EMPAT - Anam Khoirul Anam

EMPAT

Author: Anam Khoirul Anam - September 19, 2006
Advertisement

Advertisement

Baca Juga


PARA santri begitu takzim mendengarkan segala tutur dari Pak Kiai. Semua perhatian tertuju pada lembar demi lembar kitab kuning yang ada di hadapan masing-masing. Satu demi satu pasang mata mereka mengeja, pikiran mengkaji, menafsirkan, dan jiwa pun berusaha memahami. Di antara temaram cahaya, Pak Kiai mencoba mengkaji lebih mendalam makna-makna yang terselip di antara kalimat-kalimat dalam kitab tersebut. Bait demi bait ia jelaskan atau paparkan dengan sempurna. Dari segi balaghah-nya, definisi, tafsirnya, maupun secara harfiah apa yang terkandung di dalamnya. Tak jarang pula Pak Kiai mengulik soal filsafat ketika mengaji.

Ada satu kenyataan menarik bahkan di luar nalar manusia pada umumnya menyangkut dunia pesantren. Kenyataan tersebut adalah kebiasaan para santri—entah disengaja atau tidak—sebagian dari santri sering terantuk-antuk bahkan lelap tidur ketika Kiai sedang mengajar atau menyampaikan pelajaran. Sama persis seperti apa yang terjadi malam ini. Menarik? Mungkin?! Tapi tentu selain akan dimaklumi apa pun alasannya, hanya saja rasanya hal itu tak masuk akal. Nah, ini dia keganjilan itu! Entah mengapa, para santri yang punya kebiasaan tidur tersebut, salah satu di antara mereka justru setelah keluar dari pondok ada yang menjadi ‘orang besar’. Ada sebagian dari mereka yang menjadi seorang birokrat. Ada pula yang menjadi pengusaha sukses. Ada pula yang kemudian menjadi sangat tersohor hingga namanya disegani di mana-mana. Namun ada juga yang faktanya tersohor namun menjaga diri dan sikapnya untuk tetap tawaduk dengan cara memilih jalan sunyi yakni menjadi seorang sufi. Bahkan ada yang jadi kiai. Mengapa bisa demikian? Apakah itu karena para santri yang bersangkutan masih memegang keyakinan bahwa ilmu yang diperoleh tidak akan membawa manfaat kalau dia kualat pada Kiainya? Atau sebaliknya, bila ilmu yang belum tentu dipahami akan sangat bermanfaat jika Kiai sudah memberi berkahnya? Apakah sesederhana itu? Atau apakah semua itu merupakan balasan dari sikap menghormati, ketawadukan, rasa takzim mereka terhadap seorang Kiai sehingga memungkinkan mereka mendapatkan berkah? Apa mungkin ada sebuah permainan di dalamnya? Apa benar kalau semua itu juga ada sangkut pautnya dengan karma? Lalu mengapa bisa demikian? Ada apa dengan dunia pesantren? Ah, belum sanggup nalar ini menjangkaunya. Biarlah! Hanya Allah Swt., yang Mahatahu. Toh, fakta semacam ini juga benar-benar ada dan terjadi.

Di sela mengaji, tiba-tiba ...

“Assalamualaikum …”

Sontak perhatian serta konsentrasi para santri berikut Pak Kiai pun buyar ketika beberapa orang datang.

“Waalaikum salam ...” Serempak yang ada di dalam ruang menyahut salam.

Lelaki tambun dengan busana batik berdiri di luar ruang. Beberapa orang juga terlihat mengawal lelaki tersebut. Semua pengawal mengenakan busana safari, berbadan kekar bahkan terlihat sangar. Aroma parfum mereka berhamburan masuk ke dalam ruangan. Tentu saja aroma wangi itu sedikit mengusir bau apak dari badan ataupun pakaian para santri. Harap maklum. Umumnya para santri tidak begitu memerhatikan penampilan, kalaupun ada hanya sekadarnya dan secukupnya. Bila ingin memakai parfum, kebanyakan akan memakai pewangi kemasan, biasanya dikemas dalam botol-botol kecil yang dijual di toko-toko kitab, atau penjual parfum beraneka warna dan aroma. Ada juga yang lebih ekstrem yakni dengan menggunakan iler-nya sendiri, alias air liurnya sendiri. Rata-rata baju mereka dicuci seminggu sekali, atau di waktu-waktu tertentu jika sudah benar-benar kotor dan bau apak.

Untuk sementara waktu proses mengaji pun tertunda karena kedatangan tamu tersebut.

