PEREMPUAN YANG KEHILANGAN CAHAYA

Baca juga artikel ini:

AKU melihat senyum picik di wajahnya. Lagi-lagi senyum yang sama. Senyum yang diberikan kepadaku kala pertama kali bertemu di sebuah ladang jagung tak jauh dari rumahku. Kuraba sebidang gambar yang sedang menghiasi surat kabar hari ini. Sebuah foto di bagian berita utama. Kulihat lagi senyum itu, senyum yang sama, tipis dan terasa manis bila dipandang. Bagi yang belum mengenal dekat, senyum itu sudah pasti akan memikat. Terlebih tutur lembut dan begitu santun akan semakin membuat hati terpedaya dibuatnya. Kesan pertama ini sungguh-sunguh masih melekat erat di pikiranku, bahkan sampai detik ini.

“Air dalam satu gelas tentu akan lebih mudah keruh hanya dengan setetes tinta, tapi setetes tinta takkan berarti apa-apa jika jatuh di hamparan lautan. Hati dan pikiran luas takkan mudah keruh hanya karena setitik kebencian, terlebih hati dan pikiran luas itu dipenuhi rasa cinta serta kasih sayang, tentu kebencian hanya akan menjadi sampah yang mengapung di bibir pantai. Air laut tentu akan lebih mudah menghempas atau menghilangkan kotoran itu dengan terjang ombaknya, namun tidak untuk segelas air yang dibiarkan kotor oleh setetes tinta. Ia akan semakin kotor dan menjadi racun jika diminum.” Ia berpetuah padaku suatu hari.

Sungguh kata-kata itu begitu kuat menyihirku. Kata-kata itu kemudian menjadi pembasmi hama pikiranku yang liar. Kata-kata itu menjadi mantra penjinak perilaku yang kurasakan begitu sundal untuk diriku sendiri. Berawal dari kata-kata itu pula aku mulai mengubah cara pikirku, tutur kata, atau pun perilaku diriku tiap hari. Percakapan singkat itu terasa begitu lama membenam dan begitu kuat terngiang di benakku. Lelaki itu benar-benar mampu mengubah diriku lewat kata-kata magis yang sering dituturkan padaku. Percakapan yang diakhiri dengan senyuman yang sama seperti yang kulihat hari ini di media massa.

Setelah perjumpaan itu, kami sering berbalas kabar lewat jejaring sosial, atau nomor telepon pribadi. Entah mengapa aku merasa laki-laki ini berbeda dengan lelaki yang kukenal sebelum-sebelumnya. Dengan begitu mudah aku merasa dekat dengannya. Tak hanya nasihat, tapi juga mengajak diriku untuk terus berbuat baik dan menebarkan kebaikan. Bahkan sempat terbesit dalam pikiranku untuk bisa hidup bersamanya. Namun pikiran itu aku singkirkan karena trauma yang menimpaku sepuluh tahun silam. Aku tak ingin gegabah menuruti hasratku. Aku tak ingin kejadian sepuluh tahun silam kembali terulang.

