TIGA - Anam Khoirul Anam

TIGA

Author: Anam Khoirul Anam - September 19, 2006
Advertisement

Advertisement


SEHABIS menunaikan salat Magrib secara berjamaah di masjid jami’ ‘Al-Munir’ bersama para santri dan juga para ustaz-ustazah yang diimami oleh Kiai Mahfud. Atas permintaan atau wejangan Kiai, ia langsung sowan, menghadap, ke Ndalem untuk menceritakan kisahnya yang tertunda sebelum salat Ashar tadi.

“Selama mondok di tempat Kiai Muhsin, kamu mengaji apa saja, Rus?” tanya Kiai Mahfud sembari menyeruput kopi dari cangkir.

“Karena saya baru beberapa bulan mondok di sana, jadi baru sedikit mengikuti kegiatan mengaji. Saya baru mengaji kitab Jurumiyah dan beberapa kitab kuning lainnya, pak Yai.”

“Oh, tidak apa-apa. Yang penting mengerti—syukur-syukur paham. Sekarang santri Kiai Muhsin ada berapa?”

“Kurang lebih ada seratus lima puluh orang, Kiai.”

“Alhamdulillah, cukup banyak santrinya,” Sekilas ada rona bahagia terpancar dari raut wajah Kiai Mahfud mendengar hal itu.

Di ruang itu hanya ada Rusli dan Kiai Mahfud yang sedang bercengkerama. Meski dari dalam terdengar suara bu Nyai, tetap saja itu hanya berupa suara tanpa disertai dengan wujud raganya karena terhalang oleh tabir atau dinding. Di hadapan Rusli telah tersedia beberapa makanan kecil dan juga segelas teh hangat, sepertinya baru diseduh dan sengaja disediakan sebelum ia datang bertamu. Pasalnya makanan kecil yang sebelumnya disuguhkan sudah diganti dengan yang baru. Dari mulut gelas tampak kepulan asap tipis menandakan kalau minuman itu masih panas.

“Ayo, disambi makan. Silakan!” pinta Kiai Mahfud. “Itu pisang yang baru dipetik tadi. Kebetulan ada beberapa pohon yang siap panen. Singkongnya juga baru diambil dari kebun belakang,” terangnya.

“Ya, pak Yai.” Sedikit sungkan Rusli mengambil singkong goreng. Sembari bercerita, Rusli mencicipi makanan ringan yang ada di hadapannya. Lezat.

“Sekarang putra Kiai Muhsin ada berapa?”

“Lima orang, Kiai. Yang tiga laki-laki, dan dua perempuan.”

“Ah, Kiai Muhsin. Beliau itu sewaktu muda dulu sangat jago merayu wanita. Wanita mana yang tak takluk hati jika mendapat rayuan darinya. Selain ganteng dan gagah, beliau dulu juga jadi idola se-pondok. Kami dulu sama-sama mondok di pesantren Ki Ageng Panembahan,” Kiai Mahfud meng ....




NB: Cerita selengkapnya bisa dibaca dalam versi buku atau cetak.
  • Share:

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like

Advertisement

0 comments

Advertisement