BERDIAM DIRI | MOKSA | MAGLUB - Anam Khoirul Anam

BERDIAM DIRI | MOKSA | MAGLUB

Author: Anam Khoirul Anam - November 22, 2015
Advertisement

Advertisement

BERDIAM DIRI
KEPADA daun yang masih bercumbu rayu dengan embun pagi
serta padamu angin yang hilir dari riuh selat sunyi
ke manakah wangi kasturi beranjak dari dalam diri ini?

Peluh telah luruh, tabuh subuh mengguguh tubuh kumuh—jenuh
tak adakah hati tergugah walau cinta begitu lantang menyeru
lacutlah diri agar lekas berlari, jangan hanya berdiam diri

Kau yang telah menceburkan diri dalam laut lumpur liat
sampai kapan kau akan terus berdiam diri di situ
bila masih ada luah air suci, segeralah bersihkan diri!
Yogyakarta, 21 September 2015

MOKSA
MATAHARI sudah menyingsing tinggi, namun pandir tetap di sini
dingin malam terhunus dari senyap kamar, beranjak ke peraduan
ke manakah pesona kekasih selepas jamuan hangat rindu semalam?

Ketika esensi keluar dari makam, cangkang hanyalah kotoran belaka
bagaimana jernihkan pikiran bila hati keruh, begitu pun sebaliknya?
bersihkan liat lumpur di kaki, mari lekas terbang tinggi!

Matahari sudah menyingsing tinggi, namun pandir tetap di sini
dingin malam terhunus dari senyap kamar, beranjak ke peraduan
bersihkan liat lumpur di kaki, mari lekas terbang tinggi!
Yogyakarta, 13 September 2015

SARABANDEA
MALAM berkabut dan larut dalam alir darah di dadaku
renik nada dukacita luruh lembut ke dalam gendang telinga
suluh nurani menyusuri lorong gelap, singkap segala tirai absurd

Bunga malam patah, putik berhamburan diterpa amuk badai kepedihan
lalu pagi menangkap linang airmata dan mengisapnya tanpa sisa
tak ada embun berguguran sebab awan gagal menjelma siluet

Malam tak kunjung surut dalam secangkir sukacita di dadaku
renik irama mengalir lembut lewat telinga enyahkan sunyi hati
mengurai hakikat makna lewat desir simfoni ritmis di jiwa 
Yogyakarta, 29 September 2015

MAGLUB
SIAPA lagi yang mampu taklukkan hasrat ini selain dirimu
ketika mata ini menatap wajahmu, hati terpana tak terkira
bila segala pencarian telah ditemukan, apa lagi yang dicari?

Bukan pacu cinta yang harus dikalahkan, melainkan laju syahwat
selama pendaki mampu ke puncak gunung, dialah sang penakluk
ketika gelap hati tak bisa enyah, dialah si buta

Jangan samakan jiwa para penakluk dengan perangai kawanan pengecut
para penakluk melihat kenyataan atas kebenaran, namun tidak sebaliknya
tentu saja penakluk jauh lebih perkasa daripada sekerumun penjilat.
Yogyakarta, 21 September 2015

Sajak ini telah dipublikasikan di POS BALI (22/11/2015)
  • Share:

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like

Advertisement

0 comments

Advertisement