PENGERTIAN SAJAK 9 KATA, 3 LARIK, 3 BAIT - Anam Khoirul Anam

PENGERTIAN SAJAK 9 KATA, 3 LARIK, 3 BAIT

Author: Anam Khoirul Anam - February 10, 2018
Advertisement

Advertisement

Baca Juga

Pada dasarnya menulis sajak adalah bebas dan sesuka hati mengikuti intuisi, ide atau gagasan tanpa harus terbelenggu serta dibatasi hal-hal maupun aturan tertentu. Kehadiran sajak ini bukan merupakan sebuah upaya membelenggu kebebasan tersebut, namun lebih ingin melatih kedisiplinan, keefektifan dalam penggunaan diksi dalam menulis sajak, sekaligus melatih diri supaya konsisten dalam banyak hal tanpa harus mengenyampingkan faktor lain dalam berkreativitas menulis sajak.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan bahwa sajak adalah (n) 1. Gubahan sastra yang berbentuk puisi; 2. Bentuk karya sastra yang penyajiannya dilakukan dalam baris-baris yang teratur dan terikat; 3. Gubahan karya sastra yang sangat mementingkan keselarasan bunyi bahasa, baik kesepadanan bunyi, kekontrasan, maupun kesamaan; 4. Patut; kena; cocok.

Sampai saat ini dunia sastra terus mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Hal itu ditandai dengan semakin banyak penulis dan juga buku-buku baru bermunculan. Lebih-lebih didukung dengan adanya media atau penerbit yang terus berlomba menerbitkan karya-karya terbaik dari para penulis—entah dari jalur independen (indie) maupun konvensional (mayor). Ajang perlombaan menulis juga sering kali diselenggarakan guna menjaring karya-karya terbaik. Setidaknya fakta tersebut membuktikan bahwa sastra masih hidup dan terus berkembang.

Tahun 2015—lebih tepatnya 19 Juni 2015—sebuah grup menulis mendeklarasikan sajak dengan pola 9 kata di tiap larik, disusun 3 larik dan terdiri atas 3 bait. Bagi sebagian orang barangkali belum begitu akrab dengan jenis sajak ini. Jika disebut sebagai jenis sastra (sajak) baru, tentu sama sekali tidak baru, sebab untuk perkembangan sastra berpola sudah ada sejak lama. Di masa-masa awal, jenis sajak ini memang masih terdengar asing, namun seiring waktu sekaligus semakin banyak penulis yang ikut serta, jenis sajak ini pun mulai mendapat tempat di hati para penulis. Selain mengadakan pembelajaran di grup, kegiatan menerbitkan buku hasil kreativitas dari masing-masing anggota juga terus digalakkan.

Jenis sajak ini awal mulanya diperkenalkan melalui jejaring sosial Facebook, lalu berkembang ke media cetak (koran) lokal maupun nasional serta merambah ke dunia penerbitan. Selain karena baru dan belum begitu banyak pengikut, tak ayal jika keberadaan jenis sajak ini belum begitu dikenal secara luas. Selain itu, perkembangan aktivitas jenis sajak ini memang masih sebatas di dunia maya, belum mengadakan agenda di dunia nonmaya. 

Sampai sekarang jenis sajak ini memang belum menemukan nama sebagai sebutan baku, namun sebagian orang menyebut sebagai; sajak 99. Ada juga yang menyebut; sajak anama—yang merupakan gabungan dari kata ‘a’ (belum), dan kata ‘nama’ (kata untuk menyebut atau memanggil orang (tempat, barang, dsb)—dan ada pula yang menyebut sajak 933 yakni sebutan yang mengarah pada struktur dalam satu judul sajak atau disingkat menjadi Sajak Langaga. Bagi para penulis yang sudah ikut aktif menulis jenis sajak ini, tentu sudah merasa biasa dengan pola atau strukturnya. Bagi penulis yang belum mengetahui atau mengenal tentu akan sedikit bingung atau mungkin bertanya-tanya terkait pola baku yang ada di dalamnya.

Bagi para penulis yang ingin bergabung atau menulis sajak jenis ini tentu sedikit kebingungan bahkan bisa jadi belum memahami secara penuh pedoman penulisannya. Intinya, dalam satu judul sajak ini berisi 81 kata jika dihitung secara manual. Jika ingin cara praktis, tiap penulis tinggal cek di MS. Word di bagian kiri bawah lembar kerja atau di layar monitor masing-masing. Secara rinci dan supaya mudah mempraktikkan adalah sebagaimana contoh sajak berikut:

BAIT I
ARCA | ditatah | atas | ragam | rupa, | laun | luruh | terkikis | masa (9 kata)
pun | asteroid | nan | jauh | timbul | tenggelam | di | ujung | mata (9 kata)
sungguh | telah | ditinggalkan | segala | sekutu | yang | dipuja | dulu | kala (9 kata)

BAIT II
Percuma | kobar | api | membakar | diri | bila | sumarah | capai | kulminasi (9 kata)
hanya | nyala | dan | kepul | membubung, | lantas | majal | lumat | diri (9 kata)
murad | menuntun | si | murid | agar | sentosa | hingga | sabana | maknawi (9 kata)

BAIT III
Agas | berkerumun | di | kujur | jasad | sampai | tanah | berlumur | darah (9 kata)
lebur  | hala | bayang, | terbelam | bersama | angin | di | antara | zarah (9 kata)
cercah | bak | mata | kapak | mendedah | jagat, | kelindan | dalam | madah (9 kata)

Tiap penulis tentu memiliki karakter berbeda-beda dalam menulis maupun tulisannya. Keberagaman inilah yang kemudian akan semakin memperkaya khazanah sastra, khususnya bagi jenis sajak ini. Secara ide atau kreativitas menulis sajak ini memang bertema bebas, namun secara bentuk sudah baku dengan aturan 9 kata di tiap larik, disusun 3 larik serta terdiri atas 3 bait.

Adapun beberapa buku yang berhasil diterbitkan adalah 99 Mukadimah, Sayap-sayap Roh, Sarabandea, dan masih ada banyak lagi antologi lain yang kesemuanya merupakan kumpulan sajak dari para anggota grup.

Demikian itulah sekilas tentang pengertian sajak 9 kata, 3 larik, dan 3 bait. Semoga bermanfaat.

  • Share:

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like

Advertisement

0 comments

Advertisement