HARAPAN TERAKHIR - Anam Khoirul Anam

HARAPAN TERAKHIR

Author: Anam Khoirul Anam - January 15, 2012
Advertisement

Advertisement

HARAPAN TERAKHIR
DIAMLAH sejenak, hai gerak tubuh
jangan gaduh atau membuat bising suara
apakah kau mengira aku lalai padamu?
pandangan ini terus tertuju padamu
walau antara kita tak saling bertemu

Di tempat lain kau menungguku
bahkan dengan penuh harap terpatri di jiwa
kamu pun pergi dan kembali lagi berulang kali
ke tempat yang sama tiap ada waktu untukku
hanya sekadar ingin melihatku dibunuh waktu
namun aku lebih suka berdiri melawan badai
di tempat lain yang jauh beda denganmu
selalu ada ruang kosong membentang
di antara kita dan serasa hampa tanpa isi

Barangkali inilah kekhilafanku atas dirimu
aku berada jauh dalam duniaku sendiri
bahkan semakin keras kau bicara
semakin sedikit aku mendengarmu
aku hanya sibuk dengan duniaku sendiri
walau kutahu ini sama-sama menyakitkan
bagi kita berdua yang tak henti menelisik masa

Kuhela napas dan mengembuskannya
perasaanku kalut bercampur takut
rasa yang hadir tak seperti biasanya
aku bisa mengobatinya walau cukup lama 
namun kali ini aku tak bisa lakukan hal itu
aku butuh dirimu untuk pulihkan segala rasa
katakan padaku bahwa aku telah salah
agar aku bisa tenang bersamamu tanpa dosa
biar canta ini akan tetap berlangsung abadi

Di tempat lain kau menungguku
bahkan dengan penuh harap terpatri di jiwa
kamu pun pergi dan kembali lagi berulang kali
ke tempat yang sama tiap ada waktu untukku
hanya sekadar ingin melihatku dibunuh waktu
namun aku lebih suka berdiri melawan badai
di tempat lain yang jauh beda denganmu
selalu ada ruang kosong membentang
di antara kita dan serasa hampa tanpa isi

Barangkali semua sudah sampai pada batasnya
hingga kau pun tinggalkanku sendiri dalam sunyi
dan kisah kita tak bisa diteruskan sampai usia tua
tak ada lagi, tidak ada kisah seperti dalam mimpi
dan tak seperti yang kita harapkan sebelumnya
barangkali kau sudah menungguku terlalu lama
tanpa sedikit pun kepastian dariku atas harapmu

Kuhela napas dan mengembuskannya
perasaanku kalut bercampur takut
rasa yang hadir tak seperti biasanya
aku bisa mengobatinya walau cukup lama 
namun kali ini aku tak bisa lakukan hal itu
aku butuh dirimu untuk pulihkan segala rasa
katakan padaku bahwa aku telah salah
agar aku bisa tenang bersamamu tanpa dosa
biar canta ini akan tetap berlangsung abadi
Yogyakarta, 24 Oktober 2011

Puisi ini telah dipublikasikan di SUARA PEMBARUAN (15/01/2012)
  • Share:

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like

Advertisement

0 comments

Advertisement