ENAM

Baca juga artikel ini:




GUS MUALIM baru saja selesai mengajar kitab Bulugh al-Maram pada santriwati asuhannya. Meski usianya sudah tidak muda lagi, kurang lebih sudah memasuki umur 60 tahun, tapi ia masih terlihat sangat sehat segar dan bugar. Bahkan jika orang yang baru kenal dengannya akan mengira jika beliau masih berumur 30 tahunan. Di pondoknya saat ini terdapat kurang lebih ratusan santriwati. Seperti kebanyakan santri-santriwati di pondok pesantren lainnya, kebanyakan dari mereka juga berasal dari berbagai daerah di Nusantara. Selain mengaji kitab-kitab kuning, di pondok ini memang dikhususkan atau fokus pada Tahfiziah dan Tilawatil Quran.

Jika ditilik dari trah-nya, Gus Mualim adalah cucu terakhir dari Kiai tersohor di tanah Jawa. Sampai saat ini ia belum juga mendapat pengganti seorang istri yang beberapa waktu lalu meninggal dunia karena sakit kanker rahim. Kebanyakan penduduk sekitar memercayai bahwa Gus Mualim memiliki ilmu laduni. Sebagian orang juga memercayai kalau ia bisa meneropong hal-hal yang sifatnya gaib atau metafisik. Ada pula di sebagian yang lain percaya kalau ia merupakan seorang wali. Adapun kelebihan lain yang dimiliki oleh Gus Mualim bisa menyembuhkan orang sakit, atau seorang tabib. Terang saja hal itu memiliki pengaruh pada sikap warga atau penduduk sekitar terhadapnya. Ia begitu dihormati, disegani dan tentu memiliki karisma tersendiri di mata masyarakat. Saking menaruh rasa hormat, warga atau penduduk sekitar jika lewat, melintas, di depan rumah atau di pelataran rumahnya dengan sukarela merundukkan badan sebagai bentuk penghormatan. Hal semacam itu mungkin belum seberapa jika dibandingkan dengan perlakuan warga sekitar pada benda-benda atau apa saja yang melekat pada diri Gus Mualim, seperti kopiah, sorban, gamis, sajadah, tasbih, atau apa saja yang dimiliki semuanya dianggap memiliki kekuatan magis. Bertuah. Orang-orang akan merasa enggan, atau bahkan takut walau sekadar memegang. Mereka takut jika nanti kualat. Mereka takut terkena bala jika melakukan perbuatan lancang.

Kegiatan mengaji di asrama putri memang tergolong cukup padat. Meski demikian namun masih ada kebebasan di sana, walau terbatas adanya. Ruang gerak serta kebebasan dalam aturan-aturan yang sudah disepakati bersama di dalam asrama. Dibebaskan tapi tidak bebas, bebas bersyarat. Hal itu terjadi tentunya bukan tanpa alasan, pasalnya, kebanyakan dari para santriwati masih ada yang menempuh jalur pendidikan formal, yakni sekolah atau kuliah. Mereka diberi kebebasan untuk membagi waktu antara urusan pondok dengan jadwal pendidikan formal. Intinya mereka diberi kebebasan selama tidak saling mengganggu dan bisa dilakukan secara silih berganti tanpa harus memberatkan semuanya. Sepandai-pandai mereka mengatur waktu asal tercapai semuanya. Meski tidak diawasi secara langsung, biasanya para santriwati menumbuhkan kesadaran dalam diri masing-masing agar tidak terpengaruh dengan gemerlap dunia luar pesantren. Upaya ini dilakukan sebagai bentuk menjaga diri sekaligus agar tidak mengganggu hafalan yang mereka jalani selama ini. Biasanya tiga hari sekali para santriwati diwajibkan setor hafalan pada Pak Kiai sampai sejauh mana dan sematang apa mereka menghafal ayat-ayat Alquran. Tentunya hal ini dimaksudkan untuk menjaga agar tidak luntur sekaligus menguji seberapa banyak dan seberapa kuat daya ingat para santriwati yang mencoba menjadi hafizah. 

Suatu hari pernah ada salah seorang santriwati yang terlena, teledor, oleh karena tergoda dengan bujuk rayu dunia luar sehingga sebagian dari hafalannya ‘hilang’. Tak pelak setelah dikorek sebab musababnya, akhirnya ia pun harus menjalani hukuman yakni mengepel seluruh ruang asrama. 

“Kamu kenapa, Roh? Dihukum lagi, ya?” ledek Laili pada Firoh. “Kasihan deh, Lu …” imbuhnya sambil memanyunkan bibir. Terang saja ini memancing emosi Firoh yang lantas melampiaskan kemarahan itu dengan memercikkan air dalam timba itu pada Laili. Sontak Laili menjerit-jerit sembari lari terbirit-birit, tak peduli dengan lantai yang masih basah karena belum selesai dipel oleh Firoh.

