DUA - Anam Khoirul Anam

DUA

Author: Anam Khoirul Anam - September 19, 2006
Advertisement

Advertisement

Baca Juga

PEMUDA itu berjalan ke arah utara, tepatnya setelah ia turun dari angkutan kota. Di pundaknya terdapat ransel yang sarat muatan. Dengan mengenakan busana khas santri, ia menyusuri jalan setapak menuju sebuah tempat di ujung pandangannya. Songkok hitam bertakhta di kepalanya. Sesekali ia monoleh ke segala penjuru dengan sorot mata tajam, menebarkan pandangan ke sana kemari untuk memastikan diri atas tujuan perjalanannya. Peluh meleleh pada raut wajahnya, menyembul dari pelipis dan juga lehernya yang tampak lembab hingga membanjiri baju koko-nya. Gerah. Matahari kian terasa terik, menyengat dan serasa membakar kulit. Di tiap embus napas, lirih terdengar jantungnya berdegup di antara detik yang terus bergulir. Beberapa menit kemudian, tatap matanya terhenti pada sebuah papan nama berwarna hijau muda dengan dibubuhi tulisan berwarna putih berbentuk kaligrafi—bagi orang-orang pesantren lebih akrab menyebutnya dengan: Ma’had.

Tepat pada gerbang berjeruji besi sebagai pintu utama, ia hentikan langkahnya. Sekali lagi ia menebarkan arah pandangnya ke segala arah, seolah ingin memastikan keyakinannya agar tidak salah tujuan. Tak lama. Ia lanjutkan kembali langkahnya yang sempat terhenti. Sebelum jasadnya menjejakkan kaki di tempat itu—jauh sebelum itu—imajinya telah sampai di situ. Seolah ia sudah begitu akrab dan mengenali tiap sudut ruang atau bangunan yang baru saja ia singgahi. Bias-bias imajinya membingkai dengan begitu nyata tiap sudut replika bangunan. Dalam benaknya kilas demi kilas ruang membentuk alur cerita hidup seiring langkahnya memasuki pelataran pondok tersebut. Lengang begitu terasa sedari ia membuka pintu gerbang. Meski ada satu—dua, atau beberapa orang yang berseliweran, namun tetap saja kelengangan itu begitu mendominasi suasana. Terkesan tak menghiraukan. Sesekali debu berhamburan, berpusar-pusar, tersapu embus angin. Angin yang hilir menggoyang-goyangkan pucuk dedaunan yang tumbuh di halaman pondok. Pada jalan setapak—sebagai jalan utama—pohon sawo berdiri kokoh walau berada dalam sebuah pot besar terbuat dari semen. Ada pula pohon yang sengaja ditanam di tengah-tengah halaman sebagai pembagi arah jalan menuju tempat satu ke tempat lainnya. Rindang. Hal itu semakin mempertegas suasana asri di pondok tersebut. Ada beberapa bunga yang ditanam dalam sebuah pot-pot berukuran sedang. Ada yang ditaruh di teras, di antara gawang pintu masuk tiap kamar, di dekat padasan (tempat mengambil air wudu) dan ada juga yang ditanam tanpa menggunakan pot.

Ada suatu peristiwa yang membuat pemuda itu merasa sangat terkesan yakni sepasang kupu-kupu yang bebas berkejaran di hamparan udara. Sekilas beberapa burung walet juga saling berkejaran setelah bertengger pada batang pohon akasia. Indah sekali, batinnya. Pemandangan itu seolah mendapat restu dari bumi dengan disaksikan matahari yang tersipu malu di balik gumpalan awan. Tanpa disadari, ia seperti mengulang kembali sejarah masa yang sudah berlalu—semasa di kampung halaman bersama kerabat atau teman dekatnya.

“Asslamualaikum ...”

Terdengar sahutan dari dalam ruangan, “Waalaikumsalam ...” Seorang laki-laki keluar dari dalam ruangan tersebut, “Ada yang bisa saya bantu?”

“Apa benar ini pondoknya Kiai Mahfud?”

“Ya, benar sekali. Anda ingin bertemu atau ada keperluan dengan beliau?”

“Ya. Saya ingin bertemu dengan beliau.”

“Oh, mari saya antarkan.”

Sigap.