“Silakan masuk!” pinta Pak Kiai.

“Terima kasih, Kiai.”

Para tamu itu pun memasuki ruangan sembari berjalan merunduk-runduk sebagai bentuk penghormatan. Inilah etika. Tanpa perlu diminta dan tanpa perlu dipaksa, perilaku semacam ini merupakan bagian dari akhlak.

“Maaf, Pak Kiai. Kami mengganggu sebentar,” kata salah seorang dari para tamu tersebut.

“Oh, tidak apa-apa. Ada yang bisa kami bantu, atau mungkin ada keperluan apa?” tanya Pak Kiai pada para tamu sembari mengatur posisi duduk hingga saling berhadapan.

“Maksud kedatangan kami kemari; pertama, kami ingin bersilaturahmi. Kedua, kami bermaksud untuk mengundang Pak Kiai berikut beberapa santri untuk menghadiri undangan selamatan di rumah bapak Sobari,” terang salah satu dari tamu itu.

“Jadi …”

Belum selesai Pak Kiai berkata, tamu itu sudah memotongnya, “Ya, Pak Kiai. Kedatangan kami ke sini diutus oleh bapak Wali kota. Beliau mengharapkan kedatangan Pak Kiai sekaligus untuk memimpin do’a,” terangnya.

“Insya Allah, akan saya usahakan menghadiri undangan Beliau.”

“Insya Allah, nanti sehabis salat Magrib kami jemput, Kiai.”

“Oh, ya. Terima kasih.”

Setelah berpamitan dan beruluk salam, para tamu utusan bapak Wali kota tersebut keluar ruangan diiringi sorot para santri. Sebelum benar-benar meninggalkan pondok, Pak Kiai mengantar tamunya hingga di depan pintu. Sikap inilah yang ingin dicontohkan pada santrinya. Setelah mengantar tamunya hingga benar-benar hilang dari hadapan, barulah Pak Kiai melanjutkan kembali mengaji kitab kuning. Mengapa para santri merasa nyaman dan merasa senang ketika diajar langsung oleh Pak Kiai? Alasannya adalah cara penyampaian atau cara mengajarnya penuh wawasan, selain itu juga disampaikan dengan cara santai. Sesekali memang diselingi canda, bahkan diselipi cerita-cerita penuh hikmah, baik itu cerita pengalaman pribadi Kiai sendiri ataupun kisah dari orang lain.

Bagi para santri, mendapat undangan selamatan atau menghadiri acara-acara tertentu merupakan kebahagiaan tersendiri—apalagi undangan makan, tambah girang. Bagi para santri, menghadiri acara semacam itu merupakan perbaikan gizi. Maklum, terkadang dari hal semacam itu para santri bisa menyantap makanan enak dan lezat. Lumayan bisa makan enak. Bisa tambah gizi, demikian bisik hati sebagian besar para santri. Kebahagiaan itu akan terasa lengkap setelah pulang dari menghadiri undangan lantas mendapat berkat dan juga binat (amplop berisi uang) di dalamnya.

***
“ITU anak baru, ya?” tanya Soleh pada Ridwan secara bisik-bisik.

“Ya. Memangnya kenapa?” jawab Ridwan dengan bisik-bisik pula.

“Sikapnya dingin sekali. Orangnya tampak angkuh dan tak ramah. Sok berlagak cuek. Coba perhatikan gelagatnya!”

“Maklumlah. Namanya juga santri baru. Mungkin dia baru beradaptasi, terlebih belum banyak kenalan di sini, kan? Jadi wajar kalau dia bersikap seperti itu,” kata Ridwan yang sepertinya ingin membela orang yang sedang dibicarakan. “Biar sajalah! Toh, nanti kalau sudah saling kenal mungkin dia pasti mengubah sikapnya. Kenapa kamu mempermasalahkan hal itu?”

“Ah, kamu ini kalau diajak bicara suka begitu. Tidak mengenakkan hati,” kata Soleh dengan wajah bersungut-sungut. Merasa jengkel dan dongkol atas sikap Ridwan. Ia menggerutu karena tidak mendapat respon baik dari lawan bicaranya.