“Ah, sial! Gara-gara main cowok akhirnya harus begini,” gerutu Firoh setelah Laili raib dari hadapannya. Tampak sekali mimik wajahnya menyiratkan rasa hati yang teramat dongkol. 

“Makanya jangan suka yang aneh-aneh! Lebih baik sabar dan menunggu waktu. Jika memang sudah saatnya ketemu jodoh, pasti nikah. Ini akibatnya kalau pacaran,” kata Jannah yang serasa semakin menambah kedongkolan hati Firoh.

“Kamu ini?! Bukannya bantuin malah meledek,” sahut Firoh sambil bersungut-sungut dan tak henti mengepel lantai. 

Setelah mendapat peringatan tersebut, akhirnya Firoh menyadari kekeliruannya. Ia menyesal. Setelah kejadian itu ia bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan itu. Ia ingin memperbaiki diri terlebih dulu, setelah mantap dan sudah ketemu dengan jodoh yang sesuai barulah ia menikah. Pastilah ia berikan semua untuk suaminya kelak. Dari kejadian itu ia mulai menyadari dan memiliki prinsip pacaran setelah menikah. Ia tak mau bermain-main dengan perasaannya sendiri sebelum akad nikah diucapkan. Ia tak mau terbujuk rayu yang hanya manis di permulaan saja. Ia tak ingin diombang-ambingkan oleh rasa perasaan hingga membuatnya terbuai rayuan yang justru menyisakan tanda tanya, dan ujung-ujungnya adalah memperturutkan nafsu syahwat semata. Bukankah Tuhan telah membuat sebuah ketetapan atas kehidupan manusia? Bukankah Tuhan telah menciptakan rasa cinta dan kasih sayang secara alamiah di antara kaum laki-laki dan perempuan yang kelak akan dipertemukan dalam satu naungan suci pernikahan. Bukankah mencintai karena mengharap rida-Nya jauh lebih membahagiakan? Bukankah mencintai dengan setulus hati pada suami atau istri adalah bagian dari ibadah, di mana dengan cinta itu akan tumbuh gairah untuk memberikan nafkah lahir maupun batin? Menikahlah! Sebab itu lebih halal, dan akan mendatangkan berkah kebahagiaan. 

Mulai saat itu juga, Firoh segera melakukan tindakan ekstrem yakni dengan taubatan nasuha. Ia pun mulai menutup pintu hatinya sementara waktu. Kelak ketika seorang lelaki datang dan ingin mempersunting dirinya atas landasan agama yang kuat, barulah ia mengizinkan pintu hatinya dibuka oleh seseorang yang benar-benar tulus mencintai dirinya. Ia pun mulai menginsafi apa kata-kata yang pernah disampaikan oleh Gus Mualim, “Jika kamu ingin menjernihkan pikiran maka hilangkanlah segala sesuatu yang bersifat duniawi, terlebih masalah hawa nafsu. Dunia hanya akan menjadi belenggu bagi kemurnian hati dan jiwamu.” 

Berkhalwat dengan lawan jenis yang jelas-jelas bukan muhrim hanya akan mengundang nafsu berahi. Khalwat semacam itu justru akan semakin memperkeruh dan mengganggu pikiran, meskipun sekilas memang terasa mengasyikkan. Bermula dari khalwat itulah yang nantinya akan sangat berpeluang mengundang malapetaka di kemudian hari. Tentu hal semacam itu sudah termasuk dalam ketegori zina. Kiranya dalih yang akan dipergunakan pasti sangat lemah dan lebih pada kemudaratan, dan sama sekali tak ada faedah. Maka sangat wajar jika lantas aturan ketat diterapkan di seluruh pondok pesantren. Sebab selain sebagai wadah ilmu agama, tentu orang-orang yang mondok paling tidak sudah mengetahui, mengerti, dan lebih bisa memahami agama dibandingkan orang awam yang ada di sekitarnya. Hal ini pula yang diterapkan di pondok Gus Mualim terhadap para santriwatinya; di mana jika ingin menjadi seorang hafizah harus rela meninggalkan segala bentuk pikiran keduniawian, terutama pikiran-pikiran jorok, ngeres, atau segala hal yang bersifat negatif, sebab itu akan sangat mengganggu kelancaran dalam menghafal ayat-ayat Alquran. Aturan yang diterapkan tersebut tentu bukan menjadikan interaksi sosial merenggang atau putus sama sekali. Tidak! Aturan itu tentu bermaksud dan bertujuan agar semuanya bisa wawas diri serta mengetahui batasan-batasan mana yang boleh dilakukan dan mana yang sama sekali tidak boleh dilakukan—batasan normatif maupun batasan secara agama. 