Sembari membenahi sarungnya, lelaki itu mengajak tamunya bergegas ke arah timur—menuju sebuah rumah yang dinding utamanya bercat hijau tua. Dari kaca luar ruangan yang berbingkai kayu jati dengan motif ukiran khas Jepara, beberapa kaligrafi secara elegan mendominasi aksesori di tiap ruangan, bahkan sampai sudut-sudut rumah. Ada pula beberapa foto para ulama besar di antaranya: K.H. Hasyim Asy’ari. Ada juga lukisan Imam al-Ghozali, Maulana Jalaluddin Rumi, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, dan lukisan-lukisan para Walisongo yang ikut andil dalam penyebarluasan agama Islam hingga ke penjuru nusantara. Masih ada beberapa ulama besar lainnya yang ikut dipasang di sana meski kurang familier bagi kebanyakan masyarakat. Nuansa yang tersaji benar-benar mencerminkan khazanah pesantren salafiyyah.

“Assalamualaikum ...” Diiringi dengan suara ketukan pintu.

Terdengar dari dalam ruangan suara samar menjawab, “Waalaikum salam ...”

“O ... silakan masuk!” Seorang lelaki setengah baya mempersilakan masuk kedua tamu yang baru datang. Sekilas ia terlihat sedikit membenahi posisi kopiahnya yang semula agak miring. Ia duduk lesehan di atas karpet berwarna biru tua. Hal itu mengesankan nuansa yang akrab dalam kesederhanaan, walau tanpa ada mediasi sebagai penyangga tubuh—tanpa meja atau kursi. Hanya duduk dalam kesederhanaan, dan tentunya dengan apa adanya. Bukankah dari kesederhanaan semacam itu terkadang kita bisa merasakan sebuah kesempurnaan?

“Pak Yai, Kisanak ini ingin sowan.”

“Maaf jika kedatangan saya mengganggu istirahat Panjenengan,” imbuh sang tamu pada Pak Kiai yang duduk begitu tenang.

“Tidak apa-apa. Malah saya merasa beruntung ada tamu yang datang bersilaturahmi. Karena tamu adalah berkah dari Allah bagi saya. Maka wajib bagi saya untuk menerima dan menjamunya.” sahut Pak Kiai. Senyumnya mengembang.

“Langsung saja, Pak Kiai. Maksud kedatangan saya kemari ingin mondok di sini.”

Hening sejenak.

“Sampean ini datang dari mana?”

“Saya asli dari Jawa Timur. Nama saya Rusli ...” jawabnya sambil menata napas agar teratur. “Apakah Pak Kiai berkenan?” Langsung menyampaikan keinginan tanpa berbasa-basi.

“O ... silakan. Malah kebetulan sekali. Saya malah bersyukur bisa menampung orang yang ingin menuntut ilmu. Selain mendapat pahala, tentunya kami juga bisa menyampaikan ilmu yang sudah dimiliki,” spontan Pak Kiai menjawab. Tanpa basa-basi. Tersungging senyumnya dari sisi bibirnya.

“Terima kasih, Pak Yai.”

“Tahu pesantren sini dari siapa?” tanya Pak Kiai.

“Dari Kiai Muhsin.”

“Berkerut jidat Pak Kiai mendengar nama itu disebut. Seolah mengingat-ingat pada nama seseorang. “Kiai Muhsin yang dari mana? Apakah yang dari Jombang?” Mencoba menerka sekaligus memastikan tentang benar-salah yang menjadi onak di benaknya. Pasalnya, selama ini, nama tersohor yang berasal dari pesantren di Jawa Timur, dan yang paling ia kenal dekat adalah beliau: Kiai Muhsin.

“Ya. Benar, Pak Kiai.”

“Subhanallah. Bagaimana kabar beliau?” Dua bola matanya berkaca-kaca menahan bahagia bercampur haru. Ia merasakan tubuhnya merinding, sedikit gemetar. Masygul.

“Alhamdulillah, beliau dalam kondisi baik dan sehat.”

“Beliau itu adalah teman saya sewaktu masih sama-sama mondok di Parang Gablok.” Semringah wajah Kiai Mahfud mendengar berita tersebut. “Sekarang kamu istirahat dulu, nanti bakda salat Asar kita lanjutkan perbincangan ini!” Ia menolehkan wajah ke arah santrinya yang sedang duduk bersandar dekat pintu, “Hasyim, tolong antarkan tamu kita ke kamarnya!”

Lelaki yang bernama Hasyim tersebut bangkit dari tempat duduknya lalu mengantarkan Rusli ke kamarnya.

“Jadi nama Sampean itu Rusli?”

“Ya. Namaku Rusli. Sampean sendiri namanya Hasyim, kan?”

“Ya.”

Keduanya begitu menikmati obrolan sekaligus perkenalan sepanjang jalan menuju kamar untuk istirahat.