“Sungai yang dangkal perlu dikeruk jika ingin airnya jernih dan tak beriak. Sedangkan sungai yang dalam tak perlu dikeruk untuk menjadikan air mengalir secara teratur dan tentunya takkan terdengar suara beriaknya untuk menunjukkan kedalamannya. Aliran air yang ada di sungai dangkal akan sangat mudah kotor, sampah-sampah tersangkut, dan keruh. Sedangkan alir sungai yang dalam tak perlu membersihkan kotoran sebab debit air yang melimpah akan membersihkannya serta membuat air tersebut tetap bersih, terkecuali kotoran di dasar air yang perlu dibersihkan oleh air itu sendiri.” Tulisnya suatu hari lewat pesan singkat. Ia sering kali mengirimkan kata-kata aforismik semacam itu padaku. Inilah yang kemudian menjadi daya pikat buatku atas dirinya. Hal semacam itu pula yang lambat laun mengubah kepribadianku. Kata-katanya seperti hipnotis hingga memengaruhi sebagian atau bahkan seluruh kesadaranku. Aku merasa ada dorongan dari dalam ketika membaca atau mendengar kata-kata yang ia ucapkan. Perubahan yang kualami diperkuat oleh pendapat teman-teman akrabku yang menyatakan bahwa diriku telah banyak berubah. “Eh, kamu sekarang terlihat sangat cantik dengan berjilbab seperti ini,” itu salah satu pendapat teman se-kantorku. Ada lagi yang berkata, “Dulu kamu perempuan paling tomboi yang kukenal. Nyaris jadi perempuan nakal. Atau apalah itu istilahnya. Sekarang kamu jauh lebih anggun dan menawan.” Dan begitu seterusnya kata-kata sanjung puji diberikan padaku atas perubahan diriku. Kata sanjung puji itu tentu membuatku merasa senang dan berbunga-bunga, nyaris tak kudengar nada sumbang di dalamnya. Tak ada yang nyinyir atau mencibir dengan nada-nada negatif. Nyaris tak kudengar sindiran atau kata-kata yang membuatku patah arang.

Malam itu, ia menelepon dan berkata demikian padaku, “Gula tak mempersoalkan apakah ia larut di dalam air panas atau air dingin, hanya saja air panas lebih cepat membuat dirinya larut daripada air dingin. Demikian halnya dalam cinta. Tanpa saling bicara, rindu takkan pernah larut di dalamnya, dan tentunya akan semakin lambat untuk bisa saling memahami antara satu sama lainnya.” Apa maksud dari kata-kata itu? Apakah kata-kata itu bertanda bahwa ia merindukan aku? Ah, tidak! Aku tak ingin secepat itu ambil kesimpulan. Sebab hal serupa sudah sering kali dilakukan beberapa lelaki sebelum kehadirannya, terutama lelaki yang sudah menghancurkan kesucian tubuhku. Tapi sudahlah! Lelaki itu sudah kuanggap mati dalam hidupku, sekalipun ia sempat menjadi suamiku yang lantas menceraikan aku karena telah menghamili perempuan lain. Sekarang ia sudah cukup bahagia dengan anak dan istrinya. “Untuk apa aku hidup dengan perempuan mandul” kata-kata menyakitkan itu begitu kuat menancap di ulu hatiku. Apabila kata-kata itu muncul, sering kali melahirkan anak-anak pesakitan. Aku ingat betul kata-kata itu ia ucapkan seminggu sebelum menceraikan aku. Kami bertengkar hebat malam itu, sampai-sampai tetangga menonton pertengkaran kami. Mungkin itu pula alasan dirinya berbuat serong di belakangku. Tuduhan dirinya menganggapku mandul adalah keliru besar, sebab dua tahun pasca perceraian aku telah menggugurkan kandunganku karena hubungan gelapku dengan rekan kerja namun beda kantor. Aku tak bisa menuntutnya, sebab aku kalah kelas dan kalah kuasa. Ia merupakan anak dari salah seorang pejabat negeri ini. Ia dan keluarganya yang meminta menggugurkan kandunganku. Alasannya karena tak ingin menanggung aib. “Gugurkan kandunganmu, atau akan kubunuh seluruh keluargamu!” ancamnya sembari melepar beberapa lembar uang ke wajahku. Ia cekik leherku sebelum pergi meninggalkan aku. Berawal dari itulah suara-suara negatif begitu kuat memengaruhi pikiranku. Aku gagal melawan hasutan dari diriku sendiri. Aku pun menggugurkan kandunganku yang masih tiga bulan. Aku tak ingin keluargaku, terutama kedua orangtuaku, mengetahui hal itu. Aku tak ingin merusak harapan dan kebahagiaan mereka. Aku tak ingin mereka lebih banyak menanggung malu karena ulahku. Aku belum bisa membalas budi baik mereka. Aku belum bisa membalas jasa-jasa mereka. Aku sudah gagal berumah tangga, dan aku tak ingin menambah lagi beban hidup mereka dengan masalahku. Biarlah masalah ini hanya aku dan Tuhan yang tahu.

