DUA BELAS - Anam Khoirul Anam

DUA BELAS

Author: Anam Khoirul Anam - September 19, 2006
Advertisement

Advertisement

Baca Juga

ENTAH mengapa Rusli lebih suka bila Sukma melantunkan tiap ayat-ayat Alquran dengan nada hijaz atau bayati daripada nada nahawan. Meski sama-sama memiliki keindahan yang terasa mistis, namun kesyahduan itulah yang membuat Rusli ketagihan untuk mendengarkan tiap lafalnya. Malam yang hening makin menambah kesyahduan di dada.

Dalam balut kerudung, di antara hening dan kerik jangkrik, suara Sukma melafal ayat-ayat suci Alquran. Suara itu benar-benar memacu jiwa menuju langit. Kekaguman itu mulai tumbuh di hati. Bagi Rusli, kenikmatan ini amat sulit untuk dijelaskan dalam kata. Ia hanya merasa aliran darahnya mengalir deras. Berdesir-desir. Nikmat sekaligus perih. Mengiris segala rasa di hati. Di lain sisi, dadanya terasa sesak dan ngilu. Saking masygul mendengar lantunan tersebut, sering kali Rusli berlinang air mata. Lebih aneh lagi, kegetiran itu justru semakin membuatnya merasa khilaf sekaligus merasa menjadi manusia daif. Ia juga kadang bimbang atas dirinya. Ia takut menjadi golongan orang munafik.

Jika diperhatikan secara saksama, suara Sukma begitu seksi. Lembut dan membuat orang yang mendengar merasa teduh.

Entah karena sudah terbiasa atau karena memang anugerah, saat mengaji, suara Sukma sangat tertata, fasih saat melafalkan ayat, dan sama sekali tak sumbang. Ya, ia benar-benar mahir berqariah.

Inna a’thaina kal kautsar ...

Ya, seperti telaga Alkausar. Ibarat berjalan di padang pasir, suara Sukma adalah oase yang memusnahkan dahaga sekaligus menyingkirkan kelesuan badan. Jiwa menjadi segar mendapat siraman air jernih tersebut.

Sebenarnya ada banyak teknik suara yang dipraktikkan oleh Sukma saat membaca Alquran, bukan hanya hijaz atau bayati saja, tapi ada beberapa di antaranya jawabul jawab hingga qoror. Namun yang lebih sering adalah hijaz dan bayati. Setidaknya, semua teknik baca Alquran sudah ia perdengarkan dari Sukma saban malam—walaupun dilakukan dengan ilmu ngerogoh sukmo. Bagi Rusli, tak ada beda, toh dua cara tersebut sama-sama terjadi di alam nyata. Bedanya hanya hadir dengan tubuh dan tanpa tubuh. Harus diakui bahwa sosok Sukma mulai membius dan mengubah pandangan atas memoar yang dulu dienyahkan dari dalam ingatan. Mau tak mau, Rusli harus mengakui bahwa sosok Sukma mendekati sempurna. Bukan hanya cantik rupawan tapi juga penganut agama yang taat sekaligus rajin beribadah.

Segala puji bagi Allah Swt., dengan segala keindahan-Nya. Zat Pencipta Keindahan.

Sungguh terenyuh bila melihat Sukma meneteskan air mata saat membaca Alquran. Bahkan sesenggukan itu belum berhenti meski ia sudah mengakhiri tilawahnya. Meskipun tak diucapkan, setidaknya Rusli turut merasakan apa yang saat itu dirasakan oleh Sukma. Jika diizinkan, ingin sekali Rusli menghapus linang air mata itu, sayangnya—selain tidak diperbolehkan—ia juga tidak hadir dengan tubuh secara nyata. Bahkan jika perlu, ia ingin memeluk tubuh yang menggigil karena tak kuasa menahan tangis. Apalah daya, ia hanya mampu menatap Sukma tanpa bisa menyentuh. Ia mencoba ulurkan tangan dan berupaya menyentuh pipi Sukma, namun usaha itu sia-sia belaka. Air mata terus mengalir basahi pipi ranum itu.

