam, penglihatan akan sulit membedakan kebenaran satu sama lain. Semua akan mengabur bahkan memicu salah duga. Apa yang tersisa hanyalah keyakinan dalam diri. Saat bahaya mengancam, tak ada yang bisa menolong selain diri sendiri dan juga campur tangan Tuhan.

Mari lekas tidur, anak-anakku. Biarlah di luar sana terus hiruk. Esok saat kita bangun, mari tersenyum dan tahanlah tawa atas apa yang sudah terjadi di luar sana. Kelak, jika kalian memasuki dunia luar yang sarat anomali itu, jangan sampai lupa pintu keluar dan jangan sampai membawa luka setelah kembali ke rumah—dalam dekapan kami—orang tuamu.

Nak, tidurlah! Hari sudah larut malam, mari istirahat sejenak sebelum esok hari memanggil kita lagi. Matahari sudah tertidur dalam timang malam. Tidurlah dengan tenang. Mimpi akan datang menghampirimu dengan sesuatu yang indah meski datang pula mimpi buruk.

Nak, bangunlah! Hari sudah pagi, mari kembali menyusuri waktu dan mari kita berjalan di bawahnya untuk melihat apa yang ditunjukkan pada kita tentang isi segala alam semesta. Jika engkau bermimpi baik bawalah dan wujudkanlah. Tapi jika engkau bermimpi buruk maka tinggalkanlah, dan jangan diingat-ingat lagi.

Begitulah seterusnya kami memperlakukanmu sampai engkau dewasa dan menemukan pasangan hidup, yang entah kelak akan tetap tinggal bersama kami atau memutuskan untuk hidup di rumah sendiri. Mari berterima kasih pada cahaya, sebab keberadaannya membuat kita mampu melihat apa yang disembunyikan oleh kegelapan.

Nak, maafkan kami karena sudah tidak bisa mengantarmu tidur, atau membangunkanmu lagi seperti dulu, semasa kecilmu. Berbahagialah!

  • Share:

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like

Advertisement

0 comments

Advertisement