Peristiwa itu benar-benar telah mengikis pemahamanku tentang bagaimana lazimnya hidup sebagai perempuan. Perubahan pun terjadi dalam diriku. Aku mengubah penampilanku yang lugu menjadi tomboi bahkan nyaris seperti laki-laki. Aku pun meniru gaya hidup laki-laki. Begitu seterusnya. Dan sampai pada puncaknya aku mengubah lagi penampilan serta cara pendang hidupku setelah bertemu dengan Wigunani di ladang jagung tersebut. Kehadirannya seperti oase di tengah-tengah keringnya pikiran serta pemahamanku tentang kehidupan. Kehadirannya seperti hujan yang menyuburkan kembali rumput-rumput kehidupanku. Ia telah menyemai kembali biji bunga di taman jiwaku hingga aku tumbuh kembali menjadi rumpun bunga.

***
KATA-kata manis tinggalah kata-kata saja. Ia seperti asap yang diterjang laju udara. Wigunani pun tak jauh beda dengan laki-laki yang pernah kukenal. Aku tak mengatakan kalau dirinya sebagai bajingan atau menjuluki diri serta kepribadiannya buruk. Aku hanya terkejut saja dengan apa yang sudah dilakukannya padaku. Awal mulanya adalah ketika malam-malam ia mengajakku memuaskan nafsu kami masing-masing secara bersamaan lewat telepon seluler. Mula-mula aku menolak, namun apalah daya, kata-kata manisnya meluruhkan semua hasratku. Otot-otot serta kesadaranku mengendur. Aku pun melakukannya dalam perasaan bersalah. Aku kalah malam itu. Dan kekalahanku berlanjut di malam-malam berikutnya. Begitu seterusnya hingga hal itu mengalahkan kekuatanku untuk melarangnya menjamah tubuhku. Kami pun melakukan itu tak hanya sekadar di dunia maya, namun kami melakukan hal itu lebih jauh dan secara rahasia di mana pun kami bisa melakukannya.

Apa yang kulakukan dengan Wigunani tak sampai pada kesalahan lebih fatal. Aku tak hamil. Aku selalu mencari cara agar tidak hamil dan itu yang ada dalam pikiranku kala itu. Dan sepertinya caraku berhasil sampai hari terakhir ia pergi meninggalkan aku tanpa kabar atau pesan. Peristiwa ini tak mengoyak keinginanku untuk menjadi pribadi berperangai buruk. Aku tak ingin mengulangi keburukan itu lagi.

Entah, aku tak mengerti dengan semua yang terjadi pada diriku. Tak ada niat diriku untuk hidup demikian. Aku tak akan mengarahkan pikiranku menuju pemikiran macam-macam, apalagi berpikir negatif pada Tuhan. Aku juga tak ingin ambil kesimpulan bahwa laki-laki semua sama saja. Tidak semua lelaki adalah bajingan. Tidak semua laki-laki berengsek. Tidak! Aku tak cukup mengurai semua itu lebih dalam. Bahkan untuk menilai sesama jenisku, kaum perempuan, aku masih kesulitan. Tak perlu jauh-jauh, menilai diriku sendiri saja aku tetap tak tuntas. Menilai diriku sendiri saja tak becus.

Lama tak dengar kabar dari Wigunani, baru kutahu jika dirinya menjadi ajudan salah satu petinggi Negara. Sayangnya, kemunculan yang kuketahui adalah tertangkap dirinya atas berbagai macam kasus. Dari pencucian uang sampai dengan perdagangan kaum perempuan. Ia dijerat pasal berlapis atas perbuatannya itu. Miris memang, tapi setidaknya hal itu bisa menjadi peringatan sekaligus pembelajaran untuk diriku sendiri. Aku takkan menghakiminya sebagai lelaki yang buruk, justru dengan adanya kejadian demi kejadian itu apa yang tersembunyi akan terbuka lebar-lebar. Aku harus mengambil pelajaran dari nama dirinya, Wigunani asal kata serapan bahasa Jawa yang kurang lebih artinya: berguna. Tentu maksud nama yang diberikan kedua orangtuanya agar anaknya kelak bisa berguna bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Namun sayang nama itu tinggal nama baginya, ia tak mengindahkan namanya sendiri dengan akal sehat dan juga perilakunya. Setidaknya, dari kejadian itu aku bisa mengetahui siapa dan bagaimana Wigunani sebenarnya. Tak perlu menuntut atau mencaci-maki dirinya. Itu hanya akan jadi penyakit.

