ALAMAT EMAIL KORAN/MEDIA MASSA

Berikut daftar alamat redaksi koran atau media massa terbaru yang menerima karya sastra (Cerpen, Puisi, Esai, dll.):

AMANAH

Email: sastra.amanah@gmail.com

ANALISA
Email: rajabatak@yahoo.com

BALI POS
Email: balipost@indo.net.id

BANGKA POS
Email: redaksi@bangkapos.com

BANJARMASIN POS
Email: hamsibpost@yahoo.co.id

BASABASI
Email: gerobaknaskah@basabasi.co

BERITA PAGI
Email: huberitapagi@yahoo.com

BULETIN KANAL
Email: buletin.kanal@gmail.com

DENPASARPOST
Email: cerpendenpost@gmail.com

DUTA MASYARAKAT
Email: harianduta@gmail.com

FAJAR MAKASSAR
Email: budayafajar@gmail.com

FLORES SASTRA
Email: floressastra@gmail.com

GEMA MENOREH
Email: redaksigema_menoreh@yahoo.co.id

HALUAN
Email: budayahaluan@gmail.com

HALUAN KERPI
Email: redaksi@haluankepri.com 

HORISON ONLINE 
Email: horisonpuisi@gmail.com / horisoncerpen@gmail.com 

INILAH KORAN 
Email: inilahkoran@inilah.com / redaksijabar@inilah.com 

JANANG.ID 
Email: ruangjanang@gmail.com

JAWA POS 
Email: ari@jawapos.co.id / ariemetro@yahoo.com 

JOGLOSEMAR 
Email: harianjoglosemar@gmail.com 

JURNAL ASIA 
Email: berita@jurnalasia.com 

JURNAL CERPEN INDONESIA 
Email: jurnalcerpen@yahoo.com / jurnalcerita@yahoo.com 

KABAR MADURA 
Email: kabarsastrabudaya@gmail.com 

KEDAULATAN RAKYAT 
Email: jayadikastari@yahoo.com 

KENDARI POS 
Email: arhamkendari@yahoo.com 

KOMPAS 
Email: opini@kompas.com

KORAN PANTURA (PROBOLINGGO) 
Email: redaksi.koranpantura@gmail.com / redaksi.kabarprobolinggo@gmail.com 

LAMPUNG POS 
Email: lampostminggu@yahoo.com 

LOMBOK POS 
Email: literasilombokpost@gmail.com 

MAGELANG EKSPRES 
Email: redaksimenoreh@gmail.com 

MAJALAH BOBO 
Email: bobonet@gramedia-majalah.com 

MAJALAH FEMINA 
Email: kontak@femina-online.com, kontak@femina.co.id 

MAJALAH HADILA 
Email: majalah_hadila@yahoo.com 

MAJALAH MAJAS 
Email: redaksi@majaskreatif.com 

MAJALAH UMMI 
Email: kru_ummi@yahoo.com 

MALANG POS 
Email: redaksi@malang-post.com 

MEDAN BISNIS 
Email: mdn_bisnis@yahoo.com 

MEDAN POS 
Email: barpul12@gmail.com/dyani.nanda@gmail.com 

MEDIA INDONESIA 
Email: (CERPEN) cerpenmi@mediaindonesia.com (PUISI) puisi@mediaindonesia.com (alternatif email: miweekend@mediaindonesia.com) 

