SATU - Anam Khoirul Anam

SATU

Author: Anam Khoirul Anam - September 19, 2006
Advertisement

Advertisement


Pahamilah ini dengan cinta! Karena dengan cinta kau akan memahami rahasia yang tersimpan di kedalaman hati. Ketika ia merasuk, bersemayam di kalbu, mencoba satukan rasamu dengannya—sejauh yang tak bisa kau sentuh, lazimnya kau melihat merpati berkepak di antara hitam-putih hamparan langit biru untuk mengantarkan risalah cinta bagimu—seperti halnya kau memahami akan dirimu sendiri yang berjalan begitu jauh menukik di relung sunyi demi menafakuri fase hidup sarat ragam tanya—ikutilah nada cinta yang teralun dari dawai-dawai para dewa-dewi cinta yang akan menuntun jejak langkahmu menuju dekap hangat nan mesra dari sang Kekasih di penghujung napasmu menuju tempat di mana Ia bertakhta dalam keabadianNya.


***
SENJA begitu sayu di balik lipatan kabut. Suasana Kampung Kuning tampak remang dan lengang, meski surya belum tenggelam penuh di ufuk barat. Ia masih membiaskan warna-warna memesona, sedemikian teduh, seolah memandikan jiwa yang dikerumuni sunyi. Ketakjuban hati memancar lewat palung jiwa di antara celah lanskap kian tirus, berurai sendu. Sayangnya apa yang terejawantah hari ini segera musnah seiring waktu dan menjadi jejak kenang di masa-masa mendatang. Kicau burung yang hinggap di atas dahan nan landai meriuhkan suasana, semakin cerialah lagu pagi yang diantarkan mistikus cinta bagi semesta.

Tiap kali pergantian waktu, di ambang senja, langit tampak mendung sembab, mengurai rona-rona jingga. Seolah mengisyaratkan lagu kesedihan seorang kekasih yang ditinggal pergi belahan jiwanya. Kabut hitam putih menyelimuti perbukitan yang menyembul di antara celah–celah ranting pepohonan. Gerimis turun berlarik–larik dari langit, seperti sekawanan anak panah yang dihujamkan ke hamparan bumi. Dentumnya membentuk orkestrasi ritmik membelai jiwa yang di balut rindu. Wangi tanah yang berbaur dengan rembesan air hujan terasa hangat merasuki rongga hidung. Menyusup ke dalam jantung yang berdegup seirama detik jam di dinding. Kehadirannya pun menggelitiki rasa dingin di kalbu. Nuansa sejuk memandikan panorama di sepanjang mata menebar.

Kala surup menjelang, dari lorong jauh terdengar sayup dan lirih suara orang-orang mengaji di surau-surau. Hening, bening seperti embun yang ingin menetes dari kuncup bunga. Suara itu begitu syahdu menusuk gendang-gendang telinga penduduk kampung sekitar. Damai. Sungguh betapa jiwa begitu betah untuk berlama-lama berdiam diri di dalam suasana itu, walau hanya sekadar singgah.

Warna merah yang terpancar dari rona matahari kian memperteduh suasana setelah hujan mereda. Elok, asri serta bestari bagi jiwa yang tetap berakal. Warna jingga yang memendar pada gemericik air, melurupi hamparan danau, bak kristal tertempa cahaya. Ketakjuban hati iringi imaji terbang arungi seluruh dimensi. Sungguh pukauan yang tak mungkin terlukis dengan tinta sebelanga. Subhanallah! Karunia-Mu sungguh sangat indah. Tinta selaut, bahkan jika tujuh lautan terkumpul manjadi satu, takkan mampu menuliskannya. Keindahan yang termanifestasikan dari Sang Mahasempurna. Sungguh, karunia yang Engkau titiskan pada keindahan, yang menyelubung pada ceruk bumi nan permai, membuat hidup bagai ruang-ruang mistis yang takkan pernah mampu diungkap oleh keterbatasan akal atau nalar makhluk-Mu. Mahabesar Engkau dengan segala Kekuasaan-Mu. Tiada yang lain bahkan takkan mampu menandingi-Mu.

