TUJUH - Anam Khoirul Anam

TUJUH

Author: Anam Khoirul Anam - September 19, 2006
Advertisement

Advertisement

Baca Juga

“RUSLI, kamu dipanggil Pak Kiai. Penting! seru Muslih.

“Sekarang?”

“Besok! Ya ... sekarang, lah! Bagaimana sih kamu ini?”

“Ada apa, ya, Lih?” Rusli mencoba cari tahu mengapa diminta segera menghadap Kiai Mahfud.

“Mana saya tahu, Rus. Sudah sana! Sepertinya Pak Kiai sudah menunggu.” Karena tidak menerima pesan lain, Muslih hanya menyampaikan pesan saja, tak lebih.

Setelah merapikan diri, Rusli segera menuju kediaman Pak Kiai.

“Ada apa saya dipanggil, Pak Kiai?”

“Sesok awakmu tak jaluki tulung ngajar qiraah neng pondoke Gus Mualim, yo?!”

Rusli mangut.

“Eh, malah melamun ...”

“Ma ... maaf, Pak Kiai.” sahut Rusli, terperanjat.

“Iso ora, Rus?”

“Insya Allah, saget.” jawab Rusli, spontan.

Mendengar kesanggupan yang diberikan oleh Rusli, Pak Kiai memanggil putrinya, “Fatimah ... keluarlah sebentar, Nduk!”

Tak lama kemudian kelarlah dari dalam ruangan yang diberi tabir seorang gadis belia berbusana ungu serta berparas cantik.

“Nduk, tolong antarkan Rusli ke tempat Gus Mualim, ya!”

Gadis itu hanya mengangguk, mengiyakan seruan dari Abanya.

“Iki putriku sing mondok neng pesantren Tri Murti—sing wes tak ceritakake biyen, Rus. Dia baru pulang kemarin ...”

Penuh sahaja mata Pak Kiai menatap putrinya yang duduk bersimpuh di samping kanan. Putrinya menundukkan pandangan, barangkali menahan rasa malu.

“Nduk, iki Rusli santrine Aba sing agi telung wulan mondok neng kene.”

Putri Kiai Mahfud hanya tersipu sambil sesekali curi pandang pada Rusli. Begitu pula dengan Rusli, tampak sesekali curi pandang pada Fatimah.

“Maaf, Pak Kiai. Kalau boleh tahu mengapa memilih saya sebagai ustaz yang mengajar qiraah?” tanya Rusli—sebenarnya hanya ingin menolak.

“Aku namung jajal ae. Lagian awakmu rak, yo, iso ngajar qiraah, toh? Ora ono salahe, toh, yen ngamalke ilmu nek pancen iso?”

Sekakmat!

Beberapa waktu lalu, Rusli memang menjadi qari pada acara haul mendiang kiai Salih—ayah Kiai Mahfud. Ia begitu fasih mentartilkan ayat-ayat Alquran. Suaranya yang lembut dan merdu membuat semua hadirin terkesima. Perlu diketahui pula bahwa di kampung kelahirannya, Rusli sering diundang sebagai qari di acara-acara tertentu. Bahkan ia juga dipercaya menjadi takmir masjid sebelum memutuskan mondok di Jombang. Tak berhenti sampai di situ, semasa di pondok Jombang, ia sempat menjadi juara pertama tingkat provinsi. Beberapa santri sangat menyayangkan kepindahannya dari pondok Jombang. Tapi apalah daya jika ia memang ingin pindah pondok pesantren?

“Aku tahu kamu mempunyai kemampuan di bidang itu. Maka dari itulah aku memilihmu untuk menjadi pengganti ustaz yang selama ini mengajar di pondok Gus Mualim. Kabar yang kudengar, ustaz yang selama ini mengajar sudah pulang kampung. Selain itu ia juga mau menikah, kemungkinan besar ia tidak kembali mengajar.”

Rusli mangut mendengar penuturan Pak Kiai. Ia juga enggan berkomentar.

“Kemarin sore, Gus Mualim datang kemari menanyakan sekaligus mencari seseorang yang kira-kira bisa mengajar qariah. Itulah kenapa aku memanggilmu kemari, Rus.”