“Sudah lama tinggal di pondok ini?” tanya Rusli.

“Saya baru lima tahun.”

“Lima tahun?” Sekilas ekspresi wajah Rusli menyiratkan rasa kagum. Tercengang. “Lumayan lama juga Sampean mondok, ya? Pastinya Sampean sudah banyak pengalaman di pondok ini. Pasti Sampean juga sudah banyak ilmunya.”

“Ah, tidak juga. Pengalaman saya di sini belum begitu banyak, kok. Sejauh ini saya merasa belum memiliki banyak ilmu. Saya merasa bahwa masih banyak ilmu yang belum dimengerti, apalagi sampai benar-benar paham. Lima tahun itu rasanya begitu cepat, bahkan saya merasa tak percaya jika sudah selama itu mondok di sini. Daya serap saya terhadap ilmu yang diberikan belum sepenuhnya bisa masuk. Saya merasa kurang seimbang di dalamnya. Apalagi kebanyakan dari kami—para santri—hanya hidup di lingkungan pondok saja, rutinitas kesehariannya hanya mengaji dan melakukan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pondok. Adaptasi kami dengan dunia luar tentu terbatas dan dibatasi oleh aturan-aturan yang sudah ditentukan. Jadi, dari hal itu saja sudah pasti terlihat jika kami masih terlalu awam dengan pergaulan, perkembangan, atau apa saja yang terjadi di luar sana—di luar pondok. Mungkin justru Sampean yang jauh lebih banyak pengalaman dibandingkan dengan saya ini.”

“Jangan merendah seperti itu! Saya juga belum banyak pengalaman. Saya juga masih dalam proses belajar. Saya jadi merasa sungkan pada Sampean.”

Mereka terus berjalan hingga tubuhnya tertelan pintu kamar yang terbuat dari bahan kayu hutan. Di dalam kamar, Hasyim mempersilakan Rusli untuk istirahat. “Maaf kalau kondisi kamar ini berantakan dan sangat semrawut,” Dengan mimik malu-malu ia mencoba merapikan ruangan. Tampak gugup dan gupuh (gopoh; tergesa-gesa).

“Tidak apa-apa. Saya sudah biasa dengan hal-hal seperti ini ...” ucapnya sembari tersenyum tipis dan menurunkan tas ransel dari pundaknya.

Di tiap penjuru ruang, baju-baju bergelantungan. Baju-baju itu digantungkan pada sebuah paku yang disusun dan berjajar pada kayu-kayu dinding. Walaupun ada lemari kayu yang disediakan untuk menyimpan baju, para santri justru tidak memanfaatkannya. Lemari itu seolah hanya jadi pajangan saja—atau mungkin memang sudah sarat muatan sehingga tak digunakan secara sentana? Para santri lebih suka menggantungkan baju-baju mereka daripada melipatnya secara rapi. Wajar saja jika ruang itu tampak kumuh dan terkesan jorok. Lebih praktis, itulah alasan utama mereka. Atau tidak sempat? Atau karena malas? Entahlah! Pikir mereka tinggal lepas, gantung, dan ambil kapan saja jika ingin dikenakan.

“Berapa orang yang datang dari Sumenep?” tanya Rusli membuka perbincangan yang semula terhenti.

“Kurang lebih ada sepuluh orang. Di sini ada juga yang berasal dari Jawa Timur. Sampean Jawa Timurnya mana?”

“Desa Kedungwangi. Sudah tahu belum?”

Hasyim geleng kepala tanda belum tahu sekalipun sama-sama dari daerah Jawa Timur. Selain luas, tentunya, desa yang dimaksudkan tersebut sudah beda wilayah. Ia hanya tahu nama kota-kota besarnya saja, seperti Surabaya, Malang, Jember, Madiun, Ngawi, Ponorogo, Pacitan, dan lain sebagainya. Ia hanya tahu dan paham jalur-jalur kota yang dilalui atau dilewati bus ketika pulang kampung, selebihnya ia belum mengetahui.

“Sampean pernah mondok?” tanya Hasyim sambil merebahkan badan di atas lantai.

“Kalau mondok secara formal seperti ini, belum. Tapi kalau hanya sekadar ikut mengaji di pondok, saya sering. Biasa, mondok kalongan—santri yang tidak tinggal di pondok. Itu pun juga tidak tiap hari ke pondok. Kadang seminggu penuh ikut mengaji, kadang seminggu hanya beberapa kali saja datang,” Ia menghela napas. Dari ekspresi wajahnya tampak menyembunyikan rasa malu yang tertahan.