Dalam hati, Rusli berbisik, “Tuhan, apa gerangan yang menumpa makhlukmu ini? Mengapa tiap malam ia selalu menangis tersedu hingga membuat kedua matanya sembap? Luka macam apa yang membuat ia sampai menangis tersedu seperti itu? Oh, Tuhan. Semoga deras perhatian ini bukan karena pacu hasrat yang berujung pada nafsu. Keterpautan hati yang mulai terjalin ini semoga tak menyesatkan hati, jiwa, maupun pikiran ini pada syahwat—walau jujur sempat terlintas hal yang tidak-tidak tentang dirinya. Semua hal yang kurasakan kini telah membawaku pada desir mistis tanpa bisa kuterjemahkan dan pahami.”

Sungguh sepedih penderitaan Rusli di masa lalu tak sampai membuatnya tersudu-sedu seperti itu. Apakah karena ia laki-laki dan Sukma adalah perempuan sehingga terjadi perbedaan dalam menerima cobaan hidup? Ah, bersar kemungkinan tidak demikian. Laki-laki ataupun perempuan ketika dirundung kesedihan yang teramat dalam pasti akan sama. Seberapa kuat seseorang menahan derita, setelah menghadap pada Tuhan pasti berubah lemah perasaan—meski tiap orang tidak sama dalam hal mengungkapkannya.

Dalam batin Rusli terus bergejolak. Tiap kali menjumpai Sukma—terlebih saat tersedu-sedu semacam itu—tebersit tanya: mengapa ada sakit dan luka atas nama cinta?

Tiap kali dalam suasana semacam itu, selalu ada pertikaian dalam batinnya. Haruskah ia mengkhianati kesucian hati dengan selalu berbohong atas rasa yang tumbuh di jiwanya? Benarkah apa yang kini trjadi sebenar-benarnya atas nama cinta? Jika getar yang kini hadir bukan cinta, lantas apa ini namanya? Apakah ia juga harus goyah pendirian—semula tak ingin mencintai dan menafikan cinta, lalu berubah pikiran—kini mulai merasa ada kecondongan hati untuk menentukan pilihan?

Setelah mengenal Sukma, tiap waktu Rusli selalu dihantui pertanyaan. Sering kali ia bertanya dalam hati, apakah salah jika ia menafikan cinta? Apakah rasa rindu ingin bertemu dengan Sukma adalah benih-benih cinta yang mulai tumbuh dalam taman jiwa?

Rusli sadar jika sedang berhadapan dengan perempuan pasti grogi bahkan minder. Ia merasa menjadi laki-laki paling lugu ketika bergaul dengan lawan jenis. Ia juga merasa heran dan bertanya-tanya pada diri sendiri: apakah ini normal? Jangankan berdekatan, menatap wajah saja malu tak terkira. Ia benar-benar merasa mati kutu jika ada perempuan di hadapannya. Sewaktu di bangku sekolah menengah pertama (SMP), ia pernah disebut-sebut sebagai laki-laki banci karena takut dengan perempuan.

“Rus, boleh minta tolong?” kata Anto, teman satu kelas.

“Minta tolong apa?”

“Tolong berikan buku ini pada Rina, ya!”

Sontak dari dalam dada terdengar degup yang menohok.

Buah simalakama. Ia merasa dilema. Mau menolong, tapi malu bertemu lawan jenis. Tidak menolong, kok rasa-rasanya tak enak dengan teman. Sejauh ini, Anto memang sudah banyak membantu kesulitannya. Kadang Anto sering mengajak makan di warung Bu Sumi saat istirahat. Sebelum punya sepeda kayuh, Anto sering memboncengnya sewaktu pulang sekolah. Tentu saja menjadi konyol jika menolak permintaan Anto—apalagi hanya memberikan bu ....


NB: Cerita selengkapnya bisa dibaca dalam versi buku atau cetak.
  • Share:

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like

Advertisement

0 comments

Advertisement