MERAPI 
Email: budaya.merapi@yahoo.co.id 

MIMBAR UMUM 
Email: mimbarumum@yahoo.com 

MINGGU PAGI 
Email: we_rock_we_rock@yahoo.co.id 

NUSANTARANEWS 
Email: redaksi@nusantaranews.co 

NOVA 
Email: nova@gramedia-majalah.com 

PADANG EKSPRES 
Email: cerpen_puisi@yahoo.com 

PALEMBANG EKSPRES 
Email: sastrapalpres@gmail.com 

PIKIRAN RAKYAT 
Email: khazanah@pikiran-rakyat.com 

POS KUPANG 
Email: poskupangnews@yahoo.co.id 

RADAR BANYUWANGI 
Email: budayaradarbwi@gmail.com 

RADAR BANJARMASIN 
Email: redaksi@radarbanjarmasin.co.id 

RADAR BOJONEGORO 
Email: lembarbudaya@gmail.com 

RADAR BROMO 
Email: ruangpublik_radarbromo@yahoo.com 

RADAR CIREBON 
Email: radar_wacana@yahoo.co.id 

RADAR JEMBER 
Email: radarjember@gmail.com 

RADAR LAMPUNG 
Email: zetizenradarlampung@gmail.com 

RADAR MALANG 
Email: sastra.radarmalang@gmail.com 

RADAR MOJOKERTO 
Email: opini_darmo@yahoo.com


RADAR SURABAYA
Email: radarsurabaya@yahoo.com

RAKYAT SULTRA
Email: bastra.kbsultra@gmail.com

RAKYAT SUMBAR
Email: sastrasumbar@yahoo.com

REPUBLIKA
Email: islamdigest@redaksi.republika.co.id

RIAU POS
Email: sajak_riaupos@yahoo.co.id (Umum) / infozetizenriau@gmail.com (Sastra Remaja)

SAMARINDA POS
Email: agusdwiutomo@yahoo.com

SATELIT POST
Email: opini-pembaca_satelitpost@yahoo.co.id 

SERAMBI INDONESIA
Email: redaksi@serambinews.com

SINGGALANG
Email: singgalang.redaksi@gmail.com

SOLO POS
Email: redaksi.minggu@solopos.co.id / redaksi@solopos.co.id

SUARA MERDEKA
Email: swarasastra@gmail.com

SUARA NTB
Email: suarantbsastra@gmail.com

SUMATERA EKSPRES
Email: serisumeks@gmail.com

SUMUT POS
Email: sumutbudayapos@yahoo.co.id / langgamsumut@gmail.com

TANJUNGPINANG POS
Email: redaksi@tanjungpinangpos.co.id

TEMPO
Email: sastra@tempo.co.id

TRIBUN BALI
Email: redaksi.tribunbali@gmail.com

TRIBUN JABAR
Email: cerpen@tribunjabar.co.id / hermawan_aksan@yahoo.com

WAKTU
Email: sastra.waktu@gmail.com

WASPADA
Email: cemerlangwaspada@yahoo.co.id / sunanlangkat@yahoo.com

Bagi Anda yang mengetahui perubahan alamat email dari seluruh media massa terbaru, silakan konfirmasi. Terima kasih atas kerja samanya.
Baca selengkapnya




7 KEBIASAAN BURUK PENULIS

Sadar atau tidak, kadang sebagian penulis memiliki kebiasaan buruk ketika berkarya. Memang sangat lumrah bahkan sangat manusiawi ketika seseorang punya sisi lebih ataupun kekurangan. Namun jangan menjadikan sisi tersebut justru tampak tak imbang apalagi lebih berat sisi buruknya, tentu sangat berdampak tidak baik bagi pribadi tersebut. Siapa pun pasti akan terus berupaya menunjukkan sisi baik di hadapan publik, apalagi jika ia merupakan panutan, tentu harus bisa menjadi teladan yang senantiasa memberi contoh yang luhur. Meski tak semua orang mengetahui kebiasaan yang bersifat pribadi namun tiap penulis pasti memiliki kebiasaan kurang baik.

Berikut adalah 7 kebiasaan buruk yang umum dilakukan oleh sebagian penulis:

1. Malas Baca
Memang tak bisa dipungkiri bahwa rasa malas pasti menjangkiti siapa saja—terutama penulis. Tapi jika rasa malas tersebut adalah malas baca, maka besar kemungkinan seorang penulis tidak akan pernah bisa produktif berkarya.

2. Tidak Tuntas Menulis dan Membaca
Ketika sedang asyik menulis kadang muncul banyak ide dan selalu menggoda untuk dituangkan dalam bentuk tulisan sekaligus. Hal ini menjadi ancaman serius bagi seorang penulis yang tak mampu mengendalikan diri saat berkarya. Sebagian memang berhasil menyelesaikan tiap ide yang bermunculan, tapi tidak sedikit yang gagal lantas menelantarkan tulisan sebelum-sebelumnya.