Jauh di balik semua itu, alam raya bertasbih pada-Mu, memuji segala keagungan-Mu. Burung-burung, kelelawar, atau kupu-kupu yang beterbangan di bawah jagat biru bertasbih dengan nada merdu mensyukuri atas segala anugerah-Mu. Paruh yang tirus melafalkan madah-madah seraya mengepak-kepak sayapnya. Gemericik air yang meliuk di atas permukaan sungai menyenandungkan asma-asma-Mu, memantulkan bias cahaya kemuliaan-Mu, seolah menunjukkan pada semesta bahwa keberadaanya adalah bagian dari kuasa-Mu. Batu-batu yang mengeram di antara arus air menyungkur-sujudkan wajah hingga terbenam ke bumi, menikmati arus lembut air yang mengalir menuju hamparan samudra. Bentang laut pun tak luput menegadahkan wajah menatapi tiap langit-langit-Mu yang megah seraya berzikir sebagai bentuk penghambaan terhadap-Mu. Gunung. Lembah. Semuanya memanjatkan syukur pada-Mu. Mencoba mengabdi dan taat terhadap segala perintah dan menjauhi segala yang Kau larang. Duhai Rabb, keangkuhan seperti apa yang mampu melukai cinta kami pada-Mu, sehingga kelalaian ini memalingkan wajah dari hadap-Mu?

Anak-anak kecil yang sedari tadi bermain dengan ceria dalam dunia imaji, serempak berhenti dan memenuhi seruan suci dari surau yang biasa mereka jadikan tempat menimba ilmu agama. Tetap dengan rona ceria, mereka ingin menghabiskan sedikit sisa waktu bermain bersama rekan sebaya sebelum kembali ke rumah masing-masing. Sebelum berangkat mengaji, terlebih dahulu mereka membersihkan diri dari keringat dengan air yang mengalir dari mata air pegunungan. Tiap mata air mengalir tenang, meski agak sedikit keruh karena bercampur lumpur pematang-pematang sawah sehabis digarap untuk ditanami padi, bagi mereka bukanlah sesuatu yang menjijikkan atau menjadi sebuah permasalahan karena bagi mereka hal itu telah cukup untuk dijadikan mediasi bersuci dari kotoran. Bersama-sama mereka bercanda, memercikkan air pada wajah temannya yang masih tampak polos dan lugu. Sejenak mereka ingin lepaskan segala lelah, peluh dan penat sehabis bermain bersama arus air yang mengalir menuju samudra nun jauh. Dengan bertelanjang dada dan secara bergantian mereka berkidung di sepanjang jalan kerikil, bahkan tanpa disadari kerikil tajam itu telah menohok telapak kaki polos mereka walau tanpa ada luka. Seraya berlari-larian kecil mereka melafalkan nyanyian ‘Anak Desa’ menuju rumah masing-masing. Pakaian kotor telah dilucuti dan berganti baju koko baru—warisan Hari Raya Idulfitri beberapa bulan lewat. Mereka pun kembali berkumpul dengan teman sepermainan di sebuah musala guna mengkaji jilid demi jilid iqra’ yang merupakan langkah awal bagi mereka dalam memahami huruf-huruf hijaiah. Secara bergiliran mereka mengeja huruf-huruf tersebut di hadapan sang Ustaz. Ada yang sudah lancar, namun tak sedikit pula yang masih terbata-bata ketika mengeja. Belajar dan terus mengkaji merupakan metode bagi mereka lakukan agar tidak buta terhadap aksara arab—utamanya agar mereka mampu memahami, atau bahkan menafsirkan walau belum utuh. Ketika malam telah merayap dan berangsur larut, mereka menjeda atau mengakhiri mengaji sebelum benar-benar mengkhatamkannya, kemudian melanjutkannya esok hari. Begitu seterusnya sampai pada waktu mereka beranak pinak dan mewariskan tradisi luhur itu pada generasi mendatang.

Seperti biasa, dan memang sudah menjadi adat kebiasaan bagi penduduk yang tinggal di Kampung Kuning, saat sore menjelang, mereka berbondong-bondong, berduyun-duyun tanpa komando, menuju musala-musala atau masjid-masjid, yang menurut hati kecil paling dikehendaki dan disukai. Sungguh nuansa semacam ini sangat menyenangkan hati. Menggugah jiwa yang ingin berpaling dari Sang Rupawan. Namun entah mengapa, kebanyakan dari mereka lebih memilih musala atau langgar daripada masjid. Bukan persoalan jarak, bukan pula karena konstruk bangunan, akan tetapi hal itu lebih pada kehendak hati tiap warga.
Di Kampung Kuning, masjid hanya dijadikan sebagai tempat ibadah sentral; seperti salat Jumat ataupun salat pada dua Hari Raya. Sementara, untuk jamaah salat lima waktu, masyarakat lebih memilih untuk meramaikan musala masing-masing. Apa yang terjadi sedikit pun tak menyurutkan kemeriahan para warga untuk meramaikan ‘rumah Allah’ yang dijaga, dimuliakan, dan disucikan tersebut. Kendati demikian, masjid juga sering dipergunakan sebagai tempat uruk-rembuk mengenai masalah-masalah desa, utamanya pada malam hari. Selain itu, masjid juga digunakan atau difungsikan sebagai tempat memperingati ritus-ritus keagamaan lainnya seperti mauludan, malam 1 Suro (malam 1 Muharam), dan atau peringatan hari-hari besar Islam lainnya.

