SEMBILAN BELAS

Baca juga artikel ini:

HARI ini semua telah menjadi saksi atas pertemuan cinta serta rindu yang sekian lama terhalang oleh ruang dan waktu. Apa yang semual meredup, kini mulai merekahkan cahaya. Segala yang dulu membentang pun luluh lantak dalam sekejap. Sungguh betapa dua sejoli itu kini bertabur bunga-bunga dalam jiwanya. Cinta yang dulu sebatas angan, kini jadi kenyataan. Getir yang dulu sering kali hadir telah menyingkir—bahkan tergantikan oleh desir manis sepanjang waktu bergulir.

Di hadapan Kiai Mahfud dan Gus Mualim, Rusli mempersunting Sukma. Hari itu Rusli mengucapkan ijab kabul untuk Sukma. Setalah dinyatakan sah, Rusli dan Sukma saling berpeluk melepas rindu di jiwa. Keduanya saling tersedu-sedu. Derai air mata tak tertahan lagi. Ada sesuatu yang begitu menohok rongga dada. Pertemuan kembali dua hati yang lama terpisah melahirkan kedahsyatan cinta. Luap yang begitu hebat membuat dua sejoli itu pun pingsan.

Tentu saja hal itu membuat para tamu—terutama Kiai Mahfud dan Gus Mualim—tampak panik. Mereka lantas mencari cara agar Rusli dan Sukma segera siuman.

Sepanjang usia Kiai Mahfud dan Gus Mualim, baru kali ini mereka menyaksikan betapa dahsyat kekuatan cinta mempertemukan dua hati. Sangat beda jauh ketika melihat pertalian cinta hanya karena berahi atau ambisi tertentu. Apa yang tampak hanyalah hampa. Lebih ironis lagi bila cinta sekadar pelampiasan berahi. Senang, kencan, ditinggalkan.

Hari ini Rusli telah resmi menjadi suami Sukma. Ia telah melaksanakan wasiat almarhum istri pertamanya, Fatimah, untuk menikahi Sukma. Begitu pula dengan Sukma yang secara langsung diminta oleh Fatimah—satu jam sebelum mengembuskan napas terakhir pasca melahirkan—agar bersedia menjadi istri Rusli.

“Maafkan aku Sukma!” ucap Rusli sembari terus memeluk erat istrinya.

“Aku juga minta maaf, Mas ...”

“Maaf jika aku telah mengecewakanmu. Aku telah mengkhianatimu, Sukma.”

“Ya, Mas. Dari awal aku sudah memaafkanmu. Aku ikhlas menerima semua yang sudah terjadi. Kupikir ... mungkin jalan kita harus begini. Awalnya memang terasa berat, lambat laun aku terus mencoba dan berharap bisa bersamamu lagi—walau entah apakah hal itu pasti terjadi atau bahkan tidak sama sekali. Aku juga yakin jika pilihan Mas saat itu membuat hidup lebih bahagia, aku juga turut merasa bahagia. Segalanya kulakukan demi membuktikan bahwa aku benar-benar mencintaimu secara tulus. Bukankah dulu Mas pernah bilang bahwa dalam cinta pasti ada ujian? Aku masih ingat betul apa yang Mas katakan padaku, “Bila kita mampu melampaui batas ujian cinta, maka kebahagiaan yang kita dapatkan walau ada pedih dan perih di dalamnya.” Sebagian besar apa yang telah Mas katakan padaku masih kuingat dengan jelas. Bermula dari itu pula kucoba bertahan, sabar dan setia menghadapi semuanya. Kurelakan jiwa ini terluka demi cinta kita, Mas. ”

“Oh ... aku benar-benar berdosa padamu, Sukma. Justru aku yang rapuh selama ini. Justru aku yang ingkar pada kata-kataku sendiri. Sungguh ... maafkanlah aku, istriku.”

“Sudahlah, Mas! Apa yang telah terjadi biarlah terjadi. Sekarang mari bina rumah tangga kita dengan sebaik-baiknya. Mari rawat Rumi dan anak-anak kita secara baik agar kelak jadi anak saleh.”

Sangat manusiawi ketika kali pertama Sukma mendengar bahwa Rusli akan menikah dengan orang lain, Fatimah. Jalinan cinta yang tumbuh terasa porak-poranda. Ada rasa yang terkoyak di dalam dada. Hampir kesadaran terlepas, namun Sukma masih punya iman. Ia masih menggunakan akal sehatnya ketika menghadapi kenyataan tersebut. Cinta memang butuh ketulusan dan pengorbanan. Tak sekadar janji manis, belaian atau buaian semata. Ia tetap mengedepankan pikiran positif walau seluruh rasa tercabik-cabik. Kesedihan memang membuat tubuhnya lemah, tapi ia tak menyerah. Untuk sementara waktu seluruh energinya memang terkuras dan sering menyisakan nyeri di dada.

Pedih perih di dalam bantin membawanya pada petualangan spiritual luar biasa. Nikmat tapi juga perih. Kepedihan dan air mata membawanya pada moksa hakiki. Detik demi detik ia petik hikmah. Berjalan pada keheningan makrifat agar seluruh hidup sampai pada hakikat. Ia benar-benar merasakan nikmat cinta setelah menyerahkan seluruhnya pada Sang Pencipta.

Kini, segala pergulatan batin yang dulu mendera telah berbuah kebahagiaan teramat manis. Tiap embus napas melafalkan nada surgawi. Sentuh yang dulu sebatas angan, kita benar-benar nyata di depan mata. Tak ada lagi rahasia tersembunyi di antara dua insan yang kini berada di bawah naungan suci pernikahan. Benih cinta yang dulu tersemai di taman asmara pun mulai berkecambah dan menampakkan tanda-tanda kehidupan. Tiap bisik dan ucap membawa roh trbang tinggi arungi semesta.

Siapa yang mampu mencegah bila janji suci telah terpatri dalam hati? Getir manis hidup memang harus dihadapi, namun tanpa sentuhan cinta, hidup ibarat makan tanpa bisa menikmati kelezatannya. Hanya dikunyah, masuk ke dalam perut, lalu berubah jadi kotoran.

Rusli kini telah mendapatkan kembali cahaya cinta yang dulu nyaris padam. Ia tampak bahagia menjalani hidup bersama Sukma dan juga putranya, Rumi. Penuh kasih Sukma merawat Rumi yang masih berusia 3 bulan. Meski tak lahir dari rahimnya, Rumi adalah anak ....


NB: Cerita selengkapnya bisa dibaca dalam versi buku atau cetak.


Bagikan

You Might Also Like

SEMBILAN BELAS
4/ 5
Oleh



Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.