Di lain sisi, ketika sedang membaca buku di sela-sela rihat menulis, ide-ide baru pun bermunculan. Bagi yang tak tahan uji sudah pasti akan berhenti membaca dan beralih menulis dikarenakan takut bila ide yang muncul tersebut raib sebelum ditulis.

3. Mengendapkan Tulisan
Memang tidak ada salahnya ketika seorang penulis mengendapkan tulisan sekadar ingin memulihkan kondisi tubuh atau ingin menunaikan keperluan tertentu, akan tetapi mengendapkan tulisan terlalu lama—apalagi tak terbatas waktu—pasti menjadi persoalan lain yang berdampak pada proses kreativitas menulis. Terkadang terlalu lama mengendapkan naskah juga memengaruhi cita rasa yang sudah dibangun jauh sebelumnya.

4. Malas Baca Ulang dan Edit Tulisan
Sering kali ketika sebuah tulisan berhasil sampai di titik akhir, sebagian penulis cenderung malas membaca berulang kali tulisannya. Padahal membaca ulang sangat perlu bahkan penting guna mengoreksi kekeliruan ataupun hal-hal lain di dalam tulisan tersebut. Ketika membaca ulang selain mengoreksi ejaan, bisa jadi ada tambahan ataupun pengurangan atas isi naskah yang baru saja selesai dibuat.

5. Suka Dipuji, Enggan Dikoreksi
Meski tidak semua penulis demikian, akan tetapi sebagian penulis lebih suka menerima pujian ketimbang kritik atas karya yang dihasilkan. Padahal interaksi publik atas sebuah karya sangat beragam, ada yang suka dan ada pula yang tidak suka. Menerima kritik yang bernada negatif kadang kala perlu sebagai bagian koreksi diri maupun karya.

6. Mudah Hilang Semangat
Menjaga semangat dalam berkarya sangatlah penting, sebab jika semangat hilang tentu akan menjadi penghambat proses menulis.

7. Menelantarkan Karya
Barangkali hal ini terdengar cukup aneh, tapi hal ini bisa saja terjadi. Ketika sebuah karya sudah berhasil diterbitkan, seiring waktu karya lama pun laun tenggelam dan tergantikan oleh karya-karya baru.
Baca selengkapnya




PROSES KREATIF MENULIS SAJAK

Bagi sebagian orang, menulis merupakan kreativitas yang bersifat bebas. Penulis bebas menulis apa saja selama bisa dibaca dan disukai oleh khalayak. Pada dasarnya memang demikian, tapi bisa dibaca dan disukai saja belum cukup. Masih ada proses atau tahap-tahap lebih lanjut supaya tulisan yang disajikan lebih berbobot dan berdaya guna.

Terkait proses kreatif menulis sajak ini, ada beberapa kiat agar gubahan yang dilakukan lebih memikat.

1. Gagasan atau Tema Utama
Sebelum menulis, alangkah lebih baik mematangkan gagasan terlebih dulu. Gagasan atau tema utama inilah yang nanti memengaruhi secara keseluruhan isi sajak. Selain itu juga akan berdampak pada keberlangsungan tulisan yang ingin dibuat. Jangan sampai mandek di tengah jalan dan tidak pernah terselesaikan;

2. Abstraksi
Beda tipis dengan nomor satu, namun kali ini lebih pada proses menuang ide dalam bentuk tulisan sesuai bersit kata yang muncul di benak. Penulis boleh menung kata per kata atau seluruhnya tanpa perlu memerhatikan struktur sajak hingga titik akhir. Setelah abstraksi selesai, langkah selanjutnya adalah proses koreksi ejaan;

3. Buka dan Baca Kamus
Saat melakukan koreksi, bukalah Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sesuaikan kosakata yang sudah ditulis, apakah sudah tepat atau belum. Jika seluruh kata-kata tidak ada kekeliruan, lanjutkan pada proses berikutnya;

4. Menyiasati Pengulangan atau Persamaan Kata
Agar tulisan lebih kaya diksi, alangkah lebih menawan jika dalam satu judul tidak banyak kata yang sama. Misal, di larik ke-1 terdapat kata ‘yang‘, lalu di larik ke-2 juga terdapat kata serupa, barangkali ada alternatif lain sebagai sinonim yakin kata ‘nan‘. Andai di bait ke-2 terdapat kata ‘mau’ dan di bait ke-3 ada kata yang sama, barangkali ada alternatif lain sebagai sinonim yakni mengganti dengan kata ‘ingin‘. Begitu seterusnya agar dalam satu judul sajak terisi oleh banyak kata tanpa mengubah makna tapi tetap memiliki cita rasa yang menggoda hasrat baca.