Bagi penduduk Kampung Kuning, mengaji merupakan kebutuhan pokok rohani mereka setiap hari. Hal ini mereka jadikan sebagai usaha untuk menyeimbangkan antara urusan duniawi dan amal akhirat. Biasanya, sehabis salat, mereka selalu menyempatkan diri untuk membaca ayat-ayat suci meski hanya beberapa ruku’ atau ayat saja—bagi mereka yang telah khatam kitab Iqra. Namun bagi mereka yang telah fasih dalam melafalkan ayat-ayat suci, jika berkehendak, akan meluangkan waktu untuk sema’an guna lebih memperdalam pemahaman mereka terhadap keindahan, misteri luar biasa serta makna tersembunyi dari Alquran yang merupakan firman Allah Swt., sebagai petunjuk serta pedoman hidup bagi semesta alam. Ada juga yang mencari kesejukan hati dengan berzikir, menyebut asma-asma Allah dalam tiap detik-waktunya, dalam hati atau pun secara pengucapan lisan.

Bagi mereka yang nyantri atau tinggal di dunia pesantren, mereka akan melanjutkan pelajaran mereka dengan mengaji bermacam-macam kitab kuning. Kegiatan mengaji kitab kuning biasanya dilakukan bakda Magrib menjelang Isya—juga sehabis Subuh. Kegiatan ini juga dimaksudkan sebagai penyeimbang antara pendidikan agama dan pendidikan umum dari sekolah-sekolah formal. Kalau dalam pendidikan formal (umum) mereka yang menuntut ilmu disebut dengan siswa, maka di dunia pesantren mereka disebut sebagai santri.

Inilah perbedaan yang bisa dilihat antara pendidikan formal dengan pendidikan pesantren. Jika dalam pendidikan sekolah cenderung menonjolkan muatan-muatan ilmu umum (amiyyah) maka di dalam pondok pesantren adalah sebaliknya yakni ilmu agama (diniyyah). Metode pengajarannya pun berbeda. Kalau di sekolah umum diajarkan berdasarkan pada kurikulum yang ditetapkan oleh lembaga atau instansi terkait. Namun tidak demikian halnya dengan di pesantren. Metode pengajaran di pesantren lebih menekankan, menitikberatkan, dan mengharuskan para santri untuk mengkhatamkan kitab yang sedang dikaji, satu per satu, sehingga kajian yang dilakukan tidak melompat dari satu sumber ke sumber lainnya. Diawali dari kitab-kitab ringan beranjak ke kitab yang berat kajiannya. Biasanya metode panyampaian di pesantren adalah dengan cara sorogan dan atau dengan cara bandongan.

Kebanyakan mereka—para santri—mengkaji banyak kitab-kitab kuning seperti Matan al-Jurumiyyah, Alfiyyah, al-Umm, Ta’lim al-Muta’allim, Bidayat al-Hidayat, al-Amriti, dan masih banyak lagi kitab-kitab kuning lainnya yang digunakan atau dijadikan sebagai bahan kajian keilmuan bagi para santri. Kajian keilmuan itu sendiri juga beraneka ragam di antara kitab-kitab tersebut adalah Nahwu, Saraf, Fikih, Usul Fikih, dan kajian kitab klasik lain sebagainya. Hal ini bertujuan agar bisa melaksanakan syariat agama dan bagaimana harusnya Islam itu dijalankan sesuai dengan tuntunan yang lurus dan benar, setidaknya hal ini bisa dijadikan sebagai mediasi sekaligus kontrol sosial secara individu maupun universal. Tentu saja dengan adanya hal itu akan memberi pencerahan tentang bagaimana agama harus dijalankan dan ditegakkan pada tsecara baik dan benar. Menjalankan syariat tidak sembarangan atau asal-asalan. Tidak mencampuradukkan antara kesesatan dengan kebenaran, atau sebaliknya. Atau bahkan taklid buta. Tidak melakukan bid’ah dhalalah yang tidak pernah dicontohkan oleh para nabi dan rasul atau para pendahulu. Tidak hanya ngaruoro, ngawur, dalam menjalankan agama. Islam harus dijalankan secara kaffah, sepenuh-penuhnya menjalankan kaidah, syariat, dengan segala kepasrahan diri secara total pada Sang Khalik, tentunya sesuai tuntunan Alquran dan sunah.

