BIARKAN AKU BICARA | SEBUAH SMS | SEPASANG SAYAP JIBRIL - Anam Khoirul Anam

BIARKAN AKU BICARA | SEBUAH SMS | SEPASANG SAYAP JIBRIL

Author: Anam Khoirul Anam - April 09, 2006
Advertisement

Advertisement

Baca Juga

BIARKAN AKU BICARA
BIARKAN aku bicara meski hanya sekelumit,
entah dalam nestapa atau dalam riangmu,
entah apa itu, entah?

Biar kuloloskan segala penatku
biar tak sesak dan tersalurkan onakku
meski dengan kata tak usai kututur: padamu!
bisakah kau mendengarku
walau bongkahan batu terselip di hatimu?
atau adakah kau izinkanku
untuk embuskan napas dalam dengkimu?

Setebal itukah gundukan menyumpal
kendang telingamu hingga tak sanggup
percik nada merasuk ke dalam jiwamu?

Seperti etude-etude kesenyapan
yang kumainkan dalam notasi tak terjemahkan
pada dawai-dawai jiwa
secadas itukah jalan hatimu tuk kutelusuri
rumit dan teramat sulitkah
kumahfumkan hal itu?

Tapi, kita tidak sedang bercengkerama
tak sedang berserdawa
kita diam,
kita tak sedang bicara, membeku
terlebih, kita tak sedang bercinta.
Yogyakarta, 17 Januari 2006

SEBUAH SMS
DI seberang sana, terbayang dirimu
dalam bingkai rinduku,
lalu, ada juga di sini rinduku yang meluap
terkirimlah sebuah SMS untukmu:
“Apa kabarmu?”
ya, sebuah pertanyaan yang kutitipi sebuah risalah rindu
tertiup, sepoi—untukmu yang jauh di sana, sang kekasih

Lalu, pagi itu kau meneleponku
lewat ponsel genggammu
maka buncah sudah anak rindu
yang seminggu lalu menohoki
palung jantungku,
kalaupun aku senang dengar suaramu
mungkin itu wajar, karena antara kau dan aku,
saling sama rasa, sudah saling mengepakkan rindu
kalau tidak ada, perlu kita bertanya lagi dalam hati kita (?)

Kita lantas melanjutkan mushaf-mushaf rindu
pada abjad (dalam sebuah layar biru)—yang bisu,
meski kau di sana, dan kau kirimkan kata-katamu
lewat abjad; namun hatiku dan semua kejernihan jiwaku
tlah menerjemahkan bentuk-bentuk kata yang kau ucap

Seperti apa pun bahasamu, yang tertuang,
tetap kupahami maksud hatimu
bahwa: ternyata masih ada rindu
dalam kesunyian cinta kita
Yogyakarta, 16 Januari 2006

SEPASANG SAYAP JIBRIL
—seribu malam, seribu makna, seribu lafal

SAYAP Jibril yang lekat, mendekapmU
dalam keheningan malaM
(—malam seribu malam perjalanan seribu maknA)
: mendekap sekujur dingin tubuhmU
hai, kekasiH

Gelak suara lembutnyA
membuatmu beku, gigil senyaP
basuh noda-noda pekat dalam rongga jiwamU
dengan limpahan mata air—tersucikaN
di padang-padang tandus itU

Merah bibirnya menuntuN
mengejakan huruf-huruF
mengeja garis bacA
garis-garis dari mula:
… (B)acA!

Terselipkan pemahamaN
pada jalan pikir dan hatimU
tentang makna-maknA
di balik hakikat yang tersembunyI
di tabir rahasiA
sang Roh al-Kudus tlah menghampirimU
membawa berbait-bait wahyU
dari gemerlap CahayA
dan, itulah risalaH
bagi alam semestA
Yogyakarta, 16 Januari 2006

Puisi ini telah dipublikasikan di JAWA POS (09/04/2006)
  • Share:

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like

Advertisement

0 comments

Advertisement