5. Meneliti Jumlah Kata
Berhubung jenis sajak ini memiliki struktur atau pola 9 kata di tiap larik, disusun 3 larik, dan terdiri atas 3 bait, maka ketepatan dan kecermatan sekaligus kematangan diksi sangat dibutuhkan supaya dalam satu judul terjaga konsistensinya.

Ada banyak cara untuk melakukan hal itu, boleh secara manual atau secara sistematis. Adapun jika ingin menghitung secara manual, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

BAIT I:
Sejak/ kau/ rampas/ asa/ dari/ atrium,/ aku/ mendadak/ mandam | (9 kata)
siang—/malam/ berkeliaran/ hanya/ untuk/ cari/ di/ mana/ param | (9 kata)
acap/ kali/ albedo/ burai/ memoar,/ tak/ ayal/ rindu/ menderam | (9 kata)

BAIT II:
Walau/ malaise,/ tuntaskan/ semua/ kaos/ dan/ jangan/ cuma/ berperam | (9 kata)
tanpa/ ada/ jerih/ payah,/ mana/ mungkin/ bakam/ dapat/ digenggam | (9 kata)
selama/ keyakinan/ masih/ di/ jiwa,/ segala/ aral/ pasti/ terbelam | (9 kata)

BAIT III:
Tekad/ gugah/ jasad/ agar/ memacu—/bagai/ angin/ menyapu/ sekam | (9 kata)
hati/ kukuh/ tiada/ mudah/ dirayu/ oleh/ rupa/ muslihat/ kekam | (9 kata)
laku/ dari/ para/ pecinta/ tuntun/ sukma/ menuju/ makam/ tenteram | (9 kata)

Atau dengan kata lain menghitung kata per kata di tiap larik sampai bait terakhir (bait ke-3) mencapai jumlah 81 kata.

Apabila ingin menggunakan cara sistematis adalah sebagai berikut:
  1. Tulis satu larik sajak di MS. Word, lalu blok untuk mengetahui jumlah kata. Jika sudah 9 kata dalam satu larik, silakan melanjutkan ke larik kedua;
  2. Sama seperti larik pertama, jika sudah menunjuk jumlah kata sebanyak 18 kata saat diblok kedua larik secara bersamaan, silakan lanjut ke larik ketiga;
  3. Demikian pula dengan larik ketiga. Jika dalam satu bait sudah menunjuk jumlah 27, silakan lanjut ke bait selanjutnya yakni bait kedua, begitu seterusnya sampai bait ketiga;
  4. Setelah ketiga bait selesai ditulis, silakan blok seluruh isi sajak—tidak termasuk judul dan titimangsa—setelah jumlah kata menunjuk angka 81, maka sajak tersebut sudah sesuai pedoman. Untuk mengetahui jumlah kata, silakan lihat di bagian kiri bawah layar monitor di lembar kerja MS. Word.
Selamat mencoba. Mari berkarya dan berkreativitas bersama-sama!
Baca selengkapnya




5 TANDA PENULIS YANG GAGAL

Kata siapa seorang penulis yang sudah menerbitkan banyak buku lantas disebut sebagai penulis yang berhasil dan sukses? Menerbitkan banyak karya belum bisa dijadikan tolok ukur bahwa penulis tersebut berhasil. Jika yang dimaksud berhasil adalah dalam hal menuntaskan karya dan menerbitkannya, semua orang tentu sepakat bahwa hal itu benar adanya. Namun ada pula penulis yang gagal dalam karirnya. Berikut adalah tanda-tanda kegagalan seorang penulis dalam karirnya sebagai seorang penulis atau pengarang.

