AMSAL PARA PEMABUK | SAYAP-SAYAP ROH | AMNESIA | LARAS HATI | SARABANDEA - Anam Khoirul Anam

AMSAL PARA PEMABUK | SAYAP-SAYAP ROH | AMNESIA | LARAS HATI | SARABANDEA

Author: Anam Khoirul Anam - January 03, 2016
Advertisement

Advertisement

AMSAL PARA PEMABUK
AKAL sehat yang telanjur larut ke dalam kemabukan hasrat
akankah segala yang tampak tak lagi membayang dalam penglihatan,
di manakah akan didapat hakikat kebenaran dari para pemabuk?

Ketika kesadaran lepas, tutur begitu melantur, laku pun mengeluyur
oh, tubuh yang perkasa; mengapa sedemikian kulai tatkala kepayang?
terjaga namun kosong belaka, tidur pun mengigau sedemikian rupa

Mari menari dan berputar bagai gasing sembari bibir berucap,
“Oh, Kekasih. Bergegaslah mendekat dalam dekap rindu menggebu ini!
Bila cinta mampu lampaui batas kesadaran, mari saling bersukacita.”
Yogyakarta, 04 September 2015

SAYAP-SAYAP ROH
TAK perlu lagi mencari apa yang telah jauh pergi
sebab ia tak mati, hanya kembali dalam dekap abadi
angkasa menjadi makam hakiki, rumah dunia bukan tampatnya lagi

Sayap roh akan membentang terbang lintasi segala dimensi semesta
kepada Maharaja, ia takzim penuh hikmat—nikmat tak terkira
ia berasal dari sumber yang sama, kembali sedemikian rupa

Lepaskan segala belenggu pikiran, cahaya roh melesat begitu tinggi
wadak yang sesak muatan akan karam di lautan—nisbi
setelah roh pergi, lantas apa yang diharap dari jasadi?
Yogyakarta, 17 September 2015

AMNESIA
KE MANAKAH ia kini pergi? Di mana keberadaannya kini?
setelah perjumpaan itu, tak kulihat di mana keberadaan dirinya
“Aku ada walau tak terlihat. Singkaplah tabir penglihatanmu,” ucapnya.

Sungguh, aku tak bisa melihatnya di sekitarku—hingga kini
aku hanya meyakinkan diri bahwa ia ada di mana-mana
“Bukankah tiap waktu aku selalu mengawasimu tanpa jeda?” lanjutnya.

Tiap waktu aku terus berupaya sadarkan diri, mencari, mendekati
walau tak kunjung kutemukan, namun keyakinanku tetap terus bertahan
“Tanpa jumpa, kebersamaan senantiasa ada meski kau amnesia,” pungkasnya.
Yogyakarta, 27 September 2015

LARAS HATI 
WAJAH bulan tampak terang di langit tinggi, mari kembali
laju matahari tenggelam ke dalam perigi, isyarat ganti hari
niktigami telah merebak dan tebarkan wangi, enyahkan lara hati

Kayu basah memberi asap dan jelaga tanpa kobar api
walaupun dibakar sedemikian rupa, ia hanya hangus tanpa nyala 
ia habis terbakar karena kayu lain, bukan atas dirinya

Simaklah alun laras hati, biarkan kabut jiwa terbang tinggi
usah lagi rintangi penglihatan jiwa dengan linang airmata dukacita
obituari lekaslah pergi, mari menuju dekap kekasih penuh sukacita
Yogyakarta, 06 Oktober 2015

SARABANDEA
MALAM berkabut dan larut dalam alir darah di dadaku
renik nada dukacita luruh lembut ke dalam gendang telinga
suluh nurani menyusuri lorong gelap, singkap segala tirai absurd

Bunga malam patah, putik berhamburan diterpa amuk badai kepedihan
lalu pagi menangkap linang airmata dan mengisapnya tanpa sisa
tak ada embun berguguran sebab awan gagal menjelma siluet

Malam tak kunjung surut dalam secangkir sukacita di dadaku
renik irama mengalir lembut lewat telinga enyahkan sunyi hati
mengurai hakikat makna lewat desir simfoni ritmis di jiwa 
Yogyakarta, 29 September 2015

Sajak ini telah dipublikasikan di PADANG EKSPRES (03/01/2016)
  • Share:

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like

Advertisement

0 comments

Advertisement