Kendati demikian, santri dan santriwati tetaplah manusia biasa. Seperti apa pun mereka tetap memiliki sifat manusiawi yang memang sudah dikodatkan. Mereka tetap membutuhkan interaksi dengan dunia luar, termasuk lingkungan sekitar dan juga interaksi dengan lawan jenis. Mereka butuh diperhatikan dan memerhatikan, terlebih perhatian dari seseorang yang diidam-idamkan; pacar, kata kebanyakan orang. Pacar, ya, seorang pacar atau kekasih memang menjadi sesuatu yang mampu memberi kesan dalam menjalani hari-hari. Nyatanya, atmosfer semacam itu juga tumbuh subur di dunia pesantren. Jujur ataupun mengingkari, disembunyikan atau ditunjukkan secara terang-terangan, jalinan asmara antarsejoli tetap ada di dalamnya, hanya saja jalinan di antara mereka tak sama seperti gaya pacaran kebanyakan orang di luar pesantren. Sebagian besar para santri-santriwati yang sudah menemukan idaman hati akan mengekspresikan rasa perasaannya dengan cara malu-malu, atau curi-curi pandang. Sebagian hanya sekadar berkirim-kirim salam, atau berkirim sepucuk surat cinta, atau sekadar saling pandang ketika melintas di depan asrama. Bagi mereka itu sudah cukup menggetarkan hati dan mengguncang perasaan. Hal-hal sederhana itu bagi mereka sudah cukup melambungkan rasa dalam buai imaji hingga berbuah mimpi-mimpi indah di malam hari. Bertatap muka dengan sembunyi-sembunyi, membuat janji untuk bertemu di sebuah warung, atau berpura-pura mengantar sesuatu agar tidak dimarahi pengurus apalagi oleh Pak Kiai. Atau jika ada kegiatan pondok dijadikan kesempatan untuk bertatap wajah. Bercanda dan membicarakan sesuatu meski obrolan ringan. Terkadang harus membuat alasan-alasan yang sebenarnya terlalu naïf sekadar untuk bisa bertemu. Rasanya itu sudah cukup untuk melepas rindu yang tertahan dan menyesak di dada. Maklum, cara semacam ini cukup ampuh dan jitu untuk mengelabuhi para pengurus agar tidak ketahuan maksud sebenarnya. Cara ini dipergunakan selain sebagai tameng serta dijadikan sebagai alat agar tidak kena sanksi. Memang ada sanksi tersendiri bagi mereka yang ketahuan berpacaran di pondok. Mereka akan dihukum sesuai tingkatan atau sejauh mana hubungan di antara mereka. Kalau hanya sebatas saling berkirim surat, biasanya mereka hanya mendapat hukuman ringan, misalnya dijemur di bawah terik matahari. Kalau tertangkap basah sedang berkhalwat maka hukumannya bisa semakin berat—jika perlu dinikahkan—atau bahkan bisa dikeluarkan dari pondok seketika itu juga bila benar-benar melakukan pelanggaran superberat. 

*** 
TIAP pagi maupun sore hari, seusai mengaji, sebagian dari santriwati juga menyempatkan diri untuk berolahraga atau melakukan kegiatan lain sembari mengisi waktu luang. Sebagian ada yang lari-lari kecil di seputar halaman asrama atau pergi ke lapangan. Terkadang ada juga yang bermain tenis meja, bulu tangkis, dan masih banyak lagi kegiatan olahraga yang bisa mereka lakukan. Kebanyakan dari mereka lebih suka bulu tangkis, selain tidak perlu media terlalu besar, olahraga itu juga tidak terlalu berat. Di samping itu, bulu tangkis di kalangan santri-santriwati dilakukan dengan cara sederhana yakni tanpa peralatan lengkap, cukup memasang net dari seutas tali rafia, atau bahkan tidak memakai net sama sekali asal bisa berolahraga. Sebagian orang berpendapat bahwa bulu tangkis masih memiliki tempat di hati bangsa ini yang setidaknya mampu mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Adapun kala itu nama-nama pesohor yang mampu mengharumkan nama bangsa di antaranya adalah Ellyas Pical, Utut Adianto, Yayuk Basuki, Alan Budi Kusuma, Susi Susanti, dan masih ada banyak lagi nama-nama besar yang berlaga secara internasional. 

