NAK | PERIHAL JIWA KITA

Baca juga artikel ini:

NAK
“NAK, tidurlah! Hari sudah larut malam, mari istirahat sejenak sebelum esok hari memanggil kita lagi. Matahari sudah tertidur dalam timang malam. Tidurlah dengan tenang. Mimpi akan datang menghampirimu dengan sesuatu yang indah atau yang terburuk.”

“Nak, bangunlah! Hari sudah pagi, mari kembali menyusuri waktu dan mari kita berjalan di bawahnya untuk melihat apa yang ditunjukkan pada kita tentang isi segala alam semesta. Jika engkau bermimpi baik, bawalah dan wujudkanlah. Tapi jika engkau bermimpi buruk maka tinggalkanlah, dan jangan diingat-ingat lagi.”

Begitulah seterusnya kami memperlakukanmu sampai engkau dewasa dan menemukan pasangan hidup—entah kelak akan tetap tinggal bersama kami atau memutuskan untuk hidup di rumah sendiri. Mari berterima kasih pada cahaya, sebab keberadaannya membuat kita mampu melihat apa yang disembunyikan oleh kegelapan.

“Nak, maafkan kami karena sudah tidak bisa mengantarmu tidur, atau membangunkanmu lagi seperti dulu—semasa kecilmu. Berbahagialah!”
Yogyakarta, 03 September 2013

PERIHAL JIWA KITA
HAKIKATNYA jiwa itu tenang
dan senantiasa menemu sekaligus bersama kebahagiaan,
hanya saja keinginan tak terkendali itulah
yang kemudian membuatnya ricuh sepanjang waktu.

Rasa tidak tenang bukan berarti jiwa itu kosong,
melainkan karena pikiran yang dipenuhi dengan
beragam keinginan tak segera ada dalam genggaman
hingga membuat jiwa itu lalai bahkan menjauh
dari rasa tenang yang sebenarnya.
Yogyakarta, 03 September 2013

Puisi ini telah dipublikasikan di MAJALAH ANNIDA (15/09/2013)


Bagikan

You Might Also Like

NAK | PERIHAL JIWA KITA
4/ 5
Oleh



Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.