Sebagai sebuah ijtihad, maka Islam harus berpadu antara logika dan juga kemurnian nurani. Tidak bisa dilakukan secara sepotong-sepotong, serampangan, atau bahkan secara sembarangan. Kesemuanya harus dilakukan secara berkesinambungan tanpa harus meninggalkan salah satu di antaranya. Islam hadir dan diturunkan sebagai rahmatan lil-‘alamin, bukan sebagai agama yang terbentuk dari kekejian dan kesesatan. Islam adalah agama cinta dan kasih sayang, bukan agama penindas atau agama yang meluluhlantakkan peradaban. Terlebih lagi, Islam hadir sama sekali bukanlah sebagai agama Barbar. Islam juga bukan agama radikal. Islam ada bukan sebagai teroris.

Para santri biasanya baru akan bubar dan melakukan kegiatan masing-masing ketika Isya telah usai. Entah setelah kegiatan mengaji mereka bercengkrama dengan teman-teman sekamar—bagi mereka para santri pendatang yang mondok atau langsung pulang ke rumah—bagi mereka para santri setempat. Belum selesai sampai di situ, beberapa santri masih berjaga sekadar menghabiskan waktu dengan duduk-duduk santai di teras masjid. Ada juga yang langsung tidur. Beberapa santri ada juga yang masih melakukan aktivitas lainnya sekehendak hati di dalam lingkungan pesantren. Rutinitas semacam ini terasa lazim, terasa akrab, semua telah mendarah daging bagi kalangan pesantren khususnya dan bagi penduduk Kampung Kuning pada umumnya. Kalaupun bakda Isya masih ada yang mengaji, bisa dipastikan bahwa hal itu dilakukan untuk mengulang materi yang tadi telah diajarkan oleh para Ustaz atau Pak Kiai.

Kebanyakan santri adalah pendatang dari kota-kota yang jauh alias perantau. Mereka tak hanya dari Jawa saja melainkan ada juga yang datang dari luar kota, seperti; Madura, Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, atau bisa dikatakan dari Sabang sampai Merauke, bahkan ada juga santri dari luar negeri yang ingin ngalap ilmu di pondok pesantren. Tak tanggung-tanggung mereka ngalap ilmu dalam kurun waktu sekian lamanya. Ada yang sampai lima tahun, sepuluh tahun, sembilan belas tahun, bahkan ada yang sampai berumur baya (tinggal serta beranak cucu di pesantren), sebuah masa yang tak sedikit tentunya. Barangkali ada yang menganut paham: menuntut ilmu hingga liang lahad.

Kebiasaan lain dari penduduk Kampung Kuning adalah menyempatkan diri, paling tidak tiga bulan sekali, untuk mengadakan kumpulan antarwarga guna meneropong, membahas, mengevaluasi, merencanakan sesuatu demi kebaikan serta perkembangan yang sudah atau akan berlangsung di Kampung Kuning—kampung halaman mereka. Kegiatan tersebut selain melibatkan aparatur desa, para tokoh agama, juga melibatkan warga atau penduduk desa. Dan biasanya, kegiatan semacam ini dilakukan di luar kegiatan keagamaan. Untuk kegiatan keagamaan memiliki pembahasan serta waktu yang berbeda pula—biasanya untuk urusan keagamaan diserahkan atau dipercayakan secara penuh pada pihak pesantren.

“Alhamdulillah, hingga sampai saat ini kampung kita dalam keadaan aman,” kata Pak Lurah, mengawali pembicaraan.

“Pak Lurah ...” sela seseorang yang duduk di barisan depan, “Selaku ketua RT, saya ingin menyampaikan unek-unek yang selama ini saya rasakan,” lanjutnya.

“O, silakan! Silakan, Pak RT!” sahut Pak Lurah, mempersilakan dengan ramah.

“Meski tampak aman-aman saja, tapi ada beberapa masalah yang sebenarnya masih terkesan dan cenderung dibiarkan—bahkan terabaikan,” ungkap Pak RT.

“Maksud, Pak RT?!” sanggah Pak Lurah sambil mengernyitkan jidat.

“Begini, Pak ...” ia menjeda sejenak sembari mengatur posisi duduk—tak ketinggalan mengisap dan mengepulkan asap rokok dari mulutnya yang keriput kehitaman ke udara. “Jika kita tinjau ulang, sebenarnya di desa kita ini masih banyak hal yang perlu kita tangani secara serius. Memang hal ini dianggap lumrah dan sepele oleh sebagian orang, tapi sebenarnya hal ini jika dibiarkan terus menerus akan menjadi masalah besar. Banyak terjadi di sekitar kita para pemuda, orang tua, bahkan termasuk kalangan anak-anak remaja melakukan perbuatan amor ....


NB: Cerita selengkapnya bisa dibaca dalam versi buku atau cetak.
  • Share:

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like

Advertisement

0 comments

Advertisement