Rusli hanya duduk diam di tempatnya.

“Kebetulan Fatimah baru pulang dari pondok, biar kamu diantar ke sana. Toh, kalau kamu masuk sendirian tentu tidak diizinkan. Bukankah menjadi sangat tabu seorang santri masuk ke asrama putri sendirian? Mangkane kanggo jogo-jogo prasangka sing ora-ora, mulo iku aku ngakon Fatimah ngeterke awakmu. Sak orane Fatimah, yo, uwis kenal lan dikenal wong kono,” terang Kiai Mahfud.

Inilah yang membuat Rusli merasa agak terganggu. Sebenarnya, ia sudah sering kali datang ke sana, meski lewat lelaku ngerogoh sukmo. Dilema. Debar di dada mulai kencang. Ia tak bisa membayangkan setelah bertemu langsung dengan gadis yang selama ini ‘menemani’ malam-malam penuh syahdu itu. Apa boleh buat, sebab tak ada pilihan selain menjalankan permintaan Pak Kiai tersebut. Ia tak mengira jika akhirnya benar-benar masuk ruang asrama putri dengan jasad utuh, bukan dengan menggunakan ilmu ngerogoh sukmo.

Meski canggung, Rusli tetap menerima tawaran mengajar di pondok Gus Mualim. Tentu saja hal itu menjadi kehormatan tersendiri baginya, selain itu juga menjadi sebuah kebanggaan bila mendapat kepercayaan dari seorang kiai yang begitu ia kagumi, hormati dan segani. Dari lubuk hati, Rusli bertanya-tanya soal alasan ia dipilih sebagai guru pengganti di asrama putri milik Gus Mualim. Jika mau jujur dan koreksi diri, Rusli masih banyak kekurangan bahkan masih kalah dibandingkan para seniornya. Bukankah masih ada si Syarif yang juga memiliki kualitas suara di atas rata-rata para santri? Bukankah si Ahmad juga demikian, malah pernah menjuarai qiraah tingkat nasional? Entahlah? Barangkali Pak Kiai memiliki penilaian tersendiri.

Di kalangan santri, mendapat kepercayaan atau tugas dari kiai sungguh merupakan prestise tersendiri. Pasalnya, tidak semua santri mendapatkan.

“Jika tidak ada keperluan lain, sekarang pun kamu bisa ke sana bersama Fatimah.” ujar Pak Kiai sembari menoleh ke arah Fatimah. “Biar nanti Gus Mualim yang menjelaskan. Setidaknya kamu silaturahmi terlebih dulu sebelum mengajar. Jika sudah sampai di sana, sampaikan salamku untuk beliau.”

Fatimah segera berbenah guna mengantar Rusli ke pondok Gus Mualim.

Selama perjalanan menuju pondok Gus Mualim, antara Rusli dan Fatimah hanya bicara seperlunya saja. Kian dekat langkah kaki, debar jantung Rusli makin tak keruan.

“Itu rumah Gus Mualim,” kata Fatimah sembari menunjuk ke sebuah rumah yang sangat megah.

Rusli hanya mengangguk.

“Maaf, kami mau bertemu Gus Mualim,” kata Fatimah pada penjaga gerbang.

“Ya. Kebetulan beliau baru pulang dari ziarah. Silakan masuk, Ning!”

“Terima kasih, Pak.”

“Sama-sama, Ning.”

Setelah portal dibuka, Rusli dan Fatimah berjalan menuju ruang tamu dengan diantar oleh penjaga gerbang.

“Assalamualaikum.” uluk salam dari keduanya di depan gawang pintu terbuat dari kayu jati dan berukir kaligrafi kuno.

Dari dalam ruang terdengar jawaban salam, “Waalaikum salam.” Tak lama kemudian dari balik tirai yang menutup sebagian daun pintu muncul seorang lelaki—tak lain adalah Gus Mualim—berjubah putih dan mengenakan udeng di kepala.