“Ana? Selamat, karyamu dimuat di koran nasional hari ini. Aku juga sudah membaca novel terbarumu. Novel itu pengalaman pribadi, atau ...” kata Safia lewat telepon. Temanku yang satu ini memang gemar membaca dan mengikuti perkembangan dunia sastra. Tak hanya koran tapi sampai perbukuan pun diikuti terus hingga ia tahu karya siapa saja yang dimuat hari itu, terutama hari Ahad. Tentunya, ia sering kali memberitahukan karya-karyaku jika dimuat di salah satu media massa.

“Terima kasih informasinya. Novel itu hasil rekam jejak orang lain yang kutulis ulang dalam bentuk tulisan. Apakah berkesan?”

“Sangat berkesan sekali. Inspiratif dan luar biasa,” terdengar ia menghela napas dalam-dalam, “Aku ingin sekali bisa sepertimu. Menulis. Hanya saja, aku sering gagal menulis. Aku sudah berusaha, namun belum juga menuai hasil.”

Aku hanya tersenyum mendengarnya. Ucapan itu tak hanya sekali ia lontarkan, namun berulang kali ia katakan ketika meneleponku berikut pemberitahuan tentang karya-karyaku yang ia beli atau dimuat di media massa. Setidaknya ia menjadi pembaca, penggemar, sekaligus informan pribadiku.

“Inilah hidupku. Jalanku tentu tak sama seperti jalanmu. Kamu punya potensi sendiri. Kamu punya kualitas serta kuantitas sendiri. Bukankah dalam hal pengetahuan dan akademis kamu lebih unggul dariku. Tak sebatas itu saja, kamu juga menjadi pemilik sebuah perusahaan ternama di Jakarta. Lalu apa yang kurang? Jadi penulis itu senangnya kalau dikabari dapat royalti atau karyanya terbit, selebihnya masih tetap harus berjuang menghasilkan karya terbaik dan bersaing untuk mempertahankan diri dalam berkarya. Harusnya kamu lebih bersyukur diposisikan seperti sekarang. Demikian halnya denganku, aku harus bersyukur karena sudah diposisikan seperti sekarang.”

Begitulah obrolan demi obrolan yang kami bangun selama ini, selama kami bersahabat. Aku di Yogyakarta, sedangkan ia di Jakarta. Kebetulan dulu ia sekampus, hanya saja ia lulus lebih dulu. Menikah lebih dulu, dan hidup mapan lebih dulu.

Lagi-lagi aku teringat apa yang diucapkan Wigunani padaku, “Sering kali kita merasa pintar dan merasa lebih atau sikap lebih lainnya, namun tak sadar jika kita sering kali terjebak dalam perilaku bodoh yang dibuat sendiri. Serigkali kita menampar wajah sendiri lewat cermin orang lain. Sering kali kalah hanya karena kesalahan yang teramat kecil dan sangat remeh.”

Ya, sekalipun ia telah menciderai perasaanku, namun aku tetap mengingat kata-kata bijaknya. Sekali pun kata-katanya tak sesuai dengan perilakunya, namun aku yakin ia adalah orang baik. Ia hanya melakukan kesalahan kecil yang kemudian berdampak besar, bahkan berdampak buruk, bagi dirinya sendiri.[]

Cerpen ini terhimpun dalam antologi 'CINTA PERTAMA' (Pustaka Puitika: Maret 2015)


Bagikan

You Might Also Like

PEREMPUAN YANG KEHILANGAN CAHAYA
4/ 5
Oleh



Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.