GERIMIS | JUMRAH | KABUT-KABUT BERGUGURAN | TADARUS - Anam Khoirul Anam

GERIMIS | JUMRAH | KABUT-KABUT BERGUGURAN | TADARUS

Author: Anam Khoirul Anam - January 22, 2006
Advertisement

Advertisement

GERIMIS

I
HUJAN turun dari langit menempa keningmu yang teduh
seperti tangis malam di perbatasan fajar, basah
tangis di wajahmu lindap dalam kerudung biru

Kita getir nan lara, berjibun embun
bintik-bintik air hujan di kulitmu, menelusur sedih
menelusup tubuhmu yang berselimut darah
jenjang tubuhmu mengiggil
hangat kuku dalam dekap pelukku, malam itu



Kau pun tersenyum padaku
dengan untaian jemarimu yang lentik
mengelus pasi wajahku, hati berucap resah
kita hanya tersenyum pias

II
Pada gerimis senja kita berlari
di bawah daun waktu
seperti anak panah yang menghunjam sepi
kita bersembunyi di bawah atap rumah
sambil bernyanyi tentang risalah jiwa, 
seperti madah-madah danau

Rasa akut tubuh kita
menjadikan kita intim; masyuk cinta
berpeluk dengan senja
bercumbu dengan gelak tawa

III
Di depan perapian kita berpeluk;
menanggalkan baju salju, hangat telanjang
pada kobaran api itu
kita tersulut asmara

Kita bercanda
dengan sepotong singkong asmara;
dalam asam mulut kita
dan, sepiring jagung bakar yang kita taburi cinta
kita pun padu dalam untaian kisah yang sekian abad telah kita hamparkan
dari tangis dan bahagia:
“Karena kita sadar bahwa itulah hakikat
kesederhanaan jiwa dalam cinta kita.”
Yogyakarta, 19 Oktober 2005

JUMRAH
DI tengah tanah lapang
kedua tanganku mengepal, menggenggam kerikil-kerikil
kulontar debu-debu yang melekat dalam sekat rohku
terbungkus madah serapah, sirna benalu

Di tanah sahara nan lapang
kuhunjam-hunjam iblis dengan batu-batu kudus berbungkus madah
laiknya air sirnakan api

Kujernihkan roh dan ragaku dari alpa dan dina
kudekap dadaku berbait asma Agung
kuusap wajah penuh taburan embun

Aku kembali dengan membawa senyum
dari tanah Haram
seperti muara
membawa roh baru dalam endapan jiwa lusuh masa lampau.
Yogyakarta, 22 Oktober 2005

KABUT-KABUT BERGUGURAN
KABUT-kabut berguguran semusim sendu
mengucur dari ketinggian biru bak tangis hujan
desau batu-batu, riak di lautan
mata menebar, rekat, pada titik-titik lindap
angin bertitah pada jalan hayati
dedaunan merintih terendus, sapuan badai
canda jabang bayi dalam rahimmu
berserdawa pada dahan-dahan kematian
anak-anak polos telah punah harapan
sebelum ia bisa bercerita pada cucunya
ia telah raib, tertimbun, dari bahagia
sebelum ia mengukir sejarahnya, sendiri
kematiannya bersama abu tanpa pemujaan
karena dupa jenar telah terjual oleh moyangnya,
untuk kelangsungan hidup masanya
ya, inilah hidup, jika tanpa mematikan kehidupan yang lain
maka takkan hidup
hidup dalam kehidupan
yang hidup di ambang kematian
Yogyakarta, 30 September 2005

TADARUS 
I
DI tepi malam kulihat bulan
dari bingkai asma-asma Agung-Mu
kusematkan puja dan selawat
atas diri yang penuh noda
tobatku di haribaan-Mu
atas perangku pada nafsu-nafsuku yang biru

II
Kubaca suaramu dari balik tembok-tembok keangkuhanku
seperti desiran anak panah, semua menghunjam
langkahku bermuara sepi

Tuhan, dosa ini telah menjadi daging dalam ragaku,
padu hingga tak mampu kubedakan
antara diri dan dosaku

Inilah hamba yang pasrah dalam kuasa-Mu
karena diri ini bukanlah apa-apa
ya, Tuhan. Inilah pengakuanku atas nafsuku

III
Dalam tangisku,
ada air mata sesal dari perjalanan nistaku, lara
aku bergulat dengan segala hal dalam diriku:
“Tak ada perang yang lebih berat,
daripada melawan diri dan juga syahwat ini.”
Yogyakarta, 10 Oktober 2005

Puisi ini telah dipublikasikan di SOLOPOS (22/01/2006)
  • Share:

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like

Advertisement

0 comments

Advertisement