Keduanya terus saja berbisik-bisik dan tidak memerhatikan apa yang disampaikan oleh Pak Kiai. “Soleh? Ridwan? Ojo jaduman dewe! Ayo, perhatikan! Ojo ngomong dewe!” tegur Pak Kiai. Mereka pun mendapat teguran dari Pak Kiai karena sedari tadi bicara sendiri, tidak memerhatikan atau menyimak materi yang sedang disampaikan oleh Pak Kiai. Mereka pun gelagapan dan berkilah, mencari-cari alasan, agar tidak menjadi pusat perhatian. Upaya itu ternyata gagal, mereka justru mendapat sambutan gelak tawa dari para santri yang duduk di sekelilingnya. Keduanya pun menahan malu tak terkira. Wajah mereka bersemu merah tanda menahan air wajah yang mau tumpah.

Proses mengaji pun dilanjutkan kembali. Penuh hikmat para santri mendengarkan sembari membubuhkan pegon pada tiap huruf dalam kalimat kitab kuning tersebut sesuai dengan apa yang disampaikan Pak Kiai.

Mungkin didorong rasa penasaran, Soleh dan Ridwan tak jera mendapat teguran yang baru saja diterima, justru bisik-bisik itu kian merebet ke mana-mana. Tentu saja sumber bisik-bisik itu dari tempat Soleh dan Ridwan. Satu sama lain saling membicarakan keberadaan Rusli yang dianggap kurang bersahabat. Sikap diam Rusli memicu reaksi dari beberapa santri yang merasa tidak disapa dengan hangat olehnya. Meski demikian, namun proses pemengajian masih berjalan, seolah tak terganggu dengan hal itu. Beruntunglah ketika itu Pak Kiai mengajar dengan cara baca ulang, yakni ketika Pak Kiai selesai membaca serta menjelaskan isi dari kitab tersebut, selanjutnya para santri wajib membaca ulang apa yang telah disampaikan tadi. Mengingat bahwa Rusli merupakan santri baru, ia tidak mendapat giliran membaca ulang. Ia hanya menyimak, mendengar, dan memahami.

Magrib pun tiba. Para tamu yang tadi sore datang, kini kembali ke pondok untuk menjemput Pak Kiai berikut sebagian dari para santri dengan mengendarai beberapa mobil mewah yang kesemuanya berwarna hitam. Pemandangan unik pun dipertontonkan oleh para santri. Keributan kecil antarsantri pun tak pelak terjadi. Keributan itu bukan karena perkelahian atau ingin tawuran melainkan sedang berebut sandal. Mereka saling berebut tanpa peduli siapa pemiliknya. Bahkan ada pula yang nekat memakai sandal yang bukan pasangannya, asal dapat sandal dan layak pakai. Ini terjadi bukan karena tak sanggup beli, bukan pula karena sayang pada barang atau benda tertentu. Pasalnya, berapa kali beli sandal baru pasti akan hilang entah ke mana. Tak ada kata menyimpan atau menyembunyikan, sebab hal itu justru tak lazim. Kecuali uang atau barang-barang tertentu yang secara jamak tidak boleh dicuri. Hukum ini masih berlaku di kalangan santri. Menjadi sebuah pemakluman jika di lingkup pesantren memiliki barang-barang tertentu kurang atau bahkan tidak awet, pasalnya yang memakai bukan hanya satu orang, melainkan banyak orang. Maka dari itu sangat wajar bila banyak sandal yang tidak sepasang, tidak sewarna, bahkan ada sambungan atau tambalan di mana-mana. Asal bisa dipakai; tak ada rotan, akar pun jadi. Tidak hanya sandal, tapi juga pada baju, bahkan peralatan mandi. Prinsipnya adalah kebersamaan, semua bisa dipakai dan memakai barang tersebut. Hal ini merupakan kebiasaan lain di dunia pesantren, entah ini merupakan budaya yang dibudidayakan atau karena memang kesukaan mereka untuk berperilaku gasab.

“Sul? Sul ... Samasul! Sandalku jangan dibawa. Tak polo, Kon!” teriak Edi, santri asal Surabaya, yang mengaku-aku bahwa sandal itu adalah miliknya. Padahal sandal itu bukan miliknya melainkan milik orang yang sebelumnya dibawa salah seorang santri dari masjid. Dan hampir semua santri kala itu ribut berebut sandal.

“Hai, siapa yang bawa sandalku?! Mana sandal? Mana sandalku yang tadi kutaruh di sini ...” kata salah seorang santri sembari mengeledah ke semberang tempat bermaksud mencari sandalnya yang semula sudah ia sembunyikan dan persiapkan di atas genting.
Ribut-ribut masalah sandal itu pun tak segera selesai walau pak sopir sedari tadi sudah membunyikan klakson menandakan sudah jenuh menunggu. Akhirnya, santri yang sudah mendapatkan sandal bersikap cuek dan segera berlarian menuju mobil tanpa memedulikan santri lain yang belum mendapat sandal. Santri yang tidak mendapat sandal terpaksa nyeker alias bertelanjang kaki menghadiri undangan. Mereka berpikir mungkin orang tidak akan melihat, toh, setiba di tempat semua sandal pasti akan dilepas. Tapi ada juga yang terpaksa mengenakan sepatu sekolahnya karena memang benar-benar tidak mendapat sandal.