1. Tidak Lagi Produktif dan Menerbitkan Karya
Ketika seorang penulis tak lagi produktif, sudah tentu tidak ada karya yang diterbitkan—apalagi dibaca oleh khalayak. Meski ada yang berpendapat bahwa tidak produktif menulis bukan berarti tidak berkarya, namun anggapan itu tetap dibantah oleh sebagian khalayak yang menilai bahwa eksistensi seorang penulis ditentukan oleh rutinitasnya menerbitkan karya—entah cetak maupun digital.

2. Lebih Banyak Menghabiskan Waktu di Luar Dunia Kepenulisan
Meskipun tidak intensif, keharusan seorang penulis yang mampu bertahan adalah ia yang senantiasa menjaga sekaligus membagi waktu antara berkarya, bekerja, ataupun rutinitas lainnya. Apabila seorang penulis tidak mampu membagi waktu antara menulis dengan aktivitas lain—bahkan tidak menulis sama sekali dalam sehari, kemampuannya pasti memudar bahkan laun tumpul. Maka wajar bila penulis produktif senantiasa atau membiasakan diri untuk terus menulis walau satu—dua paragraf sehari. Hal itu dimaksudkan untuk menjaga ketajaman sekaligus mengasah kemampuan agar tidak tumpul serta memancing ide-ide baru dalam berkarya. Seperti apa pun, ide akan muncul ketika ada upaya memunculkannya.

3. Hanya Menggantungkan Harapan dan Nasib Baik
Menjadi seorang penulis tidak bisa hanya duduk diam. Menggantungkan harapan dan nasib baik adalah pilihan yang salah besar. Jika menulis adalah bagian dari profesi ataupun pekerjaan, maka ia harus gerak aktif. Jika memiliki karya, mempromosikan karya sendiri adalah upaya untuk memperkenalkan diri serta membuka nasib baik untuk diri sendiri dan juga karya yang sudah dihasilkan. Memang tujuan masing-masing penulis tidak sama, akan tetapi jika berharap hasil lebih baik, tentu harus diimbangi dengan upaya yang lebih baik pula. Justru menjadi aneh ketika berharap hasil luar biasa tapi berperilaku sebaliknya. Berharap karya dikenal banyak orang, tapi hanya disimpan di dalam gudang.

4. Monoton
Menjadi seorang penulis tidak bisa melulu begitu. Ia dituntut kreatif dan mampu menyuguhkan hal-hal segar bahkan baru dalam karyanya. Ketika seorang penulis hanya monoton, sudah tentu akan ditinggalkan oleh pembacanya. Harus bisa membedakan antara gaya menulis dengan menyajikan ide kepada para pembaca. Gaya menulis memang tidak bisa diubah—selain karena karakter dari si penulis, gaya menulis adalah sarana komunikasi yang sudah dibangun atau dibentuk sedemikian rupa oleh seorang penulis agar menjadi pembeda antara satu penulis dengan lainnya. Sedangkan menyajikan sebuah ide tentu harus terus diperbarui agar pembaca tidak jenuh bahkan terlecut untuk membaca karya-karya selanjutnya. Ibarat menyajikan hidangan, seorang juru masak harus terus berinovasi tanpa menghilangkan ciri khasnya sebagai seorang juru masak guna mengundang lebih banyak lagi peminat. Persaingan dalam industri buku saat ini sungguh sangat ketat, cepat, dan selalu mengikuti arus zaman. Idealisme memang perlu dijaga, tapi membaca minat pasar juga amat perlu diperhatikan agar tidak kehilangan peminat.

5. Putus Asa
Apa pun profesinya, ketika seseorang sudah putus asa, sudah tentu ia gagal dalam banyak hal. Seorang penulis yang berhasil adalah ia yang pantang menyerah dalam kondisi apa pun. Bukankah semua pekerjaan—terutama menulis—butuh kerja keras? Percayalah! Ketika seorang penulis mampu menuntaskan ide sampai titik akhir, pasti akan memicu semangat untuk terus membaca dan berkarya, apalagi saat mendapat kabar bahwa kerja kerasnya berhasil terbit dan disukai oleh khalayak pembaca. Bandingkan dengan seorang penulis menyerah di tengah jalan—selain tidak membuahkan hasil—ia pasti tidak akan memetik hasil apa pun di dalam karirnya sebagai seorang penulis.