“O, kamu toh, Fat. Mari ... silakan masuk! Mari ... mari, Nak! Silakan duduk!” pinta Gus Mualim. Terasa ramah Gus Mualim mempersilakan tamunya masuk sekaligus meminta duduk. “Ada angin apa hingga membaut kalian berkenan singgah di gubuk sederhana ini?” lanjutnya.

“Saya kemari diutus Aba untuk mengantar Rusli, Gus.”

Gus Mualim menoleh ke arah Rusli.

“Ya, Gus. Saya diutus Pak Kiai untuk menemui Panjenengan. Kata beliau, kemarin Panjenengan silaturahmi ke sana dan ada keperluan,” sela Rusli.

Entah mengapa Rusli merasa waswas di rumah itu. Ia merasa cemas kalau-kalau Gus Mualim mengetahui perilakunya yang saban malam masuk ke salah satu kamar santriwatinya lewat ilmu ngerogoh sukmo. Semoga saja tidak!

“Ya, benar. Aku memang ke sana kemarin. Selain silaturahmi, aku juga ingin cari pengganti ustaz qariah. Ustaz yang lama sudah boyongan. Ia pulang kampung, mau nikah dan mungkin tidak kembali lagi.” terangnya. “Katanya sudah kebelet nikah—mau cepat-cepat punya istri.” kelakarnya sembari mempersilakan minum atau makan penganan yang sudah tersaji di atas meja.

Rusli dan Fatimah sama-sama tersenyum menimpali kelakar tersebut. “Ah, Gus ini bisa saja,” timpal Rusli.

“Ngomong-ngomong, apakah sudah ada yang mau menggantikan?”

“Ya, Gus. Insya Allah, sudah ada ...” sahut Fatimah.

“Siapa?”

“Insya Allah, kula (saya), Gus.” jawab Rusli, canggung.

“Oh, sampai lupa tanya nama. Namanya siapa?”

“Saya Rusli, Gus.”

“Asli mana?”

“Saya dari Kedungwangi—Jawa Timur.”

Setelah mendengar itu, Gus Mualim menjabarkan segala hal yang berkaitan dengan taalamul qura yang selama ini sudah berjalan. Lagi-lagi, Rusli merasa ada desir waswas dalam dirinya, meski tak terlihat sikap curiga terpancar dari tatap mata Gus Mualim. Semakin lama ia duduk di rumah itu, ia makin khawatir.

“Kamu bisa mulai mengajar besok. Seperti biasa, qiraah dilakukan tiap malam Selasa. Jadi, kamu bisa mulai besok.”

“Insya Allah, Gus.” jawab Rusli.

Berhubung sudah sore dan dirasa sudah cukup, Rusli dan Fatimah pamit pulang.

“Wah, kok buru-buru. Maaf kalau tidak sempat menyuguhi apa-apa buat kalian—hanya kudapan seadanya.”

“Tidak apa-apa, Gus. Ini sudah lebih dari cukup. Terima kasih sudah menjamu kami.” timpal Fatimah.

“Sampaikan salamku pada Abamu, ya, Fat!”

“Ya, Gus. Kami pamit dulu.”

“Ya. Hati-hati!” jawab Gus Mualim. “Ngomong-ngomong, kalian berdua tampak serasi,” goda Gus Mualim.

Sontak Rusli dan Fatimah tersipu seraya menundukkan pandangan masing-masing.

Matahari menggelincir ke ufuk barat. Deret awan yang berjalan lambat sejenak menghalangi pancaran cahaya ke hamparan bumi. Redup. Terang.

“Kapan kamu berangkan ke pondok, Fat?”

“Mungkin Ahad depan. Kenapa?”

“Ah, enggak apa-apa. Cuma tanya. Dalam sebulan berapa kali pulang ke rumah?”

“Enggak pasti. Biasanya dua bulan sekali.”

Setiba di pekarangan rumah Kiai Mahfud, keduanya saling pamitan. Berpisah. Sebelum masuk rumah, Fatimah melepas pandangan ke arah Rusli yang hendak menuju asrama. Ia pun segera bersiap jemput seruan azan yang beberapa menit lagi dikumandangkan. 