Keceriaan serta tawa riang selalu mewarnai dan menghiasi suasana tiap pagi maupun senja hari di antara mereka. Terkadang mereka saling bercanda, bersenda gurau atau berseloroh hingga tertawa lepas. Sesekali di antara mereka juga berkelakar dengan teman sekamar. Kadang jika ada santri melintas, mereka tanpa harus munafik juga melirik sekadar untuk cuci mata. Namun ada juga yang lebih berani menggoda dengan siulan, lantas setelah santri yang digoda itu menolah akan kegirangan. Atau hanya sekadar berbisik-bisik pada teman-temannya sewaktu melihat salah seorang santri yang melintas di jalan depan asrama. Sesekali waktu mereka juga melantunkan tilawah, kasidah, berselawat, membaca lagu-lagu yang bernuansa religi, atau bagi mereka yang merasa bosan dengan nyanyian ala pesantren, sebagian dari mereka akan menyanyikan lagu-lagu yang sedang marak di belantika musik Tanah Air, semisal lagu pop, jazz, bahkan lagu dangdut. Tentunya untuk menyanyikan lagu selain khas pondok atau bernuansa pesantren, mereka harus bisa menempatkan diri, atau harus kucing-kucingan, agar tidak terdengar oleh dewan pengurus. Hal itu dilakukan semata-mata karena ingin mengisi waktu dan untuk mengurangi beban pikiran. Kiranya akan menjadi hal wajar, sebab semuanya akan saling bersinggungan sekalipun kadarnya sedikit. Mereka ingin menjalani semuanya secara normal, dan tetap menjaga diri agar senantiasa sehat selama menimba ilmu di pondok. 

Barangkali, di pondok tersebut, hanya Sukma yang tampak berbeda di antara santriwati lainnya. Tanpa bermaksud merendahkan yang lain, di antara para santriwati yang berada di asrama tersebut, dia termasuk gadis tercantik. Meski demikian adanya, ia tetap bersahaja, santun, ramah, dan selalu menjaga sikap maupun ucapan terhadap rekan-rekannya. Mungkin ini harus menjadi catatan tersendiri dan mungkin menjadi nilai lebih baginya, dia cukup cerdas. Dalam berinteraksi ia cukup memiliki wibawa. Kedewasaan dalam segala perilaku, tutur kata serta bersikap membuat dirinya sering kali jadi tempat berbagi, menjadi tempat untuk saling mencurahkan segala yang terpendam di hati. Usianya memang masih muda, namun apa yang tampak sudah menunjukkan kedewasaan sekaligus kematangan berpikir. Para santriwati seakan mendapat psikolog secara cuma-cuma di pondok. Solusi-solusi yang diberikan benar-benar mujarab. Feminin sekaligus keibuan. Ia sangat cakap bila diajak bicara. Tiap tutur yang diberikan membuat hati dan jiwa teduh. 

Entah dari mana dan bagaimana mulanya sehingga ia dipanggil ‘ibu’ oleh para santriwati—padahal secara jelas belum menikah. Ia juga tak kuasa menolak jika disebut ibu—walaupun sebenarnya kurang nyaman. Padahal sejauh ini ia juga tak meminta demikian. Sebutan itu mengalir saja. Barangkali menurut para santriwati yang ada di asrama sebutan itu sudah sangat tepat. “Toh, suatu saat aku pasti jadi ibu juga, kan? Jadi, tak ada salahnya mereka memanggil seperti itu,” pikirnya kala itu. 

“Bu ... apa yang harus kulakukan guna menghadapi keluargaku jika sudah begini?” tanya Nida suatu hari. 

“Sabar, ya, Nida! Mungkin Allah punya rencana atas apa yang saat ini terjadi padamu.” 

Merasa dijadikan sebagai orang yang dapat dipercaya, tentu Sukma berusaha menjadi pendengar yang baik sekaligus tidak menyia-nyiakan amanah.

Jika seseorang memberi kebaikan hatinya, maka kebaikan pula yang diterima sebagai balasan. Sebaliknya, jika hati menabur benci, maka kebencian pula yang pasti dipetik.

Saling berbagi memang sudah menjadi kelaziman bagi umat manusia. Tiap manusia pasti diuji. Tiap ujian adalah jalan agar manusia bisa jauh lebih baik dan tumbuh secara tangguh. Hanya saja tingkat kemampuan dalam memecahkan masalah yang membedakan. Tiap orang pasti memerlukan solusi atas segala permasalahan hidup. Kebutuhan inilah yang kemudian mendorong tiap santri atau santriwati menjadikan teman-teman senasib sepenanggungan sebagai keluarga baru. Sangat wajar pula bi ....


NB: Cerita selengkapnya bisa dibaca dalam versi buku atau cetak.


Bagikan

You Might Also Like

ENAM
4/ 5
Oleh



Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.