Dalam dunia menulis tidak ada kata pensiun, sebab menulis adalah panggilan jiwa dan juga proses kreatif menuangkan ide agar bermanfaat bagi khalayak. Menjadi seorang penulis harus tahan uji serta tahan banting, sebab dalam dunia menulis tidak ada gaji rutin dan tetap. Seorang penulis harus membahagiakan dirinya sendiri atas segala daya upaya yang dilakukan. Kreativitas serta produktivitas itulah yang akan menunjang kebahagiaannya secara lahir dan batin. Semakin banyak karya yang ia hasilkan, semakin banyak pula kebahagiaan yang didapatkan. Semakin banyak karya dibeli, semakin banyak pula hasil secara finansial yang didapatkan.[]
Baca selengkapnya




5 CARA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS MENULIS

Di dunia ini semua orang pasti ingin menjadi kaya. Kekayaan bisa membuat seseorang dengan begitu mudah mendapatkan segala keinginan. Siapa pun itu dan tak perlu ingkar pada diri sendiri bahwa kekayaan sering kali mendatangkan kepuasan sekaligus sensasi tersendiri, bahkan mampu menaikkan prestisius. Di lain sisi, dengan memiliki kekayaan, hidup seseorang menjadi bahagia. Tiap orang memiliki cara masing-masing untuk memperkaya diri, mulai dari menjadi pedagang, pegawai, ataupun bidang lain yang mampu mendatangkan penghasilan. Sebagian orang berpendapat bahwa kaya tidak harus berupa materiil, bisa juga nonmateriil.

Faktanya, di dunia ini kebanyakan orang kaya adalah dari kalangan pengusaha. Lantas, apakah seorang penulis bisa menjadi kaya? Banyak sekali penulis kaya, bukan hanya kaya secara finansial, tapi juga kaya dalam berkarya. Barangkali nama J.K. Rowling bukanlah nama asing di kalangan penulis. Selain memiliki kekayaan bersih kurang lebih 11,9 triliun, ia juga tergolong penulis produktif dan sukses. Karyanya yang amat laris dan fenomenal adalah Harry Potter and the Philosopher’s Stone yang terjual hingga 15 juta kopi dalam waktu 24 jam ketika kali pertama diterbitkan. Nama-nama lain penulis kaya dunia di antaranya adalah Stephenie Meyer, Stephen King, dan masih banyak lagi orang kaya dari dunia menulis.

Jika membahas soal kekayaan secara finansial tentu sangat menggiurkan. Abaikan lebih dulu soal itu. Mari mengoreksi hal mendasar saat kita berkarya. Sebagai penulis, banyak hal yang butuh perhatian serius yakni memperbaiki kekurangan-kekurangan dalam berkarya, setidaknya memperkaya kosakata terlebih dahulu atau membenahi kekeliruan ejaan. Semakin kaya kosakata, tentu akan berpengaruh pada aliran ide. Ketika penulis minim kosakata, ia hanya akan berputar-putar di situ saja. Dampak yang muncul kemudian adalah kebuntuan ide yang berujung pada kemandekan bahkan gagal menuntaskan tulisan.

Meski tiap penulis memiliki cara tersendiri mengatasi kemendekan ide, trik ini semoga bisa membantu mengatasi masalah klasik yang selama ini dialami para penulis.

1. Banyak Membaca
Salah satu cara untuk mendapatkan ide adalah dengan banyak membaca. Mulailah membaca apa saja yang disukai. Selain mengendurkan saraf, terutama pikiran, kegiatan membaca juga akan membuka pengetahuan bagi diri sendiri. Bahkan saat membaca karya penulis lain pun pembaca bisa mempelajari bagaimana proses kreatif membuat sebuah karya. Dari hal itu pula akan muncul gagasan-gagasan tak terduga.