“Sampean sewaktu di ndalem, kediaman Pak Kiai, seingat saya bilang tahu pondok ini dari Kiai Muhsin? Bukankah beliau ulama, kiai tersohor di Jawa Timur, kira-kira hubungan Sampean dengan beliau apa?”

“Oh, itu.” Ia menjeda ucapan karena ada sesuatu yang menyumbat di kerongkongannya. Ia berdeham sebentar, lalu menjelaskan apa yang ditanyakan Hasyim tadi, “Sebenarnya yang lebih tahu hal itu adalah ayah saya. Sebelum ke sini, ayah saya memondokkan saya di tempat Kiai Muhsin, dan itu pun hanya beberapa bulan saja. Entahlah, saya merasa kurang sreg di sana. Bukan karena Kiai Muhsin, bukan karena lingkungan, atau interaksi antarsantri. Tapi ada sesuatu yang mengganjal—entah apa sebab musababnya? Saya sendiri juga tidak mengetahui secara pasti. Akhirnya saya utarakan hal itu pada Kiai Muhsin,” ungkapnya. “Beliau sering cerita tentang Kiai Mahfud pada saya, atau pada para santri sewaktu mengajar kitab. Mendengar semua itu, saya merasa tertarik untuk mondok di sini. Saya pun minta izin untuk ke sini. Beliau mengizinkan dan sangat menyarankan saya untuk ke sini. Kata beliau—saat itu—kemungkinan saya lebih cocok jika menuntut atau menimba ilmu di sini.”

“Oh, begitu.”

Lelah yang mendera semakin melemahkan kekuatan tubuh. Tanpa disadari bahwa sudah satu jam keduanya saling bercengkerama di dalam kamar. Dari pertemuan singkat itu keduanya sudah seperti teman lama yang kembali bertemu setelah berpisah sekian lama. Keduanya langsung akrab. Intim dalam sebuah obrolan kisah. Keduanya saling bertutur kisah, menceritakan pengalaman hidup masing-masing yang tak pelak menjadi bumbu di tiap pembicaraan. Mungkin karena keduanya masih satu provinsi menjadikan komunikasi antarkeduanya bisa nyambung, walau terkadang saling menggunakan bahasa ibu, dialek, bahasa etnik masing-masing.

Masalah dialek, ada cerita menggelitik dari salah seorang santri. Namanya Maman, santri asal Tasik, Jawa Barat. Ia tergolong masih baru atau santri baru di pondok Kiai Mahfud. Kala itu, ia langsung dicekoki dan diajak berdialek dengan bahasa daerah yang menurutnya masih sulit untuk dipahami. Terang saja ia tak paham. Bagaimana lekas paham jika saban hari ia menggunakan bahasa Sunda, sedangkan di pondok kebanyakan para santri menggunakan bahasa Jawa inggil, bahasa kromo halus. Kalaupun menggunakan bahasa ngoko, itu dilakukan antarsesama atau seumuran. Dalam bahasa Jawa memang ada tingkatan-tingkatan bahasa, yakni: inggil (tinggi: antara yang lebih muda kepada yang lebih tua), ngoko (biasa, bawah: antar seumuran atau di bawahnya). Sepekan berada di pondok, Maman berkenalan dengan santri bernama Munif. Santri asal Solo ini—harap maklum juga datang dari pelosok bahkan kampungnya paling ujung—tak jauh beda dengan si Maman yang masih belum menguasai dialek antaretnis. Kiranya sangat wajar kalau keduanya bila saling menggunakan dialek masing-masing kadang tidak nyambung. Apa maksud, apa jawaban yang harus diberikan agar interaktif. Namun apa yang terjadi malah keduanya sering tak jelas, hanya saling mengimbangi. Kegagapan dalam berbalas dialek, bergaul, atau logat bicara masih terasa kental dan terbawa-bawa emosi etnis masing-masing. Untung keduanya bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, paling tidak masih ada alternatif bahasa yang digunakan sebagai dialog atau bahasa pengantar, komunikasi, antar sesama santri.

“Sekarang kamu istirahat saja di sini. Jangan sungkan! Anggap saja seperti rumah sendiri,” kata Hasyim. Rusli menyandarkan tubuhnya pada tembok kamar yang kurang lebih berukuran 3 x 4 me ....



NB: Cerita selengkapnya bisa dibaca dalam versi buku atau cetak.
  • Share:

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like

Advertisement

0 comments

Advertisement