SAJAK LELAKI TROTOAR | MEMBASUH MATA DENGAN DOSA | KETIKA KUMERENUNGI CINTA - Anam Khoirul Anam

SAJAK LELAKI TROTOAR | MEMBASUH MATA DENGAN DOSA | KETIKA KUMERENUNGI CINTA

Author: Anam Khoirul Anam - June 19, 2005
Advertisement

Advertisement

Baca Juga

SAJAK LELAKI TROTOAR
LELAKI tua itu tertidur lelap di pinggir trotoar
desah napasnya kembang kempis beradu debu
asap hitam mengelilingi jasadnya seperti pasukan belatung

Di atas koran ia berbaring lemah
: hanya dengus yang terdengar
tak peduli lalu-lalang orang

Di samping tembok rumah
sederet tinta berbunyi:
“Dilarang tidoer dan kentjing selain andjing.”
—rumah bekas orang Cina 

Semua pintu tertutup rapat
terkatup rapat seperti patung yang membisu
O, lelaki tua yang merana

Anak lupa ibu-bapaknya
: demi martabat diri
demi kursi berani meludahi
ah, zaman memang sudah edan!
Yogyakarta, 13 Mei 2005

MEMBASUH MATA DENGAN DOSA
SALAHKAH aku bila membasuh mataku
dengan dosa dan nafsu
: memancing gelembung berahi
lalu menjadi onak
pergi ke belakang
berhalusinasi
lalu entah apa yang terjadi

(?)

Lebih baik membuat dosa sendiri daripada mencuri
dosa
korupsi
nepotisme
terlebih cabul pada hukum



Di manakah Tuhan
antara dosa dan nafsu
antara iman
perasaan
nalar dan malu

(?)
Yogyakarta, 06 Mei 2005

KETIKA KUMERENUNGI CINTA
KETIKA kumerenungi adanya cinta, 
yang kudapati, diriku adalah yang tak tahu apa-apa tentangnya,
yang kutahu hanyalah sesuatu yang menggelembung tak terucap

Cinta tak lebih seperti untaian kata yang tereja pada gugusan mistis
tak lebih sepeti anyaman mawar bertabur embun
dan, sesuatu yang tak dapat kukias dengan makna dan juga kata;
indah namun terasa
Yogyakarta, 18 Mei 2005

Puisi ini telah dipublikasikan di SOLOPOS (19/06/2005)
  • Share:

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like This Advertisement

You Might Also Like

Advertisement

0 comments

Advertisement