Sering-seringlah membuka kamus, terutama kamus besar bahasa Indonesia (KBBI). Semakin sering dilakukan sudah pasti akan menemukan atau mendapatkan kosakata baru. Tantunya hal itu juga akan berdampak pada tulisan agar kembali mengalir dan tidak selalu berputar-putar di situ saja. Diakui atau tidak, semakin minim kosakata justru memicu rasa bosan pada diri sendiri dan juga terhadap pembaca, dampak lain yang muncul adalah pemborosan kata dalam kalimat. Semakin kreatif seorang penulis mengolah kosakata, semakin banyak pula yang ia dapat dalam karyanya. Salah satu cara agar dalam satu paragraf terasa padat kata adalah dengan mengolah persamaan kata supaya tidak terjadi pengulangan yang sama dalam satu kalimat. Nyatanya, dengan terus mengutak-atik kata yang berbeda hingga tersusun menjadi kalimat padu padan justru semakin meningkatkan produktivitas maupun kreativitas menulis.

2. Tamasya
Mengunjungi tempat-tempat tertentu juga dapat memicu kemunculan ide, selain memulihkan tekanan akibat aktivitas menulis, tamasya merupakan cara lain membuka wawasan baru. Siapa tahu kawasan yang dikunjungi saat itu malah menjadi bahan tulisan yang sedang dikerjakan. Kunjungilah tempat-tempat yang ada di sekitar, terutama tempat yang disukai, setelah itu ke tempat lain yang dirasa mampu memicu datangnya ide—asal tempat tersebut tetap memberi dampak positif.

3. Menonton atau Mendengarkan
Ide bisa datang kapan, di mana, dan dari mana saja. Bisa jadi dengan menonton film atau mendengarkan lagu tertentu bahkan melakukan aktivitas apa saja, kita bisa menemukan sebuah gagasan. Tonton atau dengarlah sesuatu yang diminati, sebab salah satu cara mengembalikan semangat adalah melerai konflik dalam diri. Lakukan kegiatan yang digemari, karena hal itu menjadi solusi paling mujarab untuk mengatasi kebosanan dalam diri sendiri—dan lagi-lagi semua harus memberi dampak positif pada diri sendiri terlebih dulu. Selain itu merekam segala peristiwa yang sudah atau sedang terjadi bisa menjadi referensi tulisan.

4. Berinteraksi Sosial
Siapa pun pasti memiliki kawan, bahkan lawan sekaligus. Mengobrol atau diskusi juga menjadi sarana untuk melahirkan ide. Berbincang santai dengan kawan bisa menjadi media sekaligus kontrol emosi, lebih-lebih dapat membuka wacana-wacana tak terpikirkan sebelumnya. Pasang surut emosi juga menjadi salah satu faktor penyebab kemandekan ide. Maka dari itu pulihkan kembali dengan bercengkerama bersama rekan-rekan, mungkin bisa telepon, chatting sekaligus bermedia sosial lewat telepon genggam maupun perangkat lain. Janganlah menumbuhkan pesimistis pada diri sendiri!
Membangun konflik cerita bisa juga dengan mengamati apa yang tidak disukai dari orang lain. Bagaimanapun konflik dibutuhkan dalam sebuah tulisan agar lebih hidup. Berinteraksi dengan orang yang kita kenal bahkan dekat lebih mudah membuka dialog ketimbang dengan orang asing. Berbincang dengan kawan yang sepaham jauh lebih efektif memancing ide daripada mengobrol dengan teman tak sepaham.

5. Berkhalwat
Tak bisa dipungkiri, tiap orang butuh sendiri bahkan tidak mau diganggu oleh siapa pun dan apa pun. Kadang saat menyendiri itulah tebersit beragam kata-kata dari dalam diri. Apabila membaca, tamasya, menonton atau mendengarkan, serta interaksi sosial dirasa tidak cukup untuk memantik ide, berkhalwat merupakan alternatif lain yang bisa ditempuh guna melancarkan kembali ketersendatan gagasan. Ketika sudah mendapatkan kata-kata yang sangat kuat, segera tulislah—meski sekadar abstraksi—sebab jika bersit itu hilang, sudah pasti akan berdampak buruk pada keberlangsungan tulisan. Akibat yang ditimbulkan adalah cita rasa menjadi jauh berbeda dari harapan bahkan hilang kenikmatannya. Baca berulang kali, edit, dan terus teliti sampai klimaks tanpa mengubah term semula, lalu tuntaskan hingga terwujud menjadi tulisan dengan karakter kuat.
Baca selengkapnya