MUKADIMAH | PERAHU KECIL MENUJU HATIMU | KASIDAH BUNGA - Anam Khoirul Anam

MUKADIMAH | PERAHU KECIL MENUJU HATIMU | KASIDAH BUNGA

Author: Anam Khoirul Anam - January 28, 2012
Advertisement

Advertisement

MUKADIMAH
SEHELAI napas terkoyak pada jiwa layu
seperti senja tertunduk wajah sayup
mengalir waktu dalam gemericik arus
yang jatuh menempa rerumput permai
mengeja aksara mukadimah tak tuntas

Dalam gemuruh laut yang mengayun
menerjang lapuk dinding karang bisu
hingga pusaran angin mengikis irama
pada hatimu yang bersenandung pilu
kesendirian jiwa terus melafal segala rupa
tentang segala rasa perasaan tak tersampaikan maksudnya

Bila esok matahari retak di pangkuanmu
tutup celah retaknya dengan bintang pagi
bila ketulusan sepasang hati mengalir deras
bagai Nil yang tak pernah kering dan tandus
hingga selat membelah samudra kesunyian

Dan bila camar memekik merdu kala senja
mari kita segera bergegas menutup pintu
sebab badai akan mengamuk saat terlelap
kelak ketika roh terangkat ke atas langit
biarlah tangan kita saling berjabat erat
dan kita tetap saling berpeluk erat
sampai pada waktu di hadapan sang Cinta
membasuh noda dengan suci air mata

Semoga esok kita tak lagi surut
dalam nestapa hati tiada ujung
dan kita menemu senyum Keabadian.
Yogyakarta, 24 Juni 2011

PERAHU KECIL MENUJU HATIMU
PERAHU kecil yang kudayung arungi malam,
menuju penantian dermaga hati kekasih

Pada satu kehendak hati kuterjang ombak riak
angin laut makin rebut mengejar laju perahu
ketika gayung usang terkikis rintih merenta

Di bawah megah langit kelam
jiwaku berbisik lirih seirama embus angin
memungut kembali riwayat panah cinta
yang melesat di sunyi ruang hatimu
menancap diam seiring waktu berlalu

Dan pada alun suara malam
kita saling menghantarkan rasa
tentang segala yang terpendam
dalam diam penuh gejolak

Barangkali kita perlu membuka kembali
lembar hikayat yang membuat kita lekat
pada jiwa kita yang saling erat terpikat
dalam ruang-ruang kosong
hingga sarat terisi gemuruh rasa
bertabur asmara tak terucap
sebab kelu membungkam lapis dingin bibir kita

Perahu kecil yang kudayung
menuju hatimu, semoga segera sampai
sebelum retak terhantam ombak
sementara menanti, dengarkan lagu cinta
yang kuhantarkan pada satu bintang
agar jemu tak mengusikmu atas penantianmu
bila telah bertemu, dekap rasaku
dan biarkan ia hidup dalam sukmamu
sebab itulah keabadian cintaku padamu
Yogyakarta, 23 Juni 2011

KASIDAH BUNGA
AKU mencintai bunga itu, bunga yang seringkau sebut dengan cinta
yang terus bermekaran dalam taman jiwamu.

Tahukah kau bahwa semerbak aroma wanginya selalu hadir
dalam tiap mimpi yang hinggap dalam imaji-imaji malamku.

Dalam sepi itu, dalam sendiri itu, bahkan dalam kebersamaan itu
masyuk-merasuklah Segala, segala tentang Bunga,
tentang apa yang kita maknai dengan hakikat Cinta.

Lalu, bagaimana mungkin ia akan musnah dalam sekejap,
bak asap yang diterpa semilir angin yang membawa
kabar buruk hingga memporakperandakan panorama bunga
yang senantiasa kita jaga mekar berseri saban waktu,
bila kita tetap kukuh untuk berkonspirasi dalam kemurnian cinta yang tulus?
adakah kau tahu bahwa tiap kali gores mata durinya
membuatku gelisah dalam kepedihan tak terperi.

Maka jangan menghujamkan itu di sela helaan napasku,
sebab itu akan mematahkan sayap cinta yang ingin terus terbang
membawamu ke segala penjuru Nirwana
Yogyakarta, 25 Juni 2011

Puisi ini telah dipublikasikan di KENDARI POS (28/01/2012)
  • Share:

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like

Advertisement

0 comments

Advertisement