Magrib menjelang. Raut bumi berangsur temaram. Kerik mulai bermunculan, menandakan serdadu malam mualim berdatangan. Suara tahmid menyeruak ke angkasa. Segala arus rindu deras mengalir ke palung nan Agung. Segala puji merapal, “Ya ... Ilahi. Ya ... Kahar. Ya ... Samad.”

Semua takzim. Berserah diri pada Ilahi.

*** 
“BAGAIMANA tanggapan Gus Mualim, Rus?”

“Alhamdulillah, beliau setuju. Insya Allah, besok malam saya bisa mulai mengajar qiraah di sana.”

“Alhamdulillah jika sudah diizinkan.”

Kiai Mahfud kembali melanjutkan bacaan kitab Ihya Ulumudin. Para santri menyimak sembari membubuhkan pegon di tiap kata yang sudah disampaikan. Tiap penggal kata, Pak Kiai langsung memberikan penjelasan secara gamblang sehingga para santri mudah menyerap sekaligus memahami maksudnya. Pola ajar kitab di pondok memang lebih banyak menggunakan dialek Jawa, meski tak mengenyampingkan bahasa Indonesia. Artinya, tiap kali kiai mengajar, bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Jawa.

Bagi santri yang berasal dari luar Jawa, memang akan mengalami kendala dalam hal terjemahan tiap kata yang diterima. Kendala tersebut setidaknya bisa teratasi secara sendirinya, namun bagi yang benar-benar tak paham akan bertanya pada rekan sebelah—tentunya yang berasal dari Jawa. Meski demikian adanya namun tak saling ganggu konsentrasi maupun proses belajar. Bagi santri luar Jawa akan mengikuti pelan-pelan sekaligus memaknai, jika ada pertanyaan—selain bertanya pada sesama santri—mereka pasti bertanya langsung pada Pak Kiai. Adaptasi inilah yang terus dibangun hingga lambat laun para santri asal luar Jawa terbiasa dan mampu berdialog dengan bahasa Jawa.

Berhubung Pak Kiai kedatangan tamu, untuk sementara waktu proses mengaji dijeda.

SUATU hari ketika istirahat mengaji ....

“Fid, apa arti ‘telong wulan’ itu?” tanya Habib, santri asal Pontianak yang baru sepekan mondok.

Mufid yang duduk di sampingnya menjelaskan, “Artinya, ‘tiga bulan’. Memangnya kamu belum tahu, ya?”

Habib hanya melongo mendengar penjelasan dari Mufid. Kebetulan ia juga merupakan santri baru. Ia juga masih belum banyak menguasai bahasa Jawa meskipun sudah 6 bulan mondok. Ia menggerutu, “Susah juga memahami bahasa Jawa. Apalagi bahasa apa itu ... kromo ... kromo, apa sih namanya, kromo inggil, ya?”

“Ya ... kromo inggil,” sahut Mufid. “Itu masih mending. ‘Telong wulan’ masih tergolong tingkat bahasa ngoko. Masih ada tingkatan lebih halus lagi, yakni kromo inggil. Tingkatan ini tentu lebih sulit dipahami dibandingkan tingkatan bahasa di bawahnya,” terang Mufid.

“Ah, macam apa pula itu?” sergah Togar.

Dengan sabar dan telaten Mufid menjelaskan apa yang dirisaukan oleh Habib beserta beberapa santri yang sedari tadi sudah nimbrung di sekitarnya. Satu per satu Mufid mengupas tingkat-tingkat bahasa Jawa. Secara rinci pula ia memberi contoh sesuai dengan tingkatannya.

“Wah, banyak sekali tingkatan bahasa Jawa, sampai harus dibeda-bedakan segala ...” kata Habib sambil garuk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal. “Apa nanti tidak kebingungan saat mengucapkan?” lanjutnya, masih dengan ekspresi sama. Garuk kepala yang tidak gatal.

“Tidak. Malah mudah sekali. Selama kita tahu dan asal mampu memosisikan diri terhadap siapa lawan yang diajak bicara, hal itu akan mengurai kesulitan yang sedang dihada ....


NB: Cerita selengkapnya bisa dibaca dalam versi buku atau cetak.
  • Share:

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like

Advertisement

0 comments

Advertisement