EMPAT BELAS

Baca juga artikel ini:

SORE tampak bersahabat. Para santri menghabiskan waktu senja dengan zikir petang. Sebagian ada yang melafalkan tahmid, tahlil, tasbih ataupun selawat. Ada pula yang membaca ayat-ayat Alquran; di antaranya surat Almulk, Alwaqiah, Surat Yasin, atau surat lainnya. Aktivitas semacam ini terasa begitu syahdu. Begitu mengasyikkan. Tiap tempat—bahkan sampai sudut-sudut ruang—terdengar lafal-lafal suci diucapkan. Sungguh hal ini membuat hati bergetar dan membawa terbang tinggi menuju ribaan Gusti, Sang Pencipta Jagat Raya.

Pancaran matahari berangsur redup. Surup. Laun remang lalu menghilang di balik onggok perbukitan.

“Rus, besok tolong antarkan Fatimah ke pondok. Aku tidak bisa mengantar karena ada undangan di kelurahan,” pinta Kiai Mahfud.

“Insya Allah, Pak Kiai.”

“Jangan lupa ... setiba di sana sampaikan salamku pada Kiai Latif.”

“Insya Allah, akan saya sampaikan.”

Lamat-lamat terdengar surat Arrahman dilantuntan lewat sepiker masjid, kemudian disusul kumandang azan Magrib. Satu per satu para santri berduyun-duyun menuju tempat ibadah. Secara bergantian mereka wudu. Salat rawatib. Lalu salat Magrib berjamaah.

Setelah salat berjamaan, mereka menuju kelas masing-masing untuk mengaji.

Seperti biasa, pada malam Selasa, Rusli harus mengajar qariah di asrama putri.

“Nikmah ... di mana Sukma? Kok hari ini tidak kelihatan?” tanya Rusli sebelum memulai pelajaran qariah.

Entah dibuat-buat atau memang benar-benar batuk. Mendengar pertanyaan seperti itu, salah satu di antara santriwati terbatuk-batuk. Ada juga yang berdeham.

“Dia pulang kampung.”

“Kalau boleh tahu, ada keperluan apa dia pulang?”

“Kemarin dia dapat kabar kalau mamanya sakit. Saat ini sedang dirawat di rumah sakit. Sebenarnya saya mau menemani, tapi dia menolak.”

“Sudalah lama mamanya sakit?”

“Kabar yang saya dengar baru seminggu ini. Sukma baru bisa pulang kemarin karena masih sibuk urus skripsi.”

Entah mengapa tiba-tiba desir kekhawatiran itu menyembul dari dasar hati. Kilas wajah nan rupawan itu memenuhi pikirannya. Meski berusaha menepis, namun rasa itu makin menjadi-jadi. Kalut-malut membuat laju kesadaran semrawut. Kekacauan itu bukan hanya dalam diri saja, namun juga pada proses belajar. Acap kali Rusli mendapat teguran dari para santriwati karena ada kekeliruan saat mengajar. Meski sudah berupaya untuk tetap konsentrasi, tetap saja ada kekeliruan.

Dalam hati kecil, Rusli berdoa atas keselamatan Sukma. “Semoga kau baik-baik saja dan selamat sampai tujuan.”

Apakah ini yang dinamakan cinta? Merasa waswas bila seseorang yang terasa begitu akrab tiba-tiba berada jauh dari radius penglihatan. Inikah getar cinta itu? Ketika jauh dari seseorang yang begitu diperhatikan, mendadak debar penuhi rongga dada. Inikah yang disebut kasmaran? Bila tak menatap wajah orang yang dikasihi sebentar saja, apa yang ada dalam diri pun terasa nyeri. Apakah ini yang disebut ... ah, betapa rumit menjelaskan semua yang kini melanda.

“Mas Rusli sakit, ya?” tanya Nikmah.

“Ti ... tidak,” jawab Rusli, gugup.

“Tumben hari ini banyak koreksi. Apakah ada yang sedang dipikirkan, Mas?”

Rusli menggelang.

Sejak Rusli mengajar, tingkah Sukma terlihat beda dari sebelum-sebelumnya. Saat santriwati membicarakan Rusli, tampak Sukma sangat antusias. Hari demi hari pasti membicarakan Rusli. Ya, kehadiran Rusli sebagai ustaz pengganti memang membawa perubahan sekaligus menjadi warna baru di asrama putri.

Syukurlah proses belajar malam itu bisa rampung sampai pada waktunya—walaupun kurang maksimal seperti biasa.

“Kapan Sukma kembali?” tanya Rusli seusai mengajar.

“Entah, Mas? Dia juga tidak memberi tahu kapan kembali.”

Walaupun tak dikatakan, bahasa tubuh dan sikap mampu menunjukkan apa yang tersembunyi dalam hati. Barangkali sebagian atau bahkan para santriwati menangkap isyarat bahwa selama ini ada rasa suka terpancar dari dalam diri Rusli pada Sukma. Begitu pula apa yang terjadi pada diri Sukma. Para santriwati sering menggoda Sukma dengan mengatakan bahwa antara Rusli dan Sukma adalah pasangan serasi jika kelak menikah. Malu tapi mau, tiap kali digoda semacam itu, wajah Sukma bersemu merah.

“Jika nanti Sukma sudah pulang, saya titip salam. Sampaikan juga kalau besok saya mau ke Jombang mengantar Fatimah mondok.”

Ah, ternyata Rusli tak mampu mengendalikan diri dan perasaannya. Antara sadar dan tak sadar ia berkata demikian, padahal ia tahu hal itu tak layak. Jika tak ada rasa, mana mungkin ia berani—apalagi hal itu disampaikan secara khusus? Hal itu semakin menguatkan dugaan para santriwati bahwa selama ini memang benar ada rasa suka dalam diri Rusli pada Sukma.

“Enggak titip salam rindu sekalian, Mas?” celetuk salah seorang santriwati dari balik jendela.

“Jaga sikap kamu, Rika!” tegur Nikmah—padahal sebenarnya hanya basa-basi dan ingin melakukan hal serupa, hanya saja ia tak berani melakukannya. “Insya Allah, nanti saya sampaikan.”

“Terima kasih.”

“Sama-sama, Mas.”

Rusli beruluk salam dan pamit.

Sepanjang perjalanan menuju pondoknya, pikiran Rusli makin tak keruan. Wajah Sukma selalu terbayang. Langit yang cerah dan ditaburi gemintang membuat malam itu terasa pi ...


NB: Cerita selengkapnya bisa dibaca dalam versi buku atau cetak.


Bagikan

You Might Also Like

EMPAT BELAS
4/ 5
Oleh



Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.