Setelah semuanya siap dan sekiranya sudah tidak ada lagi yang tertinggal, beberapa mobil itu pun melaju ke arah timur laut bertujuan ke kediaman bapak Wali kota. Selama dalam perjalanan, sebagian dari para santri pun sesekali ada yang bersenda gurau. “Eh, kamu kok ikut? Bukankah kamu tidak masuk hitungan?” tegur Burhan pada Fadli.

“Ah, kamu sok formal,” timpal Fadli dengan raut tak suka, kecewa.

“Santri yang tidak masuk hitungan nanti duduknya paling belakang, loh!” imbuh Burhan, nyeletuk.

Kata-kata atau ucapan semacam itu memang sudah biasa di kalangan santri. Mungkin hal itu sudah dianggap biasa, jadi apa pun bentuk ucapan dari seorang santri tidak terlalu dianggap dan dimasukkan ke dalam hati. Para santri menyadari dan memaklumi jika hal itu hanya sebatas guyonan (canda) semata.

Mobil yang membawa rombongan dari pesantren pun tiba di tempat tujuan. Mobil itu pun berhenti di depan rumah mewah yang ukurannya sangat besar. Konstruksi rumah tersebut didesain sangat elegan dan semuanya mewah. Furnitur dan segala aksesori yang ada di sana tentu bernilai seni tinggi dan memiliki nilai jual yang cukup mahal. Semua benar-benar berlebel mewah dan mahal. Di garasi ada dua mobil BMW yang sangat mengilap. Dua mobil mewah itu terparkir dan berjajar, tertata sedemikian rapi. Satu berwarna merah metalik dan satu lagi berwarna biru laut metalik. Di sebagian lain, dekat pintu garasi, terdapat sepeda motor gagah yang juga tak kalah mewah dan berharga mahal.

“Kira-kira kapan saya bisa jadi orang besar, ya?” batin Firman sembari menebarkan pandangan ke segala penjuru rumah, hingga sudut ruangan. Ia menggelangkan kepala tanda kagum tak terkira. Kedua matanya tak henti menyusuri jengkal demi jengkal lukisan yang dipajang di antara dinding-dinding ruangan. Satu hal yang membuatnya terkesima ketika pandangannya terhenti pada sebuah lukisan perempuan setengah telanjang yang bercumbu dengan seekor naga dari neraka. Bidadari surga yang bercumbu dengan iblis. 
Begitulah tulisan yang tertera di bawah sebagai keterangan dari lukisan tersebut. Bidadari itu tersesat di bumi, lalu atas hasutan setan yang menggoda berahinya, mau tak mau ia harus rela bercumbu dengan makhluk laknat itu. Naga yang menyala merah saga itu merupakan kiasan dari kehidupan manusia yang tak bisa mengendalikan nafsu sehingga merelakan apa pun untuk memuaskan hasrat, nafsu berahinya. Namun jauh dari pergumalan nafsu keduanya, ada seekor naga berwarna putih dan memancarkan cahaya terang. Naga itu menatap penuh iba pada bidadari itu. Dari tatap mata naga putih tersebut seolah mengatakan sesuatu atas apa yang terjadi antara naga merah saga dan bidadari tersebut. Sepertinya percumbuan itu dilakukan karena untuk memenuhi syarat agar kecantikan bidadari itu tidak pudar, selain itu juga sebagai bagian dari penebus kesalahan karena telah melanggar pugeran surga. Tentu saja tafsiran itu sama sekali takkan pernah ada dalam kisah mana pun terutama dalam agama Islam. Itu adalah bahasa seni, bahasa yang membebaskan dari aturan apa pun selain hanya sebatas seni yang memiliki nilai normatif sendiri. Pada dinding lainnya juga masih terdapat lukisan eksotis yang tak kalah menarik serta memanjakan mata hingga takjub menyaksikan perpaduan warna-warni yang indah, dinamis, serta art ....



NB: Cerita selengkapnya bisa dibaca dalam versi buku atau cetak.
  • Share:

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like

Advertisement

0 comments

Advertisement